
Aku melangkahkan kaki dengan tergesa ke sepanjang lorong rumah sakit yang lumayan dipadati pengunjung pagi itu. Aku tak menemukan setitik keceriaan di sana. Semua orang seperti diburu waktu. Para petugas medis berseragam putih hilir-mudik dengan raut muka ditekuk, tanpa ada paras ceria terpancar. Mungkin beban yang mereka pikul terasa melebihi batas, sehingga mereka lupa caranya tersenyum. Jadi apakah semua petugas medis seperti itu? Kurasa tidak.
Aku memasuki ruang tempat Andre dirawat dengan perasaan ragu. Aroma obat-obatan langsung menyergap hidung. Sungguh, aku tidak suka aroma ini. Sejak kecil aku tidak suka dengan aroma rumah sakit. Karena selain membuat perut mual, juga membangkitkan trauma di masa lalu. Itulah mengapa, aku tidak suka berlama-lama di rumah sakit, karena semua yang ada di sini membuatku pilu.
Di atas ranjang rumah sakit yang beroda, kulihat sosok Andre yang menyedihkan. Matanya terpejam, mungkin sedang tidur atau tak sadarkan diri? Selang infus bergelantungan di tiang penyangga, dengan ujung yang tertancap di lengan kanan. Beberapa helai perban menambal di bagian pelipis. Sungguh miris melihat itu. Pesonanya seakan luntur dalam ketidakberdayaan.
Di sisi ranjang kulihat seorang gadis berlinangan air mata, menangis dalam diam. Tak henti ditatap sosok yang terbaring dihadapannya. Kehadiranku bahkan tak menarik perhatian. Kucoba melangkah perlahan mendekat, menatap kosong sosok Andre yang terdiam. Apa yang harus kulakukan? Rasa iba menyeruak. Apalagi ketika melihat derai air mata yang tak kunjung berhenti.
“Sabar ya, Inneke ...,”bisikku perlahan.
Inneke tidak menjawab, hanya menggeleng. Aku tak tahu lagi harus bagaimana. Ingin aku bertanya banyak hal padanya, tetapi kurasa waktunya tidak tepat. Dalam kondisi seperti ini mungkin lebih banyak menguatkan daripada bertanya tentang kronologis kejadian. Perasaan Inneke masih terguncang, itu wajar mengingat benih yang berada di rahim Inneke masih berusia beberapa minggu.
Aku tidak tahu apakah Farhan dan Doni sudah dikabari dengan kejadian ini. Mungkin sudah, tetapi karena terpisah jarak mereka memerlukan waktu untuk bisa datang ke sini.
Baru saja berpikir tentang mereka, ponselku bergetar. Kulihat nama Doni berkedip-kedip di layar. Buru-buru aku keluar kamar perawatan, mencari tempat yang lebih kondusif untuk berbicara.
“Hei Bi! Kamu di mana sekarang? Gimana tuh ceritanya si Andre? Waduh, kok bikin masalah aja tuh anak. Aku kaget banget loh. Kemarin dikabari sama teman seangkatan dia yang kebetulan aku juga kenal. Bener-bener kok. Tapi gimana ya? Di rumahku masih repot banget. Rencana agak sorean aku kesitu,” terang Doni.
“Aku lagi di rumah sakit ini, Don. Kasihan tahu si Andre. Dia belum sadar. Mungkin ada benturan di kepala. Kasihan juga si Inneke. Keluarganya belum datang kulihat. Nanti sore saja kamu kesini tengokin dia. Ntar kalau nggak ada yang jagain, kita gantian. Farhan nggak usah diajak. Dia kan pengantin baru, masa disuruh jagain orang sakit?”
__ADS_1
“Eh, aku sudah kasih tahu Farhan juga tadi. Gimanapun kita kan tinggal satu kontrakan, Bi. Masa dia ditinggal sih. Ya biar aja kalau dia mau ikut kesini. Dina biar aja nunggu dulu nggak apa-apa. Adikku itu nggak rewel kok. Farhan sendiri yang bilang mau ikut kesini nanti,” sambung Doni.
“Ya udahlah kalau gitu. Yang jelas nggak mungkin dong kita tinggalin Andre dalam keadaan seperti ini sendirian. Nanti gantian sama si Inneke. Biar dia istirahat dulu. Di sini nggak ada siapa-siapa soalnya.”
“Oke, Bi. Kamu atur ajalah gimana enaknya. Ntar aku kesana bantuin juga. Ini urusan di rumah juga nggak bisa ditinggal. Biasa repot beres-beres kalau selesai ada acara besar. Insya Allah aku Ashar sudah sampai sana. Kamu juga jaga kesehatan, ntar kalau kamu sakit malah nambah repot!”
Dalam hati aku terbahak. Sejak kapan Doni berubah jadi perhatian seperti ini? Padahal biasanya paling semangat untuk menjatuhkan harga diriku. Bagaimanapun Doni adalah Doni dengan segala karakter khasnya, yang harus kuterima sepenuh hati sebagai sahabat. Aku pun kadang juga menjengkelkan, tak kupungkiri itu. Mungkin inilah seninya persahabatan, karena kami bukan lah malaikat.Bercak-bercak noda biasa mewarnai dalam suatu persahabatan. Toh kami pria dewasa, bukan perempuan yang mudah terbawa perasaan. Jadi gurauan sesadis apa pun terasa bagai angin lalu.
Doni segera mengakhiri pembicaraan. Kulihat kembali keadaan Andre yang masih dalam keadaan terpasung. Kali ini seorang perawat , ditemani seorang dokter tampak mengecek keadaannya. Rasa ingin tahuku menggeliat. Dokter itu berwajah serius, sehingga agak segan untuk bertanya. Inneke sudah terlihat tenang, walau matanya masih terlihat sembab.
“Kondisinya sudah stabil kok. Nanti juga dia sadar,” kata dokter itu.
“Dia mengalami shock di kepala. Tetapi untunglah tidak terlalu serius. Semoga saja nanti siang sudah bisa berkomunikasi. Nanti akan kami cek perkembangannya,” jawab dokter itu.
Setelah rombongan paramedis itu berlalu, aku kembali melihat paras Andre yang tampak sedikit pucat. Pesona yang selalu diagung-agungkan seakan tergerus begitu saja. Sejatinya, kita ini adalah makhluk yang sangat lemah. Dalam kondisi seperti ini, mendadak rasa ingin mendekat kepada Tuhan menajdi tak tertahankan.
“Inneke sudah sarapan?” tanyaku kepada Inneke yang masih terdiam.
“Belum, Mas.” Jawabnya pendek, dengan suara parau karena terlalu banyak menangis.
__ADS_1
Aku segera maklum. Kondisi seperti ini tentu sudah tidak peduli lagi dengan urusan perut. Bagaimanapun juga, dia harus tetap makan agar kondisii tubuhnya tidak drop. Apalagi dia dalam keadaan hamil. Tentu kondisi kejiwaan yang tidak baik akan memengaruhi kondisi kesehatan janin yang dikandungnya. Apalagi kalau dia ikut sakit, maka kami akan tambah repot dua kali.
“Aku belikan sarapan ya?” tanyaku lagi.
“Aku nggak lapar....”
“Tetapi harus diisi perutnya, Inne. Nanti sakit kalau tidak sarapan. Sedikit-sedikit harus diisi ya. Kasian sama Mas Andrenya nanti kalau Inne nggak sampai sakit. Pokoknya Inne harus makan ya? Sedikit saja nggak apa-apa!” bujukku.
Sungguh, aku tidak pandai dalam hal bujuk-membujuk atau merayu. Yang ada, aku sering menjadi korban bujukan atau rayuan. Segala daya-upaya aku kerahkan agar Inneke mau makan. Tak perlu membuang banyak waktu, aku segera bergegas mencari apa saja yang bisa dimakan di kantin rumah sakit.
Tak ada yang kudapat, selain satu bungkus nasi kuning berlauk ayam, kue-kue dan sebotol besar air mineral. Lumayan buat pengganjal perut. Aku juga belum sarapan mulai dari pagi tadi. Tak apalah, walau aku menderita mag akut, aku masih bisa bertahan dalam kondisi seperti ini. Paling tidak, Inneke bisa sarapan terlebih dahulu.
Kusodorkan makanan kepada Inneke, ternyata ia hanya memilih sarapan kue-kue saja. Nasi kuning yang kubeli sama sekali tak disentuh. Tak apa, yang penting perut ada isinya. Tak perlu dipaksa.
“Perutku mual kalau makan nasi, Mas,”ujarnya lirih.
Aku mengangguk. Dalam hati, aku sungguh iri dengan Andre, ketika ada seorang perempuan yang rela mengorbankan diri sendiri karena mengkhawatirkan kondisinya. Tak banyak perempuan zaman sekarang yang seperti itu. Jadi, kalau ada motif lain di balik itu, aku rasa tidak benar.
Kapan ya aku punya jodoh seperti itu?
__ADS_1
***