
Udara agak gerah malam ini. Awan hitam berserak memenuhi angkasa. Sepertinya air akan tercurah dari langit. Sesekali kilatan cahaya berkelebat. Semoga hujan turun pas aku sudah tidur saja. Sebab, rasanya nyaman jika tidur dibuai suara tetesan air bergemericik. Harmoni suara alam yang merdu, melebihi karya agung milik Beethoven.
Tepat pukul tujuh malam, selepas salat isya, Darwis benar-benar menampakkan diri di depan pintu kamar. Masih memakai kopiah dan sarung. Tampilannya agak berbeda dengan sebelumnya. Tentu saja kali ini ia tampil lebih baik daripada biasa. Tas ransel warna marun digendong di pundak, sambil menenteng tas plastik penuh cemilan.
“Belum terlambat kan?” sapanya ramah, sambil mengangkat tas plasik yang ditentengnya.
“Masuk!” perintahku.
Layaknya pedagang kaki lima, kami mulai menggelar amunisi di lantai. Beberapa kertas untuk corat-coret sudah kusiapkan. Mata kuliah yang akan diujiankan besok adalah Matematika. Pembahasan tentang matriks yang berbelit memang lumayan memeras otak. Tak banyak bicara, kami segera membaca catatan yang didapat saat materi di perkuliahan.
Tetapi tentu saja metode belajar di perkuliahan sangat berbeda dengan sekolah dasar. Pada saat SD, kami bak anak burung yang selalu disuap oleh sang induk. Guru mencatat materi di papan tulis, kami menyalin. Guru menerangkan, kami mendengar. Lalu berlatih soal, tanpa tahu asal-usul materi itu dari mana. Otak kami masih belum menjangkau betapa kompleks asal-muasal sebuah rumus.
Aku pernah berpikir, ilmuwan-ilmuwan pasti setengah sinting mengutak-atik angka yang rumit untuk menciptakan rumus baru. Toh hanya segelintir manusia yang peduli. Pun guru juga tak pernah memberi kesempatan kami bertanya. Kami hanya pasrah mendengarkan sabda guru, manusia serba benar, yang harus dipatuhi dan dituruti.
Di perguruan tinggi, jangan harap dosen akan memberi materi dengan lengkap. Dosen hanya menulis di papan tulis tanpa ada penjelasan apa pun. Mereka berasumsi bahwa semua pasti sudah melewati fase pembelajaran sebelumnya dengan baik.
Terkadang, ketika kami belum paham, dosen sudah menyampaikan materi bak kereta api Shikansen yang melejit dari Tokyo ke Shin Osaka. Alhasil, yang mengerti hanya manggut-manggut, dan yang belum akan semakin terpuruk dalam kepedihannya.
“Lengkap nggak catatanmu?” tanya Darwis.
“Nggak. Aku nyatatnya di sini ...,” sombongku sambil menunjuk kepala.
Proses belajar dimulai dengan khusyuk. Aturan yang sudah kubuat ternyata dilaksanakan oleh Darwis. Dengan antusias ia mendengarkan pemaparan materi, sambil mencatat di buku tulis. Ternyata, membuat paham orang lain bukanlah perkara gampang. Entah aku kurang bisa menyampaikan materi atau otak Darwis tidak sampai, sehingga materi harus diulang beberapa kali.
Hangatnya kopi dan gurihnya kacang asin menjadi saksi betapa bersemangat kami berjihad demi masa depan. Nyaris tak ada obrolan sia-sia, kami berusaha memusatkan perhatian pada materi.
Di luar, langit terdengar bergemuruh. Mungkin dugaanku benar, hujan akan turun malam ini. Gerah semakin terasa, sehingga aku terpaksa berkipas-kipas menggunakan buku. Kipas angin tua di kamarku sudah loyo. Bagai kakek tua yang sakit-sakitan.
“Kamu bawa payung nggak?” tanyaku.
“Nggak, tadi kan nggak hujan,” jawabnya.
Bagus. Mungkin dulu waktu SD Darwis tidak pernah belajar pepatah yang mengatakan sedia payung sebelum hujan.
“Kalau gitu ntar kalau hujan siap pulang basah kuyup ya?”
“Nginap di sini boleh nggak?” pinta Darwis.
“Boleh. Tapi kamu tidur di lantai.”
Darwis pasrah, tanpa protes sedikit pun. Dalam hati aku tersenyum. Tak mungkin juga setega itu. Tapi sepertinya Darwis mematuhi apa pun yang kusabdakan.
Kulit kacang berserakan memenuhi lantai, kopi juga mulai dingin. Sejenak kami meregangkan otot yang kaku karena kebanyakan duduk, sambil mendinginkan otak yang mulai panas.
“Kamu tahu Lilis?” tanya Darwis sambil menyandaran diri ke dinding. Dihirupnya kopi dengan penuh penghayatan.
“Lilis yang mana?”
“Lilis anak Tekkim yang ikut kemah ke Malang kemarin.”
__ADS_1
“Emang kenapa?”
“Lilis diantar sama pacarnya yang bla ... bla ... bla ....”
Tak lama, acara belajar bersama berubah menjadi ajang ghibah. Aturan yang sudah dibuat, tanpa sengaja kulanggar sendiri.
Nama Lilis menjadi pemicu topik pembicaraan menjalar liar ke mana-mana tanpa bisa direm. Dari Lilis, topik meloncat menuju ke gadis-gadis populer di area kampus, lalu mengerucut menjadi nama Dahlia!
Drrrttt!
Drrrttt!
Ponselku berbunyi, menghentikan arena perghibahan yang makin memanas. Sebenarnya malas mengangkat telepon, tetapi karena proses belajar telah usai kuangkat saja panggilan telepon.
Ah, mengapa gadis ini menelepon?
“Mas Abi lagi sibuk?” suara di seberang begitu lembut, membuat bulu kuduk meremang.
Suara seperti ini bisa saja membuat gunung es di Antartika meleleh dengan cepat. Bahkan sepertinya aku kehabisan kata-kata untuk menggambarkannya. Begitu lembut dan menyejukkan kalbu. Di dunia ini, hanya satu yang mempunyai suara seperti ini.
Larasati.
“Aku lagi belajar ...,” jawabku pendek. Darwis tampak memperhatikan dengan antusias, segera paham, bahwa aku menerima telepon dari seorang gadis. Tiba-tiba saja dia menjadi jenius untuk urusan seperti ini.
“Mas Abi masih marah?” tanya Laras di seberang.
Sejujurnya, hadirnya pria bernama Jono di tempat kost Laras beberapa waktu kemarin masih menggumpal menjadi semacam tumor ganas yang menggerogoti mentalku.
Sekilas kulihat Darwis senyum-senyum melihatku menerima telepon. Tertebak sudah apa yang tersimpan di otaknya. Senyum itu mempunyai arti filosofis tersendiri buatku.
“Maafkan aku kalau ada salah ya, Mas...,” pinta Laras di seberang.
Tembok ego yang menjulang tinggi di hati seketika runtuh. Siapa yang tak luluh mendengar suara mendayu seperti itu? Andai aku berada di dekat Menara Eiffel, pasti menara kebanggaan Perancis itu akan tumbang.
“Nggak kok! Biasa aja lah ....”
“Syukur deh. Aku kepikiran, Mas. Takut kalau Mas Abi marah sama aku,” suaranya memelas.
Drrrttt!
Drrrttt!
“Sebentar Laras. Ada telepon masuk ...,” aku menutup panggilan, beralih ke panggilan berikutnya.
Kanjeng Ratu Dahlia!
“Bi, sori ganggu belajarmu. Kamu lagi sama Darwis nggak?” tanpa basa-basi, Dahlia langsung menembak ke sasaran. Kulirik Darwis. Bocah itu masih asyik memperhatikan gerak-gerikku.
“Nggak kok!” dustaku.
__ADS_1
“Kalau ketemu bilang dong suruh buka HP-nya, baca pesan dari aku ...,” ujar Dahlia lagi.
Pesan?
Hmm. Kok ada sedikit rasa tidak nyaman ya? Tak pernah terbersit sedikit pun kalau Darwis juga saling berkirim pesan dengan Dahlia. Apa gerangan yang mereka bicarakan? Mendadak rasa ingin tahu bergejolak. Khawatir, mereka membicarakan keburukanku di belakang.
“Kamu nggak telepon ke HP-nya langsung?” tanyaku.
“Sudah kutelepon ratusan kali tidak diangkat!”
Oh ya, aku baru sadar kalau Darwis tidak membawa telepon genggamnya. Perasaan tak nyaman seketika menerobos batas kewarasanku. Aroma pengkhianatan mulai tercium.
Pembicaraan berakhir, menyisakan seribu tanya yang masih menggantung. Ingin kuinterogasi Darwis saat ini juga, tetapi sebaiknya kuurungkan rencana itu. Mood-ku terjun bebas ke level terendah.
“Siapa Laras?” tanya Darwis kemudian.
“Tetangga di Jombang,” jawabku singkat.
“Cieee..tetangga apa tetangga?” goda Darwis.
“Tetangga kok!” kilahku cepat.
Darwis menyeringai, menyimpulkan sendiri apa yang dilihatnya. Tak ada minat untuk melakukan dialog lebih lanjut. Seketika, segala yang ada di otak menguap, musnah terbawa pikiran buruk.
“Lima menit lagi aku mau tidur!” aku memberi warning.
“Sudah jam sepuluh?”
“Belum. Tapi aku lelah hari ini. Kamu kalo mau pulang, pulang aja! Ntar keburu hujan,” ujarku.
“Aku diusir?”
“Ya terserah sih kalau mau tetap di sini. Tapi aku mau tidur!”
Entahlah.
Tetiba tanduk iblis tumbuh di kepala. Dua buah panggilan telepon tadi seketika memporak-porandakan perasaan. Berbagai pikiran negatif merasuki sistem syaraf bagai roh jahat. Bisikan-bisikan kebencian terngiang di telinga. Rasanya aku ingin Darwis segera beranjak dari kamarku.
“Aku bersihkan dulu kulit kacangnya ya!” pinta Darwis.
“Nggak usah! Biar aku saja! Kamu kan tamu!”
“Maaf ya Bi, sudah ngrepotin kamu,” ujar Darwis ragu-ragu. Sepertinya ia telah membaca raut mukaku dengan baik. Mungkin dia menyadari, bahwa mood-ku mulai menurun.
Aku tidak menjawab. Mendadak kepala ini pening. Darwis terlihat seperti merasa bersalah, sehingga ada rasa tidak enak menyusup diam-diam dalam hati.
Aku tidak peduli.
***
__ADS_1