
Aku berdiri mematung bagai arca, berusaha mencerna kata-kata ibu penjual bensin itu. Sejenak kemudian, tubuhku terhuyung. Dunia seakan terjungkir-balik runtuh menimpaku. Tulang-tulang seakan dilucuti. Pandangan berkunang-kunang. Dadaku serasa makin terhimpit, sehingga sulit bernapas.
Dahlia, aku butuh napas buatan....
Berita itu sungguh bagai geledek yang menyambar di tengah hari. Asa yang kupupuk sejak berbulan lalu, kini luruh satu-persatu. Bunga-bunga yang bermekaran di taman hati jatuh berguguran seketika. Aku masih terperangkap dalam perasaan nyeri. Masih mengira semua ini hanya mimpi buruk. Terjawab sudah kalimat yang diucapkan Diana tempo hari.
Sebuah mobil sedan silver tiba-tiba berhenti di depan rumah megah berlantai dua itu, menyadarkan dari kegalauan yang menjajah separuh jiwaku. Aku masih mematung, menatap seorang gadis dan remaja laki-laki turun dari mobil. Rasanya, kaki ini seperti terpaku sampai dasar bumi. Tak dapat kugerakkan. Ingin kuambil langkah seribu meninggalkan tempat penuh kesedihan ini.
Sayangnya ....
“Mbak Lus! Ini loh ada temannya nyari! Udah nunggu dari tadi!” tanpa dikomando, ibu penjual bensin itu sudah berteriak lantang.
Sial!
Kemana aku harus menyembunyikan muka? Haruskah kutemui Lusi dengan wajah penuh kehancuran? Tuhan, mohon gantilah wajahku dengan wajah Leonardo di Caprio atau siapa saja! Aku hanya ingin jubah penghilang milik Harry Potter untuk saat ini.
Gadis itu memalingkan muka ke arahku. Sementara remaja laki-laki yang sedang membawa bungkusan besar masuk ke dalam. Ya, aku masih mengenal wajah bergurat tegas itu. Lusi Handayani yang mempesona. Nyaris tak berubah. Wajah cerdasnya masih melekat erat dalam pikiran. Bagaimana mungkin aku menafikannya?
Sesaat dia tampak terkejut melihat keberadaanku. Otomatis, memori-memori yang ter-install dalam otakku terputar kembali, bagai sinema tiga dimensi di depan mata. Terutama ketika memori kala hujan, sepayung berdua dengannya di tengah derai air yang tercurah dari angkasa. Payung Hello Kitty penuh warna itu ....
“Bi?” ucapnya pendek. Mungkin dia juga tidak percaya bahwa yang berdiri mengenaskan ini adalah aku. Seorang pria yang sedang mengemis perhatiannya. Abimanyu Presetyo.
“Ayo masuk, Bi. Maaf aku baru pulang belanja sama Bimo,” ujarnya memecah kebekuan yang terjadi.
Entah aku harus bagaimana. Tak mungkin lagi aku mengelak. Jeritan batin ini kuabaikan. Kususun ulang serpihan-serpihan hati yang berserakan. Menguatkan mental, menegakkan muka di depannya. Dia tidak boleh melihatku rapuh.
Tidak boleh.
“Kamu lagi repot, Lus?” tanyaku ragu-ragu.
Perasaan ini sudah ambyar tak karuan. Melihat sosok Lusi yang berkilau pagi itu, dengan riasan sederhana, membuat suasana pagi lebih ceria. Bahkan, pagi akan meredup tanpa kehadiran Lusi.
Aku mengikutinya masuk ke dalam ruang tamu luas bernuansa hijau tosca. Karpet lebar terbentang, dengan sofa besar berwarna senada. Lukisan besar dari abad pertengahan tergantung di dinding. Sementara di ujung ruangan berdiri dengan sombongnya, jam antik ukiran jati dari Jepara.
Kuhempaskan tubuh tanpa daya ini ke sofa. Tak lama, dua gelas piala berisi orange juice terasa segar membasahi kerongkongan. Habis sudah seluruh kosakata dalam perbendaharaan kataku. Apa yang harus kukatakan?
Lusi tampak sedikit canggung. Kedatanganku pagi ini begitu tiba-tiba dan tak terduga.
__ADS_1
“Gimana kabarmu, Bi? Sehat?” tanya Lusi.
Aku mengangguk pelan.
“Bagaimana kabar ibu? Sudah sehat?” aku balik bertanya.
Terakhir bertemu, Lusi berkisah kalau ibunya sedang sakit, sehingga ia harus kembali pulang ke Malang untuk merawat ibunya.
“Ibu masih sakit, Bi. Belum ada tanda-tanda sembuh. Kudengar dari Diana, ayahmu juga meninggal ya. Maaf ya, Bi. Aku nggak bisa datang ...,” ucap Lusi sendu.
“Nggak apa-apa kok,” aku berusaha menghadirkan seulas senyum, walau batin ini menangis.
Di saat seperti ini, aku ingin mendengarkan tembang Didi Kempot, atau berpura-pura menjadi artis India yang menangis di bawah rinai hujan, sambil berputar-putar memeluk tiang listrik.
Bukankah rasa sakit harus dinikmati?
Kami terdiam sesaat. Tangannya yang lembut mengulurkan selembar kertas berhias ukiran berwarna gold. Ada tokoh wayang Rama dan Shinta tercetak di kertas itu. Perasaanku mendadak tidak enak. Dadaku terasa akan meledak.
“Kalau ada waktu datang ya, Bi” ucap Lusi ragu-ragu.
“Selamat ya, Lus ...,”lirihku, nyaris tak terdengar. Jus jeruk yang terhidang di gelas piala berasa kopi sianida mengalir ke kerongkongan.
Dia tak menjawab. Wajahnya terlihat sendu, seperti menanggung beban berat tak terperikan. Bukankah dia akan menikah? Lalu mengapa wajahnya begitu sedih?
“Maafkan aku ya, Bi ....,” bisiknya parau.
“Maaf? Kan harusnya kamu bahagia, Lus.”
“Ini demi ibuku, Bi. Tidak mungkin aku menolak permintaan beliau yang sedang terbaring sakit ....,” ucapnya.
Tunggu!
Sejujurnya, ucapan Lusi ini memantik sepercik api semangat. Benarkah Lusi terpaksa menikah karena kehendak ibunya?
Mari kita telusuri!
“Ka-kamu ... dijodohin, Lus?” kuberanikan bertanya. Sesungguhnya ini bukan urusanku. Tetapi rasa ingin tahu ini menggelitik hati.
__ADS_1
Dia tidak menjawab. Sorot matanya memancarkan kesedihan. Walaupun dia tidak bercerita sekalipun, aku langsung bisa menerka isi hatinya. Aura kesedihannya telah menceritakan semua. Terbaca semua kegalauan yang bercokol dalam otaknya.
Baiklah, Lusi.
Sekalipun aku tahu hatimu bukan untuk calon suamimu, toh bukan berarti aku akan menjelma menjadi ksatria bebaju zirah yang bisa menjemputmu dari belenggu di atas kastil. Pernikahanmu akan tetap berlangsung meriah, dan itu suatu keniscayaan yang tak dapat ditolak. Tetap saja kamu akan mengenakan gaun pengantin berhiaskan mutu-manikam. Apa dayaku?
“Kamu harus datang, Bi. Aku ingin sekali kamu datang ...,” ratapnya.
Permintaan Lusi sungguh sama saja dengan menyuruhku masuk ke dalam kolam penuh ikan piranha. Haruskah aku datang mempersembahkan kehancuran hati demi melihatnya tersenyum di atas panggung bersanding dengan pria kaya itu?
“Datang ya, Bi ....,”pintanya sekali lagi.
Kutahan napasku, sambil mengangguk lemah. Hatiku semakin tersayat. Tetapi demi menghormatinya, aku akan berusaha mengabulkan permintaannya.
“Insya Allah,” bisikku lemah.
Aku tak ingin berlama-lama di dalam rumah Lusi. Segera kuakhiri pertemuan singkat itu dengan perasaan tercampur-aduk. Lusi melepas kepergianku dengan tatapan hampa. Sebelum pergi, sempat dia berbisik lembut di telingaku.
“Aku masih sayang kamu, Bi . Selamanya.”
Sudah terlambat, Lusi. Sekalipun sayangmu seluas samudra Pasifik atau sedalam palung Mariana, toh tak juga menyatukan kita di pelaminan. Tak pula penghulu menyalami tanganku untuk berikrar. Lalu apa arti sayangmu itu?
Nothing.
Dengan senyum kehancuran, aku menyusuri ruas jalanan Kota Malang yang mulai padat. Tak ada satu makhluk pun yang peduli. Bahkan burung-burung yang beterbangan seolah menertawai kemalanganku. Rasanya tak ada hasrat untuk kembali ke bumi perkemahan. Biarlah aku menikmati kesendirianku, menggelandang menyusuri kota ini. Ingin kumenikmati kehancuran ini dengan indah.
Angin lembut Kota Malang mengacak rambutku. Di sebuah kios pinggir jalan, di bawah pohon yang rindang, aku menikmati kehancuran sambil melihat lalu-lalang kendaraan. Bahkan aku tak tahu di mana sekarang. Biarlah peradaban ini menghapus namaku agar tak tertera dalam sejarah mana pun.
Dahlia, aku butuh napas buatan ....
Kulanjutkan petualangan menggelandang menyusuri kota ini. Tak peduli langkah ini akan membawaku kemana. Toh aku juga tak peduli. Sempat terlintas dalam pikiran, lebih baik aku berlari ke tengah jalan raya, dan membiarkan sebuah mobil mencumbuku.
Tidak! Rawon setan masih enak. Kuurungkan itu.
Biarlah aku menggelandang saja. Menjadi gelandangan paling tampan di seluruh Kota Malang.
***
__ADS_1