DUNIA ABIMANYU

DUNIA ABIMANYU
Chapter LXXXVII : Bisikan Setan


__ADS_3

Setelah negoisasi yang lumayan alot, akhirnya jadwal asistensi perdana dengan Pak Kusumo disepakati akan dilaksanakan pada hari Jumat malam. Tentunya, kini aku lebih waspada setelah peristiwa penyergapan. Area sekitar GOR menyisakan trauma yang mendalam, jadi sebaiknya kuhindari. Ada jalan lain, tetapi memutar agak jauh, yakni melewati samping kampus Teknik Fisika. Tak apa, lebih baik mengeluarkan energi sedikit lebih banyak daripada melewati kawasan GOR yang angker.


Selain rute diubah, untuk alat perlindungan diri aku juga menyiapkan sebuah martil di dalam tas. Kini aku tak ubahnya seperti kuli bangunan yang berbekal martil. Ini lebih baik daripada aku harus membawa semprotan merica. Lagipula, aku akan menggunakannya hanya dalam keadaan terdesak.


Sengaja pula aku berangkat lebih awal, karena biasanya masih banyak mahasiswa yang menghuni kampus selepas Magrib. Kali ini mental juga lebih kuperkuat, siap menghadapi segala rintangan yang kutemui di tengah perjalanan atau di mana pun. Peristiwa penyergapan kemarin adalah pelajaran berharga buatku.


Syukurlah, tanpa hambatan berarti, akhirnya aku sampai juga di depan kediaman Pak Kusumo. Sebuah rumah mungil, dengan desain yang seragam dengan rumah lain di kanan-kirinya. Tak banyak eksterior menarik di halaman depan, hanya beberapa buah pot-pot kecil yang ditanami tanaman bonsai. Sementara di terasnya tergantung beberapa sangkar burung. Sempat kuintip, beberapa burung pekicau seperti murai batu, kepodang, hwa bie dan jalak suren mendekam dalam sangkar.


Jantung ini sedikit berdebar ketika mengetuk pintu. Cara mengetuk pun harus sopan, tak boleh ada kesan menggedor. Omelan di telepon beberapa waktu lalu membuatku beropini bahwa Pak Kusumo adalah tipikal manusia yang bengis dan pemarah, bahkan mungkin tanpa belas kasih.


Tok-tok-tok!


Tak perlu menunggu waktu lama, pintu terbuka. Sepertinya kedatanganku memang sudah ditunggu. Luar biasa, Pak Kusumo ini adalah orang yang disiplin. Tak ada istilah lupa atau mangkir dalam lembar hidupnya. Sesosok pria berambut dua warna, dengan kacamata minus menyambut nyaris tanpa senyum. Aku canggung, memasuki rumah yang bernuansa suram karena lampu temaram yang dipasang di ruang tamu.


Tak ada interior yang berlebihan, hanya satu set kursi tamu, dan dinding penuh foto-foto keluarga. Sempat kulirik, Pak Kusumo mempunyai istri yang lumayan cantik, dengan tiga orang putra-putra yang sudah dewasa. Salah satunya mungkin seusia denganku.


“Mana yang mau diasistensi?” tanya Pak Kusumo tanpa basa-basi sedikit pun.

__ADS_1


Aku juga berusaha bersikap elegan, tak mau terlarut dengan gaya bicaranya. Hal paling aman adalah mengeluarkan sedikit suara. Kusodorkan map berisi draft awal tugas akhir yang berisi pendahuluan, latar belakang, dan segala pernak-pernik yang menghuni di bab satu.


Aku menanti proses asistensi dengan gelisah. Pak Kusumo menbaca dengan saksama, dengan dahi yang berkerut memelototi setiap huruf yang terketik. Kulihat beliau mencoret beberapa salah penulisan yang ada dalam draft. Ternyata aku kurang teliti juga. Beberapa tanda baca terlewat, huruf kapital juga ada yang terlewat. Sementara kesalahan penulisan kata juga sedikit bertaburan. Masalah teknis, jadi tak begitu masalah. Sedangkan secara isi, beliau hanya manggut-manggut pertanda setuju. Dia hanya menyarankan beberapa masukan agar tulisanku sedikit lebih logis dan berkesan ilmiah.


Menulis tugas akhir, tentu berbeda dengan menulis cerita fiksi. Apapun yang tertulis harus mempunyai dasar fakta yang kuat, tidak boleh sembarangan. Jangan sampai kata yang kita tulis menjadi bumerang yang akan menyerang saat sidang kelak. Jangan sampai pula kita tidak mengerti dengan apa yang kita tulis, walaupun ada juga mahasiswa yang memilih memesan pembuatan tugas akhir pada orang lain. Aku hanya bisa mencibir perilaku mahasiswa seperti ini. Rasanya tidak ada kesan yang dapat dibanggakan kalau lulus dengan cara seperti itu.


Setelah memberikan berbagai masukan untuk revisi selanjutnya, aku segera berpamitan. Sebenarnya karakter Pak Kusumo ini tak terlalu sulit. Asal kita bisa memahami beliau, dan tidak banyak membantah, maka segalanya akan dimudahkan. Bahkan Pak Kusumo juga memberi bonus berbagai wejangan tentang ilmu kehidupan, padahal aku tidak menyinggung sedikit pun tentang kehidupan pribadi.


“Kamu sudah punya pacar, Le?” tanya Pak Kusumo.


“Belum, Pak.”


Aku menjawab dengan takut-takut. Maklum, masih trauma dengan caci-maki di telepon sebelumnya. Pak Kusumo, walau tanpa senyum, paras mukanya berubah sendu. Mungkin ada sesuatu yang dipikirkannya. Aku sendiri tak berani mencari tahu.


“Kalau bisa kerja yang bener dulu saja, Le. Masalah pacar nanti akan datang sendiri kalau uangmu banyak. Percaya sama aku. Dulu waktu aku kere, nggak ada yang mau sama aku. Tapi begitu kita sudah mapan, para perempuan itu akan ngantri. Percaya sama aku!” ujar Pak Kusumo.


Loh, kok malah curhat?

__ADS_1


Aku mendengar petuah itu tanpa memberi komentar apa pun, karena takut salah. Yang kulakukan hanya mengangguk-angguk saja. Kubiarkan saja beliau mulai bercerita ngalor-ngidul, tentang masa mudanya yang gemilang, karena sudah melanglang di berbagai negara.


Beliau banyak membandingkan gaya hidup para anak muda di Indonesia dengan negara maju seperti Jeman dan Perancis yang begitu berbeda. Beliau berpendapat, daya juang anak muda kita masih rendah. Suka bermalas-malasan dan kurang peduli dengan masa depan. Mungkin ini ada benarnya. Contohnya aku. Selama ini, aku masih kurang peduli dengan pendidikan dan masa depan. Malahan aku lebih banyak menghabiskan waktu untuk bergalau ria.


Dahlia atau Laras?


Kisah Pak Kusumo sedikit banyak melecut semangat yang sempat pudar. Ingin rasanya kembali ke jalan yang benar, belajar dengan tekun dan mendapat prestasi yang gemilang. Cerita-ceritanya begitu inspiratif dan menarik. Sungguh, hati kecil ini ingin juga menginjakkan kaki ke negeri asing, tempat para pejuang sains berkarya. Apa daya, ada setan-setan jahat yang kembali melemahkan semangat.


Setan itu dengan santainya berbisik,” Sudahlah! Kamu kan masih muda. Jalanmu masih panjang. Mending kamu habiskan dengan senang-senang dulu. Nanti kalau kamu mikirin yang berat-berat, bisa hilang masa mudamu. Noh, itu banyak gadis menunggu belaianmu. Ada Dahlia yang bergelimang harta atau Laras yang sudah pasrah kamu apain aja! Sudah, nggak usah dipikirin. Ntar juga sukses kamu!”


Pikiran jahat itu berusaha kutepis. Saat aku kembali ke kontrakan, kalimat-kalimat motivasi dari Pak Kusumo masih terngiang di telinga. Sambil berbaring, aku mulai memikirkan masa depan. Setelah kuliah, berharap mendapat pekerjaan yang layak, tetapi bukan di perusahaan tempat Bu Roffi.


Sudah tergambar dalam angan, aku ingin memiliki rumah yang besar, mobil bagus, membahagiakan emak dan Weni, baru kemudian berpikir tentang menikah. Jadi sebenarnya alur hidup ini masih panjang. Jodoh juga belum didekatkan.


Menikah? Hmm. Dahlia atau Laras? Atau kunikahi dua-duanya?


***

__ADS_1


__ADS_2