DUNIA ABIMANYU

DUNIA ABIMANYU
Chapter XLIV : Out of Control


__ADS_3

Rinai gerimis yang romantis, menyambut kedatanganku di Kota Pahlawan. Hati yang bertabur luka menganga, perlahan pulih melihat ruas-ruas jalan Surabaya yang semarak. Semangatku perlahan mulai bertunas-tunas di taman hati. Pelan tapi pasti, kututup sepenggal kisah bersama Lusi, walau menyisakan perih.


Dari dulu begitulah cinta, deritanya tiada akhir.


Kutipan kalimat Chu Pat Kay yang legendaris itu terngiang di telingaku. Bukan penyemangat, malah menambah pesimis. Rasa percaya diri kian terjun bebas sampai level terendah. Untuk saat ini, rasanya aku harus vakum terlebih dahulu dari dunia asmara. Mengingat dua pekan lagi UAS ( Ujian Akhir Semester ) akan segera dilaksanakan. Tentunya aku harus fokus menyulam masa depan, agar tak mengecewakan keluarga.


Sesampai di kontrakkan, seperti biasa aku mendapat sambutan meriah dari sahabat-sahabat yang merindukan. Memang aku tidak istimewa, tetapi tak dapat dipungkiri, mereka sangat kangen akan kepolosan dan keluguanku. Siapa lagi yang dapat di-bully?


Terutama Doni. Hasrat birahi untuk mem-bully sungguh bergejolak. Begitu aku menampakkan diri, bukannya menanyakan kabar, malah menyeringai menebar ancaman.


“Kirain udah almarhum aja kamu,” sambutnya ramah.


“Kenapa emang? Baru dua hari juga aku tinggal. Jangan-jangan kamu saja yang kangen sama aku,” balasku.


“Najis tralala!”


“Bagaimana kabar Monik-mu?” tanyaku sambil menyelonjorkan kaki di karpet depan TV. Sudah lama aku tak begini. Rasanya nikmat luar biasa.


Ruangan depan TV ini serupa surga bagi para penghuni, karena dilengkapi dengan karpet rasfur, kipas angin, dan apabila beruntung terdapat pula sepiring cemilan atau segelas kopi susu panas.


“Masih jalan dong! Emang kamu King of Jomblo!” ejeknya.


Betul bukan kataku?


Setiap kalimat yang Doni lontarkan selalu menyerangku secara frontal. Seperti biasa, aku kalah telak. Memilih diam tak berkutik. Terlanjur kebal dengan mulut berbisa Doni. Hinaan sedahsyat apa pun bisa aku terima dengan lapang dada.


Sayangnya, kali ini Doni bercanda di saat yang salah. Hati ini baru saja tersayat parah. Hinaan Doni yang sejatinya adalah gurauan membuat darah mendidih, sehingga menyulut peperangan. Ditambah lagi, lelah fisik yang membuat emosi tidak stabil. Kukatupkan rahang kuat-kuat menahan emosi yang bergejolak.


Doni tak henti berkicau. Dia mulai menari di atas penderitaanku tanpa ada secuil empati pun. Dengan pongah ia bercerita tentang kebaikan si Monika atau siapa lah itu aku tidak peduli. Secara keji ia hantam dengan cacian betapa mengenaskannya diriku sebagai jomblo.


“Habis ini kamu buka klub saja. Kamu buka klub Jonesindo. Jomble Ngenes Se-Indonesia, dan kamu cocok jadi ketuanya ....,” kicau Doni.


Sreeet!


Kucengkeram kerah Doni seketika, kudorong hingga punggungnya merapat ke dinding. Tak ada sepatah kata terucap dari mulut. Hanya raut muka yang kubuat seseram mungkin. Kali ini aku lepas kendali. Out of control. Musnah sudah reputasiku sebagai makhluk lemah yang baik hati dan tidak mudah marah.


Doni terdiam. Tak menyangka kalau aku akan senekat itu. Perlahan kulepas cengkeraman, kemudian berlalu diiringi tatapan penuh tanda tanya. Mungkin Doni mengira aku kesurupan iblis penunggu Gunung Panderman. Aku sama sekali tak peduli dengan apa yang tersimpan di otaknya.


Braaak!


Setelah membanting pintu, kurebahkan raga yang letih ke atas kasur lembap karena dua hari ini kutinggal. Perlahan kuhirup napas, agar memenuhi rongga dada yang mulai pengap dipenuhi amarah. Kalau boleh, ingin aku menitikkan air mata. Tetapi bapak bilang, pantang bagi laki-laki untuk menangis. Apalagi hanya untuk urusan cinta. Hukumnya haram, begitu pesan bapak.


Baiklah.


Kuikuti saja alur yang sudah dirancang oleh Yang Maha Kuasa. Semua skenario hidup sudah ditulis rapi, tinggal kita memerankannya.


Tok-tok-tok!

__ADS_1


Pintu kamar diketuk. Sebenarnya rasa malas menggelayuti tubuh, namun ada rasa bersalah juga ketika mencengkeram kerah baju Doni. Seharusnya aku tak meladeni, dan tetap menggunakan akal sehat.


“Masuk, nggak dikunci!” perintahku.


Farhan masuk ke dalam kamar dengan gusar. Ditariknya kursi plastik, memposisikan duduk di sebelah tempat tidurku.


“Kamu kenapa, Bi? Ada masalah?” tanya Farhan antusias.


Aku mengegeleng. Rasanya mereka tak perlu ikut menanggung beban derita tak terperikan ini. Biarlah kunikmati kehancuran dengan lapang dada. Toh seperti biasa, waktu yang akan menyembuhkan luka.


“Cerita aja, ada apa sih? Tadi Doni bilang kamu kayak kesurupan. Kalau memang bener, nanti kuruqyah kamu,” tawar Farhan.


Tuh kan benar?


Doni mengira aku sudah dirasuki makhluk astral, sampai berani-beraninya mencengkeram kerah bajunya. Jangan-jangan memang iya aku kesurupan? Atau emosiku yang tidak stabil? Ini di luar kebiasaanku.


“Aku nggak apa-apa kok, Han. Hanya lelah,” dustaku.


“Baiklah kalau begitu. Aku khawatir lho kamu ada apa-apa. Soalnya di luar kebiasaan. Harusnya tadi langsung hantam saja si Doni, tidak usah pakai acara mencengkeram,” saran Farhan sambil tersenyum.


Aku tersenyum sedikit. Ide yang bagus, pikirku.


“Jadi nggak apa-apa nih kutinggal? Ntar kalau ada yang nganggu atau apa bilang aku ya?”


Aku mengangguk.


Farhan meninggalkanku sendirian. Sebenarnya mereka begitu perhatian, walau terkadang agak konyol. Mungkin aku perlu waktu untuk mengembalikan kewarasan ini pada tempatnya sebelum meminta maaf kepada Doni. Ya, aku bersalah. Minta maaf adalah solusi terbaik untuk menghapus kekonyolan yang telah kulakukan.


“Kamu sakit?” tanyanya serius.


“Nggak!” jawabku singkat.


Andre mengeluarkan tiga buah ponsel lumayan bagus dari tas kecil yang dibawanya, menggelar di hadapanku, bak makelar ponsel yang menawarkan dagangan.


“Pilih mana?” tawarnya.


Pilih? Aku mengernyitkan kening. Belum mengerti dengan tawaran Andre. Sejak kapan Andre berjualan ponsel second seperti ini?


“Berapa harganya?” tanyaku berbasa-basi.


“Gratis, dodol! Kamu pilih yang mana?”


Gratis? Yang benar saja. Jiwa gratisanku langsung menggeliat parah melihat ponsel yang lumayan bagus berjajar di depanku. Dalam sejarah pertemanan dengan Andre, baru kali ini ia menawari barang yang lumayan berharga.


“Aku pilih ini ...,” ujarku sambil memungut sebuah ponsel tipis dengan casing warna silver. Rasanya aku jatuh cinta pada pandangan pertama dengan ponsel itu.


Bye, Lusi!

__ADS_1


“Yakin?”


“Iya yang ini saja. Kok tumben bagi-bagi handphone? Barusan dapat rezeki atau bagaimana nih?” tanyaku ingin tahu.


Kutimang-timang ponsel yang masih terlihat bagus itu. Di pasaran, harga ponsel ini masih lumayan mahal. Bagai mendapat durian runtuh mendapatkannya.


“Dasar pikun!”


“Lho kok ...?”


“Kan kemarin aku bilang kalau aku sebulan berhasil melewati hariku tanpa cinta, berarti aku menang. Ini belum ada sebulan, aku sudah punya pacar baru. Jadi aku kalah, dan harus kasi satu handphone-ku ke kamu. Ingat nggak?”


Ingatanku langsung terlempar ke peristiwa beberapa hari lalu saat hari Valentine, Andre bercerita tentang kisah sedih karena diabaikan Vita dan entah siapa lagi. Aku lupa nama gadis-gadis Andre. Dia sudah mirip James Bond yang banyak dikelilingi wanita cantik.


Waktu itu, Andre menjanjikan akan memberi satu buah ponsel kepadaku apabila dia tidak kuat bertahan satu bulan tanpa cinta. Nyatanya, belum ada satu bulan berjalan ia sudah punya gandengan baru.


Dasar playboy!


“Siapa gadis yang yang tidak beruntung itu?” tanyaku.


Andre tergelak.


“Baru jalan tiga hari kok. Namanya Inneke.” terangnya.


“Inneke? Temenmu satu kampus?” tebakku.


“Bukan. Anak Unair, kedokteran.”


“Wah! Barang bagus tuh! Ingat, jangan diapa-apain loh ya!” pesanku. Sudah mirip kakek-kakek saja aku ini.


“Tenaaang! Andre nggak akan macem-macem kok!”


Aku tersenyum getir. Sungguh kisah Andre yang mendapat pacar baru dalam kurun waktu kurang dari sebulan membuat luka hati teriris makin perih. Di saat aku kehilangan, Andre malah tertawa riang memamerkan gandengan barunya. Doni juga begitu. Ia memamerkan kebersamaan dengan Monik.


Walaupun begitu, aku tak bisa menyalahkan sahabat-sahabatku. Nasib buruk memang sudah tertulis dalam suratan hidup. Tak perlu iri dengan keberhasilan mereka.


Aku?


Jangan tanya!


Ingin sekali aku bangkit dari ranjang, berlutut pada Andre sambil menjura.


“Angkat aku jadi muridmu, Dewa Cinta!”


Aku perlu belajar banyak darinya bagaimana tips-tips menaklukkan hati perempuan, walaupun aku sadar secara packaging, aku kalah bersaing dengan Andre. Hanya ada satu yang bisa kutawarkan pada calon. pendampingku.


Ketulusan hati.

__ADS_1


Sudah. Itu saja.


***


__ADS_2