DUNIA ABIMANYU

DUNIA ABIMANYU
Chapter IV : Leonardo Di Caprio dalam Cermin


__ADS_3

Aku menggeliat malas. Hari Sabtu begini paling enak tidur-tiduran dan tidak mengerjakan apa-apa. Kupikir-pikir, kami ini seperti pegawai bank. Jadi hari Sabtu juga libur. Biasanya kalau Sabtu begini, digunakan untuk pelesir atau semacamnya. Tetapi apa daya, cucianku sudah beranak-pinak di keranjang baju. Harus segera dicuci. Aku berharap semoga hari ini tidak hujan.


“Dibawa ke laundry saja!” kata Doni sambil mengunyah singkong goreng sisa semalam.


“Kamu sih enak. Kalau aku nyuci ke laundry, aku nggak bakalan makan seminggu.”


Jadi jadwalku di hari libur sudah jelas. Mencuci, menyetrika dan melipat-lipat baju. Untuk mencuci, jadwal juga tidak boleh bentrok dengan yang lain. Sebab ember yang ada di rumah ini terbatas. Jadi harus gantian. Hukum rimba berlaku di kontrakan ini. Siapa cepat dia dapat. Oleh karena itu, pagi-pagi harus segera bergerak. Kalau yang lain bangun, bisa kesiangan nanti mencucinya.


Dengan gaya Inem pelayan seksi aku sudah booking tempat di depan kamar mandi. Segala perlengkapan sudah kusiapkan. Ember, sikat, selang air dan tentu saja sabun cuci. Supaya lebih valid, aku menulis di atas selembar karton dan kutulis ‘BOOKED’ dan kuletakkan di atas ember.


“Aku kemarin dapat nomor telepon Monik lho!” kata Doni yang tiba-tiba muncul saat aku mengucek.


“Kamu nanya?”


“Nggak! ”


“Kok bisa?”


“Aku suruh ibu warungnya untuk nanyain.”


“Terus ibu warungnya mau?”


“Iya. Ibu warungnya kan kenal baik sama aku. Hampir tiap hari aku makan di sana.”


Aku menggeleng-gelengkan kepala. Memang, Doni ini agak kreatif kalau urusan seperti ini.


Sebenarnya nomor telepon Monik bukan yang pertama. Ada beberapa nomor telepon cewek yang disukainya tersimpan di ponselnya. Tapi, semua berakhir dengan tragis. Kalau tidak ditolak ya ditinggal pergi. Tapi bukan Doni kalau menyerah begitu saja. Ia memang layak dijuluki Pejuang Cinta.


Berbeda dengan Andre yang memang sudah punya modal tampang dan tampilan. Sekali kedip, perempuan sudah klepek-klepek dibuatnya. Sebenarnya kami sering mengingatkan Andre agar tidak terlalu genit dengan perempuan. Aku paham, perempuan itu perasaannya lebih halus dibanding pria.


Kelemahan perempuan adalah pujian. Andre banyak memuji perempuan di mana-mana. Tutur katanya manis dan lembut. Siapa yang tidak terpikat dibuatnya? Menjerat perempuan buat dia semudah membalikkan telapak tangan. Padahal buat kami, dekat dengan cewek adalah suatu anugrah terindah yang pernah dimiliki.


“Sudah ngobrol belum sama Monik?” tanyaku.


“Diread aja pesanku, tapi nggak dibalas. Emangnya koran?” ia mendengus kecewa.


“Lagi sibuk kali...”


“Ya paling nggak dibalas sedikitlah!”


“Emang kamu ngomong apa ke dia?”


“Ya standar aja! Ngajak kenalan... "


“Sabar aja. Ntar juga dibales.”

__ADS_1


Doni sepertinya tidak puas dengan jawabanku. Ia langsung masuk ke dalam kamarnya. Aku melanjutkan mengucek kerah baju. Tak seberapa lama, orang kedua mulai muncul. Andre yang baru bangun tampak terkejut melihatku.


“Yaah ... keduluan sama Abi,” ujarnya kecewa.


“Tunggulah sebentar! Setengah jam lagi aku selesai.”


“Masalahnya aku jam 10 ada janji sama Vita.”


“Vita? Nemu dari mana lagi?”


“Aah! Kamu itu kayak ndak kenal aku saja”


Andre mulai senyum-senyum. Pikiranku mulai melayang kemana-mana. Kalau dia tersenyum seperti itu, pasti ada sesuatu yang disembunyikannya. Jangan-jangan Vita ini adalah salah satu korban kegenitannya.


Sedangkan aku?


Jangankan bersikap genit. Memandang cewek berlama-lama saja sudah malu. Aku merasa diri ini kurang ganteng, tidak gaul dan pemalu luar biasa. Padahal dulu waktu kecil, emak selalu memujiku. Sambil menyisir rambutku, ia tak henti-henti menyanjung.


“Kamu itu bocah ganteng. Kelak kamu dewasa, pasti banyak cewek yang suka kamu,” demikian perkataan emak waktu itu.


Perkataan itu masih kuingat sampai kini, dan kuharap akan segera terbukti dalam waktu dekat.


“Masa sih Mak?”


Aku setengah tidak percaya dengan sanjungan emak. Tapi kalau kubandingkan dengan beberapa temanku, kulitku terlihat lebih bersih. Bukan karena dasarnya putih, tetapi memang karena jarang main di luar.


Ah Aku!


Tetapi sungguh, emak sangat bangga kepadaku. Beliau tak henti-henti menceritakan kehebatanku kepada tetangga-tetangga yang lain. Prestasi yang tak seberapa di sekolah juga dijadikan bahan obrolan. Di mata emak, aku adalah lelaki terhebat dalam hidupnya.


I miss you, Mak. You’re still the best woman in my life.


***


“Udah selesai nyucinya?” tegur Andre.


Rupanya dia setia menungguku sambil membaca komik Detektif Conan kesayangannya.


“Tinggal bilas...”


“Bi..”


“Iya Ndre...”


“Kamu ndak cape jadi jomblo?”

__ADS_1


“Biasa saja sih. Emang kenapa?” aku balik bertanya.


“Nggak apa-apa. Kapan-kapan mau ikut aku? Ntar kukenalin sama teman-temanku, biar wawasanmu lebih terbuka sedikit. Mosok taunya cuma Lusi doang! Ntar kalau kamu ndak ada baju, kamu pakai aja baju di lemariku. Tinggal pilih. Sekali-kali tampil beda. Rambutnya dikasi pomade, biar klimis. Aku yakin, kamu itu sebenarnya ganteng. Cuman kurang terawat hahaha... "


Asem! Aku dibilang kurang terawat lagi!


“Mau kan? Nanti kupoles sedikit, pasti banyak cewek tertarik padamu. Percaya deh!” Andre mengulangi pertanyaannya.


Sepertinya perkataan emak mulai terbukti.


“Emang aku mau dikenalin sama siapa?” tanyaku.


“Lha tipemu yang seperti apa to? Aku punya banyak stok. ”


Stok? Dikira sembako apa ya?


“Pokoknya yang baik-baik aja deh...”


“Yang baik itu artinya luas. Coba yang lebih spesifik. Yang pinter ngaji, ada! Yang sabar, ada! Yang rajin, ada! Yang seperti Lusi juga ada!”


“Yang seperti Lusi juga boleh."


“Kalau yang seperti Lusi itu banyaaak! Jangankan yang seperti Lusi! Yang bibirnya kayak Angelina Jolie juga ada. Wis to, nggak usah khawatir!”


Aku terdiam. Sungguh, pria mana sih yang tidak ingin punya pacar? Siapa sih yang tidak ingin ada yang memperhatikan? Yang mengingatkan sudah makan atau belum? Yang bisa diajak nonton atau sekedar makan pecel bareng.


Aku sendiri tidak berani pasang target muluk-muluk. Berkaca dengan kondisiku sendiri. Lagipula ingin lebih fokus ke kuliahku. Setelah itu juga ingin membahagiakan keluargaku. Tidak salah to?


Aku lebih percaya dengan kutipan populer yang sering terdengar hingga kini.


Jodoh di tangan Tuhan.


Kalau aku bicara ‘jodoh di tangan Tuhan’, pasti ditertawakan oleh Andre. Dia bilang, jodoh di tangan Tuhan hanya sampai di usia 30 tahun. Di atas 30 tahun, Tuhan lepas tangan!


Untungnya aku masih dua puluh tahun. Cukuplah sepuluh tahun untuk hunting jodoh.


Selain itu, berbagai pikiran mulai menghantuiku. Kalau aku punya pacar, dana buat pacaran dari mana? Uang kiriman bapak hanya cukup buat bayar kontrakan dan makan sehari-hari. Memangnya nonton di Twenty One boleh bayar pakai daun? Memangnya ada yang betah kalau tiap hari di ajak makan pecel? Sebenarnya ingin cari penghasilan tambahan seperti beberapa temanku yang lain. Mereka berburu baju-baju sampai ke Tanah Abang atau Bandung, kemudian dijual lagi. Untungnya lumayan. Bisa dibuat beli pulsa dan minum kopi. Tetapi tugas kuliah selalu bertumpuk-tumpuk. Nanti malah kuliahku yang keteteran. Bingung!


“Nanti malam yo! Udah tenang saja. Nggak usah mikir macem-macem. Nanti kalau butuh apa-apa kubantu. Aku ndak mau temanku jadi jodi,” ujar Andre lagi.


“Jodi? Apa sih jodi?”


“Jomblo abadi!”


Naudzubillah!

__ADS_1


***


__ADS_2