DUNIA ABIMANYU

DUNIA ABIMANYU
Chapter CIII : A Night in Denpasar


__ADS_3

Matahari sudah mulai meninggi saat bus yang kami tumpangi sudah masuk ke Kota Denpasar, sebuah kota yang lumayan ramai di bagian tengah Indonesia. Nuansa berbeda kudapati di kota ini. Arsitek bangunan bergitu khas, berbentuk pura dengan gerbang-gerbangnya yang menarik. Ornamen-ornamen berbentuk dewa-dewa terukir indah, tersaji dengan detail. Hal seperti ini jarang kujumpai di Pulau Jawa.


Aku dan Doni berhenti di terminal pemberhentian, setelah itu benar-benar bingung, apa yang harus kami lakukan? Rasanya seperti tersesat di tengah rimba, dengan kumpulan orang-orang asing di sekeliling.


“Kita mau ngapain?” tanya Doni.


“Kita jalan saja yuk!” ujarku.


“Kemana?”


“Kemana saja. Terserah kaki mau melangkah kemana,” jawabku asal-asalan.


Doni terlihat gusar saat aku mulai melangkah. Bagaimanapun, dia tetap mengikuti menyusuri jalan yang mulai padat. Ini bukanlah akhir pekan, tak heran banyak orang beraktivitas harian. Kami menyusur dengan tanpa obrolan yang berarti, tak tahu hendak kemana. Aku sendiri merasa buta dengan keadaan kota ini.


Di depan sebuah penginapan kecil, langkahku terhenti. Aku menatap plang nama yang mulai sulit terbaca karena termakan zaman. Mungkin sudah tidak diperbarui bertahun-tahun. Penginapan kecil seperti ini banyak tersebar di penjuru Denpasar. Banyak kaum nekat seperti kami memanfaatkannya karena menyesuaikan dengan budget yang tak begitu besar.


“Kita mau menginap di sini? Rumahku saja lebih bagus dari ini!” keluh Doni.


“Kamu mau nginap di hotel berbintang?”tanyaku.


“Maunya sih gitu....”


“Oke. Kita nginap di hotel berbintang, tapi kamu yang bayari aku. Deal?” ujarku.


Doni terdiam. Wajahnya memancarkan sedikit rasa kecewa. Dari dalam penginapan, keluar sepasang bule dengan rambut pirang. Kulitnya yang pucat berkilauan tertimpa matahari pagi. Mereka berbicara bukan dalam bahasa Inggris. Mungkin dari kawasan lain di Eropa. Aku tak begitu bisa memahaminya. Mereka berlalu begitu saja, menuju jalan raya.

__ADS_1


“Bule aja nginep di sini. Masa kamu mau gaya-gayaan di bintang lima. Udahlah, yang penting kita bisa tidur. Daripada kita tidur di masjid? Kamu mau?” bujukku.


“Iya ... iya!”


Aku tersenyum melihat paras wajah Doni yang sedang merajuk. Seorang bapak, yang berperan sebagai resepsionis menyambut kami antusias. Aku menduga bapak ini adalah pemilik penginapan. Untuk menghemat anggaran, sengaja ia tidak mempekerjakan resepsionis cantik. Semuanya ditangani sendiri. Dengan logat Bali yang khas, bapak itu menawarkan rate kamar yang cukup terjangkau. Selain itu, ia juga menawarkan paket perjalanan ekonomis ke beberapa objek wisata. Ini menarik, karena kami tak perlu memikirkan tiket, angkutan atau bahkan makan juga sudah termasuk. Harganya cukup masuk akal di kantong kami.


“Mau ambil paket ini?” tanyaku pada Doni.


“Boleh. Tapi patungan ya!” jawab Doni. Aku mengangguk.


Rupanya, kami tidak sendiri. Ada beberapa tamu penginapan yang tertarik mengikuti paket perjalanan ekonomis. Semakin banyak peserta, maka harga yang ditawarkan lebih murah. Ada sepuluh orang yang berminat, sehingga kami dapat memulai perjalanan mulai esok hari.


Setelah kami menaruh barang-barang di kamar, hari ini kami lebih banyak menghabiskan waktu di seputar Kota Denpasar. Tak ada objek wisata yang menonjol di kota ini. Hampir sama dengan kota-kota lain yang cukup padat. Kami menyempatkan untuk mengunjungi Pantai Sanur yang tak terlalu jauh dari kota, sembari melihat bule-bule yang banyak berkeliaran di sini. Yah, Bali ini adalah pulau internasional yang menjadi ikon menarik Indonesia. Tiap tahun pulau ini dikunjungi masyarakat dunia dari berbagai bangsa. Kini, kami adalah salah satu bagian dari komunitas itu. Tentunya, dengan dompet yang paling tipis.


Menjelang malam, kami hanya beritirahat di penginapan, menyiapkan stamina untuk perjalanan besok. Setelah berburu makan malam berlabel halal di sekitar penginapan, kami duduk-duduk di warung kopi sambil makan aneka gorengan yang tersedia. Suasana ini mirip sekali dengan Jawa. Tak dipungkiri, karena pemilik warung adalah orang Jawa yang mengadu nasib di Pulau Dewata ini.


“Nggak kok! Biasa aja. Aku hanya ingin rehat sebentar dari tugas akhir. Maklum puyeng kepalaku karena terlalu banyak beban. Jadi ya, sekalian aja jalan ke sini,” kilahku.


“Kemarin aku ketemu Dahlia di kampus,” lanjut Doni.


“Dahlia? Ya biasa aja kan? Kita memang kuliah di kampus yang sama cuma beda jurusan. Ya wajar dong kalau ketemu dia.”


Aku menjawab acuh tak acuh, sambil menyumpal mulut dengan potongan pisang goreng. Rasanya sedikit berbeda dengan pisang goreng yang ada di Jawa. Walaupun begitu, tetap renyah dan manis.


“Kalau sekedar ketemu sih sering, Bi. Tapi ini lain,” ucap Doni.

__ADS_1


“Lain bagaimana?” Aku mulai tertarik.


“Dia makan bakso bersama Darwis. Tumben nggak sama kamu? Wah, aku curiga loh jangan-jangan kamu ditikung sama Darwis,” ungkap Doni.


Deg!


Hati ini terasa terbakar mendengar penuturan Doni. Ada sebersit rasa tak rela dan cemburu yang berkecamuk. Aku berusaha menepis bayangan itu. Teringat kemudian pesan yang dikirim Laras. Ah, aku tak tahu kalau Laras diam-diam memendam rasa padaku. Atau semata-mata itu adalah tuntutan orang tuanya yang menginginkan aku jadi menantu?


Mengingat itu semua, sungguh mengganggu pikiran. Lebih baik aku menikmati suasana Denpasar yang syahdu. Kutepis saja wajah-wajah perempuan yang pernah singgah di hati. Biarlah utuk sementara aku fokus pada yang ada di depan mata. Secangkir kopi hitam plus gorengan panas.


“Udahlah, nggak usah dipikir. Belajar dari aku. Berapa puluh kali aku ditolak, toh aku tidak menyerah. Kini aku malah dapat Monik. Kesabaran itu akan berbuah manis,” ucap Doni bijak.


Tumben?


Biasanya Doni ini bermulut tajam, tetapi tiba-tiba muncul kata-kata bijak dari mulutnya. Jangan-jangan dia sedang kesurupan arwah penunggu Pulau Dewata, sehingga pembicaraannya jadi melantur begini. Aku manggut-manggut mendengar nasihatnya, walaupun dalam hati menahan tawa.


Kami kembali ke penginapan sekitar pukul sepuluh malam. Rasa lelah yang mendera, membuat ingin segera beristirahat. Rasa kantuk sudah menyerang. Tentunya, solusi dari semua masalah ini adalah berbaring dan memejamkan mata. Doni juga terlihat lelah. Matanya sayu, beberapa kali terkatup dengan sendirinya.


Drrrttt ... drrrttt ... drrrttt!


Teleponku bergetar. Kulihat nama Laras sedang memanggil. Haruskah aku menerima panggilan itu? Apa yang hendak kukatakan? Mataku sudah didera rasa kantuk luar biasa. Aku menduga, dia juga merasa tak tenang. Apa yang telah dilakukannya adalah hal yang cukup mengejutkan. Berani sekali dia mengklaim bahwa aku sudah dijodohkan dengan dia? Aku tak tahu bagaimana perasaan Dahlia kepadaku, tetapi sebagai sesama wanita, dia memilih mundur.


Atau ....


Jangan-jangan Laras benar. Aku curiga sebenarnya aku ini adalah korban perjodohan. Ya, antara emak dan keluarga Turonggo sudah kenal dekat. Bukan tidak mungkin mereka sudah merencanakan sesuatu di luar pengetahuanku. Kalau itu benar, maka emak harus bertanggung jawab atas semua kepelikan ini. Konspirasi emak ini harus segera dikonfirmasi kebenarannya, karena aku juga tidak ingin membiarkan Laras dalam kegalauan.

__ADS_1


Jelaskan semua ini padaku, Mak!


***


__ADS_2