DUNIA ABIMANYU

DUNIA ABIMANYU
Chapter LXV : Cerita Hati Andre


__ADS_3

Pagi menyapa Kota Surabaya dengan ceria. Kokok ayam jantan bersahut-sahutan di segenap penjuru. Sinar hangat mentari membangunkan semesta yang terlelap. Embun masih enggan beranjak dari dedaunan. Mungkin, aku adalah manusia paling bersemangat saat ini. Sebelum subuh tadi, bahkan aku sudah rapi siap berangkat ke tempat kerja.


Setelah berkecimpung di dunia kerja, ternyata membawa dampak positif, di antaranya adalah masalah kedisiplinan. Kalau dulu aku sering lalai dengan waktu, kini aku lebih menghargai. Kalau dulu aku bangun setelah azan Subuh, kini sudah rutin sebelum azan berkumandang. Jadwal harian juga lebih tertata, semuanya kuhitung dengan presisi. Misal, aku membutuhkan waktu untuk mandi sepuluh manit, sarapan lima menit dan seterusnya maka tak boleh melenceng dari jadwal.


Pagi sebelum berangkat, seperti biasa aku mengecek isi tas, jangan sampai ID card tanda masuk ke perusahaan tertinggal, kalau tak ingin security mendepak keluar. Aku juga membawa bekal minum air putih dalam botol besar, khawatir dehidrasi selama bekerja. Sebenarnya ada galon air disiapkan, hanya saja letaknya agak jauh, jadi malas untuk mengambil.


“Udah mulai kerja praktik aja nih, Bi?” tanya Andre.


Parasnya terlihat berantakan karena baru bangun tidur. Bukannya ke kamar mandi, anak ini malah tersangkut di depan TV untuk mengobrol denganku.


“Iya, Ndre. Makanya pagi-pagi harus segera berangkat biar nggak telat,” jawabku sambil mengikat tali sepatu.


“Wah, jadi orang kantoran sekarang! Dapat gaji nggak?” tanya Andre lagi.


“Nggak lah! Tujuannya kan bukan itu. Kita di sana cari ilmu, bukan gaji. Ntar kalau kerja beneran baru dapat gaji,” ujarku sok bijak.


“Tumben kamu pinter!” cengir Andre.


Aku tersenyum. Semua sudah beres, aku siap berangkat.


“Kamu nggak kuliah, Ndre?” tanyaku lagi.


“Nanti jam sembilan. Sebenarnya pengen tidur lagi. Maklum tadi malam baru pulang pukul setengah dua pagi.” Andre menjawab sambil menguap. Terlihat dari wajahnya yang lesu dan matanya yang merah, Andre tampak habis bergadang.


“Oya, kemarin ada yang nyariin loh,” ujarku lagi.


“Siapa?”


“Cewek cantik. Namanya Inneke. Yang pernah kamu ceritain ke aku!”


Mendadak paras Andre berubah seperti gugup. Agak heran, setahuku mereka berdua pacaran, tetapi kenapa Andre tidak terlihat senang. Malah, dia seperti dirundung rasa cemas yang menghebat. Kegelisahan terpancar di wajahnya.

__ADS_1


“Bi, kamu buru-buru nggak?” tanya Andre sambil menatapku serius.


“Sepuluh menit lagi sih aku berangkat. Kenapa emang, Ndre?”


“Mau curhat bentar aja. Nggak apa-apa ya?”


Setelah menimbang dan mengkaji, aku akhirnya mengizinkan Andre untuk bercerita. Agar lebih leluasa, Andre masuk ke dalam kamarku. Wajahnya masih terlihat cemas, ada sesuatu yang mengganggu akal sehatnya.


“Ada apa sih?” tanyaku penasaran.


“Lain kali kalau Inneke kesini, bilang saja aku sudah pindah atau kemana gitu!” ujar Andre takut-takut.


“Loh, emang kenapa? Kalian udah putus atau gimana?” selidikku.


“Nggak putus, Bi. Cuman ....” Andre terlihat ragu melanjutkan kalimatnya.


“Cuman apa?”


“Kamu juga sih, Ndre suka main-main sama perasaan. Kalau menurutku ya jujur saja sama Inneke kalau jalanmu masih panjang. Masih ingin kuliah, masih pengen bahagiain orang tua. Kayaknya dia akan ngerti aja kok. Kecuali kalau dia udah nggak tahan gendong anak!” ujarku.


“Nah, itu masalahnya Bi. Nggak sesederhana seperti yang kamu katakan. Ada hal lain yang membuat ini rumit. Susah aku jelasinnya ke kamu.” Andre menghela napas.


“Apa masalahnya?”


“Aku mau jujur, tapi jangan bilang siapa-siapa ya? Aku malu kalau Doni atau Farhan sampai dengar. Sudah pasti Doni akan bully aku habis-habisan. Terus nggak enak juga kalau Farhan tahu. Pasti akan diceramahin tujuh hari tujuh malam,” kata Andre.


“Kenapa sih? Kamu suka cewek lain, gitu?” tebakku.


“Bukan. Bukan. Kalau masalah sayang, aku juga sayang kok sama Inneke, tapi ya gitu deh. Kalau urusan nikah nanti dulu.” Andre menghela napas.


“Ya udah cerita, masalahnya apa? Aku keburu berangkat nih!”

__ADS_1


“Gini Bi. Jujur nih, aku pernah ngelakuin sekali dengan Inneke. Sekali aja, karena sama-sama khilaf. Trus beberapa hari lalu, Inneke bilang ke aku kalau dia telat haid. Sudah pasti aku kaget dong! Takut banget. Nggak siap kalau harus gendong-gendong anak. Apalagi kalau bayinya nanti pipis. Haduuuuh!”


Aku terdiam beberapa saat. Kaget bercampur sesal. Kaget karena tak menyangka kalau pergaulan Andre sudah sampai sejauh itu. Sebenarnya aku juga sudah punya firasat ini akan terjadi, mengingat Andre suka berpetualang dengan gadis-gadis. Cuma, tak menyangka akan secepat ini.


Di samping itu, ada rasa sesal juga. Harusnya Andre bermain cantik. Maksudku, jangan lah gara-gara nafsu sudah menyembul di ubun-ubun terus main ganyang dengan cewek. Akibatnya akan fatal. Apalagi di usia-usia belia seperti kami, hasrat ingin mencoba sangat besar. Harusnya Andre berpikir sedikit lebih jauh ke depan, jadi lebih waspada dalam melakukan sesuatu. Kalau sudah begini, siapa yang bingung?


“Menurutmu aku harus bagaimana, Bi? Nggak enak tahu seperti dikejar-kejar masalah seperti ini,” kata Andre dengan cemas.


“Setiap perbuatan kan ada akibatnya, Ndre. Siapa berbuat harus berani bertanggung jawab. Kalau menurutku, orang tua inneke harus tahu juga. Biar nanti ke depannya ada rencana. Kalian mau atau nikah atau bagaimana kan harus dibicarakan. Kasihan juga sih Inneke. Tapi, itu kan hasil dari perbuatan kalian.”


“Orang tua Inneke harus tahu? Bisa dihajar aku ntar,” keluh Andre.


“Lha terus gimana? Kamu mau terus lari marathon dari masalahmu? Ingat ya Ndre, sejauh mana kamu berlari, kamu nggak akan bisa menghindar dari tanggung jawabmu! Pilih mana, kamu jujur atau dihantui masalah ini?”


“Jadi aku harus temui dan meminta maaf ke dia, gitu?”


“Ya itu bukan solusi. Masalah maaf mah gampang. Yang penting beri kepastian kepada Inneke agar dia tak nyari-nyari kamu terus. Bilang aja, aku masih mau fokus kuliah. Ntar aja nikahnya habis lulus, bilang ke dia gitu. Beri dia kepercayaan bahwa kamu nggak akan lari dari tanggung jawab. Tapi malu juga kali ya kalau cewek hamil nggak jelas siapa bapaknya. Kemungkinan terburuknya sih kamu memang harus nikahin dia. Gitu Ndre!”


“Bi, kamu lulusan dari Universitas Cinta yah?”


“Hahaha. Kok gitu?”


“Habis kamu selalu saja ada jawaban kalau aku nanya masalah asmara. Jangan-jangan kamu ini titisan Dewa Cupid, yang sedang diutus ke dunia untuk membantu orang lain menyelesaikan masalah cintanya,” sungging Andre.


Aku tersenyum mendengar perkataan Andre. Kadang aku juga tak habis pikir, dari mana aku mendapat stok kata bijak begitu banyak. Semuanya seolah terlontar begitu saja dari otakku. Sejujurnya, apa yang kusampaikan pada Andre adalah teori yang amat manis. Karena sejatinya kehidupan asmaraku lebih ngenes daripada dia. Dekat dengan banyak cewek tanpa ada seorang pun yang memberi kepastian.


Dari sekian banyak wanita cantik yang di sekitarku, tak semuanya berakhir manis. Bahkan ada yang pahitnya jauh melewati kapasitas kesabaranku. Aku menganggap semua itu adalah pengalaman berharga. Mungkin jodohku masih dijauhkan, agar lebih fokus menghadapi hidup yang serba rumit ini.


Setidaknya anakku kelak akan mencatat bahwa ayahnya adalah playboy nomor wahid yang susah dicari tandingannya.


Atau terlalu jauh aku berpikir?

__ADS_1


***


__ADS_2