DUNIA ABIMANYU

DUNIA ABIMANYU
Chapter XXIX : Food Hunting


__ADS_3

Mobil Honda Civic merah melaju, membelah arteri Surabaya yang sibuk malam itu. Cuaca cerah, dengan banyak bintang bertabur di langit kelam. Hati kami juga sedang cerah. Kami menjadi bagian dari komunitas malam yang bertebaran mencari sekeping kenikmatan dunia. Sepanjang perjalanan, Dahlia bernyanyi-nyanyi kecil mengikuti lagu yang diputar dari radio mobilnya. Sayangnya, aku tak bisa menikmati suaranya. Andai dia mengikuti ajang pencarian bakat di televisi tentu akan disuruh pulang sebelum sempat bernyanyi!


Aku dan Darwis tak berani menegur. Bagimanapun, dia adalah ratu dalam mobilnya sendiri. Dahlia bebas melakukan apa saja di sini. Andaipun berniat goyang kayang dalam mobil ini, kami tak akan menegur. Toh ini wilayah kekuasaannya. Kalau di sabana Afrika, biasanya singa akan menandai wilayah dengan air kencing. Tetapi kalau dalam mobil ini, Dahlia tak perlu melakukan itu.


Hanya satu keinginan kami saat itu. Segera sampai.


Itu saja.


Setelah bergulat dalam kemacetan yang mengular, kami sampai di tempat makan ‘Rawon Setan’ yang sudah termasyhur ke seantero Surabaya. Lokasinya cukup strategis di kawasan Embong Malang yang mudah dijangkau oleh pengunjung. Banyak mobil-mobil mewah terparkir di tempat parkir. Rupanya tempat makan ini diminati kalangan upper-class juga. Sayangnya ketika kami tiba, tempat ini sudah dijejali banyak customer. Tak ada kursi tersisa. Padahal ada beberapa pelanggan lain yang sudah masuk waiting list.


“Penuh, Mas ....” seorang pelayan perempuan memberi tahu kami. Dia tampak hilir-mudik melayani pesanan para pelanggan yang tiada kunjung usai.


“Nunggu lama ya, Mbak?” tanyaku.


“Tuh lihat antriannya, Mas!” jawabnya lagi.


Kubuang pandanganku ke arah barisan orang yang sudah gelisah menunggu giliran makan. Luar biasa! Mereka rela mengantre demi menikmati cita-rasa rawon ini. Kebanyakan mereka membawa keluarga, walaupun ada pula yang berpasang-pasangan.


Dahlia terlihat kecewa. Pas perjalanan tadi kami sudah membayangkan hangatnya kuah rawon yang berpadu dengan sedapnya daging sapi memasuki kerongkongan kami. Sementara, cacing-cacing di lambung kami sudah menjerit karena kelaparan.


“Gimana nih? Mau nunggu nggak?” tawarku.


“Keburu mati kelaparan kalau kita nunggu sepi ....” timpal Darwis.


“Terus mau makan di mana? Masa mau pulang lagi?” keluhku.


“Ada rekomendasi warung enak nggak, Dahlia,” tanya Darwis.


“Banyak sih. Tapi aku khawatir kantong kalian nggak akan sanggup menjangkaunya,” remehnya.


Kali ini aku tidak protes. Dahlia benar. Budget yang kuanggarakan untuk perayaan ini memang tidak banyak. Jadi lebih aku diam saja mendengar sabda Dahlia.


“Atau kita keliling-keliling aja dulu sambil nyari-nyari ....” aku memberi solusi.


Duh, jangan sampai si Darwis ini minta makan di tempat yang aneh-aneh. Harga makanan di Surabaya memang relatif murah, tetapi itu berlaku untuk warung-warung kaki lima. Sedangkan untuk kelas resto dan rumah makan, harga makanan cukup mencekik leher. Tak heran, hanya kaum berkantung tebal yang bisa bergelak-tawa dalam resto-resto mahal tersebut.


Apalah arti kaum dhuafa seperti diriku?


Rupanya usulku segera disetujui. Kami kembali menjelajah seluruh penjuru Surabaya untuk memuaskan hasrat kuliner kami. Beda kepala, tentu beda pula isinya. Semua mempunyai selera yang berbeda dalam hal makanan.

__ADS_1


“Kalian sebenernya pengen makan apa sih?” tanyaku.


“Aku mau yang berkuah-kuah. Makanya tadi aku senang kita akan makan rawon. Kayaknya enak dimakan malam-malam kayak gini. Ternyata penuh ....” Dahlia mendesah kecewa.


“Soto madura kah? Aku punya rekomendasi enak di kawasan Gubeng,” tawar Darwis.


“Nggak! Terlalu banyak lemak. Aku lagi mencoba program diet nih ....” tolak Dahlia.


Aku tidak percaya dengan ucapan Dahlia. Diet? Yang benar saja. Kalau diet saja selera makannya seperti itu, bagaimana kalau kondisi normal?


“Ya udah segera tentuin. Hampir satu jam loh kita muter-muter nggak jelas seperti ini,” aku mulai bosan.


Rasa lapar mulai mencengkeram lambung. Khawatir, mag akan memberontak di saat-saat seperti ini.


“Lah, terus makan apa dong?” tanya Darwis lagi.


“Pokoknya aku nurut kalian saja!” jawabku pasrah.


“Kita cari warung dekat Kampus A UNAIR saja ya? Di sana banyak warung enak, harganya juga pas di kantong,” sabda Dahlia.


“Ya udah ke sana saja!”


Salut Dahlia!


Mobil kami merayap, berbaur di kepadatan Surabaya. Sementara waktu juga terus beranjak menuju malam. Kulirik Seiko-ku. Sudah hampir pukul sembilan malam. Mendadak selera makan musnah. Terlalu banyak angin masuk ke perut, sehingga aku merasa perut sedikit kembung. Rasanya ingin buang angin, tetapi kutahan saja. Khawatir, polusi udara dalam mobil akan membuat mereka kehilangan selera makan. Kulirik Darwis. Cecunguk itu juga kelihatan hampir mati tenggelam dalam rasa bosan.


“Nggak apa-apakah kamu pulang malam, Dahlia?” tanyaku.


“Ya nggak boleh juga sih kalau terlalu malam. Apalagi kalau sering-sering. Tetapi alasan kali ini kan tepat. Mamah nggak akan marah kalau kamu yang ngajak, Bi. Aku udah izin kalau kamu akan traktir aku makan.”


Deg.


Mukaku memerah seketika. Sebegitu istimewanya diriku di mata Mamah Dahlia. Padahal aku merasa hanya orang biasa yang tak mempunyai secuil keistimewaan bila dibandingkan dengan cowok lainnya.


Wajahku juga pas-pasan, tak ada tampang populer seperti Andre. Fisik juga biasa saja, tak berbodi tegap dan atletis. Apalagi urusan kantong, aku mah apa?


“Ehem ....” Darwis berdehem.


Aku tahu apa yang ada di dalam pikirannya!

__ADS_1


Sepuluh menit berlalu, kami tiba di kawasan UNAIR. Kawasan kampus, pasti dipadati dengan komunitas mahasiswa. Tetapi berkunjung ke kawasan UNAIR adalah anugerah bagi mahasiswa teknik seperti kami. Dibanding kampus teknik, mahasiswi di kampus UNAIR jauh lebih cantik dan modis. Kalau di kampus kami, penampilan mahasiswi tak terlalu menarik. Melihat mahasiswi di sini, seolah mendapat asupan vitamin malam itu.


“Eham ....” ganti Dahlia yang berdehem.


Dia paham, pria-pria seperti kami tak ubahnya seperti kucing yang ditawari ikan segar. Pasti akan jelalatan tanpa terkendali.


Setelah mata kami menyisir sepanjang jalan, semua warung dan cafe juga tampak dipenuhi mahasiswa. Mereka membentuk grup-grup, dengan penuh gelak-tawa mewarnai malam. Heran, uang saku mereka berapa sih? Agak minder kadang kalau berkumpul dengan mahasiswa-mahasiswa berkantung tebal. Selain itu, mereka sepertinya tidak ada beban sebagai mahasiswa. Tidak ada tugas menggunung. Tiap malam nongkrong di Cafe. Huh!


Kami putus asa.


“Pulang aja yuk!” Darwis mulai jengkel.


“Yah, nggak jadi dong traktirannya ....” keluh Dahlia.


“Lain hari. Mau?” tawarku lagi.


“Nggak! Harus hari ini. Aku udah rugi tenaga dan waktu,” protes Dahlia.


Kalau Dahlia sudah bersabda, tak seorang pun dari kami berani menyangkal. Karena perdebatan tak ada ujung-pangkalnya, kami terpaksa memarkir mobil di dekat Taman Bungkul. Pada akhirnya, kami tak memaksakan diri untuk makan di Cafe atau di resto. Penjual nasi goreng dengan gerobak dorong akhirnya kami pilih untuk memuaskan hasrat kuliner kami.


Apa bedanya ini dengan makanan harian di kontrakan? Batinku.


Kami makan dengan tuma’ninah, tanpa mengucap sepatah kata pun. Di bawah lampu jalan yang temaram, dengan suasana lesehan dan diiringi suara mendayu-dayu Iis Dahlia, kami menikmati suap demi suap nasi goreng.


Gagal sudah acara perayaan malam ini.


Hikmahnya, aku tidak perlu keluar banyak uang karena harga nasi goreng ini cukup murah. Jadi, ketika Dahlia akan membayar porsi Darwis, dengan sok gentle aku mencegahnya.


“Nggak usah, Dahlia. Biar aku yang bayar semuanya,” tolakku.


“Yakin?” tanya Dahlia.


“Iya. Nggak usah nggak apa-apa ....” yakinku.


“Tau gitu aku tadi nambah!” ujar Dahlia lagi.


“Iya, nambah lagi nggak apa-apa kok!”


Dahlia pun memesan seporsi nasi goreng untuk dieksekusi lagi. Aku hanya mengelus dada. Dalam hati aku berpikir, diet model apa yang sedang dijalani Dahlia?

__ADS_1


***


__ADS_2