DUNIA ABIMANYU

DUNIA ABIMANYU
Chapter XIII : Telepon Dua Menit


__ADS_3

Semenjak mendapat pekerjaan baru sebagai penerjemah, kini aku lebih sibuk dari biasanya. Kalau biasanya bisa berlama-lama di kontrakan, kini nyaris tak pernah menginjakkan kaki ke sana. Aku selalu pulang larut malam, karena harus ke perpustakaan untuk meminjam kamus Bahasa Inggris terbaru.


Kontrakan hanya jadi tempat untuk menumpang tidur. Karena pagi-pagi sekali, harus sudah siap ke kampus. Baru malam kembali ke kontrakan. Tetapi toh aku tak mengeluh. Aku menjalaninya tanpa beban, walau badan terasa remuk redam. Kalau di kampung, ketika tubuh didera rasa lelah, emak selalu meminta Lek Tono untuk mengurut. Dengan sedikit olesan minyak urut, Lek Tono sangat piawai untuk mengetahui urat-uratku yang terasa kaku.


Kini, aku hanya bisa menikmati rasa lelahku sendirian, tanpa protes karena sadar itu semua tak ada gunanya. Toh lelah ini bukan sembarang lelah. Setiap tetes keringat yang terkucur, menghasilkan lembar-lembar rupiah.


Dahlia dengan senang hati memberikan uang jasa itu dalam sebuah amplop. Jumlahnya mungkin tak terlalu banyak. Tetapi sungguh itu adalah suatu kebanggaan. Ini adalah rupiah pertama yang kuhasilkan dengan jerih-payah sendiri.


Seperti biasa, lembar rupiah yang kuhasilkan sebagian kusimpan di kaleng bekas wadah susu. Memang jumlahnya tak seberapa, tetapi aku percaya dengan pepatah ‘sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi bukit’.


Tunggu aku, Lusi.


Aku pasti akan datang ke kotamu. Memang tidak membawa segenggam berlian seperti Bang Thoyib, tetapi ada sekeping hati yang selalu resah merindumu.


Malam itu, aku ingin memberikan hak kepada tubuh untuk beristirahat. Aku melirik ke arah Seiko yang melingkar di pergelangan lengan kanan. Sudah pukul 20.10. Sepertinya aku jadi penghuni terakhir perpustakaan. Ingin sekali merebahkan tubuh di kasur tercinta, disertai dentingan piano Richard Clayderman.


Dengan berbalut lelah fisik dan mental, aku akhirnya kembali ke kontrakan dengan membawa sebungkus nasi goreng. Sejak sore tadi belum makan, rasanya sudah terlalu larut untuk makan malam. Tetapi lebih baik mengisi lambung daripada tidak sama sekali.


Kedatanganku di kontrakan dielu-elukan oleh penghuni lain yang tampaknya sudah merindukan.


“Kamu kemana aja sih, Bro? Beberapa minggu ini kok jarang kelihatan?” tanya Doni.


"Kenapa? Kangen ya? "


"Kangen nabok! "


Aku sedang melahap nasi goreng di depan TV sambil menikmati acara kuis yang diikuti artis kelas C. Membosankan.


“Sibuk aku sekarang...” sahutku.


“Sibuk jual diri? Amel nanyain tuh,” Andre ikut bersuara.


“Amel?”


Spontan aku teringat seorang wanita berbedak tebal dan bergincu merah yang pernah kutemui di suatu malam pada sebuah pesta. Aku sama sekali tidak menyangka dia masih mengingat diriku. Padahal tak ada sesuatu yang istimewa menempel padaku.


Atau karena senyumku?


“Mau minta nomor HP-mu, boleh?” tanya Andre.


“Jangan ... jangan!” jawabku spontan.


“Kenapa?”


“Jangan dulu!”


“Pasti karena kamu nggak bisa move on dari Lusi!”


Tepat. Itu salah satu alasannya.


Aku terdiam. Sepertinya pesona Lusi benar-benar membelenggu hati. Keinginan untuk mengenal gadis lain hampir dibilang tak ada. Kepergiannya yang begitu tiba-tiba itu membuatku merasa sangat kehilangan. Terutama saat belajar mata kuliah Mekanika Teknik. Tak ada lagi tempat untuk bertanya dan mencontek!


“Hari Senin kita sudah UTS lho!” celetuk Farhan yang pura-pura sibuk membaca buku teks tebal.


Rupanya ia ingin mengalihkan perhatian dari topik pembicaraan.


Memang, di antara kami Farhan adalah yang paling cuek untuk urusan lawan jenis. Dia senang memberi pendapat, tetapi untuk melaksanakan sendiri dia sangat berkeberatan.


“Ujian nggak ujian sama saja! Sama-sama nggak belajar,” keluh Doni.


“Walaupun belajar palingan tetap nggak bisa ngerjain,” ucap Andre menambahkan.

__ADS_1


“Itu mah kalian! Kalau aku ya pasti belajar,” Farhan membela diri.


Farhan benar.


Baru aku sadar, kalau pekan depan sudah memasuki pekan UTS. Saking sibuknya dengan pekerjaan baruku, sampai tidak ingat tentang UTS.


Walaupun tidak terlalu pintar, aku tidak mau asal-asalan menghadapi UTS kali ini. Kalah sebelum bertanding tidak ada dalam kamus filosofi hidupku. Artinya, bisnis terjemahan untuk sementara dihentikan, karena UTS membutuhkan jiwa dan raga untuk lebih fokus.


Semangat! Kamu pasti bisa Bi!


Aku menyemangati diriku sendiri.


***


Bagi para mahasiswa, istilah SKS atau Sistem Kebut Semalam sudah tidak asing lagi. Aku pun menggunakan metode ini. Menjelang UTS esok hari, aku begadang sampai larut memelototi buku-buku teks tebal dan catatan yang tak rapi. Tetapi sayangnya, otak terasa buntu. Ada hal lain yang mengganjal pikiran.


Telepon dari emak tadi siang langsung meruntuhkan konsentrasiku.


“Pulanglah sebentar yo Bi! Bapakmu sakit,” suara emak terdengar parau di seberang sana.


“Sakit opo to Mak?” tanyaku.


Rasa khawatir langsung menyeruak dalam hatiku. Konsentrasi belajar langsung ambyar seketika.


“Penyakit lamanya kambuh,” sahut emak.


Baru kuingat penyakit lama bapak. Beliau menderita hipertensi sudah sejak lama. Tetapi bapak adalah tipikal keras kepala. Beliau selalu menolak untuk berobat atau cek tekanan darah rutin tiap bulan. Ditambah lagi, bapak suka makan sate kambing. Sudah menjadi rahasia umum, daging kambing tidak boleh dikonsumsi oleh penderita hipertensi.


Betul begitu kan?


Beliau menolak berpantang makan. Apapun kegemaran beliau, selalu disantap tanpa rasa berdosa. Inilah yang sedikit membuatku khawatir.


Kini, kekhawatiranku mencapai puncaknya


Kudengar emak menghela napas. Aku tahu, beliau juga tidak bisa memaksa pulang, karena di sini akupun tengah bergelut dengan serentetan ujian penentu masa depan. Mungkin beliau meyesal karena meneleponku, karena menyadari pasti konsentrasiku akan buyar karena hal ini.


Memang benar.


Telepon selama dua menit itu mampu memporak-porandakan pikiranku. Tulisan-tulisan dalam buku yang aku baca seolah beterbangan. Kucoba untuk lebih memusatkan perhatian, tetapi yang bersemayam di pikiranku hanya satu.


Bapak.


Dalam kegundahan yang meraja, aku mengambil air wudhu. Kupanjatkan doa untuk seorang pria yang telah mengukir jiwa-ragaku, yang kini sedang terbaring sakit.


Padahal, rasanya baru kemarin aku merasakan lengan kekar mengangkat tubuh mungilku ke pundaknya dan membawa berpetualang di tempat paling elok di muka bumi.


Bukit di tepi sawah.


Semoga Allah memberikan kesembuhan pada bapak.


***


Pagi-pagi, aku berusaha menyiapkan mental menghadapi UTS. Aku duduk dengan tegak, ketika lembar soal mulai dibagikan. Darwis menoleh kepadaku.


“Sudah siap?” tanya Darwis.


Aku mengangguk.


Darwis memberiku sebuah jempol sambil tersenyum.


Ujian dimulai.

__ADS_1


Kini genderang pertarungan yang sebenarnya sudah ditabuh. Pengawas hilir-mudik tanpa lelah. Matanya tak berhenti menyapu ke segala penjuru ruangan. Suasana senyap. Kutahan napasku.


Andai kau masih di sini, Lusi.


Butir demi butir kukerjakan soal ujian yang menurutku tak terlalu sulit, tetapi tidak juga dikatakan mudah.


Alhamdulillah.


Aku bisa melaluinya, walau hasilnya masih menjadi teka-teki buatku.Hari pertama terlewati dengan mulus. Hari kedua, ketiga dan keempat melaju dengan cepat bagai mengendara mobil di jalan bebas hambatan.


Padahal aku belajar sekedarnya. Pikiranku masih melayang kepada bapak. Tetapi selama ujian ini sengaja kutepis jauh-jauh. Hanya lantunan doa yang kupanjatkan kepada beliau setiap hari.


Hari terakhir UTS, membuatku himpitan di dadaku seolah terangkat. Aku keluar kampus dengan perasaan puas, tak peduli dengan hasil ujiannya.


“Gimana ujiannya tadi?” tanya Darwis.


“Aku nggak peduli!” sahutku sambil terus berjalan.


“Refreshing yuk!” Darwis membuntutiku.


“Kemana?”


“Jalan-jalan ke Pantai Kenjeran!”


“Nggak!”


“Terus....?”


“Aku mau pulang ke Jombang,” kutoleh Darwis.


Raut mukanya tampak kecewa.


“Pulangnya minggu depan saja,” saran Darwis.


Aku menggeleng.


“Ini urgent, Dar. Aku harus pulang besok.”


“Kamu mau dikawinin?”


“Ntar aja kuceritain!”


Kami berpisah di persimpangan jalan.


Sepanjang jalan ke kontrakan, aku sudah tidak bisa fokus. Pikiranku hanya terpusat ke bapak. Kalau tidak serius, emak tidak mungkin sampai menelepon.


Tetapi, belum lagi sampai di kontrakkan telepon genggamku sudah berdering.


“Mak?” sapaku.


“Pulang sekarang juga yo, Le” terdengar suara emak yang panik.


“Ada apa, Mak?”


“Bapakmu...."


“Kenapa bapak?”


“Bapakmu ora ono...." tangis emak meledak.


Seketika itu juga, aku merasa seluruh tulangku sepeti dilucuti. Perasaan sudah bercampur-aduk. Setengah berlari aku menuju kontrakan yang sepi. Semua penghuninya masih di kampus. Aku tak kuasa membendung air mata yang menganak-sungai.

__ADS_1


Hari itu juga aku pergi ke Jombang.


***


__ADS_2