DUNIA ABIMANYU

DUNIA ABIMANYU
Chapter LXXXIX : Berburu Kado


__ADS_3

Pagar rumah besar itu tampak tertutup. Suasana sekitar juga sepi. Aku sudah memencet bel berkali-kali, namun tak seorang pun menampakkan diri. Biasanya ada yang membukakan pintu. Aku mendesah kecewa. Sepertinya tak ada yang dirumah. Otomatis kuputar tubuhku, meninggalkan rumah besar itu.


“Mas!”


Tiba-tiba suara seorang pria memanggilku. Kembali kubalikkan badan, menjumpai sebentuk kepala menyembul dari balik pagar yang masih tertutup. Tak pernah kulihat pria ini sebelumnya. Mungkin dia asisten baru atau entah siapa.


“Lagi mencari Mbak Dahlia ya?” tanya pria itu. Padahal aku belum mengutarakan maksud kedatangan. Tetapi seolah pria itu bisa menebak apa yang ada di dalam kepala.


“Iya. Mbak Dahlia ada?” tanyaku.


“Wah, lagi nggak ada orang di rumah, Mas. Semua lagi pada ke Yogya.”


“Ke Yogya? Ngapain?”


“Ada famili ibu yang lagi nikahan, jadi semua pergi ke sana. Ini rumah lagi kosong.”


“Oh, pulangnya kapan ya, Mas?”


“Ibu bilang kemarin sih kira-kira seminggu,” jawab pria muda itu dengan sopan. Dilihat dari penampilannya, dia mungkin lebih muda beberapa tahun dari aku. Ia terlihat baik dan santun, dengan wajah yang lugu.


“Mas ini siapa?” tanyaku penasaran.


“Saya Danu, Mas. Baru kerja satu minggu kemarin.”

__ADS_1


“Oh, pantesan saya nggak pernah lihat. Oke deh kalau begitu saya pulang saja. Nanti kalo Dahlia pulang, sampaikan saja dicari sama Abi. Dia sudah tahu kok.”


Kurasa agak sembrono juga keluarga Dahlia mempercayakan rumah pada seorang yang baru bekerja seminggu. Sudah marak berita di surat kabar, kadang ada pembantu atau penjaga rumah berbuat kejahatan dengan bekerjasama dengan perampok untuk menggasak isi rumah saat pemilik rumah tidak ada. Semoga Danu bukan penjaga seperti itu.


Harapan untuk mengajak Dahlia ke undangan pernikahan Farhan pupus, karena Dahlia pergi ke Yogya selama seminggu karena urusan keluarga. Bulan-bulan seperti ini, memang bulannya orang menikah, karena sebentar lagi memasuki bulan Ramadhan. Tentu banyak undangan bersliweran. Artinya, kita juga harus menyiapkan budget khusus untuk ini. Apa dayaku hanya seorang mahasiswa yang belum mepunyai penghasilan?


Sekali lagi aku larut dalam kekecewaan. Selain rindu pula dengan kehadiran Dahlia, pernikahan Farhan akan digelar tiga hari lagi. Aku sudah mengajak Andre untuk bareng ke sana, tetapi dia malah mengajak Inneke. Maka, lengkap sudah kesendirianku, bagai sandal yang kehilangan pasangan.


Sebenarnya ada Laras yang hendak kuajak, tetapi agak segan juga. Sudah pasti dia menolak, karena mungkin dia trauma dengan pesta pernikahan Lusi di Malang beberapa waktu lalu. Rasanya malas datang ke pesta pernikahan Farhan sendirian. Terlihat sekali kalau aku tak punya pasangan. Stok gadis dalam hidupku sudah habis. Tak mungkin mengajak Bu Roffi, karena dia masih bermasalah dengan mantan suaminya. Bisa-bisa, aku dihajar lagi olehnya. Atau mungkin Tia Wijayanti? Sepertinya juga tidak. Aku malah takut nanti dia terbawa perasaan.


Kata seorang teman, seorang gadis apabila diajak di pesta pernikahan, pasti mempunyai arti yang spesial bagi si lelaki. Karena, si lelaki seolah hendak mengumumkan pada khalayak bahwa di gadis ini adalah calon pasangannya. Aku tidak mau mengulangi kesalahan yang sama. Jadi siapa yang harus kuajak?


Kondisi kontrakan sudah sepi. Doni sudah sibuk menyiapkan pesta pernikahan adiknya. Demikian juga Farhan. Sudah barang tentu calon mempelai pria harus dipingit. Andre juga jarang kutemui di kontrakan. Rupanya, dia sudah mulai hilir-mudik di rumah calon mertua. Aku? Hilir-mudik ke toilet karena mules!


Kini baru kamu rasa, Ndre. Memangnya menikah hanya enak-enaknya saja? Yang berat itu komitmen. Apalagi kalau tinggal di rumah mertua. Selamat memasuki dunia rumah tangga yang pelik!


Akibat rencana pernikahan Farhan, aku sedikit melupakan pengerjaan tugas akhir. Bahkan, aku tak berani membuat jadwal asistensi dengan Pak Kusumo. Aku lebih fokus menyiapkan mental saat hadir di pernikahan Farhan nanti. Sepertinya agak menyeramkan datang ke pesta pernikahan sendirian.


Agak bingung pula, apa yang harus kubawa ke pesta. Apakah sejumlah uang atau kado? Kalau kado, apa pula yang harus kubeli? Aku sungguh awam dengan hal-hal begini. Entah mengapa biasanya kaum perempuan lebih tahu. Bingung, siapa yang bisa dimintai pertimbangan masalah ini.


Dalam kegalauan, aku berjalan menyusuri gerai-gerai yang berjajar di Surabaya Plaza untuk berburu kado. Barang-barang dengan berbagai brand sungguh menarik untuk dibeli. Jelas harganya tidak murah, sehingga aku tidak nekat untuk menawar. Dahulu, emak pernah memberi kado sprei bergambar bunga-bunga mawar ketika sepupuku yang ada di Kediri menikah. Masa aku harus memberi sprei bergambar mawar juga pada Farhan? Tidakkah terlalu feminin? Takut salah, jangan-jangan tidak sesuai selera.


Kemudian kuberanikan diri untuk mengunjungi gerai khusus peralatan rumah tangga. Di sana banyak berbagai jenis peralatan dengan model yang menarik, tetapi harganya memang lumayan menguras kantong. Sebagai contoh, aku sempat melihat tempat sampah unik yang harganya sampai ratusan ribu rupiah. Padahal, kalau mau beli di pasar harga puluhan ribu juga sudah bagus. Lagipula, fungsinya hanya untuk menaruh sampah!

__ADS_1


Karena putus asa, aku kembali menyusuri mal dengan langkah gontai. Ternyata begini rasanya kalau tak punya siapa-siapa. Teman sudah punya pasangan masing-masing, pacar tidak ada, jadi kemana-mana hanya sendirian. Berarti lagu Koes Plus yang judulnya ‘Bujangan’ itu tak sepenuhnya benar. Buktinya, aku mulai merasa dilanda rasa tidak nyaman karena terlalu lama sendiri.


Segerombolan perempuan berbaju seksi lewat di depan mata, seolah melambai, mempertontonkan paha mulus yang diumbarnya. Aku menelan ludah. Pandangan pertama adalah rezeki, selanjutnya adalah dosa. Ingin dilewatkan, tetapi sayang.


“Om Abi!”


Suara teriakan seorang anak memanggilku ketika menuruni eskalator hendak ke lantai dasar. Aku menoleh ke atas, melihat seorang anak perempuan bersama ibunya menenteng tas belanjaan.


Astaga, mereka adalah masalah! Ingin menghindar, tetapi rasanya tidak enak karena terlanjur melihat. Kulempar senyum kecil pada bocah kecil yang manis itu. Sedangkan si ibu sepertinya juga salah tingkah melihatku. Kuharap mereka tak menghampiri.


Sesampai di lantai dasar, aku mempercepat langkah untuk menghindar, tetapi suara ibu si bocah menghentikanku.


“Bi! Tunggu!”


“Eh, iya Bu Roffi!”


Aku berhenti sejenak. Entah mengapa setiap kali berhadapan dengan Bu Roffi, aku merasa terperangkap dalam sebuah drama percintaan dengan episode berjilid-jilid. Paras Bu Roffi dengan segala gestur yang dimilikinya, bak ratu drama yang memainkan episode terbaru sebuah sinetron.


Bodohnya, aku tak kuasa menolak saat Bu Roffi menraktir makan siang di sebuah gerai resto siap saji. Tak banyak yang kuobrolkan, hanya basa-basi ringan. Sebenarnya ingin kuberitahu padanya bahwa mantan suaminya telah berbuat buruk. Hal itu lebih baik kuurungkan. Aku hanya berharap bisa lolos dari semua kegilaan ini. Baiklah, aku harus mengokohkan hati, bahwa semua ini adalah ilusi. Tak kugubris segala senyum dan tutur kata manis Bu Roffi. Kuanggap semuanya adalah racun.


Maafkan aku, Bu Roffi! Untuk saat ini aku tak mau menambah daftar panjang nama perempuan yang telah mengisi lembar hidupku. Semoga anda hanya menjadi secuil kisah yang segera kulupa dalam perjalanan.


***

__ADS_1


__ADS_2