
Langit bergemuruh. Mendung bergulung-gulung, angin bergejolak mengaduk-aduk isi semesta. Aku merapatkan jaket, berharap agar air tidak tercurah sore ini.
Dari lantai tiga perpustakaan terlihat para mahasiswa berlari-lari kecil mencari perlindungan. Beberapa merapat ke dalam gedung perpustakaan. Walaupun ada beberapa mahasiswa di lantai tiga, suasana hening menyergap. Masing-masing fokus melalap buku tebal di hadapan mereka.
Ada dua tipe mahasiswa yang gemar berkunjung ke perpustakaan. Yang pertama, mereka pure golongan kutu buku, yang memang haus akan ilmu pengetahuan. Buku-buku tebal mirip mantra-mantra sihir yang ada di Hogwarth, bertumpuk-tumpuk memenuhi meja. Entahlah apa isi buku tersebut! Aku sendiri tak terlalu hobi membaca, kecuali novel-novel keren milik Agatha Christie.
Kutu buku biasanya identik dengan kaca mata tebal ala Betty La Fea, tetapi menurutku tidak sepenuhnya benar. Kaca mata tebal identik dengan orang yang menderita gangguan akut pada penglihatan.
Tipe yang kedua adalah tipe ikut-ikutan. Biasanya mereka ke ke perpustakaan apabila ada teman yang kebetulan mengajak pergi ke sana, atau ada urusan yang memang mengharuskan untuk mencicipi nikmatnya literasi. Biasanya tipe ini mewabah di kalangan mahasiswa tingkat lanjut yang sedang menyelesaikan tugas akhir.
Aku termasuk dalam tipe kedua.
Dalam beberapa kesempatan, aku memang harus membongkar semua isi perpustakaan ini untuk mencari referensi relevan dalam mengerjakan tugas akhir yang harus kutempuh tidak lama lagi. Bagian menyedihkannya adalah, semua buku itu tertulis dalam Bahasa Inggris. Walaupun aku dikatakan cukup expert dalam Bahasa Inggris, nyatanya cukup keteteran memahami isi sebuah buku.
Pada awalnya aku berpikir gedung berlantai lima ini adalah tempat yang tidak menggetarkan perasaan, dengan deretan rak-rak berisi buku membosankan. Suasana heningnya sangat ideal untuk melambungkan khayal kemana-mana. Bahkan tak ada seorang pun di sini yang terlihat ramah. Muka mereka terlipat rapi, nyaris tak ada senyum tersungging. Namun belakangan, tempat ini akan menjadi torehan sejarah bagi lembaran hidupku. Di tempat ini pertama kali aku mencetak rupiah pertama dari pekerjaan sebagai translator.
“Bi ...,” suara yang akrab terdengar di telinga menyapa.
Ah, suara Dahlia. Hanya saja dengan kekuatan desibel yang lebih lemah ....
Kupalingkan pandangan mendapati sesosok gadis yang berdiri terpaku menatapku. Wajahnya sedikit pasi, tak secerah biasanya. Tak ada pula goresan lipstik di bibirnya. Semua terlihat natural.
Pengaruh diare.
“Loh, kamu sudah masuk kuliah?” sambutku.
“Belum,” jawab Dahlia lesu. Ia mengambil posisi duduk di hadapanku.
“Terus mengapa kamu kesini?”
“Bukankah ada urusan klub yang harus diselesaikan, Bi? Takutnya ntar kalau aku nggak datang rencana itu bakalan gagal. Aku nggak mau punya hutang. Ini masih tanggungjawabku,” cemas Dahlia.
“Sudahlah, nggak usah terlalu dipikirin. Kelihatannya kamu masih sakit. Sudah ke dokter?” tanyaku.
“Sudah ke dokter kok. Jadi bagaimana persiapannya?”
__ADS_1
“Beres semua. Sudah terbentuk semua panitianya. Tinggal rapat-rapat koordinasi saja.”
“Lokasinya gimana? Udah nemu apa belum?”
“Si Benny kemarin menawarkan lokasi di Gunung Panderman, karena ada familinya tinggal di sana, jadi bisa bantu-bantu gitu. Ntar urusan konsumsi juga bakal dibantu. Gimana?”
“Ya udah situ aja nggak apa-apa. Aku males mikir ....”
“Oke, aku lock loh ya,” kataku.
Ia mengangguk lemah. Sorot mata Dahlia berbeda dari biasanya. Suram dan tak bercahaya.
“Mau makan siang bareng nggak hari ini? Bakso cinta sudah menunggu kita ....” tawarku.
Dahlia menggeleng lemah.
“Dokter melarang makan sembarangan. Sementara harus makan makanan rumahan. Jadi habis ini aku pulang saja.”
“Loh, kamu nyetir sendiri?”
“Nggak. Ada yang nganterin kok. Nggak usah khawatir.”
Sungguh tidak tega melihat kondisi Dahlia seperti ini. Aura singa betina garang yang biasanya terpancar menjadi kabur. Aura itu seolah musnah gara-gara diare!
Dahlia memberikan lambaian tangan ketika meninggalkanku, tetapi dengan wajah nyaris tanpa senyum. Mobilnya meluncur meninggalkan area kampus. Kutarik nafas dalam-dalam. Rasanya tidak semangat menyelesaikan segala urusan ini seorang diri.
Irawan, sebagai wakil ketua menunjuk aku sebagai ketua panitia camp tahun ini.
Aku tak tahu, apakah ini bencana atau anugerah? Menjadi ketua pelaksana sebuah even besar seperti ini adalah hal yang pertama buatku. Aku berharap agar Dahlia membimbing, namun apalah daya kondisi belum memungkinkan.
Baiklah. Ganbatte!
Dengan segenap potensi yang aku miliki, perjuangan akan dimulai. Rapat kedua telah selesai kupimpin. Persiapan semakin matang di segala lini. Urusan transportasi dan konsumsi sudah beres. Masing-masing penanggungjawab kegiatan semua sudah on the track. Rini, gadis manis berkerudung lebar itu mencatat semua notulen rapat dalam sebuah binder, dan menunjukkan padaku secara berkala.
“Butuh tanda tangan Pak Ketua,” ujar Rini sambil menyodorkan coretan hasil rapat.
__ADS_1
Luar biasa!
Aku merasa seperti mempunyai seorang sekretaris pribadi.
Semua hasil rapat kupelajari di malam hari, saat semesta terlelap dikuasai mimpi. Keheningan konon bisa membuat pikiran lebih jernih. Sayangnya aku tak sepenuhnya setuju. Aku malah lebih fokus kalau ada suara alunan musik syahdu yang membelai jiwa rapuh sepertiku.
Setelah kupelajari, semua hasil rapat kulaporkan pada Yang Mulia Dahlia Sukmawati. Sayang, seperti yang kuduga sebelumnya, dia agak tak terlalu berminat dengan laporan-laporan seperti itu.
“Kau urusi semuanya saja ya,” ucap Dahlia di telepon.
“Aku kan minta persetujuanmu, Dahlia.”
“Nggak perlu. Kamu kan ketua panitia. Kamu harus bisa memutuskan sendiri tanpa bantuan orang lain. Nah, kalau kamu masih saja meminta bantuanku, ya mending aku saja yang jadi ketua panitia,” terang Dahlia.
Aku terdiam. Tak ada guna menyangkalnya. Toh apa yang dikatakan Dahlia tidak salah. Justru ini adalah kesempatan buat aku untuk mengasah skill berorganisasiku. Dari aku SD hingga setua ini, tak pernah sekali pun aku mendapat kesempatan untuk bergabung menjadi pengurus organisasi. Kebanyakan mereka memandang sebelah mata.
Inilah kesempatan untuk membuktikan bahwa aku juga bisa. Mereka menilai di balik penampilan yang kalem terdapat jiwa yang kalem. Big No! Kesalahan pertama adalah menilai seseorang dari tampilan luarnya.
Don’t judge a book by its cover!
Rapat koordinasi terakhir kali ini dihadiri oleh Dahlia. Tampak kondisinya jauh lebih baik daripada saat bertemu di perpustakaan kemarin. Rapat koordinasi ini dihadiri semua anggota yang jumlahnya 46 anggota, termasuk Darwis.
Kembali aku menaiki tahta pemimpin rapat, dengan Dahlia sebagai ibu suri, Irawan sebagai perdana menteri, dan Rini sebagai selir!
Semua penanggungjawab menyampaikan laporannya secara terperinci, sementara Rini menulis dengan saksama. Memimpin rapat adalah sebuah seni. Kita dituntut untuk mendengarkan, memberi pendapat dan memutuskan. Bagian yang paling rumit adalah poin terakhir. Kadang keputusan yang kita buat tak bisa memuaskan banyak pihak. Walaupun begitu, semua harus menerima dengan lapang dada.
Inilah yang dinamakan dengan demokrasi.
Tak ada hambatan berarti, kecuali seorang anggota yang bernama Buyung. Dia mungkin tidak bisa mengikuti kegiatan English Camp ini dengan alasan yang sangat sepele.
Dia mabuk kendaraan!
Syukurlah, berkat bujuk rayu dan motivasi menggelora dari yang lain, plus iming-iming Antimo gratis, Buyung akhirnya luluh juga. Bagaimanapun, ini kegiatan tahunan yang penuh kenangan. Jadi sangat rugi untuk dilewatkan.
Malang, kami akan datang!
__ADS_1
Lusi, tunggu aku di gerbang hatimu ....
***