
Senja semburat di angkasa, membentuk rona-rona merah berserakan. Azan magrib masih kurang sepuluh menit lagi. Dengan bersemangat kukerjakan tugas-tugas terjemahan yang mulai menumpuk, sebelum mandi sore. Terdengar suara Andre yang sedang menggelar konser tunggal dalam kamar mandi. Itu artinya aku harus mengantre lebih lama.
Salah satu masalah krusial di dunia anak kost adalah masalah kamar mandi. Tak ada peraturan tertulis atau jadwal tertentu mengenai penggunaan kamar mandi. Demikian pula untuk jadwal menguras kamar mandi. Tak heran, kamar mandi kost-kostan selalu terlihat mengerikan, dengan sisa-sisa bungkus sabun bertebaran, sachet sampo yang kosong, bahkan puntung rokok. Kalau beruntung, kalian akan menemukan pula celana dalam usang bergelantungan di mana-mana!
Itu masih tampilan luarnya. Kita belum membahas masalah aroma. Untuk urusan yang satu ini sebenarnya semua orang juga maklum kalau kamar mandi biasanya mengeluarkan aroma yang tidak harum. Tempat ini adalah pusat pembuangan segala kotoran yang ada di tubuh manusia. Tak heran jika kamar mandi identik dengan aroma pesing tujuh keliling, berpadu dengan aroma sabun batangan murahan dan air got yang mampet. Sungguh perpaduan aroma terapi yang tiada duanya!
Tetapi, itu bukan di kamar mandi kontrakan kami. Jadwal tertulis sudah tertempel di dinding, bahwa untuk pengurasan kamar mandi dilaksanakan sepekan sekali. Andre adalah contoh spesies manusia yang agak rewel mengenai kebersihan. Prinsipnya mengenai kebersihan agak perfeksionis. Melihat sampah bertaburan, dia yang pertama kali cerewet melebihi emak-emak. Dalam hal ini, musuh bebuyutannya adalah Doni.
Doni adalah spesies Homo sapiens yang berbeda. Berbanding terbalik dengan Andre, Doni sedikit lebih jorok. Kalau masuk kamarnya, jangan berharap ada aroma lavender atau rose. Yang ada aroma buluk, keringat yang telah mengering, baju-baju kotor bahkan aroma makanan basi semuanya bercampur-aduk menjadi satu. Sebelas duabelas dengan aroma semua kamar mahasiswa laki-laki di bumi Indonesia.
Kecuali aku.
Tak lama, azan magrib berkumandang memenuhi pelosok-pelosok langit. Panggilan Illahi itu mengisyaratkan agar kita bersegera ke masjid. Semburat merah memudar, tergantikan dengan langit yang berubah pekat. Kelelawar mulai beterbangan kesana-kemari di sekitar kontrakan. Tetapi, Andre masih belum keluar dari kamar mandi.
Siapa pun yang antre mandi setelah Andre, pasti akan merasakan derita yang sama denganku. Andre menghabiskan waktu rata-rata 45 menit. Apabila dihitung menggunakan ilmu fisika akan seperti ini. Jika dalam jangka waktu 50 menit Andre berhasil mengambil air sebanyak 25 tarikan gayung, maka rata-rata waktu yang dibutuhkan untuk mengambil segayung air adalah dua menit per gayung.
Busyet!
Jadi selama ini Andre mandi dengan gaya slow-motion?
Tapi sisi baiknya, kamar mandi yang habis dipakai Andre selalu beraroma wangi. Tak heran, peralatan mandinya bagaikan salon berjalan. Aku pernah mengintip tas mandinya. Ada sabun cair dua macam, pasta gigi, dua macam sikat gigi berbeda bulu, sampo, pelembab muka, spon mandi, masker charcoal, masker bengkoang, mouthwash, conditioner, obat jerawat dan sabun lulur. Memang luar biasa temanku satu ini.
Tok-tok-tok!
“Woee! Gantian mandinya ....” teriakku.
“Ntar, Bi! Dikit lagi. Nanggung ....” jawab Andri dari dalam kamar mandi.
“Ngapain kamu?”
“Ini nih. Tinggal sepotong lagi ....”
Tinggal sepotong lagi? Apa maksudnya? Dia makan kue dalam kamar mandi?
Setelah keluar, kulihat senyum Andre yang begitu lega penuh kemenangan. Aroma wangi langsung menggelitik hidungku. Namun tak lupa dia mengeluh kepadaku.
“Kamu ini, gangguin orang lagi fokus ....” kata Andre.
“Kamu sih mandi lama banget. Ketinggalan jamaah di masjid jadinya ....” protesku.
“Lah! Habis gimana? Emang hal seperti itu bisa di-reschedule?”
Aku terdiam.
__ADS_1
Dengan memasang tampang muka kesal, aku masuk ke kamar mandi dan memulai ritual sebelum mandi. Karena hari sudah mulai malam, aku percepat kegiatan mandi ini. Tak perlu 50 menit, cukup lima menit!
***
Gerimis masih mewarnai bulan Februari. Bagi sebagian orang, bulan Februari identik dengan bulan kasih sayang. Bagiku sendiri, bulan Februari tak berarti apa-apa. Sama dengan bulan-bulan lainnya. Beberapa teman mulai berburu coklat atau mawar untuk diberikan pada kekasih hatinya. Tetapi aku sendiri lebih menikmati kejombloan yang tiada kunjung usai.
Gaung Valentine’s Day ini ternyata juga mulai singgah di kontrakanku. Andre sibuk dengan beberapa batang coklat dan aksesori berwarna pink.
“Kamu ngerayain Valentine dengan siapa, Bi?” tanya Andre.
Aku malas menjawab pertanyaan ini. Sebab, bila aku salah menjawab, maka akan berakhir dengan pem-bully-an. Apalagi kalau ada Doni di sekitar sini. Tentu dia akan bertindak lebih sadis lagi.
“Aku banyak kerjaan, Ndre ....” jawabku diplomatis.
“Kerjaan nggak ada habisnya, Bi. Sekali-kali refreshing dulu,” kata Andre sambil mengikat coklat-coklat batangan dengan pita-pita berwarna pink.
Aku terdiam.
“Banyak banget, Ndre. Mau diberikan kepada siapa?” tanyaku kemudian.
“Hmm. Ada deeeehhh ....”
Ok, Fine. Aku tak ingin mengintrogasi lebih jauh. Biarlah Andre menikmati dunianya sendiri.
“Kesambet apa, Don?” tanyaku.
“Aku dapat undangan candle-light dinner ....” jawab Doni bersemangat.
“O ya? Dari siapa?”
“Monik, Bro! Monik ....”
“Tumben?” aku mengulum senyum.
“Sembarangan tumben-tumben. Kita loh sering jalan bareng. Kamu aja yang nggak tau!”
“Iya aku percaya kok. Ngomong-ngomong kalian mau ber-candlelight dinner di mana?”
“Itu ... di warungnya Bu Marni,” Doni menjawab malu-malu.
Busyet! Aku mengira di resto mana. Eh, tak taunya ....
Baiklah.
__ADS_1
Bagaimanapun, aku senang melihat kawan-kawanku berbahagia dengan pasangannya masing-masing. Tinggal Farhan yang belum jelas jadwalnya. Tapi kutebak, dia tak suka acara-acara begini. Pasti dia langsung ceramah bahwa Valentine ini tak sesuai dengan budaya Indonesia dan sebagainya dan sebagainya.
“Ada jadwal tausiyah ....” ujar Farhan yang baru keluar dari kamarnya. Ia terlihat berwibawa dengan gamis berwarna putih tulang dan sorban dengan warna senada.
“Di mana?”
“Di RT 40, yang berada agak jauh ke belakang kontrakkan kita,”jawab Farhan.
“Ibu-ibu?”
“Iya, Majelis Ta’lim gitu ...."
“Wah, dapat duit dong!”
Tiba-tiba wajah Farhan berwajah sendu. Ia menggeleng.
“Firasatku mengatakan nasi kotak ....”
“Udah ikhlaass...ikhlaas!” aku mengingatkan. Tak kuasa aku menahan senyum.
Baiklah.
Di Malam Valentine yang jahanam ini, semua temanku sudah punya kegiatan masing-masing. Aku berharap, ada seseorang yang mau menculik dari kontrakan ini untuk menikmati malam. Kesepian mulai menjangkiti perasaanku. Berharap Lusi menelepon, mungkin suatu kejaiban. Andaipun Dahlia pun kurasa juga tak apa.
Tumben Dahlia tidak menelepon.
Harapanku musnah!
Fix, aku adalah jomblo paling menyedihkan di abad ini!
Ponsel bergetar tiba-tiba. Berharap sekali dari seseorang perempuan yang kukenal. Aku tidak mau membusuk dalam kamar kontrakan ini sendirian. Lagu-lagu cinta tahun 90-an sama sekali tak menarik hati lagi.
Aku hanya ingin perempuan, titik!
Allah mengabulkan doaku. Seorang perempuan meneleponku dengan antusias.
“Ini Emak, Bi!”
Sukurlah, emak tidak merayakan Valentine.
Mak, malam ini temani aku cerita ya? Putramu ini terbaring ngenes di kamar kontrakan ....
***
__ADS_1