DUNIA ABIMANYU

DUNIA ABIMANYU
Chapter XV : Hopeless


__ADS_3

Sepekan berlalu.


Aku mencoba bangkit dari keterpurukan. Serpihan kenangan kadang datang bagai tamu tak diundang. Kadang serpihan itu memancing untuk menitikkan air mata.


Walau hanya setetes.


Bapak pernah berkata pantang bagi pria untuk menangis. Tetapi menurutku, kadang kita perlu hanya untuk sekedar mengosongkan himpitan di rongga dada.


Kawan-kawan di kontrakan sudah mulai menghiburku. Seperti biasa, Doni mengajak untuk sekedar mencuci mata di mall, mencari barang-barang diskon. Doni memang terkenal sebagai seorang shopaholic sejati. Nafsu belanjanya di atas rata-rata manusia normal. Bahkan barang-barang yang tidak terlalu penting menurutku. Di kamarnya ada beberapa topi berbagai brand ternama yang harganya lumayan, tetapi dia sendiri jarang memakai topi.


Mubazir kan?


Sedangkan Andre kembali menawariku untuk berpetualang dalam dunianya yang bercahaya, penuh warna berbalut nikmat memabukkan. Si penyuka pesta itu akan hinggap dari pesta satu ke pesta yang lain. Tentunya Andre sudah cukup dewasa untuk mengetahui konsekuensi apabila terlalu dalam berkecimpung di dalamnya. Jadi tak perlu berkhutbah. Setiap orang mempunyai cara pandang yang berbeda untuk menyikapi masalah.


Aku tolak secara halus.


Farhan meminjami buku-buku motivasi yang tebal. Salah satunya adalah buku Chicken Soup milik Jack Canfield yang best-seller itu. Selera membacanya memang patut diacungi jempol. Berbeda dengan Doni yang suka membaca rubrik gosip recehan di surat kabar! Ia rela membaca di warung hanya untuk menunggu gosip terbaru dari Luna Maya, artis favoritnya.


Membaca buku motivasi sebenarnya baik untuk menyehatkan mental.Tetapi baru kubuka selembar saja, sudah merasa pusing. Bahasanya terlalu tinggi, apa daya aku kurang bisa mencerna buku semacam ini. Aku butuh beberapa novel teenlit atau paling tidak novel lawas milik Agatha Christie.


Di hari-hari pertama sejak kembali dari kampung, memang harus sekuat tenaga mengumpulkan remah-remah semangat yang sempat berserakan. Aku mendadak merasa hopeless. Harapan-harapan yang terajut sejak lama seolah sirna begitu saja. Banyak pikiran buruk menghantui..


Pernah suatu kali kusampaikan kepada emak agar aku berhenti kuliah saja, bekerja di sawah, menjaga emak dan Weni.


Sayangnya emak menolak.


“Emak dan Weni tidak apa-apa. Kamu nggak boleh berhenti kuliah. Kasihan bapakmu. Dia pengen lihat kamu jadi orang besar, tidak seperti dirinya. Kamu harus tetap melanjutkan kuliah untuk mewujudkan mimpi-mimpimu. Jangan pernah menyerah yo Le,” petuah emak.


Mendadak semangatku terlecut.


Baiklah, Mak. Aku akan berjuang.


***


Setumpuk kertas berisi tugas terjemahan kuterima dari Dahlia Sukmawati. Gadis itu tampak antusias menyambutku. Kini, hati ini melunak. Aku tak punya lagi stigma buruk tentang dirinya. Di balik ketegasannya, tersimpan kelembutan yang tak terungkap.


Yah, Dahlia Sukmawati tetaplah seorang gadis biasa. Ia menyembunyikan trauma masa lalu dalam topeng ketegarannya.


“Yuk menemaniku makan siang!” ajak Dahlia.


Tunggu.


Aku tidak salah dengar kan? Dahlia mengajakku menemani makan siang?


Yang benar saja.


Ini adalah undangan makan siang yang tak pernah kuharapkan sebelumnya. Tetapi sungguh tidak enak menolak permintaan Dahlia. Ketulusannya saat berkunjung ke rumah, membuat seolah aku terbelenggu dalam perasaan yang kuciptakan sendiri.


“Siang ini, Lia?” tanyaku berbasa-basi.


“Iya. Mungkin kamu ada waktu. Sambil kita membicarakan program baru di klub english kita,” jawab Dahlia.


Membicarakan program baru di klub english kita. Tolong digaris bawahi. Kita?


Aku ini siapa?


Otakku berputar-putar mencari alasan untuk menolak permintaannya. Bukan karena malu untuk makan siang dengannya. Rasanya tak pantas saja. Mungkin apabila ada Darwis, masih bisa kupertimbangkan ajakannya.


Sontak kenangan melayang saat makan siang bersama Lusi. Firasatku mengatakan kalau Dahlia akan mentraktirku juga.

__ADS_1


Cukup.


Cukup Lusi saja yang membayari makan siangku.


“Sebenarnya aku ada janji bertemu dengan dosen siang nanti,” dustaku.


“Jadi nggak bisa ya?”


“Maaf ya Lia. Mungkin lain kali. Maaf bangeeet....”


Rasa kecewa tersirat seketika di raut wajahnya. Tetapi dengan cepat ia sembunyikan dengan senyum yang pahit.


Maafkan aku, Dahlia. Aku tidak bisa.


“Lain kali mungkin?” tanyanya lagi.


Duh. Dahlia tidak menyerah rupanya.


“Insya Allah,” jawabku pendek.


Aku tidak peduli bagaimana Dahlia mengartikan kata ‘Insya Allah’ itu. Hanya berharap dia lupa, dan tidak menagihku lagi di lain hari.


Hari berikutnya, saat mengambil kertas terjemahan di perpustakaan, Dahlia menyerahkan sebuah bungkusan padaku.


Aku terkejut.


“Apa ini?” tanyaku.


“Nasi padang. Buat kamu,” jawabnya.


Nasi padang?


Tapi sayangnya aku belum punya mertua.


“Aku..aku udah makan Lia,” dustaku lagi.


“Nggak apa-apa. Bawa aja buat makan sore juga nggak apa-apa,”paksanya.


“Kamu nggak perlu repot seperti ini, Lia....”


“Aku harus banyak terima kasih kepadamu, Abi. Hanya kamu loh yang mau nolongin aku dan mau dengar ceritaku. Kamu tuh sudah seperti teman dekat buat aku.”


Aku?


Beruntung sekali aku menjadi teman dekat Dahlia!


Huh!


Usia Dahlia sudah jelas lebih tua daripadaku. Mungkin tidak terpaut terlalu banyak. Tetapi pembawaan Dahlia yang out of date membuatnya terlihat lebih tua dari umur yang seharusnya. Mengobrol dengan dia jadi berasa seperti tante dan ponakan!


Carilah brondong lain, Dahlia!


“Ayolah bawa aja! Aku akan kecewa banget kalau menolaknya,” desak Dahlia.


“Baiklah, Lia. Terima kasih ya....” kuterima bungkusan nasi padang itu dengan canggung.


Maafkan aku, Lusi.


Kami pun berpisah.

__ADS_1


Tetapi masih tak habis pikir. Nasi padang dari Dahlia ini seperti sebuah modus untuk niat tertentu. Pikiran buruk mulai menyusup diam-diam, meracuni kewarasanku.


Semoga aku salah.


Begitulah. Hari demi hari aku dihujani banyak makanan dari Dahlia. Setelah nasi padang berlauk rendang, Dahlia membawa menu-menu baru yang menggoda iman. Martabak manis, sate ayam madura, es teler dan yang paling mengejutkan saat dia membawakanku sekotak pizza.


“Hari ini mamaku berulangtahun, jadi aku bawakan ini untukmu,” ujarnya.


“Dahlia, kamu nggak perlu repot-repot seperti ini,” tolakku.


“Siapa bilang aku repot?”


Aku menghela napas.


Tak mampu kumenolak setiap pemberian Dahlia. Doktrin wanita tua di kereta itu tertancap kuat di pikiran.


Tidak baik menolak rezeki.


“Oya, mama bilang kapan-kapan suruh main ke rumah,” imbuh Dahlia.


Waduuh....!


Makin kacau urusan kalau seperti ini caranya.


Yang kutahu, Dahlia ini adalah putri dari seorang pengusaha kaya. Rumahnya yang cukup mewah berada di kawasan Kertajaya. Kabarnya, dia mempunyai toko bangunan yang sangat ramai. Agak aneh kalau dia bergaul dengan kaum dhuafa sepertiku.


Yang jelas, rasa simpati Dahlia sudah sangat berlebihan. Aku khawatir ada udang di balik batu dari semua yang ia lakukan. Sejauh ini, aku masih ber-khusnudzon padanya. Jadi kuterima saja setiap pemberiannya dengan lapang dada.


Toh, aku tidak makan sendirian. Sekotak pizza kubagi dengan teman-temanku.


“Tumben kamu beli pizza? Baru gajian ya,?” tanya Andre sambil mencomot sepotong pizza bertabur keju itu.


“Nggak beli kok. Dikasi teman tadi,” jawabku singkat.


“Baik betul temanmu. Siapa? Cewek ya?” tanyanya.


“Ada teman di kampus yang ulangtahun,” dustaku.


“Tiap hari aja kayak gini!”


Tiba-tiba, Doni muncul dari kamar. Hebat juga indera penciumannya. Tahu saja kalau aku lagi membawa makanan.


“Jahat kamu, Bi! Bawa makanan nggak panggil-panggil!” Doni segera beraksi.


“Ya aku kan nggak tahu kalau kamu ada di kamar. Udah bawa makanan, dikatain jahat pula, ” protesku.


Doni tertawa.


“Mana Farhan? Ntar dikirain aku nggak panggil-panggil!” sambungku.


“Farhan pulang malam hari ini. Ada urusan sepertinya,” jawab Andre.


“Udah kuhabisin saja ya? Itu artinya bukan rezeki dia. Siapa suruh pulang malam?” Doni semakin kalap.


“Sisain sepotong,” ujarku.


Pizza adalah jenis makanan mewah bagi mahasiswa seperti kami. Lidah kami sudah terbiasa merasakan gurihnya monosodium glutamat dalam bumbu mi instant.. Tak heran kalau makanan Italia ini akan ludes dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Kami khilaf menyantap potongan pizza hingga remah terakhir.


Farhan tidak kebagian.

__ADS_1


***


__ADS_2