DUNIA ABIMANYU

DUNIA ABIMANYU
Chapter LXXV : Etos Kerja


__ADS_3

Perseteruan antara aku dan Pak Imron semakin meruncing, bagai sengketa Pandawa-Kurawa yang tak kunjung berakhir. Padahal selama ini aku cukup menahan diri agar emosi tidak terpancing. Kian hari, dia mengobarkan api permusuhan, seolah sengaja membuatku tak betah berada di lingkungan kerja.


Tak masalah.


Toh aku tidak lama juga berada di perusahaan ini. Walaupun Bu Roffi sudah menjanjikan posisi yang prestisius di sini, aku tetap akan menimbang dengan saksama. Mengingat aku masih muda, pasti perlu banyak pengalaman di lain tempat. Aku ingin mengepakkan sayap, mengarungi dunia yang luas ini.


Dalam imajinasiku, aku ingin pula merasakan bekerja di perusahaan-perusahaan raksasa, dengan sistem yang lebih rapi dan terstruktur. Dengan lingkungan kerja yang kondusif dan rekan kerja yang menyenangkan. Tentunya, dengan gaji yang besar agar aku dapat mewujudkan semua impian yang selama ini kukubur dalam-dalam.


Di luar sana mungkin ada beberapa orang menjunjung tinggi idealisme, bekerja bukan untuk gaji. Tentu saja aku dapat memaklumi alasan di baliknya. Untuk sekarang, aku tak mau munafik. Memang uang bukan segalanya di dunia, tetapi siapa yang memungkiri bahwa segalanya butuh uang?


Seperti biasa, aku datang lebih awal pagi ini. Belum ada pegawai yang menampakkan diri di kantor, hanya Tia tampak sibuk menyapu lantai. Beberapa sobekan kertas, bekas isi staples, bungkus permen terserak di sana-sini. Entah mengapa kalimat ‘Jagalah Kebersihan’ yang tertempel di dinding hanya menjadi slogan semata, tanpa implementasi yang real dalam hidup. Padahal semenjak duduk di bangku SD, guru-guru yang mulia telah mengajarkan bahwa membuang sampah harus di tempat sampah. Sekarang, usia sudah dewasa seolah kelakuan mereka mundur ke zaman pra sejarah.


Aku melihat mejaku sudah rapi, dengan alat-alat tulis sudah tertata di tempatnya, meja yang bebas debu, dan berkas-berkas yang ditumpuk rapi. Padahal sore kemarin tidak serapi ini. Tentu saja Tia yang sudah bersusah payah melakukan ini. Bukan hanya mejaku, tetapi meja Pak Imron juga.


Betapa Tia menunjukkan profesionalitas yang brilian, jauh melebihi Pak Imron atau bahkan Bu Roffi sekali pun. Ia tak membawa-bawa urusan pribadi dalam pekerjaan, padahal kalau dia mau dendam bisa saja ia membiarkan meja bujang lapuk itu dalam keadaan berserak.


“Mau dibantuin nyapu kah Tia?” tawarku.


“Eh, nggak usah Pak. Sudah biasa seperti ini tiap hari,” jawabnya malu-malu.


Gadis belia itu begitu cekatan, menyerok sampah-sampah kecil kemudian membuang dalam tempat sampah.


“Sudah lama kerja di sini, Tia?” tanyaku.


“Belum terlalu lama, Pak. Baru lima tahun.”


“Lima tahun? Itu lama Tia. Kalau anak SD sudah mau lulus aja tahun depannya. Lumayan juga ya? Nggak pengen kerja lain apa gitu?”


“Sepertinya kok susah ya, Pak. Saya pendidikan hanya SMA, ndak punya ketrampilan. Mau jadi apa? Bapak tahu sendiri, zaman sekarang nyari kerjaan susah. Harus punya orang dalam biar dapat ketrima kerja,” terang Tia.

__ADS_1


“Nggak juga kok, Tia. Tapi kamu benar, untuk bersaing di dunia kerja kita harus punya keahlian. Yang lebih penting itu etos kerja yang baik, sehingga kamu akan selalu dilirik pencari tenaga kerja?”


“Etos kerja itu makanan opo to, Pak?”


“Maksudku gini loh Tia, etos kerja itu sikap. Jadi kalau kamu disiplin, rajin, terus tertib, loyal, nggak gampang melanggar aturan, itu artinya kamu punya etos kerja yang baik. Nah, kulihat kamu sudah punya itu, jadi tinggal mengembangkannya saja,” terangku.


“Oh, iya Pak paham!”


“Kamu hobinya apa Tia?”


“Saya suka masak Pak. Orang bilang sih masakan saya enak, padahal menurut saya biasa saja.”


“Wah, bagus itu. Hobi kalau dikembangkan bisa jadi duit lho. Kamu tahu nggak, ada banyak orang di luar sana yang sukses karena menekuni hobinya. Kalau ada modal, kamu bisa juga buka warung makan atau katering. Kan keren, mengembangkan hobi sekaligus dapat duit.”


“Modalnya belum ada, Pak.” Tia tersenyum.


Mengobrol dengan Tia, melarutkanku dalam waktu yang terus bergulir. Para pegawai mulai berdatangan satu-persatu. Sedangkan Tia rupanya juga masih betah berlama-lama berbincang denganku. Banyak yang kami obrolkan, mulai dari hal yang remeh-temeh sampai yang berat-berat seperti falsafah hidup dan sebagainya. Sayangnya, Tia masih belum sanggup untuk manggapainya.


Firasatku mengatakan seperti itu.


Benar saja. Dengan wajah segarang singa, Bu Roffi tiba-tiba mendekati kami yang asyik mengobrol. Tak kulihat senyum yang biasanya mengembang.


“Tia! Ngapain kamu di sini? Udah selesai pekerjaanmu! Kok ruangan saya masih kotor!” tegur Bu Roffi.


“Eh, maaf Bu Roffi. Tadi saya sudah sapu ruangan Ibu,” jawab Tia takut-takut.


“Apanya sudah disapu? Masih banyak debu. Kamu tahu kalau alergi debu. Pagi ini sudah bikin bersin-bersin! Kamu sapu lagi sana. Nggak usah ngobrol di sini!”


“Baik Bu!”

__ADS_1


Tanpa menunggu komando dua kali, Tia segera melangkah ke kantor Bu Roffi. Aku hanya diam, merasa bersalah karena mengajak Tia mengobrol. Menurutku, Bu Roffi agak berlebihan dalam menegur. Aku hanya mencoba maklum, mungkin suasana hatinya lagi tidak enak.


“Kalau Tia ngajak ngobrol, nggak usah dilayani!” kata Bu Roffi kepadaku dengan nada sedikit ketus.


“Maaf, Bu. Bukan Tia yang ngajak ngobrol. Saya yang salah, tadi saya yang ngajakin dia ngobrol,” ucapku.


“Memang dia itu seperti itu, Bi. Kalau ada pegawai baru yang bening suka diajaknya ngobrol. Hati-hati!”


Pegawai baru yang bening? Aku kah itu?


Aku mencium aroma kecemburuan dari kalimat Bu Roffi. Yang benar saja, di lihat dari segi mana pun, jelas Bu Roffi memnpunyai segala-galanya dibanding Tia. Alasan kecemburuannya sungguh tidak beralasan.


Mungkin hanya satu yang patut dicemburui dari Tia.


Etos kerja.


“Bagaimana kerjaan kemarin? Beres?” tanya Bu Roffi.


Kemarin Bu Roffi memang tidak masuk, dengan alasan yang tidak kuketahui dengan jelas. Mungkin ada urusan yang diselesaikannya, sebab aku tidak melihat tanda-tanda dia sedang sakit. Parasnya juga terlihat tak bersemangat, cenderung emosi.


Sepanjang hari, dia lebih banyak mengurung diri di ruangan. Kalau sudah begini, lebih baik aku tidak mengganggu. Tak baik membangunkan singa yang sedang tidur.


Ketika aku meminta tanda tangan di ruangan, ia juga lebih banyak melamun. Jangan-jangan apa yang dikatakan Tia kemarin benar. Dia sedang ada masalah dengan mantan suaminya.


Waktunya pulang kantor, kulihat dia juga masih berada di ruangannya. Padahal biasanya paling semangat kalau jam pulang, kecuali kalau memang lembur. Hal ini menimbulkan pertanyaan. Seberat apakah masalah yang dihadapi Bu Roffi?


Karena kantor sudah sepi, maka kuputuskan untuk mengetuk pintu ruangannya. Tiga kali ketukan tidak menjawab jawaban, sehingga rasa ingin tahu kian memuncak. Perlahan kubuka pintu ruangan yang tak dikunci.


“Bu Roffi?”

__ADS_1


Alangkah terkejutnya ketika aku melihat Bu Roffi terbaring di lantai tak berdaya!


***


__ADS_2