DUNIA ABIMANYU

DUNIA ABIMANYU
Chapter XCVI : Pesona Andre


__ADS_3

Berita kecelakaan yang menimpa Andre rupanya juga telah menjalar ke seluruh penjuru kampus. Beberapa teman kuliah mulai datang menjenguk. Rata-rata mereka adalah teman perempuan. Tak heran, nama Andre memang cukup mewangi sepanjang masa, dan populer di kalangan gadis kampus. Melihat itu, aku hanya bisa gigit jari, dan menyingkir keluar ruangan.


Hari ini, yang bertugas menjaga Andre adalah aku dan Doni. Sedangkan Farhan sedang mencari beberapa perlengkapan rumah tangga di luar. Kami tak henti-henti dimanjakan dengan pemandangan para gadis yang hilir-mudik keluar-masuk ke dalam kamar perawatan. Aku dan Doni hanya bisa diam sambil berdecak kagum.


“Andre pakai ilmu apa sih kok bisa seperti ini?” tanya Doni.


“Nggak ada! Dia emang casing-nya udah bagus dari sononya. Nggak usah heran. Kita mah modal pas-pasan kayak gini. Dapat satu aja udah beruntung!” ucapku.


“Kita? Enak aja kita! Elo aja kaliii. Aku mah sudah ada Monik. Lha kamu siapa? Runtang-runtung sama cewek, tapi status nggak jelas. Gitu aja terus sampai kiamat!”


Ucapan Doni menusuk bagai sembilu, ke ulu hati paling dalam. Kutatap dia dengan sewot. Kalau boleh dibilang, tampangku beberapa level lebih menarik daripada Doni, tetapi dalam urusan cinta, rupanya Dewa Cupid lebih berpihak kepadanya. Aku masih menggalau dalam kesendirian, sedangkan Doni sudah bergandengan dengan Monik. Ya, aku adalah satu-satunya jomblo yang menghuni kontrakan.


Menjelang siang, tamu perempuan sedikit berkurang. Aku sempat mengintip ruangan Andre. Kini ruangan Andre seolah dipenuhi berbagai makanan yang dibawa penjenguknya. Roti tawar bertumpuk-tumpuk di atas lemari, susu kaleng dan buah berkeranjang-keranjang. Bahkan ada yang mengirim buket bunga seperti adegan drama-drama luar negeri. Amboi, betapa beruntungnya si Andre!


Aku sebenarnya cukup senang melihat temanku berbahagia. Sayangnya, kebahagiaan itu mungkin menjadi penderitaan pihak lain. Aku lihat Inneke seperti tak nyaman dengan kehadiran para teman wanita Andre yang datang silih-berganti. Pada akhirnya, Inneke merasa jengah dan menyusul duduk di sebelahku di luar ruangan. Parasnya yang cantik tampak letih.


“Andre mantannya banyak banget ya, Mas?” tanya Inneke kepadaku, tanpa menoleh.


“Wah kalau masalah itu aku kurang tau juga sih, In. Memang yang kutahu Andre cukup populer di kampus. Anaknya gaul, sehingga banyak teman. Tapi aku nggak tahu apakah mantannya banyak atau tidak,” ujarku dengan agak canggung.


Aku melihat sekeliling. Untung Doni tidak ada. Kadang, anak itu membuat suasana menjadi tidak nyaman. Mulutnya yang berbisa harus diberangus terlebih dahulu.


“Mungkin aku salah satu yang beruntung ya?” gumam Inneke.

__ADS_1


“Beruntung? Kok beruntung?” tanyaku penasaran.


“Temannya Andre kan banyak, terutama yang datang kesini kulihat mayoritas cewek. Aku beruntung karena dari sekian puluh cewek-cewek itu, aku yang dipilih Andre untuk mendampingi hidupnya,” ungkap Inneke.


Aku hanya terdiam, sambil tersenyum kecil tak tahu harus berkomentar apa. Dalam kasus Andre-Inneke ini, sebenarnya miris juga. Kalau saja aku jujur pada Inneke, pasti akan menimbulkan permasalahan baru. Suatu ketika Andre pernah menyampaikan padaku bahwa sebenarnya menikahi Inneke karena kecelakaan. Sayangnya kulihat harapan besar di mata Inneke. Aku takut, harapan itu hanya tinggal harapan. Semoga Andre bisa mencintai dia sepenuh hati.


“Mas Abi sudah punya pacar?” tanya Inneke kemudian.


Kembali aku gelagapan. Mengapa pertanyaan ini sering muncul? Seperti modus dalam ilmu statistik. Pertanyaan sederhana yang membuatku bingung harus menjawab apa. Perlu beberapa menit untuk menjawab pertanyaan Inneke. Itu pun tidak kujawab dengan lisan. Hanya dengan gelengan kepala. Inneke hanya tersenyum kecil melihat gelengan kepalaku.


“Lebih baik nggak usah pacaran, Mas. Langsung nikah aja. Pacaran zaman sekarang ngeri-ngeri. Jangan sampai kejadian seperti aku ini terulang kembali.” Inneke memberi nasihatnya.


Aku manggut-manggut, tak tahu harus menjawab apa. Ada benarnya apa yang dikatakan Inneke. Mungkin tak perlu pacaran, tapi langsung menikah. Sayangnya, hasrat ini tak terbendung lagi. Bagaimanapun, darah muda ini perlahan menggeliat ingin merasakan setetes kenikmatan duniawi, bukan hanya menjadi penonton di sudut arena sambil bersimbah air mata.


Aku masih duduk-duduk di kursi tunggu di luar ruangan sembari menunggu kumandang azan Ashar. Inneke juga masih duduk di sebelahku, menepis segala kegalauan yang dirasakan. Sayangnya, aku bukan pemberi solusi terbaik, hanya bisa menjadi pendengar setia, tanpa berniat interupsi atau menyanggah apa pun yang diucapkan Inneke.


Tiba-tiba suara lembut seorang gadis mengejutkanku. Aku melihat seorang gadis dengan dandanan semarak, riasan tebal dan berbalut baju lumayan seksi berdiri menatapku. Senyumnya merekah dari bibir yang berpoles gincu merah menyala.


Kukernyitkan dahi, mencoba mengumpulkan serpih-serpih memori yang berserak. Antara ingat dan tidak, mencoba memngembalikan kenangan tentang gadis ini. Jelas aku pernah melihat parasnya, tetapi lupa di mana.


“Lupa sama aku ya, Mas?” katanya lagi.


“Mbak Amel?” Aku mencoba menebak.

__ADS_1


Gadis berbaju seksi itu mengangguk. Ya, Amel. Gadis yang pernah dikenalkan Andre padaku di sebuah pesta. Ia nyaris tak berubah. Kesan mewah masih melekat, dengan dandanan yang bersinar terang. Dia membawa sebuah bingkisan berupa buah-buahan segar yang dibungkus rapi dengan plastik transparan.


“Dua hari lalu aku mendengar dari teman katanya Mas Andre kecelakaan, makanya aku segera kesini. Tapi maaf, baru sempat. Aku kaget banget. Gimana keadaannya ya, Mas? Kamarnya itu kan?” tanya Amel sambil menunjuk tempat Andre dirawat.


“Udah baikan kok Mbak.” Aku menjawab singkat.


“Kok panggil mbak sih? Panggil Amel saja. Itu pacarnya Mas Abi ya?” Amel tiba-tiba menunjuk Inneke yang sedari tadi diam dengan isyarat matanya. Inneke hanya membalas dengan senyum kecut.


“Oh, bukan Mbak! Ini Inneke ....” Aku sempat tergagap mendengar pertanyaan


“Saya calon istrinya Andre!” potong Inneke cepat. Matanya menatap tajam ke arah Amel. Mendadak aku merasakan suasana yang cukup tidak enak.


“Oh, maaf Mbak. Saya nggak tahu kalau Mas Andre sudah mau menikah. Boleh saya menjenguk dia?” tanya Amel ragu-ragu.


“Maaf Mbak. Andre baru saja istirahat. Nanti saya sampaikan kalau Mbak Amel kesini. Maaf ya, Mbak!” ucap Inneke cukup tegas.


“Oh, nggak apa-apa. Semoga Mas Andre lekas sembuh,” ujar Amel sambil menyerahkan bingkisan pada Inneke.


Aku yang berada di situ merasa ada semacam aroma rivalitas yang menguat. Mungkin Inneke kurang nyaman dengan penampilan Amel yang terlalu terbuka, padahal berada di dalam rumah sakit. Penampilan Amel yang cukup berani memang sempat menjadi pusat perhatian pengunjung rumah sakit yang lain. Beberapa mata pria mencuri pandang ke arahnya.


Amel melangkah pergi meninggalkan kami berdua. Inneke tampak masih menunjukkan tampang dingin, sehingga agak segan menegurnya.


“Itu teman Andre?” tanya Inneke kemudian.

__ADS_1


Aku hanya mengangguk. Inneke menarik napas panjang. Mungkin ia tak pernah berpikir kalau teman Andre ada yang seperti itu. Aku tak berani menyimpulkan apa-apa. Sejak kecil, aku belajar menilai manusia tidak dari penampilan. Selama mempunyai tutur kata dan perilaku yang baik, maka menurutku dia manusia yang baik pula. Entahlah, mungkin hanya pendapt sepihak. Selama ini aku melihat kepalsuan bertebaran. Amel, dengan penampilan yang serba terbuka, menurutku masuk sebagai kategori manusia baik. Ia jujur dan apa adanya, tak berusaha menutupi dengan topeng kepalsuan.


***


__ADS_2