
Perasaanku masih menggalau, ketika pagi membuncah Kota Denpasar. Doni segera memaksa untuk membersihkan diri, sarapan, dan mempersiapkan perbekalan untuk perjalanan wisata selanjutnya. Sebenatnya masih terasa malas, apalagi ranjang penginapan ini begitu nyaman, seolah tak rela kutinggalkan. Sayangnya Doni sudah mengoceh sejak pagi, jadi terpaksa aku harus bersegera diri.
Seusai sarapan, rombongan kami berangkat dengan menggunakan minibus menuju tempat wisata pertama kami, yaitu Pantai Uluwatu di Bali Selatan. Sebuah pantai eksotis dengan tebing-tebing terjal, dan ombak yang dahsyat. Banyak turis mancanegara memadati kawasan ini. Deretan cafe bertengger di ujung-ujung tebing, menawarkan pemandangan yang luar biasa indah. Sebenarnya aku ingin mengeksplor tempat wisata ini lebih jauh, tetapi kami harus segera berpinda ke tempat wisata berikutnya yakni Tanjung Benoa.
Selama perjalanan, kami melewati Nusa Dua, kawasan bergengsi dengan deretan hotel bintang lima, tempat favorit para turis mancanegara. Tak heran, sepanjang perjalanan banyak berkeliaran bule di segala tempat. Sehingga, aku nyaris sulit membedakan apakah aku sedang berada di Indonesia atau di suatu tempat di Eropa.
Sepanjang hari, kami mengunjungi beberapa tempat seperti Pantai Uluwatu, Tanjung Benoa, Pasar Seni Sukawati dan berakhir di Ubud, untuk selanjutnya melanjutkan perjalanan ke Pantai Kuta. Sebenarnya rasa lelah mendera, tetapi hati terasa senang karena banyak melihat hal-hal baru yang tak pernah kulihat sebelumnya.
Di Pasar Seni Sukawati, aku hampir tertipu oleh penjual patung yang menjual patung kayu dengan harga murah, tetapi jelas berbeda dengan barang yang ditawarkan. Untungnya segera menyadari. Banyak -barang murah di pasar seni itu, asal pandai-pandai menawar. Aku memborong beberapa kaos khas Bali, dan beberapa suvenir untuk oleh-oleh. Ingin membelikan sesuatu buat Dahlia, ah tapi untuk apa? Toh dia bukan siapa-siapaku!
Kulihat Doni membeli beberapa kain khas Bali dan sebuah baju wanita. Parasnya tampak senang, sambil memamerkan barang yang dibelinya.
“Buat Monik!” ujarnya.
Aku mendengkus. Monik? Sengaja dia memamerkan di depan mataku. Sebenarnya cukup sedih, tetapi tak apalah. Aku membeli oleh-oleh buat emak dan Weni, agar kelak aku bisa bercerita kalau aku sudah pernah menginjakkan kaki di pulau dewata. Sayangnya, aku tak bisa mengajak mereka saat ini.
Selain Pasar Seni Sukawati, kami juga bertandang ke Ubud, yang terkenal dengan sawah berundak. Lokasi persawahan seperti ini mengingatkan pada Jombang, kampung halaman. Angin sawah membelai rambut, menerbangkan pada secuil kenangan di masa lampau, saat kulihat wajah gadis itu tersipu di antara rumpun padi yang menguning.
Larasati.
Hati ini mulai melunak. Laras bukan gadis yang tak baik. Lembut dan bersahaja, tak ada cela. Entah kanapa aku membutuhkan waktu lebih lama untuk membangun perasaan bersama dia. Selama ini, aku lebih menganggap dia adik daripada seseorang yang spesial. Sama seperti Dahlia yang juga menganggapku adik. Ini benar-benar rumit menurutku. Bahkan tugas kalkukus tidak serumit ini.
Menjelang senja hari, kami sudah sampai di Pantai Kuta untuk melihat indahnya matahari tenggelam. Sebelum menuju pantai terkenal ini, kami melewati Kuta Shopping Centre, yaitu deretan pertokoan mewah yang menawarkan dagangan dengan harga selangit. Tentu, harga yang ditawarkan tidak ramah bagi umat kantong tipis seperti kami.
Seperti biasa, kawasan Kuta dipadati turis dari berbagai negara. Semuanya berkumpul di tepi pantai untuk melepas kepergian sang surya, dan bersuka-ria menyambut malam.
__ADS_1
Yah, Bali memang eksotik. Sedikit banyak pikiran ini menjadi fresh kembali setelah dihantam berbagai permasalahan. Kalau sudah begini, malas rasanya kembali ke Surabaya yang penuh dengan masalah. Aku merasakan kenyamanan di pulau ini, walau duit di dompet sangat pas-pasan. Pulau ini menawarkan keindahan pantai-pantai, suasana, budaya, dan dinamika kehidupannya yang eksotis. Aku merasa sangat terhibur.
Malam mulai menyapa pulau kecil ini. Badan ini terasa lelah karena seharian berkeliling Bali. Kuselonjorkan badan di ranjang, sambil menikmati mi dalam cup. Aku sudah mencicipi ayam betutu tadi siang, sehingga saat ini waktunya kembali ke selera anak kos. Mi instan bertabur bumbu yang penuh penyedap dan pengawet. Makanan sedap berharga pas, tetapi tetap lezat di mulut.
“Besok agenda kita kemana?” tanya Doni sambil mengganti-ganti saluran TV dengan remote.
“Kurang tahu juga sih. Aku pasrah aja mau kemana. Menurutku, asalkan di Bali, semua tempat terlihat indah. Kalau boleh, aku ingin tinggal di sini, gumamku.
“Bayangkan saja apabila kamu mendapat gadis Bali, kemudian membangun rumah di pulau ini, tiap hari kamu akan merasakan liburan,”ujar Doni.
“Gadis Bali? Satu-satunya gadis Bali yang kukenal adalah Ayu, anak Teknik Arsitektur yang jadi member di klub bahasa inggris,” ujarku.
Doni menonton televisi sambil mulutnya mengunyah keripik jagung yang kami beli tadi siang di sebuah supermarket. Sebenanya mata ini sudah mengantuk, tetapi rasanya tak rela kalau melewatkan kesempatan berharga ini. Aku ingin menikmati setiap detiknya.
“Iya lusa. Kenapa? Kamu udah kangen sama Monik?” tanyaku.
“Nggak sih. Cuma sebenernya aku di kampus juga agak repot karena ada proyek yang kukerjakan bersama dosen. Tadi siang dia udah nelepon menanyakan keberadaanku. Aku nggak jawab kalau aku lagi di Bali, kujawab kalau aku ada keperluan keluarga di Pasuruan,” ujar Doni sambil tersenyum licik.
“Sebenernya sama Don. Tugas akhirku juga masih nggantung. Dosen pembimbingku sudah beberapa kali telepon, tapi tak kuangkat. Aku yakin setelah ini beliau akan marah besar. Tapi tak apalah, sekali-kali kita butuh liburan seperti ini kan Don?” tanyaku.
Doni hanya megangguk. Setidaknya, suasana Bali sedikit membuatku lupa dengan permasalahan yang kuhadapi.
Drrrttt ... drrrttt ... drrrt....
Teleponku bergetar. Aku menduga ini panggilan dari Dahlia atau Darwis. Rasanya malas kalau benar panggilan itu berasal dari mereka. Sempat kulirik layar telepon, ternyata bukan mereka berdua, tetapi Laras. Apa pula kepentingannya telepon? Apakah dia hendak menjelaskan semua? Itu tak perlu menurutku.
__ADS_1
“Iya, Laras ...,” sapaku dengan malas.
“Mas Abi di mana? Aku sedang berada d kontrakan Mas Abi. Tapi kok sepi sekali? Tidak ada orang ya. Mas Abi baik-baik aja kan?” tanya Laras membabi buta.
“Aku baik aja kok, Ras. Nggak usah khawatir,” ucapku.
Doni melirik, sambil tersenyum-senyum. Karena merasa tak nyaman, aku berpindah tempat keluar kamar agar Doni tidak bisa mencuri dengar pembicaraan kami.
“Baiklah, Mas. Sudah baca pesanku kan kemarin?” tanya Laras.
“Oh, udah kok. Maaf ya aku belum bisa respons. Agak sibuk aku di sini,” jawabku.
“Oh, tidak apa-apa Mas. Aku menyampaikan sedikit oleh-oleh dari emak buat kamu. Juga ada pesan dari bapak. Katanya suruh kerja yang bener dulu, baru balik ke kampung.”
“Aku nggak ingin balik kampung, Ras!” kataku cepat.
“Loh kenapa?”
“Aku ingin menjelajah ke tempat yang jauh, Ras. Aku ingin menapaki belahan lain dunia ini, Ras. Cita-citaku begitu.”
“Wah kenapa nggak nikah dulu aja?” tanya Laras.
Menikah? Are you kidding me? Kalau calon satu-satunya tinggal Laras, maka perlu buatku untuk menengok sisi lain dunia, dan menggali banyak pengalaman. Siapa tahu, wawasan ini akan terbuka luas. Kalau aku tetap bertahan di kampung, maka dapat dipastikan aku akan menjadi petani yang berkutat dengan lumpur sawah tiap hari.
***
__ADS_1