DUNIA ABIMANYU

DUNIA ABIMANYU
Chapter LXVI : Intimidasi


__ADS_3

Bruuk!


Setumpuk berkas dijatuhkan ke atas mejaku begitu saja oleh Pak Imron, rekan kerja satu bagian. Pria paruh baya bertubuh kerempeng itu lebih mirip pesakitan. Matanya cekung, bibirnya menghitam karena terlalu banyak merokok. Sebagian rambutnya sudah memutih. Lagak bicaranya sok senior, apalagi kalau sedang bicara denganku.


Karena beliau orang yang lebih tua dan memang senior, aku masih menghormatinya walau dalam hati mulai tumbuh benih-benih kejengkelan. Sebagai senior, harusnya dia lebih banyak mengarahkan, bukan menggerutu. Saat aku berbuat kesalahan, tak segan-segan dia menegur di hadapan orang banyak, sehingga membuatku merasa tak berharga. Jujur, si tua ini membuat mood jadi berantakan sepanjang hari. Semangat kerja yang kupupuk perlahan meranggas.


“Jangan lupa bereskan meja sebelum istirahat! Kalau kamu kerja asal-asalan di sini, dijamin nggak akan tahan lama!” gerutu Pak Imron sambil duduk menenggak kopi hitam dalam cangkir.


“Iya Pak!” jawabku sambil merapikan berkas dan alat tulis yang masih berserakan di meja.


“Nanti tolong selesaikan punyaku sekalian ya?” pinta Pak Imron.


“Maaf Pak. Takutnya nanti pekerjaan saya nggak selesai. Soalnya banyak yang harus saya selesaikan hari ini.” aku beralasan.


“Kamu itu harus banyak belajar! Bekerja harus cepat. Jangan males-malesan!”


Malas-malasan? Apa tidak terbalik?


Aku terdiam. Lebih baik aku tidak menanggapi orang yang suka debat kusir ini. Tak habis pikir, mengapa perusahaan bisa merekrut orang model begini, seolah di dunia ini tidak ada lagi sumber daya manusia yang dapat diandalkan.


Memang, rata-rata karyawan perusahaan ini sudah berumur. Mungkin hanya aku satu-satunya yang paling muda di sini, sehingga mereka suka menyuruh-nyuruh seenak jidat. Untung mereka menyuruh hal-hal yang memang berkaitan dengan pekerjaan, bukan menyuruh untuk membuatkan kopi atau menyapu lantai.


Nasib junior dalam dunia kerja nyaris sama. Senior selalu merasa diri mereka patut dihargai. Sikap mereka mayoritas arogan, angkuh, dan gila hormat. Padahal secara etos kerja sangat memprihatinkan. Mereka lebih banyak duduk, merokok, ngobrol dan hal-hal yang menurutku kurang perlu. Kurasa ini adalah semacam budaya turun-temurun yang melekat di perusahaan ini.


“Bi, bisa ke kantor saya?” tiba-tiba suara Bu Roffi mengejutkan saat aku fokus mengerjakan tugas di depan komputer.


“Baik Bu.” Layaknya karyawan baru yang lain, aku langsung mematuhi perintah ibu manajer.


Tak biasanya Bu Roffi memanggilku. Jantungnya berdegup kencang, khawatir ada pekerjaan yang tak beres atau kesalahan lain yang aku perbuat.


Dengan malu-malu aku memasuki kantornya yang beraroma harum. Secara artistik, kantor yang dihuni pria dan wanita tentu saja berbeda. Kantor seorang wanita memiliki sense of art yang lebih tinggi daripada pria. Tanaman hias berdaun lebar disusun cantik dekat jendela. Semuanya terlihat rapi, sedap dipandang mata.


“Nanti temani aku makan siang ya, Bi,” ajak Bu Roffi.

__ADS_1


Deg!


Ajakan itu tidak serta merta membuatku senang. Malahan aku merasa tidak enak. Aku hanya karyawan magang biasa yang berniat menggali ilmu di perusahaan ini, tetapi tiba-tiba diminta menemani makan siang oleh seorang manajer. Lebih parahnya, manajernya perempuan. Mungkin hali ini akan menimbulkan kecemburuan sosial atau memicu kabar burung.


“Tapi kan kita sudah dapat jatah makan siang, Bu” dalihku.


“Ah, makan siang cuma itu-itu saja lama-lama bosan. Sekali-kali aku ingin menikmati makanan di luar. Jujur aku jarang sekali makan di luar. Mencari kesempatan nggak dapat-dapat. Nanti ya temani aku, pokoknya jam istirahat!” perintah Bu Roffi.


“Tapi Bu, saya nanti akan ....”


“Ini perintah lho, Bi!” potong Bu Roffi sambil menatapku tajam.


Kalau sudah memakai senjata pamungkas seperti itu, tak ada lagi yang dapat kulakukan selain diam. Bagaimanapun, seorang atasan wajib dipatuhi perintahnya. Aku khawatir, penolakan akan berakibat buruk terhadap nilai kerja praktikku.


“Baik Bu!” jawabku ragu-ragu.


Benar saja dugaanku. Ketika keluar dari kantor Bu Roffi, serta merta aku dihadang sejumlah tatapan tak bersahabat dari para karyawan senior. Mungkin mereka berpikir yang tidak-tidak. Sungguh, sebenarnya ada rasa tidak nyaman, tetapi apa dayaku? Aku hanya karyawan KW2 yang tidak bisa berkutik apabila atasan memberikan perintah.


Semoga saja tidak seburuk yang kubayangkan.


“Sebentar lagi, Pak!” jawabku. Kuraih beberapa berkas untuk segera dikerjakan kembali.


“Kenapa kamu tadi dipanggil? Mau ditambahin gaji? Atau diajak kencan?” cecar pak tua itu.


Astaghfirullah!


Aku memilih tak menjawab. Apa pun yang kulakukan dalam ruangan manajer tentu saja bukan urusannya dan aku berhak diam. Pandangan sinis Pak Imron begitu mengintimidasi, tapi tak kupedulikan.


“Kuberi tahu ya, Bi!” Pak Imron tiba-tiba mendekatkan kursinya ke arahku. Setengah berbisik dia mulai bercerita. Ada rasa tak nyaman ketika Pak Imron begitu dekat.


“Jangan terlalu dekat dengan Bu Roffi. Dia itu terkenal genit. Setiap ada brondong atau karyawan muda yang ganteng pasti didekati sama dia. Maklum, dia itu janda punya anak. Suaminya kawin lagi. Jadi jablay dia itu,” bisik Pak Imron.


Astaghfirullah!

__ADS_1


Pak Imron kok jadi ber-ghibah?


Ada kalimat yang sempat menggelitikku. ‘karyawan muda yang ganteng’. Berarti aku masuk dalam kriteria itu. Baguslah kalau begitu.


Diam-diam, kalimat Pak Imron cukup mengusik rasa keingin tahuanku. Benarkah Bu Roffi janda punya anak? Suaminya kawin lagi? Padahal dia kan cukup menarik? Yang paling membuat penasaran, benarkah dia suka mendekati brondong?


Ah, mengapa aku jadi mikir itu?


Bagaimanapun, kalimat Pak imron serupa toxic yang menjalar ke sistem syaraf, membuat aku banyak berpikir negatif. Lebih baik aku fokus pada pekerjaan. Kalau yang dikatakan Pak Imron benar maka aku harus mulai meningkatkan kewaspadaan, jangan sampai terjerumus jerat cinta Bu Roffi.


Sebenarnya kalau ditelisik lebih dalam, Bu Roffi ini adalah tipe gaul dan ramah, mudah akrab dengan siapa saja. Mungkin karena terlalu ramah, ada beberapa orang yang berpikiran negatif padanya, lalu sengaja menyebar hoax tentang kehidupan pribadinya. Lagipula aku ini seorang mahasiswa terpelajar, tak selayaknya aku menelan bulat-bulat kalimat yang diucapkan Pak Imron. Boleh jadi cinta Pak Imron ditolak sama Bu Roffi, sehingga dia mengarang cerita palsu agar aku tak mendekati.


Ya, siapa tahu?


Tapi di kesempatan lain, aku pernah memergoki Bu Roffi melamun lama seperti sedang mengurai benang kusut dalam pikirannya. Benarkah ia haus kasih sayang pria? Atau seperti yang dikatakan Pak Imron tadi, dia malah butuh belaian laki-laki.


Aku tak pandai membelai. Sungguh.


Aku memutuskan untuk kembali menenggelamkan diri dalam pekerjaan tanpa menggubris cerita Pak Imron. Sungguh tidak etis seorang bawahan membicarakan kejelekan atasan seperti itu. Apalagi sampai menyerang kehidupan pribadinya.


Ketika Pak Imron mendekat lagi, aku sengaja menghindar, tak ingin berkutat dalam kebohongan yang diciptakannya. Sambil bekerja aku mengabaikan Pak Imron yang asyik dengan cerita-cerita seputar kejelekan Bu Roffi. Lama-kelamaan aku gemas melihat ini. Apa yang harus kulakukan? Atau harus kusiram teh saja mukanya?


“Bapak sudah selesai bekerja?” celetukku.


“Nanti kukerjakan! Ntar juga selesai. Kamu nggak usah ngatur-ngatur aku!” jawab Pak Imron dengan gusar.


“Soalnya saya sibuk, Pak. Nanti saja ya Pak ceritanya kalau saat saya nggak sibuk. Atau kalau bapak mau nekat cerita, ya nggak apa-apa juga sih, tapi nggak saya nggak dengerin,” ujarku dengan gusar.


Pak Imron terdiam seketika. Mungkin dia menyesal sudah bercerita kepadaku.


“Jangan bilang-bilang Bu Roffi apa yang tadi kuceritakan kepadamu!” ancam Pak Imron.


Sayangnya acara ancam-mengancam sama sekali tak membuatku gentar. Pak imron belum tahu kalau seorang Abimanyu bisa berubah menjadi mimpi buruk apabila tanduk iblisnya mulai muncul. Bisa kuobrak-abrik perusahaan ini beserta isinya.

__ADS_1


“Saya akan ceritakan ke Bu Roffi!” seringaiku.


***


__ADS_2