DUNIA ABIMANYU

DUNIA ABIMANYU
Chapter LXXXI: Purna Tugas


__ADS_3

Hal pertama yang kulakukan setelah purna tugas di kantor adalah merebahkan diri di hari Senin. Artinya apa? Artinya adalah di saat yang lain bergumul dengan pekerjaan atau lagi belajar di kampus, aku tengah menikmati hari kebebasanku di hari efektif. Libur adalah kenikmatan sendiri yang susah diungkapkan. Sayangnya semakin bertambah umur, frekuensi tidur makin berkurang. Rutinitas semakin menumpuk, dan aku semakin tenggelam di dalamnya.


Dahulu waktu kecil, emak selalu memaksa untuk tidur siang. Beliau bilang tidak baik main siang hari karena bisa diculik orang. Sampai sekarang, mitos itu masih terngiang dalam ingatan. Entah berita itu bisa dipertanggungjawabkan atau tidak, yang jelas aku tetap merasa was-was kalau siang-siang masih berkeliaran di luar. Emak selalu menyuruh tidur siang, padahal aku masih ingin bermain di sawah bersama Pardi atau teman khayalanku.


Sayangnya emak kurang berpengalaman kala itu. Saat yang lain terlelap dalam tidur siang, aku kabur dengan cara meloncat dari jendela. Aku sudah janjian dengan Pardi untuk mencari ikan di sungai dekat sawah. Pulang menjelang Ashar, dengan baju kotor dan basah. Tentu saja hal itu memancing amarah emak. Akibatnya, kupingku harus siap panas mendengar omelan emak. Itu tidak seberapa dibanding kalau bapak sudah turun tangan. Bisa-bisa gagang sapu mendarat di pantatku.


Kalau dahulu tidur siang adalah hukuman, sekarang seiring beranjak dewasa, tidur siang adalah nikmat Allah yang tiada berkira. Jarang sekali aku menikmati tidur siang. Waktu serasa terus berlari meninggalkan tanpa ampun. Aku harus terseok-seok mengejarnya. Terlambat lima menit saja, hancur-lebur semua rencana, sehingga aku harus menyusun ulang.


Demikianlah hidup.


Hari Senin pertama tanpa kegiatan di kontrakan tak sepenuhnya menyenangkan, karena teman yang lain sedang kuliah. Sudah lama tak bercengkrama bersama mereka. Kesibukan di tempat kerja kemarin membuat hubunganku dengan teman-teman terpisah jarak, padahal itu sama sekali bukan kemauanku. Rindu akan celotehan atau cacian Doni yang tak berperasaan itu. Mulutnya yang kadang berbisa sebenarnya adalah cambuk buatku untuk selalu memperbaiki diri. Bagaimana kisah kelanjutan hubungan Doni dengan Monik aka Monika?


Bagaimana pula kabar Andre dengan Inneke? Apakah mereka berdua benar-benar sudah sudah menikah secara agama atau bagaimana? Tak kusangka pria populer seperti Andre sebentar lagi akan menggendong anak. Jelas itu akan menurunkan level popularitasnya. Tak ada lagi gadis-gadis yang mengelilinginya kalau saja tahu Andre sudah punya momongan. Bagiku, itu tidak masalah. Tak selamanya popularitas bertahta dalam diri kita. Toh semua juga akan mengalami fase itu.


Yang paling kurindukan sebenarnya adalah petuah-petuah Farhan yang kadang tidak berfaedah. Dia jarang muncul juga di kontrakan karena lebih sibuk menerima job undangan mengisi pengajian majelis taklim ibu-ibu. Sudah pasti banyak ibu-ibu yang mengidolakannya. Sayangnya Farhan selalu kurang bersyukur. Entah itu isi amplop yang minim atau hanya mendapat ucapan terima kasih berupa nasi kotak.

__ADS_1


Padahal, aku sering memberi nasihat bahwa percuma saja ilmu yang dia sebarkan kalau masih berharap pamrih berupa materi. Kalau tidak ikhlas akan sayang karena pahala yang menguap sia-sia. Kalau sudah begini, posisi jadi berbalik. Sebenarnya yang mubaligh itu siapa?


Karena suasana kontrakan begitu senyap bagai pekuburan Tanah Kusir, aku memilih untuk berkelana ke kampus. Ya, bagaimanapun kampus selalu menarik perhatianku. Tentu saja bukan karena dosen atau materi kuliah yang membuat stres, tetapi lebih ke suasananya. Duduk berjam-jam di perpustakaan sangat menyenangkan, makan di kantin pusat atau menikmati bubur kacang ijo seharga goceng. Sayangnya waktu terakhir aku ke sana, ibu kantin menaikkan harga bubur seribu rupiah, dengan alasan harga bahan baku juga naik, sehingga harga penjualan otomatis naik. Baiklah, bisa dimengerti alasan itu.


Aku melaju ke perpustakaan pusat. Walaupun libur, sebenarnya ini bukan waktu yang baik untuk bersantai. Mengingat setelah ini aku menghadapi tantangan yang lebih besar, yakni tugas akhir. Judul sudah kukantongi, tinggal menyusun menjadi tulisan-tulisan ilmiah. Ini adalah fase yang paling sulit.


Walaupun banyak kutemukan contoh-contoh tugas akhir di perpustakaan, tetap saja menyusun sebuah tulisan ilmiah tidak semudah menjentikkan jari. Belum lagi harus memperhatikan bahasa yangs sesuai dengan ejaan yang disempurnakan, typo atau kesalahan-kesalahan kecil yang lain. Dosen pembimbing tidak akan segan-segan mencoret hasil ketikan yang sudah kita kerjakan semalaman. Artinya apa? Artinya kita harus merevisi lagi, lalu menge-print ulang. Bukan hanya melelahkan secara fisik, tetapi isi dompet juga.


Karena beratnya masa-masa tugas akhir, tak heran banyak mahasiswa yang tertekan dan memilih menunda-nunda mengerjakan tugas akhir. Akibatnya apa? Sudah barang tentu mereka akan menua di kampus. Ketika rekan-rekan lain sudah wisuda, dia hanya bisa menjadi penonton sambil bergelut dalam tugas akhirnya yang tak kunjung usai.


Dahlia, juga sepertinya bermasalah di tugas akhir. Entah dia angkatan keberapa. Teman-temannya juga sudah wisuda sejak lama, bahkan ada pula yang sudah bekerja. Hanya Dahlia yang betah berlama-lama di kampus. Ingin aku menanyakan alasannya, takut menyinggung. Masalah dia mau cepat atau lambat kuliah adalah hak prerogratifnya. Lagipula, mau dia kuliah seumur hidup sah-sah saja, toh dia mempunyai pundi-pundi uang.


Walaupun begitu, muncul pula rasa iba. Sampai kapan dia bertahan di kampus? Sebentar lagi kalau tugas akhirku berhasil, aku juga pasti persiapan untuk wisuda. Haruskah kutinggalkan Dahlia menua di kampus? Atau lebih baik ia memilih untuk drop out saja? Kalau begitu, sia-sia saja semua ilmu yang ia pelajari selama ini. Entahlah. Semoga keputusan yang diambilnya, akan menjadi keputusan yang terbaik.


Aku sedang menyusuri rak-rak buku referensi di perpustakaan ketika apa yang ada dipikiranku menjelma menjadi nyata. Tak ada hujan tak ada angin, sosok Dahlia tiba-tiba muncul sendirian, seperti biasanya. Entah apa yang ia cari di perpustakaan ini. Dia selalu berlama-lama di lantai tiga, sambil mencari buku-buku remeh-temeh seperti cara menanam tomat, cara merawat kucing angora dan sebagainya. Aku tak mau mengintervensi selera bacaannya. Itu lebih baik daripada selera bacaan sejuta kaum muda sekarang ini, yang lebih suka membaca hal-hal yang tak berfaedah.

__ADS_1


Rupanya dia tidak menyadari keberadaanku di ruangan yang sama. Aku mengintip gerak-gerik Dahlia dari balik buku-buku yang tersusun dalam rak. Masih menimbang-nimbang, apakah aku harus menyapa atau tidak? Dia tengah khusyuk membaca buku tentang budidaya cabe keriting. Mungkin dia ingin seperti Bob Sadino yang sukses dalam berkebun, karena bacaannya tak jauh-jauh dari tema berkebun.


Sudah dapat kubayangkan, pasti dia terkejut melihat kedatanganku yang tiba-tiba. Ingin mengajaknya ngobrol, tapi nanti akan membuyarkan keasyikan membacanya. Dia tampak begitu serius, dengan dahi berkerut. Membaca buku pertanian saja seperti itu, apalagi kalau membaca buku termodinamika. Kupastikan akan rontok rambutnya seketika.


Jadi apa yang harus kulakukan?


“Huaa!!”


Aku mengejutkan Dahlia dari belakang. Gadis itu tampak terkejut, membalikkan badan dan menatapku penuh amarah. Tak ada raut kegembiraan menyambutku.


“Buuk!”


“Aku kaget, Setan!”


Dipukulkannya buku yang ia baca kepadaku sambil mengumpat. Astaga, serius dia marah?

__ADS_1


***


__ADS_2