DUNIA ABIMANYU

DUNIA ABIMANYU
Chapter LI : The Wedding


__ADS_3

Waktu bergulir menuju pertengahan hari. Ballroom hotel itu sudah dipadati tamu undangan. Mobil-mobil beraneka rupa berjajar di tempat parkir, bahkan sampai meluber di tepi jalan. Karena keluarga Lusi Handayani lumayan terpandang, tak heran tamu cukup membludak. Hiasan janur meliuk di gerbang utama, dipadu dengan hiasan kertas warna-warni yang cantik, menyambut setiap tamu yang datang.


Penerima tamu, dengan seragam jas dan kebaya yang elegan, menebar senyum ramah. Dua kotak besar berisi amplop sumbangan tamu sengaja diletakkan dekat pintu masuk, agar mudah terlihat.


Aku sudah menyiapkan amplop berisi uang dengan nilai yang standar. Tak juga aku harus mengistimewakan Lusi. Tradisi memberi ang pau ini sudah ada turun-temurun dari kelas kampung sampai kelas elit. Menurutku, pernikahan menjadi semacam ajang bisnis untuk mengeruk amplop sebanyak-banyaknya.


Aku menggamit lengan Laras, seolah kami adalah pasangan. Dengan rasa percaya diri yang full, kami melangkah untuk mengantre menulis di buku tamu. Gadis-gadis berusia belia, didandani cantik maksimal, memberi souvenir berupa mug yang bertatahkan nama pasangan yang berbahagia.


Lusi dan Ilham.


Ilham Ramadhan. Seperti yang tertera di undangan yang kuterima, adalah seorang pengusaha asal Sidoarjo. Tak mengenal secara pribadi, tetapi rasanya seperti tak asing. Dalam urusan isi dompet, jelas aku bertekuk lutut. Masa depan masih suram, bimbang akan kemana nasib ini berlabuh. Dibandingakan Ilham Ramadhan, aku adalah klub sepak bola kelas gurem yang melawan keperkasaan Real Madrid!


Untuk bersalaman dengan mempelai saja, kami harus masuk dalam antrean yang cukup panjang. Belum lagi foto-foto di atas panggung yang makin memperpanjang durasi. Laras tampak mulau gerah. Ia mulai mengipasi wajah. Aku khawatir, make-up itu akan luruh karena panas.


Tibalah hari pembalasan itu. Aku menaiki panggung dengan pongah, diiringi lagu My Valentine dari wedding-singer yang cukup seksi. Melihat kedatanganku, tatapan Lusi menajam, seolah hendak merenggut diri ini dari Laras. Justru disitulah aku merasa bangga. Kusunggingkan senyum penuh kemenangan di hadapannya.


Pertama, kusalami mempelai pria dengan senyum merekah. Tak kutunjukkan secuil pun rasa kehilangan. Ilham Ramadhan, tak terlalu tampan. Tetapi jelas penampilannya menunjukkan bahwa dia hidup bermandikan harta. Sepertinya aku pernah melihat, hanya saja lupa di mana.


Berikutnya, Lusi yang terlihat canggung melihatku. Tangannya terasa dingin. Aku bisa merasakan degup jantungnya yang menguat.


“Selamat ya, Lusi. Semoga bahagia,” ucapku dengan kepala terdongak.


“Makasih udah datang ya Bi. Pacarmu?” Lusi melirik ke arah Laras.


“Calon istri!” jawabku dengan penuh rasa percaya diri.


Bukan hanya Lusi yang terkejut mendengar jawabanku, tetapi Laras juga. Ia mencubit kecil lenganku.


“Selamat ya, Mbak!” ucap Laras ramah. Ia menyalami tangan Lusi dengan erat Sayangnya Lusi tak begitu fokus, ia hanya mengangguk. Matanya masih mengikuti langkahku yang mulai menuruni panggung. Lusi mendadak gelisah.


Mission completed!


Acara selanjutnya adalah mencicipi hidangan yang sudah disajikan. Rendangnya enak, walau dagingnya kurang empuk. Nasi gorengnya sedikit hambar, mending nasi goreng bapak-bapak yang suka jual di gerobak dekat kontrakan. Yang paling aku suka di sini adalah roti maryam isi kari ayam. Rasa gurihnya menggoyang lidah. Sengaja aku memilih duduk di pojokan, agar lebih leluasa mengobrol bersama Laras.


“Itu teman kuliah ya, Mas?” tanya Laras.


“Iya. Tapi udah pindah ke Malang,” jawabku sambil menggiling sobekan roti maryam di dalam mulut.


“Kok dia seperti sedih gitu ya, Mas?”

__ADS_1


“Sedih gimana, Ras? Dia kan menikah.


Harusnya bahagia. Masa sedih?” elakku.


“Kelihatan gimana gitu. Terutama saat melihat Mas Abi. Gini-gini aku bisa ngerasain loh, Mas. Dia itu kayak cemburu gitu sama aku. Jangan-jangan ...,” Laras menatapku tajam.


“Jangan-jangan apa?”


“Kalian dulu pacaran ya?” tebak Laras.


Aku tersedak. Hampir saja roti maryam dalam mulut terhambur keluar. Kuteguk sirup melon dingin untuk membasahi kerongkongan.


“Nggak kok, Ras. Dia teman biasa saja,” tegasku.


“Oya Mas, tadi Mas Abi serius nggak sih?” tanya Laras lagi.


Ia fokus menikmati buah-buahan potong dalam sebuah piring plastik. Sengaja ia tak makan nasi. Mungkin ia ingin menjaga penampilan agar tetap langsing. Pola diet yang keren. Dibandingkan pola diet aneh milik Dahlia.


“Maksudnya?” aku mengerti arah pembicaraannya. Sengaja aku menanyakan, untuk memastikan kembali.


“Tadi bilangnya aku calon istri,” jawab Laras sambil melahap potongan terakhir nanas di piringnya.


“Kok ketawa?”


“Nggak apa-apa kok, Ras.”


Sontak Laras cemberut. Ada sesuatu yang merasuk di pikirannya. Suasana menjadi tidak enak. Kalau Laras sudah memasang tampang seperti itu, artinya mood akan berubah menjadi jelek.


Seorang pria berpakaian batik mendekatiku, menyerahkan selembar kertas yang dilipat rapi.


“Apa ini, Mas?” tanyaku.


“Titipan dari Mbak Lusi,” jawabnya. Kemudian dia pergi begitu saja, jejaknya menghilang di antara tamu yang lain, sebelum sempat bertanya lebih lanjut.


Apa lagi ini?


Laras keluar dari acara pernikahan dengan gusar. Mendadak mulutnya terkunci. Perempuan, kalau sudah menyimpan lisan seperti ini, pertanda buruk. Ada perasaan marah yang disembunyikan di dasar hati. Langkahnya semakin cepat.


“Laras kenapa?” kejarku.

__ADS_1


“Kita cepat pulang ke Surabaya ya, Mas. Ntar aku telepon Mas Jono dulu,” kata Laras sambil mengeluarkan ponselnya.


“Kamu kenapa sih, Ras?”


Kami berdiri di pinggir jalan yang sibuk. Matahari sudah meninggi tepat di titik kulminasi. Laras terlihat gusar.


“Sekarang aku tahu mengapa Mas Abi ngajakin aku ke sini,” ucap Laras tanpa menatapku.


“Ya karena aku nggak ada temannya Ras!”


“Mas Abi nggak usah bohong! Mas Abi sengaja ngajakin aku ke sini agar mbak yang nikah itu cemburu kan? Aku sudah baca itu kok!” ketus Laras.


“Ras, bukan ... bukan kayak gitu,” aku membela diri.


“Jangan lagi main-main sama perasaan perempuan ya, Mas!”


“Ras, aku kan hanya ....”


“Sudah ah, Mas! Nggak usah dibahas!”


Aku terdiam.


Saat ini, emosi sudah menyelimuti hati Laras. Kalau aku memaksakan diri untuk menerangkan alasannya, kemungkinan besar dia tidak bisa menerima. Biarlah dia cooling down terlebih dahulu. Trik ini biasa dipakai oleh emak apabila bapak sedang marah. Emak memilih menyingkir ketika emosi bapak meluap. Baru setelah agak reda, emak menerangkan alasannya sambil memijit kaki bapak. Alhasil, cara ini cukup efektif untuk menghindari kemarahan yang lebih dahsyat.


Hebat juga ya, Emak!


Tak lama kemudian, mobil Mas Jono dan Mbak Ida tiba. Mereka tampak bahagia, habis belanja di sayur-sayuran. Kulihat sekeranjang sayuran seperti wortel, kentang, dan beragam sayur lainnya di kursi belakang. Selain apel, Malang juga terkenal dengan sayur-sayuran segar.


“Bagaimana acaranya?” sapa Mbak Ida.


“Lancar kok, Mbak!” jawabku singkat. Laras masih terdiam.


Diamnya Laras membuatku merasa bersalah. Mungkin agak keterlaluan cara bercandaku tadi. Sejujurnya, apa yang dikatakan Laras itu seratus persen benar. Hampir semua cewek yang kukenal telah kulambungkan perasaannya, kemudian kuhempaskan begitu saja. Tapi apakah itu murni salahku?


Ini pelajaran penting. Rasa dendam membara pada Lusi akhirnya berimbas ke Laras yang menjadi korban. Aku sama sekali tak bisa menebak apa yang dirasakan Laras! Jangan-jangan, hanya dengan candaan itu tadi, dia menuntut keseriusan?


Laras memang jelita, dengan senyum Monalisa-nya yang dapat melumerkan gunung-gunung es di Siberia. Sayangnya, untuk kenyamanan hati, aku lebih memilih Dahlia.


***

__ADS_1


__ADS_2