DUNIA ABIMANYU

DUNIA ABIMANYU
Chapter XXIII : Bercinta dengan Alam


__ADS_3

Di bawah naungan langit malam yang bertabur bintang, aku merebahkan diri di rerumputan basah. Rasi bintang Orion bertahta di belahan langit, pertanda negeri ini sedang memasuki musim hujan.


Bintang-bintang itu berkelipan laksana pelita di gulita. Malam yang hangat, tak seperti beberapa malam sebelumnya. Suara alam menentramkan hati yang dilanda kegalauan.


Sudah lama tak bercinta dengan alam.


Selama ini tugas kuliah membelenggu kebebasanku. Padahal aku tumbuh bersama alam. Desir angin, gemericik air dan harum rerumputan adalah kekasih abadi yang tak lekang oleh waktu.


Kini, perasaan bersalah merayapi, menjelma menjadi kegelisahan. Sudah dapat kubayangkan reaksi Dahlia yang begitu kecewa. Selama ini tak pernah sekalipun kulihat dia merajuk. Mungkin nanti, aku akan manyaksikan edisi perdana bagaimana cara dia merajuk.


Dahlia, sungguh hati kecil ini juga menginginkan duduk di meja makan mewahmu, sambil menyesap kelezatan kambing guling yang memang jarang sekali kunikmati. Betapa hangatnya suasana di rumahmu dengan keramahan tulus mamamu.


Sayangnya aku juga tidak bisa menolak ajakan sahabat-sahabatku. Bagiku, persahabatan adalah hal yang terpenting di atas apapun. Mereka telah membuktikan bahwa mereka selalu ada buatku, dalam keadaan terburuk sekalipun.


Masa kecilku yang kelabu, hanya bersahabat dengan Pardi dan sapi-sapi membuat sikap posesif tetap melekat hingga saat ini. Ya, aku begitu takut kehilangan sahabat. Cukuplah aku kehilangan Pardi yang begitu tiba-tiba. Itulah mengapa, aku akan melakukan yang terbaik atas nama persahabatan.


Maafkan aku, Dahlia.


“Ciee ... ada yang ngelamun,” suara Doni mengejutkanku.


“Sudah mulai masak kah?” tanyaku.


Kubuang pandanganku ke arah tenda, mendapati Andre dan Farhan sibuk mengipasi api yang hidup segan mati tak mau. Raut kelelahan terpancar dari muka mereka.


“Kayunya basaah! Apinya nggak mau nyala!” teriak Andre putus asa.


“Kamu nyalain pakai apa?” tanya Doni.


“Pakai dengkul!” jawab Farhan kesal.


Doni tergelak. Sudah pasti Farhan kesal, karena kami berdua tidak membantu mereka yang sedang berjihad menyalakan api.


Baiklah. Aku akan membantu.


Tetapi nyatanya Dewi Fortuna tak berpihak kepada kami. Hampir terkuras semua energi, toh api tetap enggan menyala. Kami dibuat patah arang karenanya. Padahal lambung ini sudah menjerit karena lapar. Nasi goreng keasinan buatan Mimi Doni adalah makanan berat terakhir yang masuk ke dalam lambung. Selebihnya, aku membohongi lambung dengan banyak minum air. Kini, lambung berteriak minta hak nya dipenuhi.


“Plan B. Kita menggunakan lampu,” Doni mengeluarkan lampu rechargeable dari dalam tas. Kami tak punya pilihan. Setelah berduel cukup lama dengan kayu basah, kami menikmati syahdunya malam dengan penerangan lampu temaram.


Nyamuk luar biasa menggila malam itu. Mambalur kulit dengan lotion anti nyamuk mungkin bisa membantu meredakan serangan masif serangga menyebalkan tersebut. Karena tak ada api, otomatis kami tak bisa memasak nasi atau membuat kopi.

__ADS_1


Tak perlu khawatir, stok makanan cukup melimpah. Ada roti, sarden, kue-kue dan aneka cemilan. Doni selalu punya ide bagus untuk urusan perut.


Malam mulai beranjak larut. Beberapa kali terdengar letupan kembang api di angkasa, pertanda pergantian tahun sudah semakin dekat. Kami masih bercengkrama menikmati hembusan sang bayu, dan suara raungan Doni yang bermain gitar sambil melantunkan lagu-lagu lawas milik Dewa 19. Ingin kututup telingaku, tetapi aku menghargai perasaannya. Kini aku mengerti, betapa tersiksanya Nobita dan kawan-kawan ketika mendengar Giant bernyanyi. Paling tidak, itulah yang terasa saat ini.


“Waduh....!” tiba-tiba ekspresi Doni memucat.


“Kenapa kamu?” tanya Farhan.


“Perutku mules....” seringainya.


“Jangan bilang kamu mau minta dianterin boker ya!” ancam Farhan.


“Aku baru aja mau bilang itu....” ratap Doni.


Beberapa saat kemudian terjadi perdebatan sengit untuk menentukan siapa yang akan menemani Doni melepaskan hajat manusiawi nya. Masing-masing bertahan dengan argumen yang kuat. Muncul berbagai alibi yang tidak masuk akal. Andre tiba-tiba mengeluh ngantuk, sehingga enggan untuk kemana-mana. Ia takut nanti akan ketiduran di jalan.


Hadeeh, kamu kira kamu lagi nyetir, Ndre?


Farhan juga mengaku bibirnya mengalami kram akut, karena terlalu banyak meniup api unggun yang tak kunjung berkobar. Alasan yang paling konyol yang pernah kudengar. Farhan juga takut terkena malaria karena nyamuk yang merajalela.


Aku?


Bah! Profesi macam apa itu?


Berbekal sebotol air dan senter, kami menerobos gelapnya malam. Beberapa menit aku berputar-putar mencari lokasi strategis agar Doni lebih khusyuk membuang hajatnya. Perlu diketahui, bukan hanya kami yang berkemah di kawasan ini. Aku melihat beberapa kerlip cahaya yang datang dari tenda lain di kejauhan. Artinya, Doni tidak boleh buang hajat sembarangan. Karena bukan tidak mungkin hasil karyanya akan menjadi ranjau darat bagi orang yang kebetulan lewat.


Fix!


Sebuah tempat agak tersembunyi di balik pohon pinus menjadi tempat sempurna. Sekelilingnya banyak ditumbuhi semak-semak dan perdu rimbun. Doni sudah tak dapat menahan gejolak. Muka anak itu sudah cengar-cengir menahan rasa di perut yang semakin melilit.


“Aku tunggu di sini ya, Don! Ntar kalau ada apa-apa lambaikan tangan!” celetukku.


Sebuah batu besar menjadi pilihan untuk duduk sambil memainkan ponsel.


“Jangan nakutin aku!” pinta Doni.


“Udah sana!”


Suasana cukup hening. Suara serangga malam, berpadu dengan desir angin menjadi sebuah orkestra alam yang elok tiada banding. Kuperiksa inbox ponselku, berharap ada pesan dari Laras. Atau Dahlia bolehlah!

__ADS_1


Sayangnya nihil.


Hampir tiga puluh menit aku duduk membatu seperti arca. Udara dingin merajam kulit. Sayangnya Doni tak kunjung selesai menyelesaikan hajatnya. Kekhawatiran mulai terbersit.


“Don? Are you okay?” tanyaku.


Tak ada jawaban.


Kemana ini anak? Perasaanku menjadi tak enak. Jangan-jangan dia ketiduran atau mungkin sebelum buang hajat dia lupa minta izin pada penunggu hutan ini. Sepertinya ini hanya takhyul, tetapi kadang aku mempraktikannya sebelum buang air kecil di tempat-tempat asing. Waspada kan boleh saja.


Duh, ini anak bikin urusan jadi rumit. Mungkinkah disembunyikan oleh makhluk halus? Tapi kukira tidak mungkin. Makhluk halus itu pasti akan menyesal menyembunyikan aset tidak berguna seperti Doni.


Jadi kemana cecunguk itu?


“Doooon!” panggilku lagi.


Tetap tak terjawab. Bulu kuduk mulai meremang. Kuarahkan senter ke tempat Doni nongkrong, tetapi kosong! Tak ada seorangpun di situ.


Doni kemana?


Cemas, khawatir dan merinding berpadu dengan dingin yang menggigit kulit. Pikiran buruk mulai meracuni otak. Dalam beberapa film horror Hollywood yang kutonton, biasanya kami akan tewas mengenaskan dibunuh satu persatu oleh psikopat yang berkeliaran di hutan. Semoga tidak seburuk itu.


Ingin aku kembali ke tenda, dan kutinggalkan saja Doni. Sayangnya, masih tersisa secuil kebaikan. Tidak mungkin aku kembali ke tenda tanpa Doni. Kususuri tempat sekitar. Hanya pohon-pohon pinus yang menjulang dengan sombong, bagai monster hutan siap melahap. Doni tetap tak menampakkan batang hidungnya.


Belum lagi hilang rasa khawatirku, tiba-tiba aku melihat sesuatu di balik kegelapan malam. Sosok itu berwarna hitam, diam tak bergerak. Makhluk apakah itu, Tuhan? Aku sudah siap mengambil langkah seribu.


“Grrraaaahhhh!!!”


Suara mendengkur mengerikan kudengar dari sosok hitam itu. Tak ayal lagi aku segera berbalik haluan. Kini kepanikan menguasai otakku. Setengah berlari aku menuju tenda.


Teori selalu benar bahwa panik akan memangsa akal sehatmu. Akibat panik, aku tak dapat berpikir dengan jernih. Yang kuinginkan hanya segera kembali ke tenda, tanpa peduli dengan Doni dan segala urusannya.


Bruuuuk!


Aku merasakan sesuatu mengait di kaki. Tak dapat kukendalikan keseimbangan tubuh. Dalam waktu sepersekian menit, tubuhku mendarat dengan keras ke tanah. Mungkin istilah tepatnya terbanting. Rasa sakitnya tak terbayang. Mendadak malam menjadi semakin gelap. Rasi bintang Orion di langit manjadi bayangan kabur.


Aku tak ingat apa-apa.


***

__ADS_1


__ADS_2