
Malam mulai merayap. Hening terasa dalam kamar, hanya suara deru kipas mesin pendingin terdengar konstan. Aku berharap agar bisa cepat tidur, agar besok bisa bangun lebih awal.
Aku baru saja hendak memejamkan mata ketika kudengar keributan di luar kamar. Vina sudah duluan mengarungi mimpi, sehingga tidak begitu terganggu dengan suara ribut-ribut di luar. Suara seorang pria yang marah-marah dan mengomel, berpadu dengan suara Bulek Sur yang takut-takut. Walaupun suara tidak terlalu jelas kudengar, tetapi tetap saja membuat penasaran.
Ada apa sebenarnya?
Naluriku mengatakan harus keluar dari kamar, khawatir ada seorang yang berniat jahat. Maklum lingkungan elit seperti ini biasanya mengundang seseorang yang mempunyai niat tidak baik untuk melakukan hal jahat. Apalagi kalau rumah hanya ditinggali perempuan.
Khawatir dengan itu, aku langsung keluar kamar. Seorang pria bertubuh tinggi besar tampak menampakkan amarah. Parasnya garang dengan mata kemerahan. Sementara Bulek Sur berdiri dengan paras pias karena takut. Langsung saja pria besar itu menatap keberadaanku.
“Oh, jadi selama ini dugaanku benar. Rupanya Si Roffi punya pacar baru, bahkan sudah tinggal bersama di sini. Pantas saja aku merasa ada yang disembunyikan dari dia. Jadi ini laki-lakinya. Masih muda. Dasar penyuka berondong tuh perempuan,” kata pria itu sambil menatapku tajam.
Aku segera paham dengan apa yang tengah terjadi. Secara tak sengaja, kini aku telah masuk ke dalam sebuah drama rumah tangga yang rumit. Tak tanggung-tanggung, aku langsung menjadi pemeran utama! Pria besar ini kutengarai adalah mantan suami Bu Roffi.
Tuduhan mantan suami Bu Roffi sebenarnya sangat menyakitkan. Aku mengendalikan emosi, jangan sampai ikut terseret sehingga menimbulkan keributan. Kita selalu membutuhkan air untuk memadamkan api. Jadi aku memilih posisi menjadi air.
Mendengar keributan, Bu Roffi akhirnya juga memaksakan diri keluar dari kamar, walau terlihat masih belum terlalu sehat. Raut wajahnya masih pusat dan rambut juga terlihat masai.
“Mas Yudi?” bisik Bu Roffi lemah.
“Jadi ini pengganti aku? Hmm. Pantas saja ya! Oke. Aku nggak mau turut campur urusan kalian. Aku kesini untuk menjemput Vina. Mana dia?” gertak pria yang dipanggil Mas Yudi itu.
“Nggak Mas. Abi ini adalah salah satu karyawan yang nolongin aku pas pingsan tadi siang. Jangan salah paham!”
Bu Roffi terdengar susah payah menjelaskan.
__ADS_1
“Aku nggak mau tau dan tidak peduli! Mau dia beneran pacarmu atau bukan, aku nggak peduli! Sekarang katakan di mana Vina! Aku mau jemput dia!” Yudi menyeringai, mirip tokoh-tokoh antagonis dalam sinetron.
Sungguh, aku merasa terjebak dalam situasi rumit. Sebenarnya aku sama sekali tidak ingin terseret dalam drama rumah tangga yang mereka mainkan. Sayangnya, mau tidak mau aku sudah terlibat, karena aku berada di waktu dan tempat yang tidak tepat.
“Nggak Mas! Vina nggak pergi kemana-mana. Vina akan tetap bersamaku. Nggak aku izinkan kamu bawa dia. Lagipula keputusan sidang menyatakan bahwa hak asuh Vina berada di tanganku!” ucap Bu Roffi.
“Aku nggak peduli dengan keputusan sidang sialan itu! Pasti kamu telah bayar hakim untuk meloloskan keinginanmu. Aku adalah ayah Vina yang sah! Aku akan membawa Vina. Di mana dia?”
“Tidak! Kamu sudah masuk tanpa izin dari rumahku. Kamu nggak ada hak di sini. Rumah ini kubeli dengan keringatku. Jadi, silakan pergi saja dari rumahku, atau terpaksa kupanggilkan satpam!”
“Aku nggak peduli! Vina! Vina! Ini Papa Nak! Di mana kamu?” Suara Yudi membahana memenuhi ruangan, seraya ia berkeliling mencari keberadaan Vina.
“Kamu nggak boleh melakukan itu, Yudi! Kamu melanggar hukum!” ucap Bu Roffi setengah berteriak.
Sayangnya segala keluh-kesah Bu Roffi sama sekali tak digubris oleh Yudi. Pria besar itu mulai berkeliling rumah, dari kamar satu ke kamar lain.
Langkahnya terhenti di depan kamar yang kubuat tidur. Aku sengaja berdiri di depan pintu, mencegah dia masuk untuk mengambil Vina. Kini aku berhadap-hadapan dengan pria besar itu, bak seorang petarung yang siap tanding dalam arena World Championship Wrestling.
“Minggir kamu bocah! Aku nggak ada urusan dengan kamu. Aku kesini hanya ingin karena mengambil anakku!” gertaknya sambil menatap tajam.
Aku balas menatap tak bergeming. Di atas kertas, jelas dia bukan lawan yang sepadan. Tubuhnya yang besar bukan tandingan tubuhku yang ceking kekurangan nutrisi ini. Modal yang kumiliki adalah nekat dan keberanian. Aku tahu, ketidakbenaran harus dilawan. Walaupun aku harus babak-belur karena ini.
Aku siap!
“Maaf, Pak! Saya nggak sedang ingin ikut campur sih. Tapi tuduhan Bapak tadi sangat mengganggu saya. Jadi mohon kalau tidak ada bukti nggak sembarangan aja ngomongnya!” ujarku.
__ADS_1
“Eh, Bocah! Aku nggak peduli ya! Jangan ikut campur masalah rumah tangga orang lain. Minggir! Aku mau jemput putriku!”
“Masalah rumah tangga yang mana ya, Pak. Bukankah kalian sudah bercerai? Sebelum membawa Vinna, seharusnya Bapak nanya dulu ke yang bersangkutan. Mau atau nggak ikut sama Bapak!”
“Kamu anak kemarin sore tahu apa sih? Vina itu anak kandungku. Dasar otak udang kamu!”
Tiba-tiba tangan Yudi bergerak ke depan, bergerak mencengkeram kerah bajuku. Matanya yang memerah menatap seakan hendak memangsaku bulat-bulat. Ada perasaan gentar, tetapi kucoba untuk bertahan. Di sisi lain, Bu Roffi terlihat panik, sambil menghubungi seseorang di telepon.
“Aku sudah memanggil satpam! Dia sedang dalam perjalanan kemari. Dasar perusak ketenangan!” pekik Bu Roffi.
Perlahan, Yudi melepas cengkeramannya tetapi tetap menatapku dengan penuh amarah sambul berdesis,”Urusan kita belum selesai!”
Beberapa menit kemudian, ia berlalu dari rumah menggunakan mobil. Kepergiannya menyisakan trauma mendalam bagi Bu Roffi. Kulihat wanita itu menangis sesenggukan, sementara Bulek Sur berusaha menenangkan. Aku tak ingin bertanya atau memberi komentar apa pun. Pikiran Bu Roffi sudah pasti masih tertekan. Dalam hal ini, alangkah baiknya untuk mundur teratur.
Kulihat sosok Vina yang masih terlelap. Syukurlah, ia tidak terbangun saat drama rumah tangga ala sinetron baru saja berakhir. Sungguh, ini di luar dugaan. Aku merasa terjebak dalam sebuah kisah rumit.
“Istirahat dulu Bu. Nggak usah dulu dipikirin!” saranku.
Aku tak ingin membebani wanita itu dengan lebih banyak pikiran. Lebih baik kembali istirahat agar besok pagi aku bisa bangun dalam keadan segar tanpa terbebani pikiran apa pun. Biarlah yang lalu tetap berlalu.
Kubaringkan tubuh di atas ranjang, sambil menatap langit-langit kamar yang berdesain cantik. Perasaanku masih terlarut dengan kejadian barusan. Apa yang dikatakan Tia ternyata benar. Bu Roffi mempunyai masalah besar dengan pernikahan, serta hak asuh anaknya.
Sudahlah.
Aku tidak mau masuk terlalu jauh lagi. Cukup tahu saja. Orang kota mempunyai masalah yang lebih kompleks daripada orang kampung sepertiku. Gelimang harta tidak menjamin kebahagiaan seseorang. Lebih baik hidup sederhana tetapi hati tenteram.
__ADS_1
Ini adalah pelajaran penting yang dapat kupetik pada hari ini.
***