DUNIA ABIMANYU

DUNIA ABIMANYU
Chapter VI : Gadis Bermuka Keriput


__ADS_3

Tiiit ... Tiiit ... Tiiit ... Tiit!


Alarm ponsel meraung-raung membangunkan dari lelap tidurku. Aku menggeliat dengan malas. Padahal tengah menjelajahi alam mimpi bersama Lusi.


Yah, Lusi memang spesial di hatiku. Dari puluhan gadis yang kutemui sebelumya, masih belum ada yang mengalahkan pesona Lusi. Baik dari fisik maupun kepribadiannya. Semisal dia makanan, maka Lusi adalah paket lengkap!


Sialan nih alarm!


Kumatikan dengan cepat alarm itu. Dengan mata setengah terpejam, aku melirik ke arah jam beker di atas meja belajar. Pukul 04.00. Cepat sekali menjelang Subuh. Padahal perasaan baru saja memejamkan mata.


Baiklah.


Itu artinya harus segera mengambil air wudhu dan mengerjakan ibadah sholat subuh. Azan Subuh juga sudah terdengar membahana. Tetapi setelah sholat subuh mau tidur lagi. Mumpung libur. Siapa tahu bisa bertemu Lusi di alam mimpi.


Dalam mimpiku yang kelabu, aku melihat bayangan remang-remang seorang gadis yang tidak begitu jelas mukanya. Ia sedang duduk sendirian di perpustakaan, membaca sebuah buku tebal. Tapi sungguh wajahnya tak bisa kulihat dengan jelas. Rasa penasaran makin menggelitik. Aku mendekatinya.


Perpustakaan tampak sangat sepi. Aku duduk di depan gadis itu, berharap agar dapat melihat wajahnya dengan lebih jelas. Gadis itu mengangkat mukanya pelan-pelan. Kini aku bisa melihat wajahnya dengan jelas.


Bukan Lusi!


Wajah gadis itu berubah menjadi seraut wajah keriput yang menyeramkan. Seketika dia menyeringai, menunjukkan deretan giginya yang tajam!


Astaghfirullah!


“Woee ... bangun woee..!!” terdengar pintu kamarku diketuk dengan keras.


Bayangan gadis menyeramkan itu menghilang. Aku terhenyak. Keringat mengucur dingin dari kening. Kulihat kipas angin butut masih berputar. Ah, rupanya bermimpi buruk.


“Bangun Biii! Cepet!” suara Doni yang lantang terdengar kembali.


“Apaan sih, Don! Ngantuk! Mau tidur!” jawabku sambil membenamkan tubuh dalam sarung legendarisku.


Sarung ini adalah hadiah dari kakek pas sunat. Bayangkan, sudah berapa tahun! Walaupun sudah bulukan dan bau, aku tetap menyayangi sarung ini. Aromanya yang khas, menjadi aromaterapi sebelum tidur. Mengobati kerinduanku pada kampung halaman.


“Ada yang nyari tuh!”


Siapa pula mencariku pagi-pagi? Tidak ada kerjaan lain?


“Siapa, Don?”


“Pak RT”


Ngapain Pak RT nyari pagi-pagi? Perasaan kemarin aku sudah setor KTP?


Oh, baru aku ingat.


Hari ini ada undangan kerja bakti di sekitar lingkungan kontrakan. Maklum, kalau hujan sedikit saja selokan langsung meluber karena sampah yang menumpuk. Sumpah, paling malas dengan yang namanya kerja bakti. Alasannya adalah aku merasa canggung bila berkumpul dengan bapak-bapak. Andai kerja bakti bisa ditebus dengan uang, aku mau menebusnya.


“Bilang saja aku lagi nggak enak badan, Don!” jawabku.


“Nanti nggak enak badan betulan baru tau rasa lo!”

__ADS_1


Bawel banget sih si Doni? Mirip emak-emak! Emosi aku dibuatnya.


“Aku cape banget Don. Tadi malam aku nggak bisa tidur,” kataku lagi.


“Pasti gara-gara kamu kebanyakan dugem sama Andre tadi malam. Iya kan? Jangan-jangan kamu ikutan mabuk...”


Ngoceh terus nih anak! Sarapan pisang apa ya?


Mau tak mau, aku bangkit dari tempat tidur. Aku langsung membuka pintu kamar dengan malas. Rambut masih acak-acakan dan tentunya masih mengkilap karena bekas pomade tadi malam. Aku menguap beberapa kali.


“Bantu akulah, Don. Beneran aku ngantuk banget,” ujarku memelas.


Doni menatapku kasihan, tetapi raut mukanya itu sungguh menjengkelkan. Ia tersenyum seolah mengejek.


“Gimana acaramu semalam? Dapat ceweknya?” tanya Doni.


“Udah ah! Aku nggak mau bahas!”


“Kenapa? Dapat cewek jadi-jadian ya? Hahaha!” Doni tertawa keras-keras.


“Aku ngantuk eh...” jawabku dengan malas.


“Rugi kamu nggak ikut kerjabakti!”


“Kenapa emangnya?”


“Ada Monik. Nanti kukenalkan sama dia. Dia sudah bales pesanku tadi malam.”


“Ya udah sana! Ntar ajalah kalau ketemu Monik lagi.”


“Nggak!”


Aku langsung tutup pintu kamar tepat di muka Doni. Tidak peduli apa yang dipikirkannya. Tetapi sialnya, setelah Doni pergi malah tidak bisa tidur. Kepala pusing tapi tidak mengantuk. Masih teringat mimpi buruk yang terjadi barusan. Wajah gadis berwajah keriput itu membuat agak takut.


Sebenarnya bukan tipe penakut. Hanya saja, kadang Farhan suka bercerita tentang dunia ghaib yang membuatku agak merinding. Dia bilang, kontrakan yang kami tempati dulunya bekas rawa-rawa tempat pembuangan mayat.


Katanya lagi, di tahun 70-an, banyak anggota PKI yang disembelih hidup-hidup di sekitar sini. Duh, aku bergidik. Akibatnya aku kadang mimpi buruk mengenai hal ini.


“Jangan lupa berdoa sebelum tidur! Biar nggak diganggu!” pesan Farhan saat kami duduk-duduk di depan TV.


“Sudah kok. Tapi masih mimpi!”


“Kurang khusyuk doanya!”


“Gimana mau khusyuk, berdoanya sambil bayangin wajah Lusi!” timpal Doni. Ia lagi asyik makan bakso sambil menonton TV.


Nyambung aja tuh bocah!


“Kamu tahu kamar yang kamu tempati?”


“Kenapa?”

__ADS_1


“Dulu ada yang menempati kamar itu, tetapi baru seminggu langsung minta pindah. Katanya ada seorang gadis berwajah keriput yang sering menampakkan diri di situ.”


Anjiir!


“Udah ah Han! Nggak usah nakutin kamu!”


“Eh, aku ngomong beneran ini! Kalau nggak percaya tanya saja sama Pak Badri yang punya kontrakan. ”


“Mau kutemani tidurkah?” kembali Doni menyahut. Aku tahu dia cuma mengejek.


“Ogah. Orang kamu ngileran!”


Cerita Farhan membuatku auto merinding. Inginnya tidak usah percaya dengan cerita itu. Tetapi Farhan sudah tinggal paling lama di kontrakan ini. Tentunya dia paling tahu dengan seluk beluk rumah ini.


***


Acara kerja bakti pagi itu lumayan ramai. Semua mahasiswa yang tinggal di sekitar lingkungan turun gunung bahu-membahu membersihkan selokan yang mampet. Dari balik korden ruang tamu, aku mengintip saja dari dalam. Kupikir, kok jahat ya?


Aku melihat Doni bersemangat berkotor-kotor buat nyemplung ke dalam selokan yang bau.


Dalam hati, salut padanya. Walaupun dia berasal dari keluarga cukup berada, tetapi dia tanpa gengsi berkotor-kotor.


Farhan juga begitu. Dia tampak begitu rajin membantu warga sekitar. Hanya Andre yang tidak kelihatan. Mungkin dia ada acara di luar.


Seperti biasa.


Tiba-tiba pandanganku tertuju pada seorang gadis manis yang membawa nampan berisi teh dan kue-kue. Kulihat pula Doni mencuri-curi pandang padanya.


Inikah yang namanya Monik alias Monika? Lumayanlah!


Tumben Doni seleranya benar. Dari sekian foto gadis yang pernah ditunjukkan padaku, kurasa tak ada yang memenuhi standar. Walaupun anak kampung, aku agak rewel untuk urusan perempuan. Itulah salah satu alasan mengapa masih jomblo saat ini. Doni bilang seleraku terlalu tinggi. Menurutku, tidak apa-apa juga kan mempunyai selera tinggi? Siapa tahu dikabulkan oleh Allah?


Zaman sekarang, asal kita banyak uang pasti kita bisa dengan mudah mendapatkan gadis yang kita inginkan. Itu pendapatku pribadi sih. Jangan dijadikan pegangan. Emak pernah berpesan, yang penting cari jodoh itu adalah kepribadiannya. Dan dia harus sayang sama keluarga. Tidak peduli dia bisa masak atau tidak. Emak juga bilang, lebih baik dicintai daripada mencintai, karena sangat jarang di dunia ini jodoh yang ketemu saling mencintai. Hanya ada di sinetron Indonesia yang begitu.


Emak sih terlalu banyak nonton sinetron!


Tiba-tiba aku mendengar suara ribut di dapur, seperti ada alat masak jatuh.


Deg!


Aku merinding. Bukankah kontrakan lagi tidak ada orang kecuali aku? Dengan langkah sok berani aku mendekat ke arah dapur. Mirip dengan film horror yang pernah kutonton, melangkah pelan sambil membawa sapu lantai. Tidak peduli siapa yang muncul, aku akan pukul dengan sapu! Semoga bukan gadis bermuka keriput!


Krompyaaang!!


Aku terkejut bukan kepalang. Jantungku serasa berhenti berdetak. Tak lama, dari arah pintu dapur muncul sesosok makhluk berbulu hitam. Matanya nanar menatap tajam ke arahku. Makhluk itu menyeringai menampakkan taringnya. Kami saling bertatapan untuk beberapa lama.


Kena kau kucing!


Aku melempar sapuku ke arah kucing hitam itu. Sayangnya meleset mengenai rak piring. Si kucing kaget bukan kepalang dan langsung kabur keluar.


Dasar kucing bermuka keriput!

__ADS_1


Eh ... salah ya!


***


__ADS_2