
Setelah mengistirahatkan raga sekira enam jam, aku terbangun sebelum subuh menjelang. Terdengar suara air bergemiricik di luar. Gerimis turun tak begitu deras, namun mampu membekukan tulang. Kurapatkan sarung, berharap mendapat sedikit kehangatan.
Rupanya mata ini susah terpejam. Kegalauan mulai meruntuhkan sistem imun tubuh. Beberapa kali bersin, sehingga hidung sedikit berair. Persendian terasa nyeri. Mungkin hari ini aku tidak akan masuk kuliah.
Aku adalah tipe orang yang tidak suka minum obat, tetapi lebih cenderung melindungi tubuh dengan vitamin. Dalam otak telah terdoktrin bahwa di dalam obat bersemayam antibiotik yang tidak baik efeknya bagi tubuh. Tak heran, persediaan Vitamin C di dalam kamar cukup melimpah. Sejauh yang kupahami, asam askorbat cukup efektif sebegai benteng perlindungan diri dari berbagai penyakit.
Setelah melaksanakan salat subuh, kembali kuingin bermesraan dengan bantal dan guling. Badan terasa menggigil. Rasanya tak mungkin membangunkan teman satu kontrakan subuh begini. Toh, tak ada yang bisa mereka lakukan kecuali memberi semangat. Mau tak mau, kunikmati sendiri penderitaanku.
Dengan mengirim pesan pendek kepada Darwis, kukabarkan bahwa hari ini aku tak bisa mengikuti kegiatan pekuliahan karena sakit. Biasanya Darwis akan meneruskan kepada ‘Komting’, untuk kemudian disampaikan kepada dosen yang mengajar.
Bagi seorang mahasiswa perantauan, kusarankan jangan sampai sakit. Karena rasanya sungguh tidak nyaman. Di rumah mungkin ada emak yang akan memanjakan. Kondisi ini akan berbeda apabila di kontrakan. Jangan harap. Untuk sarapan saja masih bingung seperti apa caranya. Kutengok dari dalam kamar, semua teman sudah berangkat kuliah. Maka resmi aku terpasung sendirian dalam kontrakan yang sunyi senyap.
Pukul delapan lewat lima menit, perut terasa melilit karena kelaparan. Tak ada sebutir nasi pun yang bisa kumakan. Biasanya di kamar ada remahan rengginang di dalam toples yang biasa kukais. Sayangnya kali ini kosong.
Masalah perut tidak bisa dianggap enteng. Apalagi aku punya penyakit mag. Mau tidak mau harus keluar kamar untuk mencari makan.
Sebungkus nasi campur berlauk telur ternyata rasanya sangat pahit. Susah sekali masuk ke dalam kerongkongan. Walaupun kupaksa untuk menelan, tetap tak bisa. Alhasil malah muntah. Sementara suhu badan kian meninggi. Walaupun begitu, aku tidak boleh panik. Penyakit seperti ini agak jauh dari kematian. Jadi tak perlu terlalu khawatir.
Menjelang siang, suhu badan semakin meninggi. Parahnya tak ada obat apapun dalam kamar. Salahku juga, karena terlalu anti sama obat. Emak biasanya memberi tablet paracetamol sebagai penurun panas. Tapi di sini kan tidak ada emak?
Baiklah. Bertahan, Abi. Kamu akan survive!
Azan Dzuhur sudah terdengar dari musholla dekat kontrakan. Harapanku, agar hari ini berlalu cepat. Ingin sekali ada seseorang yang bisa menemani, sekedar mengambilkan minum atau mengajak bercanda. Kepala rasanya berat. Hati juga terasa sunyi seperti rumah kosong.
Tok ... tok ... tok!
Terdengar suara pintu diketuk. Siapa ya bertamu siang-siang begini? Tidak mungkin teman-teman satu kontrakan. Mereka biasa pulang sore hari. Atau jangan-jangan, sales teflon yang tidak bermoral seperti tempo hari? Mereka kadang suka mengetuk pintu di jam-jam istirahat. Aku tidak mengerti, mungkin tampangku sudah seperti emak-emak sehingga dia pikir aku akan membeli teflon yang ditawarkan.
Dengan setengah melayang kubuka pintu. Ada rasa lega bercampur malu. Dahlia dan Darwis sudah berdiri di depan pintu kamar. Dalam hati aku langsung bisa menebak bahwa Darwis yang menjadi dalang semua ini. Akan kubuat perhitungan nanti.
“Ya Allah, kamu kenapa? Kata Darwis kamu sakit ...” ujar Dahlia dalam raut kecemasannya. Sebaliknya, Darwis cengar-cengir tanpa rasa bersalah.
__ADS_1
“Aku lagi nggak enak badan ....” jawabku datar.
“Mukamu pucat banget lho. Langsung ke puskesmas saja ya? Udah makan belum?” dengan spontan Dahlia meraih tanganku.
Deg.
Ternyata begini rasanya disentuh perempuan. Sungguh, ini sentuhan perempuan pertama selain berjabat tangan. Darah rasanya berdesir. Jantung juga berdetak lebih cepat. Padahal baru tangan yang disentuh. Bagaimana kalau bagian yang lain?
“Pantesan aku telepon ribuan kali nggak diangkat. Ternyata kamu sakit. Ya udah yuk kuantar ke puskesmas ....” ajak Dahlia.
Puskesmas? Tidak!
Jarum-jarum suntik terlihat sangat mengerikan bagiku. Obat-obatan adalah mimpi buruk yang tak berkesudahan. Mungkin ketakutan ini dapat digolongkan menjadi ‘medicine phobia’. Ada kisah di masa lalu yang membuatku sangat takut terhadap segala sesuatu yang berhubungan dengan pengobatan. Nanti akan kuceritakan di bagian lain. Bagaimanapun, aku harus terlihat gentle di depan Dahlia.
Masa pria takut sama jarum suntik?
Dengan dibantu Darwis, Dahlia melarikan mobilnya ke puskesmas yang tidak begitu jauh dari kontrakan. Untunglah, di jam siang begini tidak begitu banyak antrean, sehingga aku bisa langsung ditangani. Bergemuruh dada ini memasuki ruangan puskesmas yang berbau aneka rupa obat, sehingga membuat perut serasa diaduk.
Seorang dokter wanita yang lumayan berumur memeriksaku, mengecek suhu tubuh, tekanan darah dan memberikan catatan kecil untuk diberikan ke bagian obat. Dilihat dari kecermatan dan kesigapannya, dapat dipastikan dia sudah cukup senior berkecimpung dalam bidang kedokteran.
Aku mengangguk. Tak berani protes. Apalah dayaku berani menyanggah apa yang disampaikan dokter senior ini?
Ada perasaan malu sebenarnya. Rasa bersalah semakin menyusup dalam pikiranku. Bagaimana tidak? Dahlia yang sebelumnya kuabaikan, malah menolongku dengan setulus hati. Semua biaya pengobatanku hari ini seratus persen gratis.
“Nanti habisnya berapa bilang aku ya, Lia.” ujarku.
“Sudah nggak usah. Lihat kamu sembuh saja aku sudah seneng banget,” jawab Dahlia.
Bunga-bunga di hatiku sontak mekar mendengar kalimat terakhirnya. Sementara, Darwis semakin menjadi-jadi dengan memasang tampang tidak jelas.
“Habis ini kamu harus makan siang. Ingat! Harus makan! Nggak boleh nggak! Kalau kamu nggak makan, maka aku akan tungguin sampai kamu makan. Kalau perlu kusuapin!” sabda Dahlia.
__ADS_1
Busyet! Sadis amat ....
Emak saja tidak sesadis ini. Jelas aku tidak mau kalau sampai disuapin Dahlia. Mau ditaruh di mana ini muka?
Karena masih ada jam kuliah, sehabis mengantar ke puskesmas Dahlia langsung kembali ke kampus. Sedangkan Darwis tetap menemaniku di kamar.
“Ternyata kamu ini bisa sakit juga?” kata Darwis.
“Kamu pikir aku ini Spiderman yang nggak bisa sakit?” jawabku sambil menyuap nasi yang dibelikan Dahlia. Harus habis kali ini.
“Enak ya. Demam sedikit saja ada yang memperhatikan. Aku jadi ngiri. Kalau kulihat, Dahlia sayang banget sama kamu. Sudah anaknya orang kaya, baik lagi. Sudah, jadian saja sama dia,” oceh Darwis.
“Mau tukar posisi kah?” tawarku.
Darwis menggeleng cepat.
“Kok nggak mau? Tadi bilangnya baik, anak orang kaya. Kan paket lengkap tuh ....”.
“Yang lain saja aku,” Darwis cengar-cengir tidak karuan.
“Yang lain siapa? Diana?”
“Jangan sebut nama dia. Itu masa lalu ....”
“Ya daripada kamu nggak laku-laku. Gini-gini, aku ini aset berharga lho,” sombongku.
“Dahlia doang yang suka kamu! Yang lain mana?”
“Eh, jangan salah! Kalaupun ada yang lain suka sama aku, nggak juga aku cerita sama kamu. Ntar langsung aja kukasi kamu surat undangan ....”
Darwis mencibir.
__ADS_1
Kuanggap cibiran itu sebagai pelecut semangat. Lihat nanti, Darwis. Istri siapa nanti yang lebih cantik! Atau nggak usah istri. Terlalu jauh. Siapa di antara kita yang mendapat pacar duluan?
***