
Hari baru, semangat baru.
Itulah yang kurasakan saat membuka mata di pagi buta ini. Semangat meledak-ledak, karena beberapa pekan lagi tugas praktik akan berakhir. Artinya, jarak dengan kelulusan akan semakin dekat. Aku sudah tidak sabar memakai toga, berdiri di hadapan emak dan Weni dengan perasaan bahagia.
Tentu saja, untuk meraih itu tidak semudah menjentikkan jari. Setelah kerja praktik, aku harus bergumul dengan tugas akhir, melakukan banyak pengujian logam atau membuat sebuah mahakarya. Tantangan ke depan akan sangat besar. Hanya berbekal optimisme dan doa, aku akan berusaha melalui ini.
Bismillah!
Tiba-tiba aku teringat akan Darwis. Bagaimana kabar si Kampret itu? Apakah dia baik-baik saja? Harusnya kalau dia menjalankan sesuai prosedur, aku yakin tidak ada masalah dengan kerja praktik yang dijalaninya. Karena dirundung rasa penasaran, kuhubungi nomor Darwis. Semoga dia sudah bangun.
Tuuut!
Tuuut!
“Eh, Abi. Tumben kamu nelpon? Kangen ya?” sapa Darwis di seberang.
“Kagak, Mblo! Aku mau ngecek kamu masih hidup atau nggak? Soalnya kok kamu nggak ada kabar sejak kerja praktik. Atau jangan-jangan kamu sudah kecantol gadis di sana?” ujarku.
“Alhamdulillah, aku baik-baik saja kok Bi. Senang aja aku di sini. Pak Ilham itu baik banget sama aku. Itu suaminya Lusi ya? Pantasan aja Lusi milih Pak Ilham. Kamu kalah telak daripada dia!” ejek Darwis.
Kalimat itu sangat menohok dan membuat geram. Membandingkan aku dengan Ilham Ramadhan tentu bukan sesuatu yang apple to apple. Secara usia jelas kami berbeda. Dia dilahirkan duluan ke dunia, meraih kesuksesan terlebih dahulu, tentu adalah hal yang lumrah. Sedangkan aku masih mengenyam bangku kuliah, masih mandapat jatah dari orang tua. Tentunya sangat berbeda.
Memang tidak ada akhlak si Darwis!
“Sialan kamu, Dar! Nyesel aku telepon kamu!” umpatku.
Tawa Darwis terdengar membahana di seberang, membuat perasaan semakin kecut.
“Eh, kamu udah siap-siap berangkat ya? Bagaimana kabar Dahlia?” tanya Darwis membabi buta.
“Sebentar lagi mau mandi. Masih rebahan aja aku di sini. Dahlia baik saja kok. Telepon sendiri sana!”
“Aku tuh sibuk, Bi. Habis pulang kerja praktik selalu cape. Habis itu mengerjakan laporan segunung. Waktu nelepon nyaris nggak ada. Pokoknya gitu deh. Enakan kuliah ya, Bi?”
“Ya iyalah, Mblo! Tapi kalau kuliah kita keluar duit, kalau kerja kita yang dibayarin,” ucapku.
“Emang kamu dapat gaji ya?”
__ADS_1
“Nggak lah. Tapi kan banyak ilmu dan pengalaman yang dapat kita ambil dari sana, Dar!”
“Lagakmu, Bi!”
Aku terkekeh.
Tok-tok-tok!
Pintu kamarku diketuk. Segera pembicaraan dengan Darwis kuakhiri. Di luar masih agak gelap, udara pagi masih menggigit kulit. Siapa sepagi ini mengetuk pintu kamar?
Oh, ternyata Andre.
Parasnya tampak lesu tak bersemangat. Sepagi ini mencariku, tentu ada hal penting yang hendak ia sampaikan. Dalam bayanganku langsung tergambar beberapa sosok gadis cantik yang ada dalam kehidupan Andre. Kali ini cerita apa lagi yang hendak ia usung?
“Kamu nggak terburu-buru kan, Bi?” ujar Andre.
“Ntar lagi aku mau mandi. Kamu kenapa? Kok sedih amat?”
“Ya itulah, Bi. Ini masih lanjutan cerita kemarin. Masih ingat kan kalau aku pernah cerita kalau Inneke mengeluh nggak datang bulan. Aku khawatir sih.”
Andre mengangguk lemah.
“Terus gimana?” tanyaku penasaran.
“Mereka bilang, kami harus nikah segera. Mereka nggak mau tercoreng nama keluarganya. Dalam waktu dekat ini, bapaknya Inneke minta orangtuaku untuk datang ke kediaman Inneke,” tutur Andre dengan sedih.
“Bagus dong! Kenapa sedih? Kan berita bahagia tuh!”
“Gila kamu, Bi! Aku belum siap. Kamu pikir menikah itu sekedar datang ke kantor KUA terus tanda tangan di depan penghulu gitu? Kalau Cuma gitu aja ya aku mau. Tapi habis itu kita kan wajib menghidupi. Memberi nafkah lahir batin. Kalau batin sih oke, aku siap!”
Antara gemas dan jengkel aku menanggapi perkataan Andre. Dahulu waktu dia melakukan hal terlarang dengan Inneke pernah berpikir panjang tentang hal ini apa tidak? Mengapa hanya nafkah batin yang ada di otaknya? Kupikir pikirannya hanya tertimbun kesenangan batin belaka. Sungguh, aku tidak tahu harus bicara apa.
“Terus maumu gimana, Ndre?” tanyaku.
“Ya paling nggak nunggu dulu. Tiga atau empat tahun lagi sampai aku mendapat pekerjaan yang layak, baru mikir berumah tangga. Lah, ini belum-belum sudah ditodong suruh menikahi anak orang. Aku kan panik. Belum lagi orangtuaku pasti juga akan marah kalau tahu semua ini!”
“Tiga atau empat tahun lagi? Berarti nanti keburu besar dong anakmu. Terus kamu suruh Inneke buat membesarkan anakmu sendirian, gitu? Tega banget sih kamu Ndre. Kamu udah tanam benih di rahim Inneke, terus sekarang kamu suruh dia sendirian ngerawat anak dan menanggung malu sendirian!” geramku.
__ADS_1
Andre terdiam, berusaha mencerna perkataanku. Raut mukanya kian gelisah. Sebenarnya aku paham yang ia sembunyikan di dalam hatinya. Andre pasti merasa keberatan dengan komitmen pernikahan, karena sebenarnya masih ingin berpetualang, hinggap dari satu bunga ke bunga yang lain. Pernikahan adalah belenggu kebebasannya.
Aku tak menyalahkah. Silakan saja, selagi masih muda. Dengan catatan, lakukan dengan bertanggungjawab. Masalah Inneke tentu saja risiko yang harus ia hadapi, bukan malah berlari menjauhinya.
“Kamu kan pernah bilang ke aku kalau aku harus meyakinkan orang tua Inneke bahwa aku nggak akan lari dari tanggung jawab. Itu udah kulakukan!”
“Terus mereka yakin nggak? Ndre, kalau aku jadi orangtua Inneke, aku akan melakukan hal yang sama dengan mereka. Siapa sih yang rela anak gadisnya dijamah terus ditinggal gitu aja?”
“Aku kan nggak akan ninggalin dia, Bi!”
“Jaminannya apa? Orang yang sudah diikat perkawinan saja bisa ninggalin, apalagi yang enggak. Kecuali kamu bisa melepas Joni-mu, terus kamu tinggalin buat Inneke!”
“Joni? Apa sih Joni?”
“Itu yang menggantung di dalam celanamu!”
“Sialan!”
Sementara hari sudah beringsut menuju siang. Dengan sangat terpaksa kuakhiri perbincangan yang kian memanas itu, karena aku harus segera berangkat kerja praktik. Andre masih belum puas, tetapi kujanjikan lagi untuk berdiskusi masalah ini di lain waktu. Dengan paras masih diliputi rasa khawatir, ia keluar kamarku.
“Tenang aja, Ndre. Semua akan baik-baik saja kok!” kataku memberi semangat.
Sebenarnya ada rasa iba melihat Andre yang sedang dilanda kegalauan seperti itu. Menurutku, itu tidak masalah. Justru keruwetan ini akan menjadi pelajaran berharga buatnya. Aku tahu, masalah utamanya di sini adalah kebebasan Andre yang akan terenggut. Dia belum siap, karena begitu tiba-tiba. Dunia malamnya mungkin akan meredup. Pesta-pesta di sekitarnya akan segera usai.
Andre memang dari kalangan keluarga berada. Jadi kuliah tidak lulus tidak masalah baginya, karena ada orangtua yang mampu memanggung hidupnya, atau bisa saja tinggal menelepon koneksi bapaknya untuk bekerja di tempat yang dia suka.
Kalau aku?
Tentu bertolak belakang. Aku harus membanting tulang agar mampu bertahan di kehidupan yang keras ini.
Begitulah hidup.
Kadang kita tidak harus siap dengan sesuatu yang terjadi dalam hidup. Dalam hati, kubandingan dengan yang berlaku di lembar kisahku. Tak lagi kuberfokus pada kisah cinta monyet tak berujung. Harus lebih fokus pada tujuan hidup sebenarnya. Aku bukan lagi anak SMA yang mengobral asmara pada sembarang gadis.
Harus segera diputuskan, hati siapa yang paling tepat untuk melabuhkan pencarian panjang ini.
***
__ADS_1