DUNIA ABIMANYU

DUNIA ABIMANYU
Chapter C : Sweetest Memory


__ADS_3

Perasaanku tak tenang. Duduk juga tidak terasa nyaman. Aku melirik ke kursi sebelah, melihat Dahlia asyik menonton aksi Tom Cruise. Mulutnya tak berhenti mengunyah popcorn rasa durian, sama sekali tak peduli dengan keberadaanku yang dirundung gelisah. Ada satu pertanyaan yang harus ia jawab. Tentunya bukan pertanyaan rumit, tetapi untuk menjawab membutuhkan pemikiran yang mendalam.


Menit demi menit kulalui dalam kegelisahan. Sama sekali tak bisa kunikmati aksi tembak-menembak dan ledakan bom dalam tayangan film. Dalam kegelapan bioskop, aku mencoba mengkaji ulang pertanyaan yang kulontarkan tadi. Entah apa yang mendorongku untuk menanyakan hal itu. Mungkin karena kesendirian yang terlalu lama ini, membuat nekat untuk bertanya.


Credit title telah muncul dari bawah layar, bergerak ke atas dengan perlahan, menandakan film telah usai. Lampu bioskop juga telah menyala. Dahlia tersenyum puas, melirik ke arahku. Aku balas senyumnya dengan canggung. Perasaan ini masih bergemuruh tak karuan, menunggu jawaban Dahlia.


“Keren ya film-nya!” ucap Dahlia.


“Eh, iya,” jawabku pendek. Padahal tadi sepanjang film aku tidak begitu fokus, bahkan bisa dikatakan aku sama sekali tidak menyimak dengan baik.


“Mau kemana lagi nih?” tanya Dahlia.


“Terserah saja sih. Aku manut kamu saja,” jawabku polos.


Sebagai orang yang tidak bermodal seperti aku, tentu hanya pasrah mau dibawa kemana saja. Ya Tuhan, aku baru sadar ternyata hal ini begitu hina. Bagaimana tidak? Aku seorang pria, seolah kehilangan wibawa di depan Dahlia yang memegang kendali. Masalahnya cuma satu. Isi dompetku kalah tebal dibanding dia. Dalam hati, satu ikrar kutoreh, kelak aku akan bayar semua kebaikan Dahlia walau aku tahu pasti ia ikhlas melakukan ini.


Di dalam mobil, Dahlia lebih banyak bungkam tak seperti biasa. Apakah ini gara-gara pertanyaanku atau hanya perasaanku saja yang berlebihan? Sungguh, suasana menjadi kurang nyaman. Aku sendiri juga tidak berani lagi mengungkit-ungkit. Biarlah, seandainya Dahlia tidak berkenan menjawan pertanyaan itu, aku pasrah. Mungkin sudah nasibku seperti ini.


Mobil kami melaju dengan kecepatan sedang membelah Kota Surabaya yang mulai bersolek, karena petang telah menjelang. Kami mampir di sebuah masjid untuk melaksanakan salat Magrib berjamaah. Kesibukan boleh padat merayap, tetapi masalah ibadah tak boleh ditinggalkan. Toh tak terlalu lama juga. Setengah jam kemudian, kami sudah mengarungi kota yang bergemerlapan malam itu.


Dahlia memarkir mobil di depan sebuah cafe yang cukup ramai dikunjungi para muda. Desain unik dan kontemporer, serta alunan musik kekinian merupakan magnet bagi kaum muda untuk bercengkrama. Kami memilih tempat duduk yang agak jauh dari kerumunan, agar lebih leluasa mengobrol.


“Mau makan?” tawar Dahlia.


“Nggak. Aku masih kenyang. Minum aja,” jawabku sambil memeriksa deretan menu dalam daftar. Nama-namanya unik, dan sebenarnya aku tak tahu bagaimana penampakannya. Yang jelas aku memilih salah satu jenis minuman kopi beserta calamary rings. Dahlia memesan semacam minuman fruit mix dengan soda yang berbuih, beserta french fries sebagai selingan. Dentingan musik piano menambah syahdu malam itu.

__ADS_1


Sambil menunggu pesanan disajikan, aku mengetuk-ngetuk jari ke meja sembari melihat suasana cafe yang cukup ramai. Dahlia tampak memeriksa layar ponselnya dengan saksama. Kami saling diam, bingung apa yang hendak kami bicarakan. Dahlia kemudian meletakkan ponsel di atas meja.


“Mengapa kamu nanyain pertanyaan itu, Bi?” tanya Dahlia kemudian.


Pertanyaan balik dari Dahlia itu membuatku gugup. Jujur, aku tadi bertanya dengan spontan karena rasa keingintahuan yang mendalam. Hubungan yang cukup dekat ini pemicunya. Kalau menurut perasaanku, Dahlia ada menaruh hati kepadaku. Entahlah, semoga saja aku benar.


“Aku hanya ingin tahu, Dahlia. Karena kita dekat selama ini. Dan sebentar lagi mungkin aku akan meninggalkan kota ini. Maka tak ada salahnya aku menanyakan hal ini kepadamu. Apa pun jawabannya aku akan terima. Aku nggak mau kesalahan yang sama berulang,” jawabku.


“Kesalahan yang sama? Kesalahan apa? Kok kamu nggak pernah bercerita kepadaku?” tanya Dahlia penasaran.


“Lupain aja, Dahlia. Itu masa lalu kok. Lagian aku sudah memendam dalam-dalam supaya nggak terungkit kembali. Lupain aja!” pintaku.


“Hmm. Pasti kamu patah hati ya di masa lalu. Sama siapa sih? Sama cewek yang pernah kita kunjungi yang kost di daerah Rungkut itu ya? Cantik sih dia emang kalau dibanding aku. Kalau kamu mau, ntar kubantu dapetin dia,” ucap Dahlia.


“Siapa? Laras?”


“Eh, kok jadi bahas Laras sih? Aku kan menanyakan pertanyaan itu ke kamu. Ini nggak ada kaitannya dengan Laras.”


Dahlia tersenyum penuh arti. Ditariknya napas dalam, kemudian menatapku tajam. Rupanya ia hendak menyampaikan sesuatu yang penting. Mendadak dadaku bergemuruh, terasa bagai menunggu detik-detik vonis yang dijatuhkan hakim.


Dahlia sudah siap berbicara, ketika waiter datang membawa pesanan kami. Waktunya sungguh tidak tepat. Interupsi singkat itu membuat konsentrasi buyar. Dahlia juga tampak berpikir, seperti hendak merangkai kata yang tepat untuk disampaikan kepadaku.


“Bi, sebelumnya aku mohon maaf yang sebesar-besarnya ya kalau aku punya salah kepadamu ....”


Ucapan Dahlia berhenti. Kulihat matanya mulai berkaca-kaca. Firasat ini mulai tidak enak. Apa yang sebenarnya hendak ia katakan. Aku menunggu dengan resah.

__ADS_1


“Ada apa, Dahlia?” tanyaku lembut.


“Bi, kamu adalah pria yang baik. Bahkan terbaik yang pernah aku tahu. Kamu ingat nggak waktu pertama kali ketika bertemu di Pusat Bahasa? Saat itu kamu dan Darwis mengisi formulir, kemudian hari berikutnya kamu terlihat gugup memperkenalkan diri di depan para member klub. Pada saat itulah aku menyadari bahwa aku mengagumi karena bahasa inggrismu begitu fasih. Setelah itu, seperti yang kamu rasakan juga, kita begitu dekat. Saling ketemu dan menolong. Bahkan kamu masih punya hutang padaku.”


Dahlia tersenyum kecil. Parasku memerah. Ya ampun Dahlia, begitu jujur! Di saat krusial seperti ini malah bahas masalah utang-piutang. Terlalu!


“Mungkin kedekatan ini, bagi sebagian orang mulai disalah-artikan. Jujur, kamu adalah teman cowok pertama yang sedekat ini denganku, bahkan berani kukenalkan pada Mamahku. Kamu tahu sendiri tanggapan Mamah kepadamu juga sangat baik. Beliau merasa sangat sayang kepadamu.”


Dahlia menarik napas sebentar. Aku masih menyimak segala ucapannya dengan antusias.


“Bi, sejujurnya aku juga sangat sayang kepadamu. Kamu ingat nggak, ketika aku bercerita tentang almarhum adik laki-laki-ku yang meninggal karena kecelakaan? Kamu selalu mengingatkanku padanya. Setiap melihatmu, timbul rasa ingin menolong segala kesusahanmu, ingin selalu hadir di saat kamu membutuhkan. Maafkan aku ya, Bi. Aku sayang padamu, dan aku sudah anggap kamu seperti adikku sendiri ....”


Ucapan Dahlia begitu jelas, menimbulkan kegalauan yang kian merangsak mengobrak-abrik kewarasan. Aku belum bisa memahami semua perkataannya. Selama ini aku dianggap adik atau bagaimana?


“Jadi bagaimana, Dahlia?” tanyaku meminta kejelasan.


“Sepertinya aku tak sanggup menjelaskan lagi, Bi. Kamu adalah adikku yang paling spesial di hatiku. Aku sayang kamu sebagai adikku,” ujar Dahlia tegas.


Untuk sesaat aku seperti limbung. Rasanya masih tak percaya dengan ucapan Dahlia barusan. Belum hilang rasa terkejut, Dahlia melanjutkan ucapannya.


“Maafkan aku juga Bi, sebetulnya aku sudah jadian sama Darwis ....”


Dhuaaarrr!


Aku merasakan sebutir peluru menembus otakku!

__ADS_1


***


__ADS_2