DUNIA ABIMANYU

DUNIA ABIMANYU
Chapter XXVIII : Nilai B Misterius


__ADS_3

Langkahku terhenti di depan kantor BAAK. Beberapa mahasiswa berjubel memenuhi ruangan, antre mengambil KHS ( Kartu Hasil Studi ) . Ingin ikut masuk, tetapi lebih baik menunggu sepi. Kalian tahu KHS? Ini adalah nama lain rapor untuk mahasiswa.


Teringat zaman masih berseragam merah-putih ketika orangtua harus mengambil rapor. Tak ada metafora yang sesuai untuk menggambarkan keadaan pada masa itu. Emak mengenakan kebaya terbaiknya, dengan dandanan yang cukup natural dan tidak menor, mendatangi sekolah seraya menggamit lenganku yang kurus.


Bagi anak lain, mungkin pembagian rapor mirip seperti yaumul hisab, saat wali kelas mempertontonkan perilaku kita selama di sekolah. Masing-masing orang tua berdiskusi dengan serius, berhadapan face to face untuk mendiskusikan perkembangan akademik putra-putrinya.


Yang hasilnya memuaskan, orangtuanya tersenyum lebar seraya membuat pengumuman kepada dunia sekitar bahwa putranya telah menorehkan hasil terbaik. Sorot kebanggaan terpancar dari raut wajah mereka.


Sebaliknya, bagi siswa yang prestasinya kurang memuaskan akan disambut aura negatif dari wajah orangtua. Bahkan tak jarang sebagian dari mereka langsung memaki anaknya di depan khalayak.


Aku di bagian mana?


Aku, Abimanyu Prasetyo, tanpa niat membusungkan dada, namaku selalu dipanggil Bu Jumiati wali kelas kala itu sebagai penghuni peringkat pertama. Sejatuh-jatuhnya, pasti aku masih berada di peringkat ketiga.


Jadi, acara pembagian rapor tak terlalu membuatku khawatir. Tak sia-sia emak mengenakan kebaya terbaiknya. Beliau akan selalu membanggakanku, membagikan cerita kepada sesiapa yang beliau kenal. Mulai dari tukang sayur sampai petani di pelosok kampung. Siapa yang tidak kenal dengan Abimanyu Prasetyo bin Sumarno? Nama ini selalu semerbak menguar, mengundang para kupu-kupu cantik untuk datang mendekat.


Di antaranya adalah Larasati binti Turonggo.


Sayangnya, aku tetap pribadi yang pemalu. Bu Jumiati selalu memberi catatan kepada emak bahwa aku adalah anak yang kurang pandai bersosialisasi dengan lingkungan. Teman dekatku hanya Pardi.


Tak pernah berpindah ke lain hati.


Masih terpatri kuat dalam ingatan, ketika almarhum bapak selalu memberi motivasi yang dahsyat kepadaku. Tetapi begitulah. Teori selalu lebih indah daripada praktik. Rasa percaya diri yang hanya segelintir masih mengungkung hingga saat ini.


Tapi biarlah aku menjadi seperti itu. Menjadi diri sendiri, tanpa berpura-pura memakai topeng orang lain.


Sayangnya kisah masa kanak-kanak itu tak berulang saat aku menjadi mahasiswa. Daya pikirku tak setajam dulu. Ibarat pisau yang jarang diasah, kini peralahan mulai tumpul.


Pikiran yang dulu bersih juga sudah mulai terkontaminasi dengan berbagai macam dosa. Aku bukan seorang munafik.


Apalagi setelah bisa mengidentifikasi makhluk yang bernama perempuan.


Bukannya menambah semangat, malah pesona keindahan makhluk Tuhan itu sering meracuni otak di saat yang tidak tepat. Buktinya, soal Mekanika Teknik yang seharusnya bisa kupecahkan malah jadi bumerang. Rasanya deretan angka dan rumus yang tertulis hanya membuat perut mual.


Hanya Lusi yang jadi Albert Einstein-ku. Entah apa yang bersemayam dalam otak jeniusnya. Seandainya Lusi hidup di awal abad 20, pasti namanya tak kalah tenar dengan para penemu dunia lainnya. Mungkin dia bisa menemukan alat pendeteksi perasaan. Betapa bergunanya alat ini di zaman penuh cinta ini. Lusi memang bermuka Kristen Stewart, tetapi berotak Einstein.


Bayangkan!


Soal Mekanika Teknik yang maha rumit itu saja bisa diselesaikan dalam hitungan menit. Padahal, aku yang standarnya masih lumayan pun mengalami kesulitan memecahkan.


Dasar-dasar fisika, walau tidak terlalu mahir, aku tidak terlalu bodoh. Hukum Newton? Itu bagai kudapan sehari-hari.


Kalau aku saja merasa kesulitan, bagaimana dengan Darwis yang sering mencontek pekerjaanku? Saat Lusi memberi pencerahan, Darwis hanya bisa bengong sambil ngiler. Mungkin dia takjub dengan kecerdasan Lusi. Atau otaknya sama sekali nge-blank?


Ah, dia mah terlalu banyak menonton film yang merusak moral!

__ADS_1


Kini ruangan BAAK telah sepi. Hanya tersisa beberapa gelintir mahasiswa yang masih antre menunggu. Tiba giliranku, sedikit berdebar jantung ini. Padahal ini bukan kali pertama menerima KHS. Selembar kertas tipis yang begitu dahsyat efeknya bagi hidupku. Deret-deret huruf yang ditulis huruf kapital cukup menggetarkan. Kudapati tiga nilai A tercetak di atas kertas. Langsung kupelototi nilai tugas gambar.


Alhamdulillah.


Nilai B terukir indah bagai prasasti di lembaran itu. Padahal aku memprediksi akan mendapat nilai C untuk mata kuliah satu ini. Ada sesuatu yang melegakan rongga dada. Andai Pak Anto Darsono di tempat ini, mungkin akan kucium tangannya seraya momohon ampun karena telah menjulukinya Monster Botak.


Nilai B yang diberikan itu merupakan suatu misteri tersendiri, mengingat tugasku sama sekali tidak dicek dan ditanya-tanya. Lantas dari mana nilai B ini berasal?


Untuk merayakan kegembiraan, aku ingin sedikit memanjakan diri. Sakit yang kualami kemarin mungkin adalah akumulasi pikiran yang menyumbat otak. Dalam artikel yang pernah kubaca, stres dapat memperlemah daya tahan tubuh seseorang. Bisa jadi itu penyebabnya.


Entah apa yang merasuki, aku beranikan untuk menelepon Dahlia.


“Yuk makan rawon setan!” ajakku penuh percaya diri.


“Hmm. Tumben ....” sangsi Dahlia. Sepertinya ia mencium aroma udang di balik rempeyek.


“Aku lagi happy hari ini. Dapat nilai B di mata kuliah Gambar Teknik. Temeni aku yuk!” ulangku.


“Ngajak aku makan nih?”


Busyet! Dia meragukanku.


“Iya. Tenang saja aku yang bayar,” sombongku.


Sebenarnya tak ada niat meremehkan, mungkin dia kasihan padaku.


“Halah. Berapa sih harga sepiring rawon. Nggak sampai juga lima puluh ribu! Ya gantian gitu. Masa kamu terus yang traktir aku.”


“Eh, makanku banyak loh ....”


Tanpa membuat pengakuan seperti itu pun aku sudah paham. Masih teringat saat makan di rumahnya beberapa waktu lalu. Aku agak terperanjat melihat selera makan Dahlia. Belum lagi ketika makan lemper saat berkunjung di kediamanku di Jombang.


“Beres! Jangan khawatir.”


“Darwis diajak kan?”


Darwis? Duh. Mengapa si cecunguk itu diajak? Di luar budget ....


“Nggak sih,” jawabku tak bersemangat.


“Ajak aja! Ntar aku yang bayar bagian Darwis, dan kamu yang bayar bagianku. Deal?”


Baiklah. Kesepakatan sudah dibuat. Kami akhirnya mengajak Darwis turut serta dalam pesta kecil-kecilan dalam rangka merayakan nilai B misterius yang kudapatkan.


Selepas azan magrib, aku sudah berdandan rapi dan kekinian. Titik kumpul sudah ditetapkan. Aku dan Darwis menunggu di depan masjid pinggir jalan raya, karena kontrakanku berada di dalam gang, sehingga mobil tak bisa masuk. Sambil menunggu, kami duduk di sebuah bangku kayu usang sambil mengobrol.

__ADS_1


“Kamu hebat,” puji Darwis.


“Kenapa emang?” tanyaku tak acuh.


“Kamu mampu melumerkan gunung es Dahlia,” jawab Darwis.


“Ah, biasa aja kok!”


“Sekarang jawab aku dengan jujur. Kamu suka nggak dengan Dahlia?”


Deg.


Pertanyaan Darwis cukup sederhana, tapi menohok. Lalu apa pula pentingnya Darwis menanyakan ini? Sama sekali bukan urusannya kan?


“Kenapa emang? Kamu cemburu?” aku membalikkan pertanyaan Darwis.


“Cemburu padamu? Amit-amit!” cibir Darwis.


Kurang ajar!


“Dia kan banyak nolongin aku, Dar. Ya, sekali-kali ngajakin makan kan nggak apa-apa. Tangan di atas kan lebih baik daripada tangan di bawah,” terangku.


“Cih, jawaban klise ....”


“Terus kamu mau jawaban yang seperti apa?” serangku.


Darwis terdiam. Ia tidak melanjutkan topik pembicaraan ini. Kadang aku agak heran dengan Darwis. Sedikit gila, tetapi kadang unik. Termasuk dalam urusan perempuan. Seleranya agak out of the box. Masih ingat saat ia mengejar Diana yang uniknya setali tiga uang dengan dia? Sayangnya, perasaan suka itu ditepis dengan semena-mena oleh Diana.


Cukup tragis.


Bip-bip!


Sebuah mobil Honda Civic berhenti tepat di depan kami. Tentunya sampai kapanpun aku tak akan lupa dengan mobil yang pernah kutumpangi kala hujan tempo hari. Ya, sebuah mobil beraroma mirip toilet mal.


Kami segera masuk dengan antusias.


Untuk memperkuat pendapatku, aku berbisik pada Darwis.


“Dar, kalau kamu masuk mobil ini apa yang terbersit dalam pikiranmu pertama kali?” bisikku.


“Toilet mal!” jawabnya spontan.


See? Aku tak bohong kan?


***

__ADS_1


__ADS_2