
Surabaya, kota yang identik dengan kisah heroik perjuangan rakyatnya dalam mempertahankan kemerdekaan dari penjajah yang ingin kembali menguasai bumi Indonesia. Perlawanan heroik itu terangkum apik menjadi peristiwa 10 November yang tiap tahun diperingati sebagai Hari Pahlawan.
Bagiku, Surabaya juga menjadi perjuangan tersendiri untuk menggapai cita-cita, dan juga cinta. Segala yang kupunya dipertaruhkan di sana, walau harus bergelut dengan keringat dan air mata. Termasuk harga diri. Kadang untuk urusan yang satu ini, aku harus rela menurunkannya beberapa level.
Di antaranya adalah masalah tugas gambar. Ini adalah mata kuliah yang paling kubenci. Hari itu, siang tak begitu menyengat tetapi toh tetap saja gerah. Kupercepat langkah kaki menuju ruang jurusan tempat Pak Anto Darsono bersemayam. Dengan segenap keberanian, aku mengumpulkan tugas gambar hasil karya orang lain kepada si botak yang sedang duduk di balik meja dengan angkuh bak gangster China. Toh dia tak bergeming. Bahkan kedatanganku dianggapnya sebagai angin lalu.
Kucoba untuk menahan kesabaran, sebab kalau tidak, bisa-bisa Kamehame-ku bisa keluar untuk memporak-porandakan seisi ruangan ini. Sejujurnya, agak menegangkan suasana di sini. Beberapa dosen lain tampak sibuk dengan urusan masing-masing.
Tanpa mengucap sepatah kata pun, kertas gambar kuletakkan di meja. Pak Anto masih bersikap tak acuh. Seperti biasa, wajahnya terpampang sekusut benang. Mungkin ini bukan waktu yang tepat. Sepertinya ada masalah besar di balik kekusutan wajahnya.
“Tinggal saja!” ujarnya datar.
Ditinggal? Bukankah biasanya tugas itu harus diteliti dan ditanya-tanya sebelum dinilai?
Hmm. Ada yang aneh dan tak wajar.
“Ditinggal, Pak?” tanyaku meminta kepastian.
“Kamu nggak dengar aku barusan ngomong?” intonasi suara Pak Anto terdengar agak naik.
Itu artinya aku harus segera meninggalkannya.
Okelah, Pak. Bye. Have a nice day!
Ada perasaan lega, tetapi bercampur cemas saat keluar dari kantor jurusan. Lega karena tugasku sudah terkumpul. Cemas, karena aku bahkan tidak ditanya sedikitpun tentang detail tugas gambarku.
Itu aneh.
Ada dua kemungkinan. Pertama, dia akan langsung memberi nilai B pada tugasku, atau kemungkinan terburuknya akan langsung diberi nilai D.
Ya sudahlah. Kulupakan saja nasib tugas gambarku, sembari berdoa agar aku mendapat opsi pertama.
Untuk menghilangkan rasa galau, aku menuju perpustakaan pusat. Darwis yang melambaikan tangan mengajakku bergabung dalam komunitas kecilnya kutolak. Kalau hanya untuk berdiskusi hal-hal mesum, mohon maaf aku tidak berminat.
Itu di luar levelku.
Di perpustakaan pusat yang gedungnya menjulang, aku menelusuri deretan buku referensi tentang hal-hal yang berkaitan dengan logam. Ini adalah bekal berharga sebelum menghadapi Tugas Akhir. Kami di jurusan teknik harus menempuh Tugas Akhir, atau bisa juga dikatakan skripsi di jurusan lain.
“Aku kecewa ....” terdengar suara yang sangat kukenal di belakangku. Aku masih pura-pura sibuk mengaduk isi rak di depanku.
Tak peduli.
Seraut wajah Dahlia tiba-tiba hadir di sampingku, pura-pura memilah buku. Tanpa menoleh, tetapi dengan cepat kuidentifikasi suasana hatinya. Tampaknya bukan dalam kondisi baik.
“Maaf ....” sahutku pendek.
“Mamah bertanya ....”
__ADS_1
“Apa yang ditanyakan beliau?”
“Mengapa kamu nggak datang?”
“Aku sudah sampaikan lewat telepon kan?”
Terus terang, aku juga dalam keadaan tidak baik. Pikiran masih terganggu gara-gara tugas gambar. Kehadiran Dahlia meletupkan emosi yang tadi tersimpan rapi.
“ Kamu tahu, Bi ....” ucap Dahlia tertahan.
Aku memilih diam. Senjata utama menghadapi wanita yang sedang labil adalah diam. Sering kupraktikkan ketika emak sedang mengomel. Diam adalah juru selamat yang efektif di saat keadaan genting.
Kudengarkan Dahlia ber-khutbah.
“Mamah menyembelih kambing, menyewa catering terbaik untuk memasak kambing guling, berharap sekali kamu akan datang. Tiap lima menit beliau nanyain kamu. Sayangnya, beliau harus kecewa karena kamu nggak datang,” kata Dahlia.
Tiap lima menit? Yang benar saja. Dalam satu jam ada enam puluh menit. Jadi dalam sejam, mamah Dahlia bertanya dua belas kali. Pasti Dahlia hiperbolik.
Aku harus ngomong apa? Diam itu emas. Itu yang ada di pikiranku.
Dahlia terlihat emosional. Sama sekali aku enggan menatapnya. Saat seperti ini lebih baik aku di posisi aman. Tidak membela diri.
“Kamu dengerin aku kan?” tanya Dahlia garang. Mulai keluar tanduk iblisnya.
Haruskah kubacakan ayat kursi?
“Maaf ya, Dahlia. Aku harus segera kembali ke kampus ....”
Dengan berpura-pura angkuh kutinggalkan Dahlia. Ego-ku memuncak. Sudah menjadi rahasia umum, sifat dasar para kaum Adam adalah ego. Mereka tidak mau menerima kekalahan atau mengakui salah di hadapan kaum Hawa.
Contohnya aku.
Aku raja tega? Ya, dalam hal ini aku adalah raja tega.
Aku tidak mau berpusing ria memikirkan perasaan Dahlia saat itu. Dikiranya saat ini aku juga dalam posisi nyaman? Tugas gambar telah menghajar kewarasanku hingga membuat tak enak makan tak enak tidur. Hidup ini sudah cukup rumit. Jadi jangan ditambahi.
Benar kan?
Sesampai di kontrakan, aku sengaja bertapa di dalam kamar tanpa menghiraukan senda-gurau teman-teman di depan TV.
“Tumben wajahmu jutek Bi,” sapa Andre.
Tak kujawab pertanyaan itu.
Braaak!
Kubanting pintu kamar. Tak peduli Andre berpikir aku sedang kesurupan. Hanya ingin sendiri di hari yang berat ini. Kepala berasa berdenyut. Sungguh, pikiran yang bertumpuk-tumpuk begini tidak baik untuk kesehatan. Bagaimana cara menghindarinya?
__ADS_1
Berbaring.
Telepon genggam meraung puluhan kali, kulihat nama Dahlia berkedip-kedip di layarnya. Tak ingin kubagi sepatah kata pun padanya.
Kumatikan ponselku.
Yang kuharapkan saat ini, hari segera berganti. Tak ingin berinteraksi dengan siapapun. Tetiba teringat nasihat emak agar lebih fokus kuliah di atas apapun. Jadi urusan cewek adalah urusan ke sekian! Sama sekali bukan prioritas untuk saat ini. Aku harus mengejar gelar sarjana dengan tepat waktu. Tidak ada waktu untuk bermain-main atau berleha-leha.
Good bye, Dahlia!
Dalam hati, aku bertekad untuk menjauh dari gadis itu. Mungkin sementara waktu aku cancel semua pekerjaan yang ada hubungannya dengan terjemahan. Bahkan kalau perlu akan keluar dari Victory English Club agar tak bertemu dengannya.
Inilah yang kukhawatirkan.
Kalau perasaan sudah tercampur aduk dengan urusan persahabatan akan jadi rumit. Perasaan dan persahabatan adalah hal yang susah untuk disatukan, bagai air dan minyak.
Diam-diam, aku masih mengingat wajah Lusi. Apakah aku harus mengejarnya sampai ke ujung dunia? Apakah dia adalah cinta sejati yang memang patut kuperjuangkan?
Entahlah.
Saat ini aku terombang-ambing di atas samudra kegalauan. Konyolnya, ini semua tidak ada hubungannya dengan urusan perkuliahan. Masalah hati. Klasik bukan?
“Bi..Bi! Kamu mau ikut nyari makan nggak?” tawar Andre.
“Nggak!” jawabku pendek.
“Kamu nggak makan? Kubelikan ya?”
“Terserah!”
“Kamu mau makan apa?”
“Terserah!”
“Suka pedes atau nggak?”
Tak kujawab.
Ya Allah, cerewet benar sih makhluk Tuhan satu ini!
Mungkin benar, saat ini kau harus menjauh dari Dahlia. Siapa tahu jiwaku akan lebih sehat dan bersemangat. Dahlia, atau siapapun tak berhak mengatur hidupku.
Sekali lagi, Good bye Dahlia!
Eh, tapi kan aku punya hutang tiga ratus ribu padanya?
***
__ADS_1