
Menjelang Magrib, mobil yang kami tumpangi merayap perlahan memasuki Kota Surabaya. Mega-mega jingga berserak di hamparan langit, bagi lukisan abstrak maestro di atas kanvas. Lampu-lampu mulai berpijar di seluruh penjuru kota. Kami ditelan kemacetan yang mengular, ketika memasuki Bundaran Waru. Gedung-gedung menjulang angkuh, berderet menyambut.
“Kita langsung pulang saja ‘kan ini?” tanya Mas Jono.
“Iya Mas. Langsung pulang saja. Nanti saya turun di kost-nya Laras, biar nanti saya pulang naik angkutan umum saja,” ujarku.
“Nggak sekalian diantar ke kost, Mas Abi?” tawar Mbak Ida.
“Nggak usah, Mbak. Kan nggak satu jurusan. Saya di Surabaya Timur lho. Nanti bolak-balik, kasihan Mas Jono cape nyetir,” tolakku.
Ekor mataku sempat melirik Laras yang terdiam sedari tadi. Tak apa. Dalam hal ini aku cukup merasa bersalah. Diamnya seorang wanita adalah hukuman terberat bagiku. Itulah salah satu alasan mengapa aku menyebut wanita adalah makhuk Tuhan yang rumit.
Mas Jono menurunkanku di depan kost Laras, setelah itu berpamitan untuk kembali meluncur mengarungi belantara Surabaya. Sungguh, aku merasa berhutang budi pada Mas Jono yang begitu baik. Semoga kelak diberi kesempatan untuk membalas kebaikannya.
“Aku langsung pulang ya, Laras ...,” pamitku.
“Hati-hati ya, Mas.”
Aku mengangguk.
Sebuah angkutan kota meluncur membawaku pulang ke kontrakan. Tiba-tiba rasa lapar menyatroni lambung. Sebelum masuk kamar, kusempatkan untuk membeli sebungkus nasi goreng tanpa saos kegemaranku. Nasi goreng legendaris yang biasa mangkal di simpang tiga dekat kontrakan. Ada beberapa penjual lain yang mangkal di sekitar sini, tetapi cita-rasa nasi goreng bapak ini paling jempolan. Perpaduan bumbu dan nasinya pas, tetapi sayang selalu membubuhkan bumbu ajaib.
Bubuk monosodium glutamat!
Rencananya, aku akan beristirahat barang sehari di kontrakan sebelum pulang kampung ke Jombang. Bertahan lama di kontrakan adalah ide buruk. Selain sepi, uang juga akan terus tersedot keluar. Ingin makan gorengan, harus keluar uang. Ingin makan yang sedikit bernutrisi, harus keluar uang. Lambung ini sudah banyak diracuni oleh bumbu-bumbu mi instan. Perlu sedikit detoksifikasi.
Tetiba aku teringat dengan lembaran kertas yang dilipat kecil dari seorang pria misterius di resepsi pernikahan Lusi. Rasa penasaran semakin memuncak, saat kubuka lembaran itu.
Call Me! 081335545208. Lusi.
Hanya itu yang tertulis.
Nomor telepon Lusi. Mengapa dia memberikannya kepadaku? Bukankah dia sudah bahagia mengarungi biduk rumah tangga yang baru dibangun?
Kupikirkan nanti saja! Aku lagi malas berpikir.
Malam kulalui dengan cepat, karena lelah yang begitu hebat. Lelah pikiran dan lelah hati tentunya. Walaupun begitu, rasa lelah itu tergantikan dengan rasa senang yang meluap-luap, karena sebentar lagi akan menginjakkan kaki di kampung halaman.
__ADS_1
Rasa rindu ini sudah meledak-ledak tak terpadamkan. Gurat lelah wajah emak selalu membuatku rindu. Hamparan sawah menghijau, gemericik sungai yang mengalir lambat, kicau burung murai batu di atas pohon randu, dan senyum ramah para tetangga. Semua itu seolah magnet yang menghipnotis agar aku selalu kembali pulang.
Sehari sebelum pulang, sengaja aku mencuci semua pakaian kotor yang sudah beranak-pinak tak terkendali. Aku bukan Doni yang hobi menjejali tas dengan pakaian kotor sebelum pulang ke kampung. Doni adalah simbol kejorokan yang tak boleh menjadi panutan.
Selain urusan pakaian, aku juga membersihkan kamar yang lumayan berdebu. Debu sekecil apa pun, akan memicu rasa gatal di hidung. Dapat dipastikan akan membuatku bersin-bersin. Kamar ini akan kutinggalkan dalam waktu lumayan lama. Pasti aku akan merindukan aroma pengap, celotehan teman-teman dan bantal guling teman bercinta sepanjang malam.
Selepas waktu Ashar, aku sudah siap untuk pulang ke kampung halaman. Kontrakan sudah sepi, karena Doni dan Farhan sudah pulang duluan. Hanya tinggal Andre yang tidak berminat pulang. Baginya, gemerlap Surabaya adalah kehidupan hakiki yang tidak boleh dilepas begitu saja. Apalagi dia mempunyai gandengan baru, Inneke mahasiswi kedokteran Unair. Entah sampai kapan petualangan cintanya akan berakhir.
Sebelum berangkat, aku berpamitan pada Andre yang sedang mencuci motor. Rupanya dia benar-benar memantapkan akan menghuni kontrakan selama liburan.
“Jaga kontrakan baik-baik, Ndre! Ingat, jangan ajak Inneke di kontakan ini saat nggak ada orang! Habis kamu nanti digerebek warga!” pesanku.
“Hahaha. Tenang bos! Kamu mau berangkat sekarang?”
“Iya. Keretanya akan berangkat sore ini.”
“Oke deh! Hati-hati ya. Salam buat keluargamu!”
“Siap!”
Dahlia!
Sepuluh menit lagi, kereta akan tiba. Aku mengecek kembali karcis yang sudah kubeli, jangan sampai terselip saat kondektur memeriksa. Tetiba kulihat sosok berlari-lari kecil menghampiri. Keringat menetes deras di keningnya, sambil terengah-engah.
“Dahlia?” tanyaku heran.
Tak habis pikir, apa yang menyebabkan gadis ini begitu tergopoh-gopoh menyusul ke stasiun. Ia membawa bungkusan dalam tas plastik.
“Untung kamu belum berangkat ...,” ujarnya.
“Kok kamu tahu aku ada di sini?”
“Aku tadi ke kontrakanmu. Sepi sekali. Hanya ada Andre. Dia bilang kamu udah ke stasiun, makanya aku buru-buru nyusul ke sini,” kata Dahlia di antara deru napas yang memburu.
“Aduuh, ini kereta udah mau datang. Kalau ada yang penting kan bisa telepon, Dahlia?”
“Nggak ada yang penting. Tapi mau nyampein titipan dari Mamah,” Dahlia menyerahkan bungkusan plastik kepadaku.
__ADS_1
“Apa ini?”
“Nggak tau tuh, Mamah! Udah kubilangin, si Abi itu nggak suka dibawa-bawain kayak gini. Eh, Mamah maksa. Kebetulan kemarin beliau baru pulang dari Jakarta mengunjungi tanteku yang di sana. Ada sedikit oleh-oleh katanya,” terang Dahlia.
“Kok repot-repot sekali mamahmu, Dahlia. Aku jadi nggak enak nih ....,” ujarku.
“Nyantai aja. Kayaknya Mamahku itu udah anggap kamu kayak anak sendiri. Sering banget nanyain kamu.”
Anak sendiri? Kirain menantu sendiri ....
“Sampaikan makasih buat Mamah ya, Lia!”
Dahlia mengangguk.
“Jadi liburan di Jombang nih Bi?” selidik Dahlia.
“Iya Lia. Kangen sama kampung.”
“Nggak kangen sama aku?”
Deg!
Pertanyaan Dahlia membuatku tersipu. Tentu saja ada rasa gengsi untuk mengiyakan pertanyaan itu. Hanya tersungging senyuman yang termanis, kuharap dia bisa mengartikan dengan benar.
Tak lama, sirine kereta api sudah terdengar menjerit di kejauhan. Para calon penumpang yang tadinya hanya duduk, sontak berdiri menyiapkan barang-barang bawaan. Mereka sudah menyongsong kereta dengan siaga di pinggir rel. Walaupun tak banyak calon penumpang sore ini, tetap saja mereka berebutan naik. Berebut tempat duduk di kereta adalah budaya yang mendarah-daging untuk penumpang kereta kelas ekonomi seperti aku.
Kutatap mata Dahlia, sampai menembus ke hati. Ada perasaan takut kehilangan yang terbaca di mata gadis itu. Segera kutepis perasaanku. Adegan ini jadi mirip adegan di film romantis, yang mengambil scene di bandara, ketika sang kekasih hendak berangkat naik pesawat.
Untunglah, aku tidak terlarut dalam perasaan. Toh kami berpisah hanya sekitar satu bulan saja. Walaupun begitu, tetap saja kebaikan Dahlia akan membekas di relung hati.
Di tempat ini, akan kutinggalkan serpihan-serpihan kenangan yang tersisa. Kegusaran Laras juga segera kuhapus. Bayangan Lusi kutepis, tetapi menyisakan nomor telepon di saku baju.
Bye Dahlia!
Bye Surabaya!
***
__ADS_1