
Raja Siang beringsut tenggelam di ufuk barat cakrawala. Kini giliran Dewi Malam merebut tahta di singgasana langit. Pijar lampu mulai berpendar memenuhi ruangan kamarku. Derit kipas angin tua melengkapi alunan musik malam. Saat yang tepat untuk melepas lelah setelah seharian bergulat melawan rasa sakit. Aku bersyukur, setidaknya sampai detik ini aku masih baik-baik saja. Saat ini yang kurasakan hanya sedikit meriang.
Merindukan kasih sayang?
Mungkin.
Terbaring sakit di kamar kontrakan ternyata tak sepenuhnya menyedihkan. Dengan catatan, kita punya sahabat yang loyal dan pengertian. Setelah mendapat perawatan intensif dari Dahlia dan Darwis, kini giliran teman-teman satu kontrakan bergiliran melihat keadaanku. Alih-alih turut prihatin, mereka malah seperti gembira ria melihat penderitaanku.
“Apes banget. Habis kaki terkilir, kini hatimu yang terkilir,” sindir Doni. Ia mulai menjelajah kamarku, berharap menemukan sesuatu yang bisa dimakan.
“Denger-denger, tadi habis didatangi pacarnya. Makanya sekarang sudah sembuh,” tambah Andre.
Eh, kok Andre tahu ya? Padahal kedatangan Dahlia sudah kusimpan rapat-rapat agar tak seorang pun tahu. Ini mencurigakan. Siapa yang membocorkan rahasia negara ini?
“Pacar? Aku kan nggak punya pacar!” sanggahku.
“Lha itu Darwis?” ejek Doni. Tawanya berderai menebar aroma kebencian.
Sialan!
Memang, selama ini Darwis yang paling sering berkunjung ke kontrakan. Jadi nama Darwis lumayan mengharum di sini. Tetapi tuduhan jahat bahwa aku pacaran dengan Darwis adalah tuduhan serius. Pencemaran nama baik ini bisa menyeret Doni ke meja hijau.
“Aku masih doyan susu!” jawabku sekenanya.
Tawa Doni meledak. Farhan dan Andre ikut-ikutan tertawa. Mungkin dalam pikiran mereka, bisa juga aku melawak. Padahal selama ini aku dikenal sebagai pribadi yang pendiam dan berselera humor rendah. Sekali melawak, arahnya ke area yang menimbukan ambiguitas.
Mendengar tawa puas mereka, kekesalan makin memuncak. Rasa peka mereka sudah mati. Sepertinya sakit yang kualami ini hanya dianggap kamuflase semata.
“Kamu itu sakit karena kelamaan jomblo,” seloroh Andre.
__ADS_1
Aku terdiam.
Lebih baik jomblo daripada mengikuti lifestyle Andre yang tidak jelas. Banyak teman perempuan, tetapi status tidak jelas. Sudah mirip om-om senang saja. Kesana-kemari berganti cewek tanpa ikatan pasti. Modal tampang dan tampilan seperti itu mudah saja mengelabui cewek.
“Kejar itu cinta sejatimu! Cinta itu butuh pengorbanan. Kalau kamu cuma nunggu, sampai lebaran monyet kamu tetap jomblo. Jangan sampai karatan terus nggak bisa dipakai!” tambahnya lagi.
Dasar geblek!
Karatan? Agak gagal paham aku mengartikan ini. Memangnya pisau?
Saat Andre mengatakan untuk mengejar cinta sejati, mengapa yang ada di benakku terlintas nama Lusi? Haruskah kuperjuangkan kisah klasik yang tak berujung-pangkal ini?
Farhan memegang dahiku. Senyum tersungging di bibirnya.
“Sudah nggak demam kok. Tadinya aku mau ruqyah, siapa tahu ada sesuatu yang ngikut kamu. Dulu penghuni kamar ini juga sering sakit. Eh, ternyata memang ada yang ngikut ....” terang Farhan.
Darahku berdesir. Tak perlu kutanggapi. Sebab apapun tanggapannya, akan mendorong hasrat Farhan untuk bercerita mengenai dunia metafisika yang membuat bulu kuduk meremang.
“Ya udah, yuk keluar! Malam ini Tuan Muda mau istirahat,” ajak Andre.
“Nanti kalau ada apa-apa gedor pintu kamarku saja Bi,” tambah Farhan.
Setega-teganya mereka, toh malam itu mereka membelikan aku sebungkus nasi goreng, wedang ronde dan cemilan. Kami memang sering bercanda dengan sadis, tetapi dalam lubuk hati terdalam kami sudah seperti saudara. Alhamdulillah, aku dipertemukan dengan orang-orang baik seperti mereka.
Suasana kamar kembali tenang sepeninggal mereka. Sengaja aku tidak mengabari emak di Jombang perihal sakit ini. Khawatir, wanita yang kusayangi itu nanti malah banyak pikiran. Biar ini kuhadapi sendiri. Sebagai seorang pria yang menginjak masa dewasa, harus bisa mandiri dalam mengambil keputusan.
Saat sepi sendiri seperti ini adalah waktu yang tepat untuk mengevaluasi diri. Saatnya memutar memori-memori yang mengendap di otak. Sepertinya harus berdamai dengan ego yang meraja. Kebaikan Dahlia tadi siang mulai melumerkan kebekuan gunung es Antartika di hatiku. Apalagi teringat petuah emak saat melipat baju-bajuku di suatu sore yang temaram.
“Kamu harus senantiasa menghargai perempuan, Le. Pesan emak, jangan sekali-sekali menyakiti hatinya atau memukulnya. Karena apa yang kamu lakukan itu sama saja menyakiti emak dan adikmu. Ingat, Weni juga seorang perempuan. Kamu ikhlas kalau dia diperlakukan tidak oleh laki-laki lain?” ucapnya bijak.
__ADS_1
Emak benar.
Tiba-tiba wajah Weni yang lugu tergambar dalam anganku. Sungguh tidak terbayangkan jika adik semata wayang yang sangat kusayangi itu mendapat perlakuan tidak baik dari laki-laki. Mungkin selama ini apa yang kulakukan kepada Dahlia adalah suatu kesalahan. Walaupun sebensarnya, tak ada niat secuilpun untuk menyakitinya. Mungkin aku harus merubah sikap. Tak boleh bersikap seperti air susu dibalas air tuba.
Kembali ingatanku terlempar di pusaran masa silam. Saat aku tak punya penghasilan, Dahlia muncul bagai Wonder Woman, menawariku sebagai translator. Lalu serentetan kejadian manis terputar kembali bagai potongan-potongan opera Italia. Dahlia yang sering membawakan makanan aneka rupa, menawari tumpangan di kala terjebak dalam rinai hujan, meminjami kaosnya yang kini menghiasi depan pintu kamarku, saat makan malam bersama keluarganya, saat meminjami uang tanpa khawatir dengan bunga yang mencekik leher dan terakhir saat aku membusuk sendirian dalam kamar karena sakit, sekonyong-konyong dia muncul begitu saja di depan pintu.
Aku khawatir. Inikah jodoh?
Bagaimanapun, aku tidak selayaknya bersikap tak adil padanya. Tetapi benarkah semua yang dilakukan padaku itu simbol ketulusan? Atau ada embel-embel yang menyertainya?
Entahlah.
Sepertinya aku harus mencari tahu jawaban itu segera. Cukuplah pelajaran yang kudapat dari Lusi. Gadis berlesung pipit itu tiba-tiba lepas dari genggaman tanpa tahu perasaan yang terpendam di hatinya. Ini gara-gara sikapku yang kurang gentleman, tak punya keberanian mengungkapkan perasaan. Faktanya, Lusi berkali-kali membuka pintu selebar-lebarnya untuk memberi kesempatan padaku untuk menghabiskan waktu bersamanya. Tapi siapa yang tahu kedalaman hati seorang wanita? Bukankah hati wanita itu seperti samudra yang tak dapat diduga kedalamannya?
Aku juga harus menyiapkan mental seandainya Dahlia memang benar-benar menyukaiku. Tak boleh terjebak dalam pikiran ‘harus membalas budi atas segala kebaikan’. Mengingat aku sendiri sudah tak mampu menghitung kebaikan Dahlia yang sudah dicurahkan kepadaku, baik secara moral atau spiritual.
Bicara mengenai cinta, emak pernah bercerita bahwa saat beliau menikah dengan bapak nyaris tak ada cinta. Mereka adalah korban perjodohan orangtua di masa lampau. Pada zaman dahulu, pikiran orang tua masih didominasi kekolotan sehingga masih ngetrend yang namanya perjodohan. Kata emak, cinta itu tumbuh seiring dengan waktu. Emak tak pernah bermimpi mendapatkan bapak. Pun beliau juga tak pernah berharap jodoh yang seganteng Tom Cruise.
“Yang penting tanggungjawab. Percuma seganteng Roy Marten tapi tidak bertanggungjawab dengan keluarga,” kata emak.
Duh, standarnya Roy Marten. Aktor angkatan fosil yang namanya berkibar di era 70-an.
Aku setuju, Mak.
Sekarang, strategi apa yang harus kupakai untuk mengetahui dalamnya samudra hati Dahlia? Kalau terlalu dekat, takutnya terbawa perasaan. Maklum, jeratan perasaan susah sekali dilepas. Haruskah langsung kutanyakan padanya? Sayangnya rencana ini harus dicoret, dengan alasan mukaku tidak setebal badak.
Jadi bagaimana?
Ah, seperti kata orang bijak. Time will answer everything. Waktu yang akan menjawab.
__ADS_1
***