DUNIA ABIMANYU

DUNIA ABIMANYU
Chapter IX : In Memoriam, Pardi


__ADS_3

Aku berdiri di atas bukit di tepi sawah. Sengaja menyempatkan ke tempat ini bila aku pulang ke kampung. Tempat ini adalah tempat terbaik di muka bumi. Lembar-lembar memori masa lalu terputar perlahan di otakku. Kenangan yang mungkin tak akan pernah kulupa selamanya. Aku melihat bayangan Pardi berlari-lari kecil di sepanjang pematang sawah sambil berteriak ceria. Di tangannya tergenggam botol berisi air dan ikan-ikan kecil.


“Abiii! Aku bawakan ikan-ikan ini untukmu!”


“Ikan apa itu, Di?”


“Ikan sepat! Aku menangkapnya di sungai tadi!”


Aku menerima ikan itu dengan ekpresi datar. Bahkan, dia terlihat lebih bersemangat dari aku. Tidak pernah sekalipun raut kesedihan tergambar di wajahnya. Tawanya yang lebar adalah arti hidup yang sebenarnya. Api semangatnya selalu berkobar tak pernah padam.


Tapi sayangnya itu semua tinggal lembaran kisah yang telah usang.


Angin pagi mempermainkan rambutku. Alang-alang menari berlenggak-lenggok penuh pesona. Di atas bukit ini terdapat sebuah gubuk kecil, tempat petani beristirahat sambil mengawasi sawahnya. Dari atas bukit ini juga terlihat sungai yang mengalir tenang di sisi barat. Air sungai itu berwarna keperakan ditimpa cahaya matahari yang bersinar benderang menjelang siang. Sungguh menawan pemandangan dari atas bukit ini. Mengingatkanku pada sebuah tempat di pedalaman Switzerland.


Tapi tunggu dulu!


Kecantikan itu menipu. Kurasa selama ini peribahasa yang kupelajari memang benar adanya. Air tenang menghanyutkan. Ya, air sungai itu memang mengalir tenang dan indah. Tetapi air tenang itulah yang merenggut nyawa sahabat masa kecilku, Pardi. Sampai sekarang, hati ini masih teriris apabila mengingat peristiwa itu.


Aku tak pernah tahu pasti mengapa Pardi bisa tenggelam di sungai itu. Padahal, dia jago berenang dan menyelam. Para tetua di kampung beranggapan bahwa kepergian Pardi adalah ulah sosok jin penunggu sungai yang meminta tumbal anak-anak.


Aku tidak mau percaya itu.


Kini, sungai itu telah sepi. Tak ada anak-anak yang bermain di tempat itu lagi. Kepergian Pardi menorehkan luka yang amat mendalam bagi kampung kami. Para wanita mulai enggan pergi ke sungai. Pun anak-anak juga dilarang mendekati sungai. Cerita-cerita takhyul mulai santer terdengar, menjadi trending topik di warung kopi Mak Parmi di ujung jalan kampung. Kepergian Pardi yang mendadak di siang itu tetap menjadi misteri yang tak terpecahkan.


Untuk aku sendiri, aku tak peduli dengan cerita apapun. Aku hanya tak ingin Pardi mati.


Itu saja.


Masih segar dalam ingatan ketika wajah cekung itu menatapku sedih. Ini adalah raut muka kesedihan yang pertama kulihat dari seorang Pardi. Kami sedang menikmati angin sore di dalam gubuk. Menunggu azan maghrib berkumandang. Seminggu sebelum kepergian dia untuk selamanya.


“Nanti kalau kamu sekolah di kota, aku boleh tengok kamu kan, Bi?” tanya Pardi.


“Ya boleh saja...” jawabku tak bersemangat.


Entah apa yang ada dalam pikiranku saat itu. Berat aku meninggalkan kampung ini. Tetapi aku harus menuntut ilmu yang tak akan bisa kudapatkan apabila tetap bertahan di kampung ini.


“Aku akan cari duit yang banyak supaya aku bisa pergi ke kota seperti kamu,” kata Pardi lagi.


Aku terdiam memandang ke arah langit yang mulai memerah. Burung-burung mulai pulang ke sarangnya.


“Kamu tau ndak, Di?” tanyaku.


“Apa?”


“Jauh di atas langit sana, katanya ada milyaran galaksi. Dulu aku pikir Galaksi Bima Sakti adalah satu-satunya galaksi yang ada di alam semesta ini. Tapi kemarin Pak Guru bilang kalau sebenarnya ada galaksi-galaksi lain jagad raya ini.”

__ADS_1


“Wah! Aku ndak tau itu, Bi. Kamu kan pinter, mestinya lebih tau. Cuma yang aku tahu, di atas langit masih ada langit. Dulu mbahku bilang, langit itu ada tujuh lapis. Tapi aku nggak bisa bayangin itu.”


“Aku pengen ke bulan, Di.”


“Mau apa jauh-jauh ke sana?”


“Mau melihat angkasa luar seperti apa. Sungguh aku sangat tertarik dengan cerita Neil Amstrong dan Edwin Aldrin yang berhasil mendarat ke bulan.”


Pardi tertawa.


“Kenapa kamu tertawa, Di?”


“Mimpimu ketinggian, Bi! Jangan tinggi-tinggi! Nanti kalau jatuh rasanya sakit.”


“Loh, Pak Guru bilang kita harus berani bermimpi, Di. Kalau kita nggak bermimpi, tidak ada yang namanya pesawat. Tidak ada yang namanya mobil. Tidak ada yang namanya listrik. Alexander Graham Bell ndak pernah nyiptain telepon. Seumur-umur kamu akan belajar pake lampu minyak. Karena semua hal luarbiasa di dunia ini berawal dari mimpi!” paparku.


Pardi melongo.


Mungkin ia sama sekali tak paham dengan apa yang kuucapkan. Tetapi, aku tahu Pardi yang akan selalu mendukung apapun yang kulakukan. Apapun itu, walaupun ia tidak paham yang kumaksud.


Secara akademis, aku memang di atas rata-rata dibandingkan teman-teman sekelasku. Juara kelas selalu kuraih tiap tahun. Lomba-lomba antar kecamatan juga sering aku ikuti. Bahkan pernah mewakili Kota Jombang dalam lomba pelajar teladan se-Provinsi Jawa Timur.


Tak heran, bapak tak ingin melihat kemampuanku itu menguap begitu saja. Bapak berpikir, jika sekolah di kampung maka aku tak akan pernah berkembang. Maka aku berkesempatan mengenyam pendidikan SMP di Kota Kediri.


Kini, mimpi-mimpi itu kusimpan rapi di otakku. Entah kapan akan terwujud. Pardi benar. Di atas langit masih ada langit. Kini baru aku menyadari, bahwa aku tak sepintar yang kupikir. Aku masih lemah di bidang tertentu. Lusi masih sering mengajari di mata kuliah Mekanika Teknik yang membosankan itu.


Semoga kau tenang di sana, kawan! I miss you.


Matahari sudah naik ke titik kulminasinya. Aku kembali ke rumah dengan malas. Sore ini aku harus kembali ke Surabaya. Rasa malas langsung menyergap. Kalau boleh, aku ingin tinggal lebih lama di kampung halamanku.


Dalam bayanganku, Surabaya akan kembali memasung dalam rutinitas-rutinitas yang menjemukan. Tapi apalah daya.


“Nanti jangan lupa bawa ini..” emak menyelipkan bungkusan di dalam tasku.


“Apa itu, Mak?”


“Daging goreng. Lumayan bisa dimakan sampai dua hari. Daripada beli. Nanti kamu tinggal masak nasi saja. Berasnya masih to?” tanya emak.


Ya Allah emak!


Beliau selalu menyiapkan kebutuhanku sampai hal-hal yang sekecil-kecilnya. Walaupun kadang aku menolak, tetapi emak memaksa. Sungguh, tak ada yang lebih tahu apa yang kubutuhkan di dunia ini selain emak.


“Yang ini sambel pecel. Trus yang bungkusan biru ini singkong goreng, nanti bagi sama-sama temanmu di kontrakkan!”


Mataku berkaca-kaca. Bagi beliau, aku adalah Abimanyu kecil yang lugu dan harus selalu dilindungi.

__ADS_1


Anakmu sudah dewasa, Mak. Sudah bisa jaga diri. Sudah bisa melihat gadis cantik. Bisa membedakan mana Lusi dan mana Laras. Emak tidak perlu repot begini.


Belum berhenti rasa takjubku pada emak, seorang gadis manis memberikan pula bungkusan jajanan kepadaku.


Laras dengan senyum malu-malu berkunjung ke rumahku.


“Apa ini?”


“Lemper Mas. Titipan bapak buat Mas Abi”


“Nggak usah repot-repot”


“Ndak apa-apa, Mas. Itu nggak beli kok. Aku yang bikin sendiri.”


Oalaaaah!


Sudah cantik, pintar masak lagi!


“Maturnuwun yo, Ras”


Apapun motifnya, aku tetap berterima kasih pada Laras. Semoga kelak aku masih bertemu dengannya lagi. Laras menatapku dengan sendu. Ada sesuatu yang dipikirkannya, tetapi sayangnya aku tidak bisa menebak.


Dengan tas yang lumayan berat, bapak mengantar aku ke Terminal Bus Jombang. Aku tidak bisa naik kereta karena jadwal kereta terlalu sore. Aku takut kemalaman sampai Surabaya.


Kepergianku dilepas dengan kecupan di kening oleh emak. Kucium juga pipi Weni. Gadis yang mulai beranjak remaja itu akan merindukanku, dan oleh-oleh dariku tentu saja.


“Sing ngati-ati yo Le” pesan Bapak.


Kucium tangan bapak yang kasar. Sebenarnya aku tidak ingin menangis. Tetapi luruh juga kristal bening dari pelupuk mata. Hanya sebutir. Mereka tidak boleh tahu aku sedang menangis. Harus semangat.


Bus melaju meninggalkan Kota Jombang menuju Surabaya bersama kenangan yang tersimpan di dalamnya. Ada yang menghimpit perasaanku saat itu.


Selamat tinggal, bapak!


Selamat tinggal, emak!


Selamat tinggal, Weni!


Selamat tinggal, Laras!


Selamat tinggal, Pardi!


Aku akan berjuang menuntut ilmu.


Demi kalian!

__ADS_1


***


__ADS_2