
Selepas acara akad nikah antara Andre dan Inneke, ada rasa lega yang kurasakan. Paling tidak, aku bisa fokus pada tugas akhir yang waktu deadline-nya kian mendekat.
Beberapa hari tidak menengok tugas, rasanya sudah semakin bertumpuk, sehingga aku harus mengejar ketertinggalan. Doni sama sekali tak berkeberatan ketika aku duduk berjam-jam di depan layar komputernya. Tentunya, sebagai pemakai aku tidak tinggal diam. Sudah kusiapkan sesajen berupa jajanan lengkap agar mulut Doni tidak berkoar.
Sementara aku berkutat dengan tugas akhir, Farhan terlihat mengemas barang-barang yang ada di kontrakan. Rasanya sedih, ketika seorang sahabat dekat hendak meninggalkan kita. Pastilah banyak lembar memori yang telah terekam dalam otak. Tak banyak yang kulakukan, selain membantu sekedarnya.
Seringkali kehilangan orang yang disayang mewarnai lembar hidup , tetapi itu adalah suatu keniscyaan yang tak bisa dihindari.
“Jadi kemana setelah ini kamu akan tinggal, Han?” tanyaku, sambil membantu merapikan buku-buku dalam kardus.
“Aku dan Dina akan tinggal di kontrakan dekat sini saja kok. Kan aku belum sepenuhnya lulus. Jadi masih bolak-balik kampus. Kemarin salah seorang ibu-ibu majelis taklim menawariku untuk menempati rumahnya yang kosong. Daripada tidak terawat, dia minta aku menempati. Jadi aku tinggal bayar listrik dan air saja.”
“Alhamdulillah,” gumamku.
Beruntung sekali Farhan. Rupanya benar, Allah akan mendatangkan rezeki dari arah yang tak disangka-sangka setelah menikah. Padahal kupikir mereka akan tinggal di Pondok Mertua Indah. Aku turut senang Farhan tinggal tak jauh dari kampus. Itu berarti mungkin kami masih bisa bertemu di lain kesempatan. Luar biasa Farhan! Sudah barang tentu, pendapatannya tak seberapa tetapi sudah berani meminang anak orang. Aku tidak bisa membayangkan apabila itu terjadi kepadaku.
Setelah barang-barang Farhan terkumpul rapi, kamarnya tampak kosong. Entah siapa calon penghuni kamar ini selanjutnya. Sebenarnya banyak peminat yang sudah indent. Kontrakan kami memang bukanlah kontrakan mewah. Bahkan bangunannya terkesan sederhana. Kelebihannya terletak pada lokasi yang sangat strategis.
Lihatlah di sekeliling!
Deretan warung makan murah meriah berjajar di sepanjang jalan menuju kampus. Ini berarti memudahkan untuk mencari makan. Selain itu dekat pula dengan masjid, toko, jasa fotokopi, tukang cukur bahkan persewaan CD bajakan yang kerap menyewakan film porno secara sembunyi-sembunyi. Selain itu beberapa puluh meter di belakang kontrakan, terdapat pasar dadakan yang menyediakan berupa-rupa kebutuhan, mulai dari kue-kue sampai baju-baju berharga merakyat.
Sore ini, Farhan resmi pindah dari kontrakan. Berikutnya, aku menduga Andre juga akan melakukan hal yang sama. Saat ini ia sedang diboyong ke rumah Inneke untuk menjalani perawatan yang yang lebih intensif. Mungkin enak punya istri. Bangun tidur, secangkir teh atau kopi telah tersedia. Sarapan juga siap untuk disantap. Setidaknya itulah kegiatan harian yang dilakukan emak semasa almarhum bapak masih hidup.
__ADS_1
Aku kembali ke kamar dengan perasaan sedih. Suasana kontrakan sudah sangat jauh berbeda dengan sebelumnya. Televisi sudah jarang dinyalakan. Sepi dan mencekam, membawa kenangan-kenangan menakutkan yang pernah diceritakan oleh Farhan. Apalagi Doni juga lebih sering di kampus untuk saat ini. Praktis, tinggal aku sendirian bergelimang sepi. Pertama kali aku merasa hampa dalam perjalanan hidup.
Dalam kehampaan, aku berusaha menghibur diri dengan memutar radio usang warisan bapak. Suaranya sungguh tidak enak didengar, tetapi efektif mengusir sepi. Memori-memori lawas beterbangan, kemudian hinggap dalam otak. Bayangan Dahlia mengetuk bagai tamu tak diundang. Beberapa hari tak bertemu, terselip rasa rindu yang menghunjam. Bagaimanapun, banyak cerita yang kami toreh dalam lembaran hidup. Kehadirannya memberikan warna tersendiri dalam hidupku.
Tok ... tok ... tok!
Terdengar pintu depan diketuk. Siapa pula? Bukankah penghuni kontrakan ini sudah pindah? Mungkinkah teman Doni? Biasanya kalau yang sudah biasa berkunjung ke kontrakan tak perlu memakai ritual mengetuk pintu. Mereka langsung masuk begitu saja menuju kamar teman yang dicari. Terkecuali tamu perempuan, yang memang tak diizinkan mengakses kontrakan secara bebas. Jadi kemungkinannya ada dua, yaitu orang yang tak biasa berkunjung ke kontrakan atau tamu perempuan. Tentu saja, aku berharap yang mengetuk adalah tamu perempuan!
Sedikit malas beranjak dari tempat duduk, melangkah menuju ruangan depan. Kubuka pintu, mendapati sosok Dahlia dengan senyuman khas. Tubuhnya sedikit lebih langsing daripada biasanya, sehingga hampir aku tak mengenali. Ada angin apa yang mendorong Dahlia datang ke sini? Beberapa menit lalu dia masih berputar-putar di otakku, kini tahu-tahu sudah hadir di depan mata. Ah, Tuhan Maha Baik.
Dahlia menyodorkan satu tas plastik besar kepadaku, seraya berkata,” Buat kamu!”
“Apa ini?” tanyaku penasaran.
Aku mengintip isi tas plastik tersebut. Terdapat beberapa jenis makanan khas Jogja di dalamnya. Beberapa di antaranya adalah favoritku, seperti bakpia patok dan geplak. Sayangnya makanan sebanyak ini harus kuhabiskan sendirian, karena teman-teman sudah pindah dari kontrakan. Ada Doni, tetapi dia jarang juga berada di kontrakan.
“Banyak banget, Lia. Kok kamu jadi repot-repot gini?” ujarku.
“Nggak repot kok. Apa sih yang nggak buat teman baik seperti kamu?” ujar Dahlia sambil tersenyum.
Deg!
Teman baik? Sedikit tidak nyaman mendengar pernyataan itu. Sekian lama kami menikmati waktu bersama, ternyata hanya ada kesan ‘teman baik’ di hati Dahlia. Atau dia menunggu eksekusi dariku? Atau semua ini sekedar pancingan agar aku lebih berani mengungkapkan perasaan? Entahlah. Hati Dahlia memang sedalam Palung Mariana, gelap dan penuh misteri.
__ADS_1
“Kamu ada kegiatan apa hari ini?” tanya Dahlia.
“Aku sih seperti biasa ngerjain tugas akhir yang nggak kelar-kelar. Maklum mahasiswa tingkat akhir gini. Paling temannya ya layar komputer. Kelonan juga sama buku-buku,” candaku.
“Kelonan sama buku? Apa enaknya?” balas Dahlia.
Aku hanya tergelak. Kami masih mengobrol di depan pintu, sampai lupa menyuruh Dahlia untuk duduk. Dahlia, masih sama seperti yang dulu, dengan kalimat-kalimat lugas dan kadang jujur menusuk. Aku bisa memakluminya.
“Pasti kamu belum mandi kan?” tebak Dahlia.
“Kok kamu tahu?” jawabku.
Seketika aku mencium ketiak. Memang sedikit tidak sedap. Tebakan Dahlia benar. Akibat dari terlalu khusyuk mengerjakan tugas akhir, sampai lupa mandi. Tahu-tahu sore, akibatnya malah malas mandi. Jadilah seharian tanpa mandi. Tak usah ditiru yang seperti ini.
Walaupun begitu, lupa mandi ini tidak hanya terjadi padaku, namun rata-rata mahasiswa tingkat akhir memang jarang mandi. Terutama mahasiswa pria. Tidak hanya mandi, tetapi juga sarapan. Akibatnya, banyak dari mereka yang mengalami mag. Sama seperti aku.
“Jalan yuk!” ajak Dahlia.
Sebenarnya dalam hati aku ingin segera menyelesaikan ketikan tugas akhir. Sayangnya godaan Dahlia begitu dahsyat. Jalan bersama Dahlia berarti dapat traktiran. Bagi mahasiswa seperti aku, traktiran serupa dengan harta karun yang bernilai. Jadi, mengapa harus kusia-siakan kesempatan emas itu?
“Yuk!” jawabku.
“Mandi dulu sana!” sewot Dahlia.
__ADS_1
***