DUNIA ABIMANYU

DUNIA ABIMANYU
Chapter XCVII : Ijab Kabul


__ADS_3

Hari ini suasana kamar perawatan Andre agak berbeda dari biasa. Beberapa kursi dikeluarkan, diganti dengan gelaran karpet. Beberapa dus minuman air mineral juga telah disiapkan, juga kotak-kotak berisi kue dan nasi. Andre masih terbaring dengan gelisah. Entah mengapa aku tak melihat raut kegembiraan, padahal seharusnya ini adalah hari penting dalam sejarah hidup. Hari ini adalah tonggak awal dimulainya babak baru dalam hidupnya.


Aku sudah standby di lokasi acara sejak pukul tujuh pagi, saat karpet itu belum tergelar. Kurasa Andre agak nervous dengan perhelatan ini. Maklum, acara dilaksanakan dalam kamar rumah sakit, padahal normalnya ada di masjid atau rumah. Tak heran, wajah Andre terlihat cemas. Padahal Farhan sudah memberikan kultum tentang prosesi sakral ini. Tentu saja Farhan bisa bercerita, karena dia telah resmi melepas status bujangnya sepekan lalu.


“Itu wajar saja. Pasti ada perasaan gugup sebelum menjalani prosesi ijab kabul. Ini kan prosesi sakral, sekali seumur hidup. Mengucap ikrarnya nggak boleh sembarangan dan salah-salah. Kalo salah harus diulangi sampai saksi bilang sah. Apalagi pas ngucapin kan dilihat sanak dan kerabat, pokoknya peristiwa paling horor dalam hidup. Tapi, kalau sudah melewati itu, rasanya plong. Seperti melewati saat-saat rumit dalam hidup,” terang Farhan.


Nyali Andre menciut. Sedari pagi ia sudah dipermak oleh tukang rias, dibedaki seperti bayi, dan diberi pakaian jas rapi beserta songkok. Dengan penampilan seperti itu, Andre terlihat berwibawa dan lebih dewasa, jauh dari kesan anak muda yang gaul dan modis. Orang tua Andre, beserta dua orang adiknya juga telah tiba di rumah sakit. Mereka mengenakan pakaian formal yang cukup rapi.


Kami menunggu detik-detik itu dengan tak sabar. Tak ada tamu yang diundang, hanya kerabat dekat. Aku merasa beruntung bisa menjadi saksi dalam perhelatan ini. Dalam hati, ada rasa iri yang tak dapat kututupi. Tentu sangat bahagia berada di posisi Andre. Mengenakan busana formal, bersanding dengan gadis pujaan hati, berikrar di depan penghulu, tentu adalah momen yang sangat dramatis. Apakah ini hanya sebatas mimpi?


Untuk menuju proses ijab itu, aku merasa masih sangat jauh, karena pasangan saja aku belum jelas. Semua masih dalam proses penjajakan, tanpa ada kepastian. Walaupun begitu, aku tak perlu terlalu ngoyo, usiaku masih relatif muda. Beberapa pria lain malah ada yang memilih menunda pernikahan sampai usia 30-an, dengan berbagai alasan. Kebanyakan pria menunda pernikahan karena alasan kemapanan. Mereka menunggu punya rumah dan mobil sendiri, agar tak merepotkan mertua. Kalau menunggu seperti itu, mungkin baru usia 50 tahun akan menikah!


Inneke juga sudah siap di ruangan, setelah menjalani proses riasan sejak pagi. Riasan Inneke terlihat natural, tidak berkesan menor. Ia memakai kebaya putih semi modern dengan lengan transparan, barpadu dengan kain jarik bermotif cantik serta rambut tertata rapi. Sungguh anggun, bagai putri-putri keraton.


Berbanding terbalik dengan Andre, raut Inneke kelihatan bahagia. Ia terlihat lebih tenang menghadapi prosesi ijab kabul ini. Entah apa yang dirasakan wanita ini. Tentu prosesi ijab kabul atau akad nikah adalah salah satu momen historikal yang tak ada duanya. Orangtua Inneke beserta keluarga juga tampak hadir di situ. Ada pula Mas Arbie yang kelihatan berbeda hari itu. Mungkin kakak Inneke itu sedikit malu, karena telah dilangkahi adiknya yang terlebih dahulu menikah.


“Jadi kapan resepsinya, Ndre?” tanyaku.


“Nanti dulu, Bi. Yang penting sah dulu. Resepsi gampang, sambil nunggu aku pulih dan ngimpulin rezeki dulu. Pasti kamu akan kuundang kok,” ujar Andre.

__ADS_1


“Tapi tahun ini kan? Jangan lama-lama. Ntar perut Inne keburu besar, terus menimbulkan tanda tanya para tamu. Kalau bisa jarak akad nikah sama resepsinya tidak terlalu jauh,” saran Doni.


“Iya tahun ini aja kok. Yang jelas setelah Abi wisuda kayaknya. Jangan lupa, Abi kan habis ini wisuda. Sedangkan aku sepertinya belum. Tugas Akhirku berantakan. Tapi Insya Allah semester depan,” kata Andre.


“Aku masih satu tahun lagi wisuda. Aduh, nanti kalian bakalan tinggalin kontrakan satu persatu. Jadi sedih aku,” gumam Doni.


“Tapi janji ya, walau nanti kita sudah pisah satu sama lain, kita tetap bersahabat. Biar kita saling dukung. Ntar kita reunian sambil bawa istri masing-masing,” Farhan menambahkan.


“Kalau begitu, kasihan Abi dong!” celetuk Doni.


Entah mengapa aku mempunyai firasat buruk. Mungkin Doni hendak melontarkan kalimat yang menyayat hati. Kupersiapkan mentalku untuk hal ini.


“Dia kan cita-citanya ingin jadi jomblo seumur hidup hahaha!”


Sudah kuduga.


Doni berkata sambil tertawa puas, sedangkan aku hanya tersipu malu. Bagaimanapun, aku menyayangi mereka. Rasanya kalau silaturrahmi ini terputus, akan sangat disayangkan. Walau aku sering menjadi korban bullying, aku tetap bahagia bisa berkumpul dengan sahabat-sahabatku.


Tepat pukul delapan, rombongan penghulu sudah tiba. Tanpa banyak cakap, panitia sudah mengatur sedemikian rupa. Karena Andre tidak bisa bangun, Inneke duduk di sebuah kursi di samping tempat tidur, sementara pak penghulu juga sudah siap dengan perlengkapannya. Para saksi, yang terdiri dari para paman Andre dan Inneke, juga sudah siap di posisi masing-masing.

__ADS_1


Lima belas menit kemudian, prosesi sudah siap dilaksanakan. Aku didapuk menjadi seksi dokumentasi, sehingga sibuk wara-wiri mengambil gambar momen-momen penting. Banyak objek menarik yang kujepret, termasuk wajah Inneke yang tampak sendu menunggu detik-detik berharga.


Pak penghulu sudah menjabat tangan Andre, dan mengisyaratkan agar Andre mengulangi perkataannya. Wajah Andre kian memucat. Saat mengulangi perkataan penghulu, suaranya sedikit bergetar karena gugup. Untunglah tidak sampai mengulang.


“Saya terima nikahnya Inneke Rosita Dewi, binti Ahmad Budianto dengan mas kawin uang tunai lima juta rupiah dan seperangkat alat salat dibayar tunai!” ucap Andre lantang.


“Bagaimana para saksi, sah?” tanya penghulu.


“Sah!” jawab para saksi serempak.


Alhamdulillah ....


Terdengar para tamu yang hadir berbisik. Kemudian pengantin pria dipersilakan untuk memasang cincin di jari pengantin wanita. Ada pula proses penandatanganan buku nikah, kemudian ada momen yang paling ditunggu-tunggu, yakni momen ciuman! Semuanya terdokumentasi rapi dalam jepretan kamera yang aku pegang.


Prosesi yang cukup mengharukan. Beberapa wanita menitikkan air mata. Ada rasa haru bercampur bahagia. Inneke juga tak kuasa membendung butiran bening yang menggenang di pelupuk mata. Butiran itu luruh menuruni pipinya yang merona. Keharuan yang bercampur rasa bahagia. Sedangkan Andre, tampak kikuk, bingung harus bagaimana. Ini adalah detik-detik pertama dalam hidupnya menyandang gelar sebagai suami.


Khutbah pernikahan disampaikan oleh penghulu, mengandung makna yang mendalam tentang berbagai nasihat pernikahan. Para tamu mendengar antusias sambil manggut-manggut. Bagi aku sendiri, ilmu itu sedikit terlalu tinggi. Jangankan ilmu pernikahan, ilmu menaklukkan hati seorang gadis saja aku belum punya. Entah, setelah ini aku masih bisa berguru pada Andre atau tidak. Padahal jurus-jurus cintanya masih selalu kutunggu. Aku harap akan sama beruntungnya dengan Andre.


Semoga samawa ya, Ndre!

__ADS_1


***


__ADS_2