DUNIA ABIMANYU

DUNIA ABIMANYU
Chapter XC : Ajang Pembantaian


__ADS_3

Hari yang dinantikan hampir tiba. Setelah gagal mengajak Dahlia sebagai pendamping di acara pernikahan Farhan dan Dina, aku tak hilang akal. Daripada lontang-lantung sendirian seperti jomblo yang tak berfaedah, aku mengajak Darwis. Tentunya, dia menyanggupi dengan satu syarat. Aku yang menanggung biaya akomodasi ke Pasuruan. Baiklah, itu tidak menjadi masalah.


Darwis terlihat bahagia mendengar ajakanku. Mungkin di kepalanya sudah terbayang makan gratis di hotel mewah dan suasana pernikahan yang syahdu. Bahkan ia memakai busana batik terbaiknya, berbeda dengan yang sebelumnya. Sayangnya apa yang diharapkan Darwis meleset seratus persen.


Acara pernikahan Farhan dan Dina rencana akan diselenggarakan di halaman rumah Doni yang cukup luas, jadi tak perlu menyewa ballroom hotel yang luas. Padahal menurutku, kalau saja Doni mau, dia bisa menyelenggarakan di hotel berbintang. Pola pikir orang di pedesaan memang agak berbeda. Daripada uang digunakan untuk membayar katering dan sewa tempat yang mahal, lebih baik digunakana untuk keperluan yang lain, misalnya menyewa electone atau artis dangdut berpakaian minim.


Menyelenggarakan pernikahan di pedesaan juga banyak keuntungannya, karena tetangga juga berlimpah. Tanpa disuruh, mereka pasti membantu. Para pria bersama-sama mendirikan terop dan sebagian lagi menjadi sukarelawan mengatur parkir. Mereka sudah cukup senang diberi kenang-kenangan seragam batik berharga murah. Sementara, anak-anak kecil tanpa dikomando akan bergerilya memungut piring-piring kotor dan sisa-sisa makanan bekas para tamu undangan.


Di area dapur, para wanita juga berduyun-duyun menyumbang aneka bahan pokok seperti beras, gula, mi atau minyak. Beberapa lagi asyik rewang, membantu memasak soto atau rawon sambil bergosip tentang berita-berita hot yang terjadi di kampung. Sungguh, kadang aku merindukan suasana kampung yang penuh kekeluargaan. Di Surabaya, aku jarang menjumpai itu. Ikatan kekeluargaan seakan pupus termakan paham hedonisme yang menggurita.


Kalau di hotel, kadang kita menjumpai menu yang beraneka ragam, mulai dari menu appetizer sampai dessert, lengkap dengan hiasan ice carving, maka di kampung cukup satu menu saja. Kalau tidak soto dengan topping sejumput suwiran ayam, kadang rawon dengan topping seiris daging. Walaupun begitu, semua terlihat bahagia. Tak ada satu pun yang mencela. Tawa mereka begitu lepas, tanpa peduli dengan hal-hal teknis yang memusingkan kepala.


Hal yang sederhana, tetapi membangkitan rasa kangen yang mendalam. Itulah yang kutemui dalam pesta pernikahan Farhan dan Dina. Sederhana, namun begitu meninggalkan kesan. Pesta pernikahan yang selama ini identik dengan kemewahan, seolah tak berlaku di sini. Para tamu undangan yang biasanya berdandan jor-joran, tak pula kutemui. Seperti warga kampung pada umumnya, mereka datang dengan busana ala kadarnya. Bapak-bapak cukup berkemeja batik dengan warna pudar, berpeci hitam dan bersarung. Sedang para wanita hanya berkebaya sederhana. Para nenek bahkan masih mengunyah susur, duduk di pojok sambil manggut-manggut menikmati musik dangdut.


Doni menyambut kedatangan kami dengan hangat, bahkan disertai pelukan. Bak tamu agung aku dipersilahkan melangkah ke panggung tempat mempelai bersanding dengan paras bahagia. Wajah Farhan begitu berbinar, demikian pula Dina. Pasangan itu tampak sempurna. Farhan mengenakan beskap khas Jawa Tengah, lengkap dengan blangkon dan keris. Sedang Dina tampak jelita dengan kebaya anggun dan hiasan melati ronce di kepala. Mereka tampak seperti raja dan ratu dari negeri dongeng yang bersanding di singgasana.


“Selamat ya, Han. Nggak nyangka banget. Sumpah! Beruntung banget kamu!” ujarku sambil memeluk Farhan.


“Alhamdulillah. Ini namanya jodoh, Bi. Eh, kamu kapan sama Dahlia? Jangan ditunda-tunda! Keburu berkarat nggak bisa dipakai nanti!” kelakar Farhan.

__ADS_1


Duh, lagi-lagi dia menyinggung nama Dahlia. Mengapa begitu terkenal kisah Abi-Dahlia ini? Mangapa pula dia menyinggung masalah ‘berkarat’?


“Makasih ya, Mas!” ucap Dina dengan nada bahagia. Parasnya yang manis tersipu merona merah.


“Kamu tampak luar biasa, Dina. Nggak salah pilihlah!” ucapku sambil mengacungkan jempol.


Dina menebar senyum malu-malu. Sebelum turun panggung, kami menyempatkan berfoto bersama sebagai kenang-kenangan. Kupersembahkan senyum terbaik, walau merasa pedih di dalam. Jujur, melihat sahabatku sudah melepas masa lajang, menimbulkan gejolak tak tertahan dalam hati. Sedih bercampur senang.


Darwis hanya senyum-senyum melihatku. Sepertinya dia mampu membaca apa yang kupikirkan. Ia menepuk lembut bahuku, seraya berbisik,”Sabar Bro! Ini sekedar ujian dari Yang Maha Kuasa!”


Setelah turun panggung, kami dijamu hidangan rawon spesial. Kukira, hanya daging seiris sebagai topping, ternyata ini beriris-iris. Maklum, keluarga Doni adalah juragan sapi. Mereka pasti menyembelih sapi untuk acara ini. Rasa rawon juga istimewa. Sungguh tanpa cela, hampir mirip dengan rawon buatan emak.


Aku menyeringai. Giliran ada gratisan, langsung tanggap. Tak tahu sampai kapan dia insyaf. Sejak pertama kali aku mengenal Darwis, jiwa gratisannya selalu menggelora. Aneh memang makhluk satu ini.


Belum lagi kami selesai menyantap rawon, Andre tiba dengan pasangannya, Inneke. Mereka juga tampak serasi dengan busana kebesaran. Andre tampak gagah dengan baju batik berbahan sutra mahal, sedangkan Inneke juga memakai batik dengan warna senada. Busyet! Sudah seperti pasangan sah saja mereka. Apalagi kulihat Inneke menggamit mesra lengan Andre.


Doni segera menyambut mereka dengan hangat. Entah kenapa aku jadi salah tingkah, ingin menghindar bertemu dengan Andre. Malu rasanya hadir tanpa pasangan di pesta pernikahan Farhan. Sayangnya usahaku untuk menyelinap dari pandangan tak berhasil. Andre tetap melihat keberadaanku.


Sudah kuduga, tawanya meledak menatap keberadaanku bersama Darwis. Sebelum naik panggung bahkan ia menyempatkan untuk menghampiri. Andre berbisik pelan,”Mana Dahlia?”

__ADS_1


Aku menggeleng. Andre tertawa, sembari menepuk pundak. Kemudian tatapan matanya beralih ke arah Darwis.


“Cariin dia pasangan, Dar! Biar kamu nggak jadi korban kejombloan dia terus. Masa kemana-mana kalian berdua terus. Sekali-kali dong sama cewek!” ejek Andre.


“Eh, iya Ndre. Si Abi sih terlalu pilih-pilih!” cibir Darwis.


“Pilih-pilih gimana?” protesku.


“Iya, kamu itu pilih-pilih! Dulu kukenalin sama Amel, masih kurang cantik. Lusi juga dibuang-buang. Eh, ada Dahlia juga ditinggal-tinggal! Maumu siapa sih? Mau yang secantik Angelina Jolie? Noh, Mpok Omas lo jabanin!” ledek Andre.


Bagaimanapun, aku mati kutu dibantai dua orang seperti ini. Aku pasrah. Ternyata begini ya nasib seorang jomblo. Pesta nikah ini seolah menjadi arena pembantaian. Mungkin aku jomblo paling ngenes seantero nusantara. Padahal usia masih relatif muda. Coba aku lebih tua , aku jadi ingat julukan bujang lapuk Pak Imron.


Kalau sudah begini, semangat mencari pacar kian terlecut. Gagal mendapat satu, harusnya segera berpaling ke yang lain. Atau jangan-jangan apa yang dikatakan Andre benar? Aku terlalu pilih-pilih? Padahal untuk urusan asmara aku sudah banting harga habis-habisan, hingga diskon tujuh puluh lima persen. Haruskah aku lebih merendahkan harga diri ke level terendah?


Sebenarnya hendak berpamitan pulang lebih awal, tetapi Doni mencegah. Dia punya rencana mengajak kami untuk mengadakan pesta tersendiri bersama mempelai pria, sebelum Farhan melaksanakan malam pertama. Kedengarannya asyik, tetapi mengkhawatirkan. Apakah pesta itu akan menjadi ajang pem-bully-an selanjutnya?


Semoga tidak!


***

__ADS_1


***


__ADS_2