DUNIA ABIMANYU

DUNIA ABIMANYU
Chapter XI : Definisi Cinta


__ADS_3

“Apakah definisi cinta?”


Pertanyaan itu tiba-tiba terlontar begitu saja dari mulut Doni. Sontak aku terkejut mendengarnya.


Kami sedang menikmati malam yang hangat di sebuah cafe di kawasan Jalan Pemuda. Alunan suara emas Bryan Adams yang melantunkan Please Forgive Me, mampu meluruhkan perasaan. Begitu romantis. Bryan Adams, dengan suaranya yang berat mampu menerbangkan lamunan ke antah berantah.


“Tumben pertanyaanmu berat?” komentar Andre. Ia asyik memainkan gawai yang tergenggam di tangannya.


“Kamu sedang jatuh cinta sama Monik?” tebak Farhan. Ia menyeruput mocca latte di gelasnya yang tinggal separuh.


“Kalian belum jawab pertanyaanku,” jawab Doni.


“ Tolong diperjelas! Cinta yang seperti apa yang kamu maksud? Cinta antara dua manusia? Cinta ibu kepada anaknya? Atau cinta seorang hamba pada Tuhannya? Semua itu cinta loh,” tanya Andre.


Ini mulai menarik. Aku mulai menyimak.


“Cinta secara universal,” jawab Doni lagi.


Ceileeh! Universal......


“Aku rasa, cinta itu nggak ada definisinya. Karena cinta itu kan nggak bisa dilihat, hanya bisa dirasakan. "


Oke. Itu pendapat Farhan. Noted.


“Kalau nurut aku sih cinta itu lebih ke anugerah Allah yang dimiliki semua manusia. Yakin deh, sebarbar apapun model manusianya, pasti punya cinta. Walau cuman sedikit.”


Itu pendapat Andre.


“Kalau kamu, Bi?” tanya Doni.


Eh, aku?


Aku agak gelagapan. Tadinya tak berharap mendapat pertanyaan krusial ini. Dalam sejarah hidupku, jarang sekali merasakan cinta. Cinta emak, jelas sekali. Cinta kepada Allah, jelas sekali. Tetapi yang kurasakan pada Lusi atau Laras, apakah itu cinta? Jangan-jangan itu nafsu.


“Kalau menurutku, setiap orang punya definisi cinta berbeda-beda sih. Tergantung apa yang dirasakannya. Definisi Andre sudah pasti beda sama Farhan. Definisi William Shakespeare beda pasti dengan Kahlil Gibran. Definisi cinta menurut Plato pasti juga beda..” terangku.


“Setahuku Plato tidak mendefinisikan cinta!” potong Andre.


Aku mengangkat bahu.


“Terus kalian percaya nggak cinta sejati?” tanya Doni lagi.


Kesambet apa ya ini bocah ini?


“Nggak!” jawab Andre tegas.


“Alasannya?” desak Doni.


“Menurutku cinta sejati itu bullshit! Kalaupun ada, itu sangat jarang sekali. Itu sama aja kayak kalian nyari kutu di tubuh gorilla. Yang ada, cinta itu hadir karena modus. Entah itu karena tertarik dengan wajah, dengan harta atau yang lainnya,” kata Andre.


“Tapi kan ada, Ndre?” sanggahku.


“Mungkin. Tapi kamu pernah lihat nggak di dunia nyata? Istri gendut dikit, suami bawaannya selingkuh nyari yang bening-bening. Suami miskin, ditinggal pergi sama istri. Itu kan realitanya sekarang?”

__ADS_1


“Ada tuh tetanggaku yang awet sampai kakek-nenek...” celetuk Farhan.


“Itu mah beda cerita! Karena mereka nggak ada pilihan lain. "


“Terus kisah-kisah cinta dunia yang ada menurutmu hanya dongeng?” tanyaku.


Sepertinya diskusi makin menarik.


Farhan memesan lagi secangkir kopi hitam. Sedangkan aku masih setia menikmati segelas lemon tea yang tak lagi dingin.


“Siapa contohnya?”


“Bisa siapa saja. Rama-Shinta, Julius Cesar-Cleopatra, Samson-Delillah, Hitler-Eva Braun, Putri Diana-Doddy AlFayed atau siapa saja. "


“Itu ketinggiaaaann, Bambaaaaanng!” celetuk Farhan lagi.


“Itu lho, ada di Pasar Keputran. Mbah Mijo sama istrinya yang sama-sama tua, tiap hari setia mendorong gerobak sama-sama. They are the real true love!” sambungnya lagi.


Aku tersenyum.


“Oke.Oke. Mari kita bahas Mbah Mijo dan istrinya,” ujarku.


“Pada intinya, orang mencinta karena sebuah alasan. Ada orang yang jatuh cinta pada pandangan pertama. Contoh kasus, Doni dan Monik. Doni menaruh hati pada Monik karena dia cantik. Lalu, Abi dan Lusi. Iya kan?” tembak Andre.


“Aku suka Lusi bukan karena kecantikannya kok!” aku membela diri.


“Bohong ah! Kalau bukan karena kecantikannya, mengapa kamu nggak pacaran saja sama si Dahlia si perawan tua itu?” sering Andre.


Makan buatmu sendiri!


Oh, rupanya nama Dahlia Sukmawati sudah terkenal di berbagai jurusan ya?


Padahal aku dan Andre kampusnya berjauhan. Tapi rupanya nama Dahlia sudah mengharum di mana-mana. Luar biasa memang pesonanya.


“Jangan gitulah kalian. Si Dahlia itu cerdas, jago ngomong Inggris. Kenapa para cowok takut sama dia? Ya karena minder dengan kecerdasannya. Kalian mah apa!” bela Farhan.


“Ciee...! Dibela sama Farhan!” ejek Andre.


Aku hanya tertawa.


Kalau sudah begini, hilang sudah kegalauanku tentang tugas-tugas yang bertumpuk di meja belajarku.


“Kalian kok jadi melenceng dari topik sih? Malah ngeghibahin si Dahlia?” protes Doni.


“Oke kembali ke laptop deh!” ujarku kemudian.


“Oke. Jadi begini. Kalau kita membahas mengenai cinta dan definisinya, mau sampai subuh pun nggak bakalan bisa selesai. Karena cinta itu memang mempunyai definisi yang beda-beda, seperti yang Abi bilang tadi. Jadi menurutku, mari kita sudahi diskusi kita malam ini,” Andre menyesap tetes terakhir soda gembiranya.


“Mau pulang? Baru jam setengah sepuluh! Bencong juga baru keluar jam segini!” protes Doni lagi.


“Ciee ... yang langganan bencong!” goda Farhan.


Lagi-lagi aku tertawa. Masih segar dalam ingatanku saat aku dan Andre digoda gadis jadi-jadian waktu itu.

__ADS_1


“Guys, mari kita bantu sahabat kita yang sedang galau dilanda asmara ini. Pertama, kasus Doni dan Monik yang sepertinya akan mengulang sejarah. Bertepuk sebelah tangan. Kasus kedua, Abi dan Lusi yang jalan di tempat. Parahnya, si Abi ditinggal Lusi begitu saja, sebelum ada kejelasan,” Andre menyimpulkan.


“Kasus ketiga?” tanya Farhan.


“Emang ada kasus ketiga?”


“Ada!”


“Siapa?”


“Dirimu sendiri, Ndre. Kamu nggak jelas jalan sama siapa. Jangan-jangan kamu cuma dimanfaatin saja sama cewek-cewek yang dekat sama kamu. Sebenarnya kamu itu jalan sama siapa sih?”


Andre terdiam, seperti memikirkan sesuatu.


“Ntar kalian juga tahu kok,” jawab Andre.


“Jadi gimana nih?” Doni meminta kepastian.


“Gimana apanya? Kisahmu sama Monik?”


“Kalau menurutku nih, terus ditelateni saja. Percaya deh. Mendapatkan cewek itu nggak susah-susah amat kok. Asal kasi perhatian terus, ntar lama-lama luluh. Percaya sama aku!” kata Farhan.


“Halaaah! Sendirinya juga jomblo kok!” Andre mecibir.


“Lho, itu kan karena aku memang nggak mau!” Farhan membela diri.


“Yang ada, cewek kalau kebanyakan dikasi perhatian sama orang yang nggak disukain bakalan eneg juga. Jadi muak. Ntar bisa jadi kamu malah diblokir!”


Doni terdiam mendengar perkataan Andre. Sepertinya wajahnya makin galau.


“Duuh! Gini amat sih urusan sama cewek!” keluh Doni kemudian.


“Kenapa nggak nyari yang lain, Don?” aku membuka suara.


“Nggak semudah itu kali, Bi! Lagian aku sama Monik itu udah bener-bener dalem banget. Nggak bisa move on ke yang lain.”


Baiklah.


Diskusi ini terjeda beberapa saat. Kami merasa lapar. Empat piring nasi goreng spesial tersaji di depan meja. Kami segera menyantapnya tanpa banyak pikir.


Sambil mengunyah nasi goreng yang gurih itu, aku mencoba menyimpulkan dari diskusi yang berjalan sengit malam ini.


Kesimpulannya adalah, definisi cinta adalah misteri yang tak terpecahkan semenjak manusia diciptakan. Karena setiap zaman akan mengusung kisah cintanya masing-masing. Yah. Cinta memang tak pernah lapuk dimakan zaman. Bahkan apapun yang ada sekarang, rasanya selalu dibumbui dengan cinta agar tampilan lebih menarik.


Kok aku jadi mengkhayal sendiri?


“Woee! Pulang nggak!” teriak Doni. Ia sudah siap di tempat parkir.


Aku menengok ke arah piringku. Sudah tak bersisa apapun. Bahkan sebutir nasipun tidak. Gelas-gelas juga telah mengering. Ini menandakan sudah tak ada apapun yang bisa masuk ke perut. Materi sudah selesai dibahas.


Maka berakhirlah acara Indonesia’s Jomblos Club malam ini.


***

__ADS_1


__ADS_2