
Aku menatap sepasang bola mata yang diliputi rasa cemas. Lampu teras yang temaram menyaput wajah yang menyiratkan kegelisahan. Seperti biasa, aku kehilangan rangkaian kata, tak tahu harus berkata apa.
“Dompetku hilang, Mas!” kata gadis bermuka sendu itu.
“Kok bisa Ras? Hilang di mana?” tanyaku agak gugup. Aku dapat merasakan kekhawatiran yang ia rasakan. Binar-binar keceriaan yang biasa kutangkap dari sorot matanya seakan luruh.
“Aku tadi sedang berbelanja kebutuhan bulanan, sekalian jalan di Galaxy Mall. Tak tahunya setelah turun dari angkot aku cari-cari dompetku nggak ada, Mas. Aku nggak yakin apakah jatuh atau dicopet. Waktu aku mau cari, angkotnya sudah keburu pergi. Aku bingung Mas malam-malam di pinggir jalan. Nah, tadi aku kesini naik taksi. Tapi bingung nggak bisa bayar. Kalau ada, aku mau pinjam dulu Mas. Taksinya masih nungguin di depan gang sana. Aku bingung mau minta tolong siapa. Nggak mungkin aku minta bantuan Mas Jono yang rumahnya jauh dari sini. Kamu satu-satunya yang kuingat, Mas,” tutur gadis yang tak lain adalah Larasati.
Rasa iba merebak seketika. Aku dapat merasakan apa yang sedang dialami Laras. Aku sudah pernah merasakan, betapa paniknya apabila dompet hilang. Mugkin uang bisa dicari, tetapi bagaimana dengan macam-macam identitas yang ada di dalamnya? Untuk mengurus lagi, tentu bukan perkara mudah dan membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Kalau tidak punya aktivitas lain mungkin bukan masalah, sayangnya waktu harian tersita juga untuk bekerja dan sebagainya. Sumpah, kehilangan dompet adalah mimpi buruk yang tak ada habisnya.
“Oh iya, Laras. Nggak apa-apa. Pakai uangku dulu untuk bayar taksi. Habis ini aku antar ke kontrakan. Yang penting kamu nyampai kontrakan dulu, trus coba besok nyicil ngurus surat-surat yang hilang itu,” saranku.
“Aku jengkel banget, Mas. Kayak nggak ikhlas banget. Uangku lima ratus ribu hilang, terus surat-surat penting semua ada di sana. Malesnya aku harus balik ke Jombang untuk ngurus itu. Kan aku masih pake KTP Jombang, Mas!” sesal Laras.
“O iya ya! Repot banget kalau kaya gitu. Aku bisa tolong apa nih buat kamu?”
“Aku pinjam uangmu dua ratus ribu ada nggak, Mas? Besok aku akan tarik uang ke bank pakai buku tabungan sekalian blokir ATM, karena ATM juga ada di dompet. Nanti uangnya kukembalikan setelah pulang dari bank ya, Mas?”
“Nggak usah dipikir Ras! Pakai aja dulu. Yang penting semua urusanmu lancar,” ucapku berpura-pura kaya. Padahal aslinya, persediaan uangku sangat menipis juga. Bagaimanapun, menolong orang yang sedang susah juga penting.
“Maaf banget ya, Mas kalau ngrepoti ....”
“Nyantai saja, Ras. Kita saling bantu. Mungkin suatu saat nanti aku yang butuh bantuanmu!”
Sejujurnya, aku khawatir. Dalam kondisi seperti ini aku cukup terjepit, karena uang persediaan juga menipis. Jumlah uang yang akan dipinjam menurutku cukup besar. Sayangnya, aku harus memakai topeng di depan Laras, berlagak seperti Sultan Brunei dengan pundi-pundi rupiah tersimpan di dompet. Mau ditaruh di mana muka ini kalau sampai tak bisa menolong Laras.
Singkatnya, Laras segera membayar ongkos taksi dengan uang pinjaman dariku. Dalam hati aku berpikir, ternyata begini rasanya saat kondisi terjepit, kemudian ada seseorang yang meminjam. Kini aku merasakan apa yang dirasakan Dahlia. Apakah dia juga merasa tak nyaman ketika aku meminjam uang darinya?
Jangan-jangan ini karma ....
“Kamu mau minum kopi dulu atau gimana, Ras?” tawarku, sementara dia duduk di kursi teras.
Malam kian larut. Sepi mulai merayap perlahan menuju pagi. Aku harus segera mengantar anak gadis orang ini pulang ke kontrakan. Tak baik dia bertahan berlama-lama di kontrakan. Fitnah bisa berhembus ke segala penjuru. Salah-salah, bisa kena gerebek Satpol PP.
“Nggak usah minum, Mas. Pikiranku nggak tenang ....,” ucapnya.
__ADS_1
“Udahlah Ras! Ikhlasin aja, ntar bakalan diganti kok!” Aku berusaha menenangkan.
“Kalau uang sih Insya Allah aku ikhlas, Mas. Tapi surat-surat itu loh yang bikin aku kepikiran. Pasti repot banget ngurus surat segitu banyak!” lirih Laras.
“Kalau butuh bantuanku ngomong aja ya, Ras. Insya Allah aku siap!”
“Makasih ya, Mas!”
Tak tega rasanya melihat gadis itu dirundung kegalauan seperti ini. Sedangkan aku sendiri juga serba salah. Yang jelas dia harus segera kuantar ke kost. Kutemui Doni yang masih asyik menonton acara di televisi.
“Don, pinjam motormu ya sebentar buat ngantar temanku!” Aku meminta izin pada Doni.
“Pacar barumu kah, Bi?” selidik Doni.
“Bukan! Teman satu kampung di Jombang. Dompetnya hilang, dia minta diantar ke kontrakan. Nggak tega aku malam-malam gini naik angkutan. Boleh ya?” pintaku sekali lagi.
“Oke. Tapi ingat!” Seperti biasa, Doni memberi syarat khusus sebelum memberikan kunci.
“Ingat apa?”
“Tempat yang nggak-nggak? Mana tuh?”
“Siapa tahu mau ke Dolly!”
“Astaghfirullah. Dih, ngeres banget pikiranmu. Haram tau!”
Setelah Doni memberikan kunci, aku segera meraih jaket yang tergantung di pintu kamar. Di luar, cuaca dingin mulai menyapa. Aku tidak mau bersin-bersin gara-gara cuaca ini.
“Ayo Ras! Kuantar kamu ke kost!” ajakku.
“Wah, aku jadi ngrepotin Mas Abi nih!”
“Nggak kok! Nyantai saja!”
Sebentar saja, Laras sudah menghempaskan diri di jok belakang motor. Udara cukup dingin membuat Laras merapatkan tubuh agar sedikit lebih hangat. Agak canggung ketika tangan Laras tiba-tiba melingkar di pinggang. Jantungku terasa berdetak lebih intens.
__ADS_1
Motor melaju menyusuri Kota Surabaya yang masih ramai. Kota ini, selalu berdenyut tiap detik. Masih banyak manusia yang memilih untuk menghabiskan waktu di luar ramah. Di beberapa sudut trotoar, kaum insomnia asyik berkutat dengan rokok, kopi dan gitar. Kurasakan tangan Laras yang mencengkeram pinggangku kuat-kuat, seolah takut kehilangan.
“Kamu udah makan, Ras?” tanyaku, berusaha memecah kebekuan di antara kami.
“Udah Mas, tadi sedikit sebelum berangkat!”
“Lapar lagi nggak?”
“Nggak sih, Mas! Tapi kalau Mas Abi lapar terus mau makan apa gitu nggak apa-apa. Aku bakalan temani kok! Sepertinya masih ada penjual makanan jam segini.”
“Nggak usah saja! Kita langsung pulang ke kontrakan. Ini kan sudah malam banget!” saranku.
Sebenarnya aku merasa sangat letih, ingin segera mengistirahatkan raga yang dihajar banyak pekerjaan seharian. Sayangnya aku harus menunda sejenak. Tak mungkin kubiarkan gadis ini sendirian di belantara surabaya. Bagaimanapun, dia menyimpan sejumput kenangan indah di masa lalu.
Tiba-tiba kurasakan helm Laras bersandar di punggung. Aku khawatir, jangan-jangan dia mengantuk. Berbahaya membonceng orang yang mengantuk. Kupelankan laju sepeda motor.
“Ras?” tanyaku.
Ia tidak menyahut.
Kupinggirkan sepeda motor di pinggir jalan yang agak sepi. Suasana agak gelap, karena tidak ada lampu jalan yang menerangi. Untungnya kami di wilayah pemukiman penduduk, walau sudah sepi.
Benar dugaanku. Laras mengantuk. Matanya terpejam ketika aku mengecek keberadaannya.
“Ras? Kamu ngantuk?”
“Eh, maaf ya Mas! Iya aku lelah banget hari ini!” ucapnya gugup. Mukanya memerah karena malu. Demikian pula matanya.
“Ya udah, tahan ngantuknya sebentar ya! Udah dekat kok. Nanti begitu sampai langsung istirahat aja. Nggak usah mikir lain-lain dulu.” Saranku.
“Iya Mas!”
Entah mengapa timbul rasa iba. Laras mengingatkan pada adik perempuanku. Atau mungkin naluri laki-laki bila melihat seorang wanita yang sedang kesusahan, untuk peduli. Kami segera melanjukan perjalanan menuju kost Laras. Kali ini kurasakan dekapannya makin menguat. Jantungku makin bergemuruh.
Jangan, Laras! Please jangan! Aku masih lemah iman..
__ADS_1
***