DUNIA ABIMANYU

DUNIA ABIMANYU
Chapter LXIII : Rahasia Perempuan


__ADS_3

Setelah berjuang keras sepenuh tenaga, akhirnya selesai sudah urusan maha pelik ini. Pekan depan aku sudah mulai terjun ke dunia kerja. Dalam otakku sudah tergambar, dunia kerja pasti penuh tantangan. Ibarat orang menulis, kita dituntut untuk menulis rapi, enak dibaca dan tidak ada kesalahan. Dalam menulis, kesalahan dapat dihapus sedangkan di dunia kerja kita tidak boleh salah. Fatal akibatnya apabila hal itu terjadi.


Dalam perkuliahan, prestasi belajar akan dituangkan dalam selembar kertas yang berisi nilai-nilai. Sedangkan dalam dunia kerja, etos kerja akan dinilai pimpinan, sehingga kalau tidak memuaskan akan terdepak atau akan menjadi catatan hitam bak noda yang susah dihapus.


Ketika kegiatan perkuliahan sudah di penghujung waktu, saatnya bersih-bersih kamar. Buku-buku yang sudah usang, masuk dalam kardus untuk selanjutnya dimuseumkan. Lumayan banyak ternyata. Ada tiga kardus buku-buku yang sudah tak dipakai. Apabila dijual kiloan, mungkin lumayan juga. Kebanyakan modul-modul tebal berupa fotokopian dari dosen. Mereka menyuruh untuk membaca modul-modul itu sampai khatam, padahal materi ujian sembilan puluh persen berbeda dengan isi modul.


Di sela-sela membersihkan ruangan, tetiba aku teringat bungkusan yang harus kuserahkan kepada Laras. Aku mendengus. Sebenarnya agak malas pergi kesana. Pasti akan merasa canggung setelah kejadian di Malang beberapa waktu lalu. Sayangnya ini adalah amanah emak yang tidak boleh diabaikan. Harus segera disampaikan, siapa tahu bungkusan ini berisi sesuatu yang penting.


Sore itu juga, aku segera tancap gas ke tempat kos Laras. Agar lebih menghemat waktu, sepertinya harus meminjam motor Doni. Sebenarnya perizinannya tak rumit, tapi entah kenapa Doni selalu membuat drama setiap kali aku mau meminjam motornya.


“Aku mau pake motornya ke rumah temanku,” kata Doni.


Dia tengah menikmati keripik kentang rasa rumput laut yang dibungkus dalam kemasan aluminium foil. Makanan yang jauh dari kata sehat menurutku.


“Jam berapa?” tanyaku.


“Jam delapan mungkin. Habis Isya lah.” Jawabnya acuh tak acuh.


“Nanti aku pulang sebelum Isya kok!”


“Boleh aja sih, tapi ....” Doni mengernyitkan dahi.


“Tapi apa? Jangan khawatir. Ntar kuisikan kok bensinnya!”


“Bukan masalah itu sih, Bi. Masalah bensin nggak kamu isi juga nggak apa-apa kok. Kemarin juga baru kuisi....”


“Lah terus apa dong?”


“Ini, aku kan ada tugas terjemahan Bahasa Inggris. Minta tolong ya?”


Tuh kan?


Aku yakin pasti ada sesuatu yang menjadi syaratnya. Mungkin tidak seperti syarat Roro Jonggrang yang meminta dibangunkan seribu candi dalam satu malam, tetapi tetap saja menambah pekerjaanku yang sudah bertumpuk.


“Banyak nggak?” tanyaku lagi.


“Nggak. Paling enam atau tujuh lembar saja!” kata Doni dengan ekspresi datar.


What?

__ADS_1


Enam atau tujuh lembar saja?


Satu lembar saja membutuhkan waktu hampir satu jam untuk menyelesaikan terjemahan. Kalau orang lain, mungkin sudah kupalak dua puluh ribu per lembar. Berhubung Doni hari ini sudah berbaik hati meminjamkan motornya, aku hanya berdoa agar waktuku diluangkan agar bisa mengerjakan orderannya.


“Insya Allah, ya!”


“Emang kamu mau kemana sih? Tumben-tumben pinjam motor. Biasanya kan nggak pernah. Pasti ada yang penting. Main ke tempat cewek ya?” tebak Doni.


“Ngantar titipan ke temanku kok.”


Doni manggut-manggut, kemudian melemparkan kunci motor kepadaku. Aku merasa girang. Sungguh beruntung bisa punya motor saat kuliah. Karena motor adalah sarana utama untuk mobilisasi kemana-mana. Selama ini, aku lebih sering jalan kaki. Tak heran bila betis ini besar mirip pemain sepak bola. Tidak mungkin aku membawa motor butut bapak ke Surabaya.


Selesai berurusan dengan Doni, aku segera melarikan motor untuk bergumul di kepadatan Surabaya. Sebenarnya, paling malas naik motor di kota ini. Kepadatan jalannya membuatku tensi darahku naik.


Berkendara motor di sini harus mempunyai skill ala Valentino Rossi. Harus berani meliuk-liuk di antara mobil lain agar cepat sampai ke tempat tujuan.


Setelah bergumul dengan keruwetan kota, akhirnya sampai juga aku di depan tempat kost bercat hijau itu. Seperti biasa yang kurasakan pertama kali adalah suasananya yang sepi. Mungkin di sini ibu kost nya galak, sehingga jadwal kunjungan agak ketat. Di beberapa kost putri yang pernah kujumpai, biasanya tidak pernah sepi dari kunjungan. Yang namanya kost putri itu identik dengan sekumpulan gadis-gadis cantik, tentu sudah barang tentu banyak para kumbang yang suka hinggap di sana.


Tok-tok-tok!


Seorang gadis berkacamata menyembulkan kepala dari balik pintu. Gadis ini rasanya tak asing kulihat. Dulu dia juga membukakan pintu saat aku mencari Laras. Entah siapa namanya.


“Pasti mencari Laras!”


“Kok tau Mbak?” tanyaku.


“Ya taulah! Wajah sampean udah nggak asing kok. Kalau nggak sampean ya pasti Mas Jono. Ntar ya Mas. Kupanggilkan dulu!”


Seperti biasa aku menunggu di kursi teras yang memang khusus disediakan untuk menerima tamu. Tak lama, Laras muncul dari dalam rumah. Wajahnya yang sendu tampak segar seperti habis mandi. Aroma sabun yang segar masih terasa menggelitik hidung.


“Mas Abi, ada perlu apa, Mas?” tanya Laras. Ia duduk di kursi di samping kananku.


“Menyampaikan pesanan dari ibu kamu, Ras!” Kataku sambil menyerahkan bungkusan yang dititipkan emak kepadanya.


“Oh, pasti ini pesanan dendeng daging yang aku pesan sebelumnya. Ini bukan dari ibuku, Mas. Tapi ini dari emaknya Mas Abi!” Senyum cerah Laras terkembang sambil menerima bungkusan itu.


Emak? Kok emak tidak bilang kalau bungkusan ini berasal dari beliau? Setahuku, emak memang pandai membuat dendeng. Tapi aku tidak menyangka kalau dia akan memberikan dendeng itu Laras. Bahkan aku yang anaknya sendiri tidak diberi.


“Sampaikan terima kasih pada emak ya, Mas?” kata Laras.

__ADS_1


“Kok emak nggak bilang kalau isinya dendeng? Kapan pesannya? Kok aku nggak tahu ya? Emak juga tidak cerita apa-apa?” cecarku heran.


“Rahasia perempuan itu dalam, Mas!”


Rahasia perempuan? Apa yang mereka rahasiakan? Apakah ini konspirasi emak jilid dua? Aku mengira ingatannya pada Laras sudah agak berkurang gara-gara sudah terbuai dengan kebaikan Dahlia. Nyatanya, emak masih memikirkan Laras.


“Kok pakai rahasia-rahasiaan segala sih?” rajukku.


“Udahlah nggak usah dipikir, Mas. Ngomong-ngomong gimana kabarnya? Denger-denger lagi menghadapi UAS?” cecar Laras.


Baiklah, tidak akan kupikirkan. Nanti akan kutanyakan masalah ini kepada emak.


“Udah selesai kok, tinggal nunggu nilai sama kerja praktik. Besok Senin rencana sudah mulai kerja praktik di Gresik.”


“Wah, semoga sukses ya Mas!”


“Terima kasih, Ras.”


Sejenak kami saling terdiam. Situasi seperti ini sering kali terjadi. Saat di mana kebekuan terjadi di antara kami. Salah satu kelemahanku adalah susah memilih topik pembicaraan yang sesuai. Tidak hanya di hadapan Laras, tetapi di hadapan banyak orang. Tak heran banyak orang menilai bahwa aku membosankan.


Mungkin mereka benar.


“Maaf ya Mas buat yang kemarin,” ujar Laras kemudian.


“Lho, kenapa minta maaf?”


“Aku sudah marah kepada Mas Abi. Padahal mungkin Mas Abi maksudnya nggak begitu. Ya begitulah aku, Mas. Kadang masih kayak anak-anak. Butuh bimbingan dari Mas Abi. Apalagi Mas Abi sudah begitu baik sama aku. Aku kadang masih suka ngambek dan merajuk. Sekali lagi aku mohon maaf. Mau kan Mas Abi memaafkanku?” ujar Laras dengan tatapan memohon.


Jujur, hatiku ini lemah menghadapi tatapan wanita seperti ini. Aku membisu, tak dapat mengiyakan atau menolak. Wajah Laras berubah kekanakan, meruntuhkan ego yang menjulang di hatiku.


“Nggak usah dipikir, Ras” jawabku sambil menepis muka dari tatapan Laras yang menghanyutkan.


Aku memang tidak pandai berkomentar. Hanya jawaban pendek kuberikan.


“Mau kan Mas Abi membimbingku supaya jadi lebih baik?”


Deg!


Pertanyaan ini mengandung makna yang dalam. Aku masih berusaha mencerna dengan baik. Kata ‘membimbing’ di sini berarti luas. Tentu saja bukan membimbing dalam artian guru terhadap muridnya. Tetapi tentu ada makna tersirat di balik kata itu.

__ADS_1


Jadi apa maksud Laras sebenarnya?


***


__ADS_2