
Mentari menyembul di balik bukit melimpahkan sinarnya yang keemasan menerobos jendela, membentuk bayangan siluet menakjubkan di dalam kamar. Bayangan dedaunan pohon mangga di samping rumah berdansa seiring semilir angin, ditingkahi burung Prinia familiaris meloncat-loncat riang menyambut pagi.
Sebenarnya sejak tadi aku sudah bangun, tapi apa daya bantal dan guling ini memintaku untuk terus memeluknya. Rasanya nyaman sekali apabila tidak ada jadwal kuliah. Bisa bermalas-malasan hingga siang andai saja emak tidak menegur.
“Ayo sana! Kasi minum sapi-sapi mumpung di rumah. Nanti emak tinggal ke pasar sebentar ya. Biar nanti siang kita bisa masak rawon kesukaanmu!” ujar emak.
Baiklah.
Sudah lama aku tidak bercengkrama dengan sapi-sapi. Kegilaan merajalela seketika. Obrolan santai tapi serius terjadi di kandang sapi. Inilah yang kusebut sabagai kegilaan yang manis. Entah mengapa, aku menikmati kegilaan ini. Sapi-sapi itu begitu antusias mendengar curhatku. Matanya yang lebar menatap, sambil mengunyah damen perlahan-lahan.
“Jadi gini ceritanya, si Laras ini marah gara-gara aku dikira hanya main-main dengan perasaannya. Perempuan kok gitu ya, Pi? Dikit-dikit ngambek. Maha benar perempuan dengan segala sabdanya. Aku kan nggak ada maksud kayak begitu, Pi. Apa aku ini salah ya kalau bermanis-manis sama perempuan? Nanti kalo aku jutek dikira sombong ...,” keluhku sambil duduk jongkok di depan kandang, mengamati sapi-sapi yang terus menikmati kunyahannya. Liurnya menetes-netes membanjiri kandang.
“Kamu kok nggak sembuh-sembuh to, Bi? Masih suka ngajak ngobrol sapi-sapi!” ujar emak yang tiba-tiba muncul.
Beliau sedang menjemur kerupuk udang kegemaranku di atap rumah, mumpung matahari bersinar benderang.
“Eh, anu Mak ...,” aku gelagapan. Rupanya emak sudah lama mengendus kelainanku ini. Walaupun begitu, emak pasrah dengan kegilaanku. Asal tidak dibawa ke psikiater, tak ada masalah.
“Kamu lagi ada masalah sama Laras?” singgung emak.
“Nggak ada kok, Mak!” jawabku cepat.
“Kasihan loh Laras. Dia di Surabaya ndak punya siapa-siapa. Kamu harus dampingi dia, Bi. Bantu Laras kalo ada kesulitan,” nasihat emak.
Mengapa harus aku? Gumamku.
“Lah itu ada Mas Jono, Mak!” kataku kemudian.
“Mas Jono siapa?”
“Sepupunya Laras, Mak. Aku juga kenal dia kok.”
“Oh iya. Pak Turonggo pernah cerita itu kalo punya ponakan di Surabaya,” ujar emak kemudian.
Tuh kan?
Gara-gara curhat dengan sapi, emak tergelitik juga menanggapinya. Apalagi kalau sudah menyangkut Laras. Maklum, hubungan Laras dengan emak ini cukup dekat. Aku mencium aroma konspirasi antara emak dan Pak Turonggo, untuk mendekatkan hubunganku dengan Laras.
Bagaimana tidak?
__ADS_1
Bagaimana Laras tahu tentang seluk beluk hidupku, padahal jarang sekali kami mengobrol. Jelas-jelas ini campur tangan emak yang sengaja membocorkan dokumen negara kepada Laras. Emak sudah menjadi spionase kelas kakap yang patut diwaspadai. Bahkan Laras juga tahu ukuran sepatu sampai ukuran celanaku! Laras pernah menebak, dan jawabannya benar!
Kecurigaanku semakin memuncak ketika emak rutin bertukar makanan kepada keluarga Turonggo. Hubungan bilateral itu sungguh tak wajar, mengingat ada sekian ratus tertangga di kampung kami, tetapi mengapa harus Keluarga Turonggo yang ajeg dikirimi makanan?
Timbul inisiatif untuk menanyakan hal ini kepada emak. Maka pada suatu sore, selepas membersihkan kotoran para sapi, aku menemui emak yang sedang menjahit di ruang tengah, dengan gaya yang cool. Sengaja aku membawa beberapa celanaku yang robek, agar bisa dijahit oleh emak.
“Mak ...,” sapaku.
“Apa Bi? Nanti sehabis magrib antar adikmu les ke Pak Hadi ya?” kata emak sambil terus fokus kepada jahitannya, agar tak salah menyulam.
Weni, adik semata wayangku itu biasa les di rumah Pak Hadi, salah seorang guru senior. Bahkan waktu SD aku juga pernah diajar oleh beliau.
“Aku mau nanya, Mak!”
“Nanya opo, Bi?”
“Mengapa sih emak sering ngirim makanan ke Pak Turonggo?” tanyaku sambil mencomot singkong goreng yang masih berasap. Di sebelahnya, ada satu gelas teh pahit. Tahu saja emak kesukaanku. Teh pahit dipadu dengan singkong goreng adalah kuliner bintang lima yang tak bisa kutemui dimana pun selain di rumah ini.
“Pak Turonggo itu orang baik. Sahabat bapakmu sejak lama. Walaupun bapakmu meningal, kita tidak boleh putus silaturrahmi dengan beliau,” jawab emak sambil terus menjahit celanaku yang robek di bagian sel*ngkangan.
“Laras belum punya pacar to, Mak?” kuberanikan bertanya masalah sedikit sensitif itu. Ini adalah pertanyaan pancingan, agar emak bisa menerangkan lebih jauh.
“Lha memang kenapa? Kamu nggak mau jadi pacarnya? Atau kamu sudah punya pacar?” cecar emak.
“Ya nggak apa-apa, Bi. Emak memang berharap kelak kamu jadi orang sukses. Kalo kamu sukses, emak sudah bahagia sekali. Asal nanti kalau sudah sukses, jangan sampai seperti kacang lupa akan kulit yo,” kata emak.
“Iya Mak. Emak belum menjawab pertanyaanku,” protesku.
“Laras belum punya pacar. Yang seneng sama dia buanyaaak. Laras itu gadis baik lho, Bi. Cantik, pinter masak ... pokoknya tidak ada tandingannya di kampung ini. Makanya banyak para bujang yang ngelirik dia ....”
“Lho, emak mau aku nikah sama Laras?” tanyaku to the point.
“Ya emak sih maunya kamu dapat yang terbaik, Bi. Nggak harus Laras, tapi yang penting sayang sama kamu.”
Jawaban emak cukup diplomatis, tanpa langsung menyebut kalau aku harus menikahi Laras. Tetapi otakku langsung paham ke mana arah pembicaraan emak. Padahal dalam bayanganku, paling tidak aku harus mempunyai pekerjaan yang layak, punya rumah dan mobil, sebelum beranjak ke pelaminan.
Seperti Ilham Ramadhan.
Masalah perempuan, tentu akan datang dengan sendirinya. Mumpung masih muda, aku harus memperluas wawasan sebanyak-banyaknya, tidak boleh terbuai dengan masalah-masalah cinta. Dunia di luar sana masih luas. Negeri Jerman masih terbentang. Ingin sekali aku menjejakkan kaki di Berlin, ibukota Jerman. Semoga bukan hanya mimpi di siang hari. Karena aku tidak terlahir dari keluarga berada seperti Andre. Modal juga pas-pasan. Baik secara materi ataupun tampang!
__ADS_1
Apa lagi yang bisa kubanggakan?
Sayangnya, aku adalah aku. Manusia biasa yang mudah sekali tertarik dengan kelembutan perempuan. Semenjak SD sampai SMA tidak pernah mencicipi apa itu pacaran. Berdekatan dengan perempuan, berasa gemetar seperti melihat pocong! Aku lebih suka berkubang dalam duniaku sendiri, dan kurang empati terhadap lingkungan di sekitar.
Saat kuliah, aku melihat dunia yang lebih luas. Melihat dunia dengan kerlap-kerlipnya, keelokan wanita dan macam-macam madu duniawi. Tentu saja sangat wajar jika waktu kuliah bertransformasi menjadi sedikit liar. Ingin mencicipi seteguk madu duniawi itu.
Setetes saja.
Saat malam menjelang, kampungku sudah diselimuti kesenyapan. Angin berhembus perlahan mengacak rambut. Aku sedang duduk di balai-balai teras, menikmati keheningan malam sambil mendengarkan gending Jawa yang mendayu dari radio.
Ck-ck-ck!
Bunyi cicak yang sedang berkejaran di dinding, terdengar seolah mengejek. Saat sendiri seperti ini, mengusik hati untuk mencari teman mengobrol. Tapi siapa? Aku tak mengenal teman sebaya di kampung ini. Sahabatku hanya Pardi. Sayangnya, ia juga telah meninggalkanku untuk selama-lamanya.
Kuraih ponsel, untuk mengecek daftar nama di buku telepon. Tak banyak nama yang tercantum di sana. Hanya nomor telepon keluarga dan teman-teman dekat. Sejenak, aku teringat dengan secarik kertas yang tertera nomor telepon Lusi.
Haruskah meneleponnya?
Lebih baik jangan. Dia sudah bersuami. Tak baik mengganggu rumah tangga orang lain. Lagipula, aku sudah mengubur dalam-dalam semua kenangan bersamanya. Tak akan sedikit pun aku mengais kembali cerita-cerita usang di antara kami.
Drrrttt!
Drrrttt!
Akhirnya ponselku bergetar juga. Rupanya Darwis menelepon. Tak apalah, daripada tak ada teman mengobrol.
“Apa Dar?” sapaku tak bersemangat.
“Aku mau bertanya tentang materi ilmu logam boleh nggak?”
Sial!
Aku hanya ingin lepas dari urusan materi kuliah beserta keturunannya. Darwis tiba-tiba menelepon hanya untuk bertanya seputar materi kuliah, yang paling rumit pula. Mendadak perutku mual. Tega-teganya Darwis menghancurkan mood-ku malam ini!
Dipikirnya aku ini dosen pembimbing?
Klik!
Kumatikan ponselku tanpa menjawab sepatah kata pun. Aku tak mau nuansa liburan ini rusak gara-gara memikirkan proses penghitungan toughness sebuah material logam! Jauh-jauh aku mengucilkan diri di Jombang, agar bisa mengistirahatkan otak, ini malah dipaksa untuk berdiskusi tentang ilmu yang maha rumit!
__ADS_1
Nggak ada akhlak si Darwis!
***