DUNIA ABIMANYU

DUNIA ABIMANYU
Chapter XIX : Monster Botak


__ADS_3

Semenjak diejek dengan sebutan ‘malas’ oleh Pak Anto Darsono, dosen tugas gambar, semangat yang tadinya hangat-hangat tahi ayam kini mulai berkobar. Aku akan buktikan kalau dia salah. Aku bukan pemalas seperti yang ia kira. Harga diri terasa direndahkan dengan sebutan itu.


Dari kecil, bapak tidak pernah mengajarkan untuk bermalas-malasan. Tak ada kata malas dalam kamus hidupku atau menggantungkan orang lain. Semua harus dikerjakan sendiri selagi bisa. Pantang merepotkan orang lain.


Umur delapan tahun ketika kawan sebaya asyik bermain sepak bola, maka aku berkutat di kandang dengan sapi-sapi. Mungkin dari situlah kegilaanku muncul.


Entah kegilaan macam apa, aku mulai mengajak sapi-sapi itu mengobrol. Tak peduli mereka hanya menjawab dengan lenguhan, berjuta kata tetap kuobral. Sekali lagi, sapi-sapi tercinta itu hanya melenguh.


Macam-macam tema obrolannya. Mulai dari yang ringan-ringan sampai yang berat-berat. Mulai dari hobi sampai falsafah hidup. Faktanya, sapi-sapi itu kucatat sebagai salah salah satu sahabat terbaikku. Mungkin ini terdengar gila.


Aku tak peduli.


Sore itu pula, tiba-tiba emak kembali membawa berita tentang sapi-sapi. Telepon berdering saat aku berasyik-masyuk mengerjakan tugas gambar di laboratorium gambar yang sudah sepi.


“Bi, emak mau jual sapi-sapinya ya?” ucap emak.


Aku meletakkan pena gambar. Terbayang perjuangan saat memberi minum sapi-sapi itu. Bukan perkara sepele. Libasan ekornya yang harum semerbak membuatku kenyang sebelum menikmati makan siang. Apalagi jelang sapi-sapi itu mandi.


Persiapkan mental terbaikmu atau kalian akan merasakan siksa dunia yang pedih.


Kini, emak bilang kalau sapi-sapi itu akan dijual. Tentu saja hal ini membuatku sedikit galau. Jangan-jangan, emak tahu sumber kegilaanku berasal dari sapi?


“Kenapa dijual, Mak? Emak butuh duit?” tanyaku.


“Bukan butuh duit. Tapi malah kasihan sapi-sapi itu ndak ada yang ngurus sejak bapakmu meninggal,” lanjut emak.


“Minta tolong siapa gitu ndak ada ya, Mak.”


“Anak jaman sekarang pada gaya-gaya. Mana mau ngurusin sapi?”


“Ya jangan dijual semua to, Mak. Kita peliharanya dari kecil. Sayang kan?”


“Yo wes...”


Emak menutup pembicaraan. Sedikit lega rasanya. Paling tidak masalah persapian bisa tidak mengganggu konsentrasi untuk menyelesaikan tugas gambar yang sudah lewat deadline ini.


Aku sadar, sesadar-sadarnya, bahwa sekalipun menyelesaikan tugas gambar ini tepat waktu tetap saja cacian tak manusiawi dari Pak Anto Darsono yang tak punya perasaan itu akan tetap memanaskan telinga.


Diam-diam, aku berpikir jahat. Mungkin dosen itu punya masalah dengan keluarganya atau mendapat social bullying dengan botaknya yang sama sekali tak modis itu?


Entahlah.

__ADS_1


Aku menengok jam dinding yang tertempel di dinding laboratorium. Sudah mendekati pukul 22.00. Tak ada segelintir pun Homo sapiens di tempat ini. Suasana laboratorium yang sepi, menerbangkan fantasiku ke kisah-kisah horror yang diusung oleh Farhan. Salah satunya adalah gadis bermuka keriput. Suara jangkrik di rawa-rawa menambah kengerian suasana.


Mungkin aku harus pulang.


Buru-buru kurapikan peralatan gambarku. Pasti nikmat sekali kalau malam ini bisa mandi air hangat, minum secangkir jahe panas, mendengarkan suara emas Phill Collins, dan menikmati senyum Lusi yang memang tidak mudah dienyahkan dari pikiran. Pesonanya masih saja meruntuhkan jiwa-raga. Bahkan seumpama hati ini dikelilingi tembok sekokoh Benteng Bastille, maka akan lebur pula berkeping-keping.


Mata Lusi yang setajam elang itu mampu merobek-robek hatiku. Sikapnya yang anggun dan cerdas tak bisa dibandingkan gadis manapun.


Apalagi Dahlia.


Bayangkan!


Padahal, kurang apa baiknya Dahlia padaku? Ibarat kata kalau Dahlia kusuruh loncat ke dalam sumur pun dia pasti menuruti kemauanku. Sayangnya sampai saat ini masih bertanya-tanya tentang apa motif Dahlia sebenarnya? Benarkah dia menyukai tipe pria tidak populer sepertiku?


Aku tidak yakin.


Jiwa detektifku berontak. Dengan bersemangat layaknya Sherlock Holmes, mulai kurunut kembali awal kami berjumpa di Kantor Pusat Bahasa beberapa waktu lalu. Tak ada secuilpun firasat kalau aku akan sedekat ini dengan Dahlia.


Atau mungkin, Dahlia sadar bahwa jarang pria yang tertarik padanya sehingga dia menjadikanku sebagai pelabuhan terakhir? Daripada tidak ada yang mau dengan dia?


Kalau itu benar, malangnya nasibku Gusti....


Pendek kata, Larasati adalah role model yang sempurna untuk tipikal ibu rumah tangga.


Aku pilih yang mana?


Jalani dulu ketiga-tiganya, lepas satu-persatu. Memang akan menyakitkan, tetapi apalah daya aku hanya seorang pria lugu yang terlalu naif untuk menuntut perfeksionisme dalam urusan jodoh.


***


“Lumayan dibandingkan yang kemarin! Tapi masih banyak salah dan harus diperbaiki. Pekerjaan seperti ini masih belum layak dapat nilai B!”


Pak Anto Darsono mengamati tugas gambarku dengan saksama. Sedangkan aku duduk dengan tegang seperti pesakitan. Tangan ini mendadak beku. Kantung kemih mendesak-desa minta dikosongkan. Wajah ini menunduk, dan mental sudah drop duluan sampai ribuan feet di dasar samudra.


Kemudian dengan sadis dicoret-coretnya kertas gambar itu, tanpa peduli betapa penuh perjuangan aku mengerjakan tugas itu.


“Kamu pasti sering lembur mengerjakan ini. Benar?” tebak Pak Anto Darsono.


Aku mengangguk.


“Aku cukup menghargai tugasmu kali ini. Sedangkan tugas-tugas yang kemarin sungguh tak layak disebut tugas. Acak-acakan dan mencerminkan kemalasan mahasiswa,” khutbahnya.

__ADS_1


Aku terpekur. Sedikit ngantuk mendengar ocehannya yang lebih membosankan daripada Mario Teguh.


“Asalmu mana sih?” selidiknya.


“Jombang, Pak.” jawabku takut-takut.


“Pantes. Ndeso soalnya!” ejeknya dengan senyum sinis menyakitkan.


Boleh tidak asbak ini kulempar di botakmu, Pak? Batinku.


Interview yang lumayan menyakitkan itu membuat kebencianku pada Pak Anto Darsono kian mendarah-daging. Sebenarnya yang bodoh itu siapa? Apa hubungannya asal kota dengan kemalasan seseorang? Ingin sekali kubantah argumennya dengan memberi contoh beberapa tokoh ndeso yang mendunia.


Silahkan buka biografi JK Rowling, Gregor Mendel, Oprah Winfrey, atau Presiden Soekarno sekalipun! Kurang ndeso apa mereka?


Tahu apa monster botak itu tentang ndeso?


Seperti biasa, es kacang ijo seharga goceng akan mendinginkan siangku yang terasa berat. Darwis mengajakku ke perpustakaan pusat, tetapi kutolak. Notifikasi-notifikasi pesan dari Dahlia kuabaikan. Hanya ingin sendiri untuk lebih fokus ke masa depan. Tak dapat dipungkir, urusan gadis-gadis ini sedikit menguras konsentrasi, sehingga tugas gambar keteteran.


Setidaknya dibutuhkan waktu selama tiga hari untuk memperbaiki tugas gambar itu, dengan lembur di laboratorium gambar. Bahkan sempat semalam aku terpaksa menginap di sana. Tak peduli aku semalaman dipeluk gadis bermuka keriput!


Aku tidak peduli!


Harga diriku baru saja diinjak-injak dan tak bisa kudiamkan saja. Tetapi karena aku tak bisa menyelesaikan sendiri, terpaksa aku meratap pada Darwis agar menolongku.


“Nilai gambarku juga nggak bagus, Bi! Kamu salah orang,” kilahnya.


“Lalu aku minta tolong siapa ya, Dar?” rengekku.


“Ada sih aku kenalan, tapi nggak gratis.”


“Maksudmu, berbayar?”


“Iya. Kamu mau?”


Dahulu, aku bersikap sangat idealis. Tak terlalu suka dengan hal-hal curang seperti ini. Tetapi nasibku kini bagai telur di ujung tanduk. Harga diri dipertaruhkan. Mau tak mau kusetujui usulan dari Darwis. Dengan menimbang berbagai hal, resmi sudah tugas gambarku dikerjakan orang lain dengan imbalan sejumlah uang.


Sebenarnya masalah finansial, adalah masalahku yang paling kompleks. Hal-hal yang di luar dugaan seperti ini bisa menyebabkan krisis moneter berkepanjangan di dompetku.


Ah, tapi kan ada Dahlia?


***

__ADS_1


__ADS_2