DUNIA ABIMANYU

DUNIA ABIMANYU
Chapter XVII : Agen Rahasia Cantik


__ADS_3

Aku terbangun mendengar azan subuh yang berkumandang. Dingin seketika menyergap. Maklum, habis hujan semalaman. Ingin kutarik kembali selimut, tetapi kewajiban sudah menanti.


Oh, baru sadar!


Aku masih mamakai kaos pemberian Dahlia. Tapi buat apa kaos seperti ini? Desainnya enggak banget. Tak paham juga dengan selera Dahlia. Lagipula kaos ini kebesaran dipakai. Kalaupun kuhibahkan pada Doni, bakal cercaan tak manusiawi yang akan kuterima.


Ya sudahlah!


Kaos itu kini menjadi salah satu koleksi keset terbaikku.


***


Bumi terus berputar pada porosnya. Siang malam terus bergulir silih berganti. Menit demi menit melaju meninggalkan masa lalu, menjadi dongeng. Hari demi hari bergulir genap menjadi minggu, minggu merangkak menjadi bulan.


Aku melingkari angka satu di kalender yang tergantung di dinding kamar. Awal hari yang muram di bulan Desember. Hampir tiap hari, tetesan hujan selalu membasahi bumi Surabaya. Kadang kegiatan yang sudah kurencanakan mendadak batal. Kucoret-coret buku agenda. Tak jelas apa yang tergambar di sana. Mungkin pola benang kusut, sekusut pikiranku.


Entahlah.


Konsentrasi belajar agak ambyar belakangan ini. Kemarin, aku mengajukan asistensi untuk tugas gambar. Alhasil, hanya cacian yang menyakitkan dari dosen yang terngiang di telinga. Dia menyalahkan kemalasanku.


“Tugas gambar begini saja kamu tidak becus! Kamu niat kuliah nggak sih! Begini nih kalau mahasiswa malas. Nggak mau berusaha!” caci dosen botak itu.


Apakah aku malas?


Mari kita lihat!


Buka matamu lebar-lebar, wahai Pak Dosen botak!


Tiap hari aku bangun lebih pagi dari kawan yang lain, menunaikan kewajiban pada Sang Pencipta, kemudian menyetrika baju selicin-licinnya, selicin botakmu itu! Semenit kemudian harus antre mandi, berpakaian dan setengah berlari kukejar waktu ke kampus. Kadang tak ada waktu untuk sarapan walau hanya sebutir nasi. Pulang kuliah, ketika yang lain asyik nonton TV, aku berkutat dengan pekerjaan yang tak ada habisnya. Sampai malam mengetuk bumi.


Dan itu yang kau sebut malas?


Kekesalan mulai membekap. Geram membuat gelap mata. Seolah semua terlihat tak beres. Kertas gambar kulempar ke lantai.


Plaaak!!


Nafasku menderu tindih menindih, terasa sesak. Apakah boleh berteriak sekencang-kencangnya sekarang juga?


Jangan. Nanti mengagetkan yang lain....


Rasa malas mulai bergelayut. Teringat wajah emak dan Weni yang syahdu.


Maafkan aku, Mak!


Maafkan aku, Wen!


Aku mengecewakan kalian!


Di saat krusial seperti ini, mendadak aku kehilangan semangat. Yang di sekeliling terlihat menjemukan. Radio tua warisan bapak hampir kubanting juga. Mungkin jalan-jalan sebentar bisa mengembalikan mood.


“Besok datang ya. Bantu Mama. Ada acara pengajian di rumah.”


Tetiba aku teringat ucapan Dahlia tadi siang. Apakah dengan bertemu keluarga Dahlia akan sedikit menghiburku? Sayangnya, wajah Dahlia juga tak mampu mengalihkan duniaku.


Kejenuhan mulai meluber di otak. Sepertinya butuh sedikit waktu untuk me time.


Tanganku segera menari-nari memencet keypad telepon genggam.


“Maaf Dahlia. Aku belum bisa membantu karena banyak tugas kuliah. Sampaikan maafku pada mama.”


Send done!

__ADS_1


Tak berbalas.


Biarlah.


***


Menikmati sore dalam kepungan kemewahan Surabaya adalah hal yang lumayan menghibur. Saat ini kulangkahkan kaki menyusuri gerai-gerai mewah di Galaxy Mall, salah satu mal yang terbesar di Surabaya. Tak ada setitik niat pun untuk membeli barang yang dipajang di sana. Secara finansial jelas itu adalah hal yang mustahil.


Bagai angsa buruk rupa yang berenang di kolam kerajaan, aku menikmati kesendirian di mal mewah itu. Melihat pengunjung mal yang beraneka-rupa adalah keasyikan tersendiri. Diam-diam, aku berkhayal apabila menjadi salah satu dari mereka.


Lihatlah di sana!


Seorang bapak bermuka priyayi dengan putra-putrinya yang gembul berlari-lari riang seolah mal ini milik moyangnya. Kulit putih mereka yang bersinar seperti porselen terlihat tak pernah terjilat sinar matahari. Mereka tertawa tanpa beban memasuki salah satu restoran siap saji berlogo Kolonel Sanders.


Aku tersenyum kecut.


Tak perlu iri dengan kebahagiaan orang lain. Toh semua sudah ada takaran-takaran sendiri. Lagipula, rezeki sudah digariskan. Tidak mungkin tertukar.


Lagian makan di resto siap saji nggak sehat, Bi!


Kembali jiwa miskinku menghibur di saat seperti ini.


Di sisi lain mal, seorang gadis cantik berbalut tank top warna kuning menyala berpadu dengan rok yang teramat pendek berjalan anggun memamerkan kakinya yang jenjang seperti burung bangau. Ia didampingi pasangannya yang....


Astaghfirullah!


Aku tak mau mendeskripsikannya. Memang aku hanyalah pria dusun yang tersesat dalam mal ini, tetapi bukanlah sombong, secara fisik aku seratus kali lebih enak dipandang daripada pria itu!


Oh, aku tahu alasannya!


Di lengan pria itu melingkar arloji keluaran brand ternama yang berharga jutaan. Itulah mengapa gadis itu rela bergelayut manja. Inilah yang dibahas Andre mengenai definisi cinta tempo hari.


Pada saat itulah aku berkhayal untuk bisa menggantikan posisi pria pada pasangan Beauty and The Beast itu.


Teleponku bergetar tiba-tiba.


“Halo,” sapaku ramah.


“Ini Mas Abi?” suara lembut terdengar di seberang. Merdu sekali, mirip suara penyiar radio tengah malam yang sering kudengarkan.


“Iya, ini Abi. Dengan siapa?”


“Mas Abi di mana?”


“Aku ... aku lagi di luar. Ini siapa?”


“Ini Laras, Mas.”


“Laras?”


“Iya Mas. Aku dapat nomor dari emak sampeyan.”


Aduuh! Emak ini....


“Oh iya Laras. Maaf ya. Ada yang bisa dibantu?”


“Besok Mas Abi repot apa nggak? Aku mau minta tolong....”


“Insya Allah ndak. Besok kan hari Minggu, jadi aku free. Minta tolong apa?”


“Anu Mas, aku kan dapat panggilan kerja di kawasan Rungkut. Umpama sampeyan ngantar aku gimana? Lihat lokasinya saja kok. Ntar kalau sudah tahu akan kesana sendiri. Aku takut eh Mas. Aku kan ndak tau seluk beluk Surabaya,” ujar Laras.

__ADS_1


Aku terdiam sejenak. Sejujurnya, aku kenal Surabaya juga setengah-tengah. Hanya tahu lingkungan kampus saja, tak ubahnya mahasiswa yang sedang dipingit. Bagaimana kenal Surabaya kalau kerjaannya hanya kuliah-tidur kuliah-tidur saja? Sekalipun keluar jalan-jalan, tidak menghafal nama jalan juga.


Menolak Laras jelas tidak mungkin. Apalagi aku yakin Laras ini adalah agen rahasia cantik yang dikirim oleh emak untuk mematai-mataiku. Kalau salah bertindak, bisa dipecat aku dari garis keluarga. Jelas tidak ada pilihan untuk menolak.


Kerjakan atau mati!


“Baiklah Laras. Aku akan anterin kamu. Jam berapa kamu sampai Surabaya?”


“Aku berangkat subuh dari Jombang. Insya Allah jam tujuh sudah nyampai Surabaya.”


“Yo wis. Tak jemput di mana?”


“Enaknya di mana?”


Ditanya malah balik nanya!


“Di Terminal Joyoboyo saja ya?”


“Sembarang Mas. Aku pasrah....”


Tunggu.


Kok ada kalimat ‘aku pasrah’? Memangnya mau kuapain?


Pembicaraan itu terputus. Mendadak suasana mal tak membuatku bergairah. Pikiranku langsung fokus apa yang harus dilakukan esok hari. Kubuka dompet bulukan di saku. Hanya tinggal selembar uang lima puluh ribuan.


Cemas menyergap seketika.


Uang lima puluh ribu dapat apa untuk menjamu tamu? Masa iya diajak minum es tebu di pinggir jalan? Tidak elite sama sekali. Reputasiku akan hancur berkeping-keping di hadapan Laras.


Duh, bagaimana ya?


Sesampainya di kamar, aku masih termenung. Tak mau juga terlihat miskin di depan Laras. Bagaimanapun laki-laki harus punya harga diri. Mau pinjam uang Andre atau Doni, ada perasaan tidak enak. Kami sama-sama mahasiswa dari luar kota. Jiwa gratisan sudah mendarah daging bagi kami. Kuurungkan niat itu.


Sepuluh menit kemudian, aku tersenyum.


Fix....!


Untuk motor, aku pinjam motornya Farhan. Untuk duit, dengan sangat terpaksa kuhubungi Dahlia. Tak perlu menjelaskan alasan kepadanya.


“Ada keperluan mendadak. Seratus ribu saja, Lia....” ratapku melalui telepon.


“Nggak usah meratap kayak anak tiri! Iya ada. Yakin cukup seratus ribu? Bapak mau dikirim cash atau transfer?” tawar Dahlia.


Cih!


Gaya sekali Dahlia. Sudah mirip mbak-mbak teller di bank swasta nasional. Yang membedakan tentu saja intonasi suaranya.


Tidak sekalian menawari pakai kartu kredit?


Bagaimanapun, aku hampir melonjak dari kursi karena girang. Uang seratus ribu bagi Dahlia adalah remahan rengginang. Pastilah dengan tanpa ba-bi-bu dia menyetujui akad kredit itu. Siapa tahu seratus ribu itu bisa dicicil selama lima bulan?


Semangatku kembali menggebu. Wajah manis Larasati dengan kerudung warna pastel, dan senyumnya yang seteduh pohon beringin di lapangan kampus membuat lebih pulas tertidur. Tak sabar menunggu hari esok.


Lusi?


Bahkan aku tidak yakin kamu nyata atau tidak. Maafkan aku.


Terima kasih donaturku, Dahlia Sukmawati.


***

__ADS_1


__ADS_2