DUNIA ABIMANYU

DUNIA ABIMANYU
Chapter LXX : Silaturrahmi


__ADS_3

Kabut tipis menyelimuti Surabaya pagi ini. Tadi malam, gerimis sempat turun mendinginkan temperatur bumi yang sedikit memanas. Alarm ponsel menjerit-jerit membuatku terhenyak, menyadarkan dari mimpi yang terasa panjang. Seperti biasa, aku harus mengawali pagi dengan sejumlah ritual. Tiba-tiba aku teringat kalau hari ini adalah hari Minggu. Artinya, aku tidak berangkat kerja.


Minggu, menurutku adalah hari yang pendek. Entah kenapa aku merasa waktu begitu cepat berlari apabila hari libur. Padahal masih ingin meregangkan otot yang kaku setelah sepanjang pekan dihajar oleh tumpukan pekerjaan. Lagi asyik rebahan, tiba-tiba waktu sudah menunjukkan pukul delapan. Padahal masih belum mandi, sarapan dan mencuci baju. Manajemen waktu tiba-tiba berantakan di hari libur.


Hari libur kali ini, aku akan melaksanakan nasihat emak yaitu menyambung silaturrahmi. Kata emak, silaturrahmi dapat memperpanjang umur dan memperbanyak rezeki. Sebagai anak, aku patuh saja tanpa banyak membantah. Masalahnya, aku sebatang kara di Surabaya yang luas ini. Tak ada silsilah keluarga yang menetap di sini. Jadilah aku kelimpungan. Padahal enak kalau ada keluarga yang bisa dikunjungi saat akhir pekan. Selain dapat menyegarkan otak, juga berkesempatan mendapat makan gratis.


Karena aku bingung, maka kuputuskan untuk bersilaturrahmi ke rumah Dahlia. Mengapa Dahlia? Pertama, keluarga Kanjeng Ratu Dahlia mempunyai jasa besar untuk kelangsungan hidup serta studiku, terutama dalam hal finansial. Aku masih punya hutang kepada Dahlia, jadi sambil mengangsur agar tak terlalu berat di belakang hari. Sekilas aku merasa mirip ibu-ibu yang mengangsur cicilan daster.


Alasan kedua, sebenarnya aku malu untuk mengungkapkan ini. Setelah beberapa lama tak bersua dengan Dahlia, muncul benih-benih rasa kangen yang tak terperikan. Aku rindu cara Dahlia menegurku dengan sarkas tak berkira, atau cara dia menatapku. Mungkin sedikit berlebihan, tetapi itu yang kurasakan.


Sebelum berangkat ke kediaman Dahlia, tak lupa aku meyiapkan buah tangan kesukaan Mamah Dahlia, yaitu buah apel yang kulitnya merah mengkilat, atau biasa disebut Washington Apple. Padahal, aku lebih suka apel malang daripada apel yang didatangkan dari negeri Paman Sam ini. Aku membeli dua kilo apel merah di sebuah kios buah dekat kontrakan, kemudian segera meluncur ke rumah Dahlia dengan menggunakan angkot.


Seperti biasa, sebelum masuk ke dalam istana Dahlia, aku harus melewati gerbang yang menjulang, seolah mengejek kaum rakyat jelata sepertiku. Kupencet bel di dekat gerbang, sampai seorang asisten rumah tangga Dahlia tergopoh-gopoh membukanya. Untunglah, asisten rumah tangga itu cukup hapal dengan penampakanku, sehingga ia tak perlu mengira aku sebagai salesman panci yang banyak berkeliaran di seantero kota ini.


“Mbak Dahlia ada?” tanyaku.


“Ada ... ada ....” Asisten rumah tangga itu segera mempersilakan masuk.


Untuk menjaga etika, aku tak serta merta duduk di ruang tamu, melainkan duduk di kursi teras, sambil menikmati gemericik air mancur yang terpancar di tengah taman.


“Bi?”


Tiba-tiba terdengar suara yang tak asing di telinga. Dahlia tampak tampil berbeda. Tak ketemu selama tiga pekan, Dahlia banyak mengalami perubahan. Ia terlihat lebih langsing dari biasa. Hampir tak percaya kalau diet anehnya itu berhasil. Jangan-jangan dia melakukan lipsuction atau sedot lemak?


Bagaimanapun, tampilan Dahlia lebih menarik dari biasanya. Ia memakai setelan warna hitam putih, tampak elegan. Parasnya yang terbiasa dibiarkan telanjang tanpa riasan. Kini disaput bedak tipis, lipstik warna netral dan sedikit blush on.


“Tumben kamu kesini tanpa kabar dahulu? Libur?” tanya Dahlia.

__ADS_1


“Iya, Lia. Mumpung libur aku sempetin ke sini. Jadwalku padat banget, jadi kalau nggak pas libur aku nggak bisa kesini,” kataku sambil menyerahkan plastik berisi buah apel pada Dahlia.


“Untung kami belum berangkat. Sebenarnya aku mau keluar jalan sama Mamah. Kamu kok repot-repot segala bawa oleh-oleh? Nanti duitmu habis loh...,” seloroh Dahlia. Seperti biasa, tajam dan menusuk.


“Nggak apa-apa, Lia. Sedikit apel buat Mamah.”


“Wah, Mamah pasti senang nih!” ujar Dahlia.


“Jadi kamu mau keluar nih? Aku jadi ganggu dong.”


“Nggak kok. Nanti kamu ikut kita sekalian jalan aja ya?”


“Emang mau kemana sih?”


“Biasa Mamah gitu. Kalau pengen jalan ya jalan aja. Entah nanti mau belanja atau jalan di mall, nanti akan diputuskan oleh beliau. Yang penting, kita ikutin dia aja.”


Oh My God!


Aku hanya mengelus dada ketika pesona yang memancar ini tiba-tiba redup karena harus berbaur dengan ibu-ibu yang berdandan ala kadarnya. Mayoritas masih berdaster, atau yang paling parah, sempat tertangkap mata seorang nenek yang berkostum ala turis di Bali. Hanya memakai bra dan mengunyah susur di mulutnya. Parfum beraroma lembut yang kusemprot pagi tadi telah menguap, berganti aroma amis ikan. Hari itu, Mamah Dahlia membeli aneka sayur, daging, ayam, ikan dan telur untuk stok selama seminggu. Tak mungkin kubiarkan Dahlia mengangkat belanjaan, jadi aku jugalah yang turun tangan membantu.


“Wah, jadi nggak enak nih!” celetuk Dahlia ketika melihatku agak kerepotan mengangkat belanjaan.


“Nggak apa-apa, Dahlia!” jawabku, sambil menahan rasa pegal.


Lumayan juga berat belanjaan ini. Apalagi menyusuri lorong pasar yang bau. Harus main senggol-senggol dengan pinggul ibu-ibu lain. Jelas aku yang kalah, karena beda ukuran. Sementara kucing-kucing kurus juga hilir-mudik memenuhi lorong. Ikut meramaikan pasar.


Aku membuang napas lega ketika sampai di mobil. Sedikit terengah-engah. Padahal tadi pagi aku hanya sarapan segelas susu, rasanya energi ini sudah habis terkuras. Rupanya Dahlia sangat pengertian melihat wajahku yang merah-hitam menahan letih.

__ADS_1


“Sudah sarapan belum, Bi?” tanya Dahlia.


“Sudah kok, Dahlia. Tenang saja!”


“Kalau begitu masih bisa lanjut ya! Kalau belum sarapan bilang aja. Nanti pingsan aku yang repot!”


Aku mengangguk.


Sebenarnya lambung ini sudah merintih minta diisi. Apalagi waktu juga sudah merapat ke pertengahan hari. Aku tidak suka ditanya atau ditawari, seharusnya Dahlia lebih peka langsung eksekusi membelikan aku makanan, atau paling tidak minuman.


“Makannya nanti saja ya, Bi. Sebentar lagi. Ditahan dulu.”


Deg!


Agak terkejut mendengar perkataan Dahlia. Seolah dia membaca isi pikiranku. Jangan-jangan Dahlia ini cenayang atau semacamnya. Karena ini bukan pertama kali. Harus lebih berhati-hati kalau berkomunikasi dengan dia.


“Setelah ini kita jalan ke Delta ya!” titah Mamah Dahlia.


What?


Delta adalah sebutan sebuah mal yang terletak di sebelah Monumen Kapal Selam. Tak terbayang, bagaimana rasanya jalan-jalan di mal setelah berkotor-kotor di pasar tradisional. Bau ikan bahkan masih melekat di baju. Sebenarnya ingin protes, tetapi apa daya hamba adalah rakyat jelata yang hanya menerima perintah. Mengapa jadwal kunjungan ini begitu kacau? Bukankah harusnya ke mal dahulu sebelum ke pasar tradisional?


“Ya begitulah, Mamah. Maaf ya, Bi. Mamah nggak mau siang-siang di pasar, jadi harus pagi-pagi. Harap maklum ya!”


Sekali lagi, Dahlia mampu membaca isi hatiku.


Aku hanya bisa tersenyum menahan pedih menanggapi ucapannya.

__ADS_1


***


__ADS_2