DUNIA ABIMANYU

DUNIA ABIMANYU
Chapter X : Golongan Abu-abu


__ADS_3

Senin pagi, adalah kondisi rush hour bagi sebagian orang. Semua orang larut dalam kesibukannya sendiri-sendiri. Demikian juga diriku. Beberapa temanku selalu bilang I hate Monday.


Mungkin ini ada benarnya juga.


Salah satu alasannya adalah di hari Senin, jadwal kuliah penuh dari pagi sampai sore. Hingga untuk bernapas, aku harus menyempatkan diri. Sungguh berharap kalau hari Senin ini dosennya tidak hadir sehingga aku bisa duduk bersandar sebentar di kantin sambil menikmati es kacang hijau seharga goceng.


Alhamdulillah!


Harapanku terkabul. Hari ini Ibu Pratiwi, dosen Bahasa Inggris tidak bisa hadir memberikan kuliah karena ada tugas ke Jakarta. Tetapi bukan berarti kami bebas begitu saja. Ada tugas yang harus diselesaikan. Pada saat seperti ini, kelas terpecah menjadi dua. Ada golongan anak alim dan sok pintar yang berpendapat bahwa mereka harus mengerjakan tugas hari itu juga di dalam kelas dan dikumpul. Mereka kusebut dengan golongan kanan, atau golongan putih dalam dunia persilatan .


Okelah.


Aku sadar, mereka tidak salah berpendapat seperti itu. Karena sejauh ini, sistem perkuliahan di negeri ini masih berbayar menggunakan uang yang tidak sedikit. Bukan pakai daun yang bisa dipetik kapan saja. Setidaknya di jurusanku yang kelasnya menengah ke bawah. Mungkin mereka berpikiran, kalau kuliah tidak serius, akan mengecewakan orangtua. Masuk akal alasan itu.


Jurusanku berbeda dengan jurusan Teknik Arsitektur, yang mendapat julukan kampus para artis. Mayoritas mahasiswanya menggunakan mobil. Para gadisnya terlihat bening dan terawat. Saat melihat mereka, teringat saat Jack Dawson begitu takjub melihat Rose deWitt Bukater dari geladak kelas tiga. Menurutku itu adegan paling epik di film Titanic.


Sementara golongan kiri adalah golongan yang berpendapat bahwa tugas bisa ditunda, dan bisa dikerjakan kapan-kapan. Tidak harus hari ini. Biasanya golongan kiri ini akan nongkrong-nongkrong di kantin sambil berdiskusi hal-hal remeh khas pria. Tentang hobi, tentang aktivitas kampus atau tentang gadis-gadis populer di kalangan mereka. Kacang goreng, kopi hitam dan rokok adalah makanan wajib para golongan kiri atau golongan hitam ini.


Aku?


Aku bisa dikatakan golongan abu-abu. Tidak ikut ke kanan atau ke kiri.Tidak putih atau hitam. Ada sebagian kecil yang yang ikut golongan abu-abu ini. Biasanya mereka lebih memilih menyendiri. Entah itu pergi ke perpustakaan, jalan-jalan keliling kampus tidak jelas, atau malah pulang ke kostnya. Yang penting tugas selesai. Aku sendiri memilih makan es kacang ijo seharga goceng kegemaranku di kantin. Sendirian.


Mengapa?


Bagiku sendiri itu indah. Dengan sendirian, aku merasa lebih independen untuk memutuskan sendiri apapun yang aku suka. Aku sangat suka bercinta dengan kesendirian. Menghabiskan waktu dengan keasyikanku sendiri. Tak peduli dengan hiruk-pikuk dunia di sekitarku.


“Sendirian?” sapa Darwis tiba-tiba.


Oh, baru aku sadar ternyata Darwis juga termasuk golongan abu-abu.


“Ya, seperti biasa,” jawabku sambil menyendok kacang ijoku.


“Mau ikut nggak?”


“Kemana?”


“Ke Pusat Bahasa. Katanya di sana membuka pendaftaran baru klub Bahasa Inggris gratis. Aku ingin sekali memperdalam Bahasa Inggrisku. Kemarin aku mencoba Tes TOEFL skornya jelek banget. Cuma 300 an. Ikut yuk!”

__ADS_1


Aku tertawa.


“Aku sih lumayan. Dapat 450-an,” kataku.


“Iya, aku tahu kamu pinter ngomong Inggris. Ayo dong ikut! Aku nggak enak kalau sendirian.”


“Itu klub yang gimana sih?” tanyaku ingin tahu.


“Aku baca di papan pengumuman kemarin kalau mereka bakal mengadakan acara-acara seru kayak kunjungan ke British Council, diskusi-diskusi Bahasa Inggris, terus juga para anggotanya juga wajib ngomong Inggris. Bahkan kadang mereka juga undang native juga.”


“Native?”


“Iya. Keren kan? Tahun lalu, mereka mengadakan meet and greet dengan seorang tamu dari Australia. Siapa tahu kelak aku dapat beasiswa ke luar negeri. Jadi nggak repot-repot lagi belajar Bahasa Inggris.”


Aku terdiam sejenak, mencerna kalimat Darwis. Patut diacungi jempol niatnya.


Darwis adalah teman sejurusanku yang visioner. Dia berasal dari keluarga yang sederhana pula di Bangkalan. Ide-ide yang dituangkannya kadang terlihat lucu atau konyol, tetapi di balik itu ia mempunyai semangat yang menyala. Masih ingat kan saat ia mengajak makan di warung ujung jalan?


Tanpa berpikir dua kali, aku menyetujui ajakan Darwis untuk ikut dalam sebuah klub Bahasa Inggris yang kantor sekretariatnya berpusat di Pusat Bahasa. Klub ini dikelola oleh beberapa mahasiswa dari jurusan berbeda-beda yang concern dengan dunia Bahasa Inggris. Di depan kantornya, terpampang plang yang cukup jelas bertuliskan nama klub. VICTORY ENGLISH CLUB.


Mudah-mudahan ada yang banyak kuperoleh dari klub baru ini.


Namanya Dahlia Sukmawati.


Belum-belum aku sudah nervous tak terkendali. Tatapan mata Dahlia Sukmawati bagai sebusur anak panah yang langsung merobek-robek jantungku. Maksudku, tentu saja aku tidak naksir dia. Bukan itu. Sebiji dzarrah sekalipun tidak ada rasa sukaku ke dia. Tetapi tatapan matanya seperti ancaman, bahwa gadis ini bisa saja menelan bulat-bulat jika bersikap lemah. Jelas dia bukanlah tipeku. Tak kutemukan kelembutan sama sekali di matanya.


“Hei kau! Isi formulirnya! Kau tidak mau ada yang salah-salah!” ujar Dahlia memberikan perintah pertamanya kepada kami.


“Yes Mam!” jawabku takut-takut.


Darwis berbisik pelan kepadaku.


“Galak amat! Kalah-kalah ibu kostku.”


Aku tidak menjawab. Ibu kost Darwis memang sangat galak. Aku pernah singgah di tempat kostnya. Kurasa ia adalah jelmaan Mak Lampir.


Kulirik Dahlia masih berdiri di situ seperti pengawas ujian. Tatapannya meneror setiap gerak-gerik kami. Kami mengisi formulir pendaftaran dengan hati-hati, bagai menempuh ujian akhir yang sebenarnya.

__ADS_1


“Sudah tahu aturannya?” tanya Dahlia lagi.


Belum sempat kami menjawab, dia menyerahkan dua lembar kertas kepada kami.


“Baca dan pahami!”


Kami mengangguk.


Setelah urusan administrasi beres, kami segera keluar dari kantor sekretariat dengan banyak-banyak mengucap Hamdalah.


Sungguh, Dahlia menjadi salah satu pengalaman yang cukup menegangkan buatku. Padahal jelas-jelas dia adalah mahasiswa sama seperti diriku juga. Tapi memang sepertinya dia lebih senior daripada kami. Mungkin beberapa tingkat di atasku. Yah, bisa dibilang dia dedengkot dunia kampus. Kuliah tidak lulus-lulus. Makanya tak heran dia main perintah seenak jidatnya sendiri.


Mungkin beban hidupnya terlalu berat. Batinku.


“Kamu yakin gadis seperti itu kelak akan dapat jodoh?” tanya Darwis.


Ia membuka topik ghibah pada suatu pagi yang muram. Kami masih duduk di selasar kampus, sambil belajar materi untuk Quis nanti siang.


“Mungkin,” jawabku pendek.


“Kasihan suaminya,” ujar Darwis.


“Ngapain sih mikirin dia? Aku nggak konsen belajar!”


Darwis tersenyum aneh.


Jangan-jangan Darwis suka dengan Dahlia!


Selera makhluk satu ini agak aneh. Tahun kemarin dia suka Diana, teman dekat Lusi. Kurasa Diana juga punya tipe yang sama dengan Dahlia. Selain berat badan, Diana mempunyai level kelembutan yang lebih tinggi daripada Dahlia. Sehingga, Diana lebih terlihat seperti manusia daripada Dahlia!


Mengingat Diana, aku jadi teringat Lusi lagi. Apa kabarnya dia di Malang sana? Benarkah dia sudah menikah seperti yang dikatakan Doni beberapa waktu lalu? Diam-diam aku merindukan Lusi dalam diam. Lesung pipit dan mata lebarnya membuatku tak bisa berpaling. Lalu tiba-tiba muncul wajah Laras yang berparas lugu. Senyumnya yang semanis gula jawa itu membuatku hatiku yang membeku seperti gunung es di Antartika itu tiba-tiba meleleh.


Terakhir...


Muncul wajah Dahlia Sukmawati!


Apa-apaan ini? Sungguh merusak suasana!

__ADS_1


***


__ADS_2