DUNIA ABIMANYU

DUNIA ABIMANYU
Chapter XXIV : Layanan Bintang Lima


__ADS_3

Perlahan kubuka mataku, setelah kesadaran terkumpul. Nyeri yang teramat hebat mencengkeram kaki. Bahkan menggerakan jempol saja tak bisa. Sepertinya diriku terdampar dalam sebuah ruangan asing.


Ruangan apa ini?


Ruangan itu berdinding putih, agak temaram disaput lampu neon. Di ujung, terdapat sebuah nakas dengan lampu tidur bergaya minimalis. Jendelanya tertutup, terbungkus korden hijau emerald. Desain kamar yang lumayan artistik. Suasana senyap, hanya terdengar gemuruh mesin air conditioner berputar statis. Segelas teh hangat dan sepiring pisang goreng yang mulai dingin terhidang di depan mata.


Apakah aku sudah mati?


Kreeeett!


Pintu kayu bercat putih terbuka. Seorang gadis cantik memasuki ruangan bersama beberapa orang yang lain. Apakah ini malaikat-malaikat yang ditugaskan untuk merawatku?


Oh, rupanya ini halusinasi semata. Tentu saja aku mengenal sosok-sosok itu. Mereka adalah kawan-kawan satu kontrakan. Raut mereka tampak gembira. Ahaa! Ada Dina juga. Senyumnya menebar fitnah seketika. Waktunya menundukkan pandangan.


“Alhamdulillah, kamu udah bangun ....” Doni yang pertama kali bersuara.


Sejenak kemudian, sesuatu yang menyakitkan terputar kembali di otakku. Saat-saat aku terhempas dengan sempurna menghunjam bumi bagai pohon tumbang. Ya, malam yang menegangkan di sepetak tempat gelap di tengah hutan.


“Kok aku di sini?” seringaiku. Nyeri di kaki begitu terasa. Kucoba untuk duduk bersandar di ranjang.


“ Hei, kamu itu kenapa kemarin? Malam-malam kok lari terbirit-birit sampai nggak lihat jalan. Untung kakimu cuma terkilir. Lha kalau lehermu yang terkilir gimana?” tanya Farhan.


“Aku kaget banget. Sumpah!” kisahku.


“Emang kamu lihat apaan?” tanya Doni sambil menahan tawa. Spontan jiwa detektifku muncul. Aku merasa ada yang tidak beres dengan skandal malam jahanam kemarin.


Ini pasti sebuah konspirasi!


“Kamu kan yang nakut-nakutin aku?” tuduhku pada Doni. Kutatap anak si juragan sapi itu dengan sinis. Doni tak mampu menahan tawanya.


Kurang ajar!


“Kamu juga sih, disuruh nungguin malah asik main telepon. Sampai-sampai kupanggil namamu kamu nggak dengar. Ya udah kukerjain aja,” terang Doni.


Aku mendongkol maksimal. Sungguh yang dilakukannya bukanlah hal yang lucu, karena membuat cedera orang lain. Untung hanya kakiku yang terkilir.


“Kalau ada apa-apa, kamu tanggung jawab! Kalau nggak, tak kebiri kamu!” ancamku.

__ADS_1


“Iya ... maaf. Aku tanggung jawab kok. Buktinya kamu sekarang berada di rumahku. Pokoknya selama kamu di sini, akan mendapat layanan bintang lima. Plus-plus juga. Plus perawat cantik yang siap melayanimu,” janji Doni. Diliriknya Dina yang sedang tersenyum-senyum.


“Tukar posisi kah, Bi?” celetuk Andre.


Dasar Don Juan kelas kampret! Giliran perawat cantik saja semangat!


Tak perlu ber-suudzon. Percayalah, mau perawat secantik Emma Watson, aku akan mengendalikan hawa nafsu. Tak akan tertarik. Seperti yang kita ketahui, nafsu datangnya dari setan. Untuk saat ini, sepertinya setan tak berani mendekat.


Setan ra doyan demit ra ndulit!


Berkenalan dengan banyak wanita bagai pisau bermata dua. Di satu sisi, kehadiran para wanita akan mengisi hari-hari sepiku, sedangkan sisi yang lain akan menyebabkan banyak masalah. Cukup sudah kecerdasan Lusi, kelembutan Laras dan ketulusan Dahlia. Tak perlu tambahan yang lain.


Wanita itu rumit.


Begitulah yang terlampau sering kudengar. Bukan pendapat pribadi, tetapi aku sudah menyurvei beberapa teman cowok. Mayoritas pendapat mereka sama. Pandapat kaum kami hampir seragam mengenai hal satu ini. Aku pun sudah membuktikannya.


Wanita itu rumit.


***


Janji Doni untuk memberikan layanan plus-plus ternyata bukan isapan jempol semata. Selama aku terbaring di kamarnya banyak fasilitas ala bintang lima kudapatkan. Salah satunya breakfast in bed seperti di adegan film drama romantis yang pernah kutonton. Menunya juga cukup menggoda iman. Ada sphagetti dan sandwich.


Totalitas sahabat-sahabat juga patut diacungi jempol. Secara khusus, Andre membelikan sekeranjang buah-buahan beraneka rupa. Aku terharu, walau kudapati beberapa buah apel yang agak busuk di dalamnya. Maklum, yang beli bukan perempuan. Anyway, niatnya yang terpenting.


Selain itu, Doni tak henti-henti menemani untuk menebus rasa bersalahnya, sambil bersemangat membacakan dongeng Putri Salju dan Tujuh Kurcaci.


Kurang ajar! Dipikirnya aku bocah kemarin sore.


Yang paling menyebalkan sebetulnya Farhan. Suatu waktu ketika dia menemani, tiba-tiba ia mengeluarkan dari saku sebuah buku kecil. Ia membaca Surah Yasin buatku!


Woee ... aku masih hidup!


Untuk menyembuhkan kakiku, Doni bahkan secara khusus memanggil tukang pijit langganan keluarganya. Seorang bapak yang lumayan berumur. Dari logat bicara kutebak dia berdarah Madura. Beliau siap mengeksekusi kakiku yang terkilir. Tampang bapak itu lumayan menebar teror. Nyaris tak ada senyum tersungging.


“Mana yang sakit?” suara serak bapak itu menggetarkan jiwa.


Aku tak menjawab, hanya menunjuk bagian kaki yang sakit. Segera dipegang kakiku dengan sigap. Diamati lekat-lekat. Sebenarnya perlakuan ini menimbulkan firasat yang tidak enak. Dadaku bergemuruh, tetapi bukan sedang jatuh cinta. Dengan gerakan yang super cepat tiba-tiba ditariknya kakiku.

__ADS_1


Klaaaak!


“Aaaaaaaarrrrghh!!!” lengkingan ala Tarzan membahana ke seantero penjuru rumah.


Akibatnya seluruh penghuni berbondong-bondong masuk ke dalam kamar. Sumpah, tak tergambarkan rasa sakitnya. Kupikir bapak ini telah mematahkan kaki menjadi dua bagian. Yang paling menyebalkan dari bagian ini ketika kulihat senyum kebahagiaan Doni melihatku meringis kesakitan.


“Awalnya memang agak sakit. Tetapi setelah ini pasti sembuh, Dek!” bapak itu berbicara dengan logat Madura yang kental.


Semoga yang dikatakannya benar.


Setelah mendapat pengalaman yang tak terlupakan itu, aku merasa nyaman. Kaki sudah mulai bisa digerakkan. Bahkan sudah bisa berjalan-jalan ke luar kamar.


Kesembuhan kakiku disambut penuh suka cita bak veteran perang Amerika yang baru tiba dari Vietnam.


“Wah, siap balik ke Surabaya nih!” ajak Andre.


Rupanya Andre memang sudah gelisah selama berada di sini. Maklumlah, ia dipisahkan dengan surga duniawinya. Sehari-hari ia hanya menghabiskan waktu dengan nonton TV.


Walaupun begitu, bukan hanya Andre yang dirundung kebosanan. Sejujurnya, walau layanan yang kudapatkan setara bintang lima, tetap kumerindukan aroma kamar kontrakan. Tak apalah makan dengan menu yang jauh dari empat sehat lima sempurna asalkan berada di tempat sendiri. Kamar kontrakan adalah simbol kemerdekaan yang sebenarnya. Di sana aku bebas berekspresi tanpa khawatir diketahui orang lain.


Ah, I miss my room.


Farhan juga terlihat sudah mulai di titik jenuh. Job mengisi pengajian di Surabaya sudah menunggu. Padahal job itu berarti pundi-pundi uang. Sayangnya, pundi-pundi uangnya kebanyakan berupa nasi kotak. Whatever, harusnya di bersyukur dengan apapun yang didapatnya. Toh berdakwah adalah pekerjaan mulia.


Berdasarkan diskusi kecil, kami akan segera kembali ke Surabaya. Sebenarnya liburan masih kurang sepekan lagi. Sayangnya masih banyak yang harus diselesaikan. Surabaya, berarti kehidupan nyata. Kami akan segera berduel lagi dengan serentetan tugas yang memusingkan kepala. Bagaimanapun, itu adalah konsekuensi yang kami harus hadapi.


Begitulah hidup.


Doni memilih untuk tetap tinggal. Tentu saja kami tak mungkin mencegahnya. Kebersamaan bersama keluarga adalah di atas segalanya. Jadi, kami bertiga akan kembali ke Surabaya.


Liburan tahun baru kali ini merupakan pelajaran penting bagiku, walaupun kesan yang ada tak terlalu baik. Bagaimanapun, setiap peristiwa membawa sebuah pelajaran penting di baliknya. Ada hikmah yang bisa kupetik dari kejadian yang baru kualami. Mungkin ini akan bermanfaat bagi semua di masa mendatang.


Pelajaran pentingnya adalah : Berpikirlah lebih realistis!


Sudah paham ada kambing guling menanti, malah cari penyakit menunggu orang buang hajat di tengah hutan.


Jadi, apapun kuterima ini sebagai konsekuensi. Mungkin Dahlia akan mencibir bila tahu kondisiku seperti ini sambil berkata,” Makanya, dibilangin orang tua itu nurut ....”

__ADS_1


Aku akan terima itu Kanjeng Ratu Dahlia!


***


__ADS_2