DUNIA ABIMANYU

DUNIA ABIMANYU
Chapter XCI: Pesta Bujang


__ADS_3

Niat mau pulang lebih awal terpaksa kuurungkan, karena Doni mengajak kami beralih ke pesta yang lain. Entah pesta macam apa yang hendak ia selenggarakan. Seusai acara resepsi di pelataran rumahnya, aku dan Darwis diungsikan ke salah satu rumah famili Doni, karena suasana di rumahnya sendiri masih berantakan. Kamar-kamar nyaris tak bisa ditempati, karena dipenuhi kardus-kardus kue kosong, kado-kado dan segala pernak-pernik pernikahan.


Sementara, para famili dari luar kota juga masih bertahan. Jadi, suasana benar-benar masih kacau. Sebenarnya aku hendak membantu, tetapi dilarang oleh Doni, karena posisiku sebagai tamu. Aku dan Darwis menempati sebuah kamar yang sudah disiapkan oleh salah satu paman Doni. Sebuah kamar tak seberapa luas, namun tertata rapi dan bersih.


Sementara di kamar lain ada pula Andre, tetapi belum boleh satu kamar dengan Inneke. Terpaksa gadis itu diungsikan di kamar lain. Dalam hati, aku tersenyum. Toh, Inneke sudah hamil walau belum menikah. Sungguh suatu aib yang memalukan, apalagi di lingkungan kampung. Aku berusaha menutup rapat-rapat aib itu, bahkan pada Darwis sekali pun.


Menunggu di kamar yang yang tak kukenal sedikit membosankan. Sementara Darwis juga sudah mulai merengek minta pulang ke Surabaya. Tak ada yang dapat kulakukan selain menyuruhnya bersabar. Kujelaskan padanya bahwa sebenarnya aku juga sangat ingin pulang, tetapi dicegah oleh tuan rumah. Mau tidak mau, harus menghormatinya. Akibatnya, Darwis merajuk parah.


Menjelang petang, sehabis salat Magrib, Doni menjemput kami menggunakan mobil. Ia mengajak pula Farhan, tetapi Dina ditinggal. Doni bilang, malam ini acara khusus untuk para laki-laki. Sebenarnya Andre merasa berat meninggalkan Inneke, tetapi pada akhirnya gadis itu mempersilakan Andre untuk bersenang-senang bersama kami.


Mobil yang dikemudikan oleh Doni melaju menuju pusat kota yang tak seramai Surabaya. Walaupun begitu, kota ini lumayan bergelimang cahaya. Rupanya Doni sudah booking tempat di sebuah cafe yang lumayan mentereng di pusat kota. Sebuah cafe dengan interior mewah, lampu-lampu artistik dan segala pernak-pernik bercorak minimalis.


Doni memesan tempat di ujung cafe, dengan seperangkat sofa berwarna kuning cerah.


Di atas meja juga telah tersedia berbagai makanan kecil dan cemilan. Sedangkan untuk makanan besar dan minum, kami disodori daftar menu dengan aneka makanan yang susah untuk dilafalkan di lidah. Bahkan aku tak tahu, sebenarnya jenis makanan apa yang dijual di cafe ini. Karena itu, aku memilih secara acak, berharap agar rasa makanan nanti sesuai dengan lidah. Menilik dari nama-nama makanan yang tertera dalam daftar menu, kuduga cafe ini menyediakan jenis-jenis makanan Italia.


Darwis yang sedari tadi lesu, matanya berbinar mengamati daftar menu yang disodorkan. Aku mencibir dalam hati. Tadi siang saja dia merengek-rengek minta pulang, sekarang seolah lupa dengan itu. Malah ia terlihat bersemangat , tanpa tahu pula makanan apa yang sebenarnya ia pilih.


Setelah Darwis menentukan pilihan, Darwis berbisik padaku,”Bi, tadi kamu milih makanan apa?”


“Embuh, Dar! Aku asal pilih saja. Aku taunya sambal pecel sama singkong goreng,” jawabku.

__ADS_1


“Lho kok sama? Aku juga asal tunjuk. Semoga enak ya?”


“Aamiin,” jawabku sambil terkikik.


Sambil menunggu hidangan datang, kami mengobrol kesana-kemari tanpa arah pembicaraan yang jelas. Ternyata yang datang duluan adalah minuman. Kami memilih minuman yang berbeda-beda. Aku sendiri adalah penggemar berat soda gembira dan jus alpukat. Kali ini aku memilih soda gembira, karena lumayan jarang aku minum minuman ini. Bukan karena tidak mau, tetapi sayang kalau makan nasi pecel tetapi minumnya soda gembira. Lidahku sudah terbiasa minum air putih dan paling banter es teh manis.


Di sela-sela menikmati kentang goreng, aku berusaha mengorek keterangan Farhan tentang bagaimana awal mula tumbuh benih-benih asmara antara Farhan dan Dina. Sepanjang yang kutahu, bahkan mereka jarang bertemu satu sama lain, tiba-tiba langsung menikah. Ini cukup mengejutkan buatku.


“Orang bilang kan cinta itu dari mata turun ke hati. Tapi sungguh awal-awal ketemu Dina, aku nggak ada perasaan apa-apa. Eh, sesampai di Surabaya kok malah kepikiran si Dina. Makanya aku nanya nomor HP nya pada Doni. Ternyata Doni merestui ya sudah!” kata Farhan.


“Hmm, gitu ya Doni. Farhan langsung gerak cepat dikasi nomor telepon Dina. Kok bukan aku saja sih?”


Aku pura-pura merajuk. Doni mencibir. Jiwa sadisnya kumat. Diam-diam aku menyesali ucapan yang kulontarkan. Firasatku tidak enak, Doni pasti akan mengeluarkan statement menyakitkan.


Benar kan? Doni langsung membuatku terdiam, sementara Darwis tertawa di atas penderitaanku. Semoga emosiku tidak memuncak, agar gelas berisi soda ini tidak menyembur di mukanya. Aku hanya bisa mendengus.


Malam kian merangkak menuju pagi. Kami terus berkicau menikmati tiap detik yang tersisa. Farhan mungkin menyadari, bahwa hari-hari ke depan tidaklah sama karena predikatnya sebagai suami. Mungkin tawa canda ini tak sering lagi ia temui dalam hidupnya. Farhan harus siap dengan komitmen itu. Waktu harus tercurah lebih banyak ke keluarga.


Mungkin inilah yang membuat Andre khawatir. Ya, kebebasan masa lajang akan terbelenggu dengan sesuatu yang bertajuk ‘komitmen’. Bukan hanya Andre. Namun aku juga begitu. Sungguh, tak ada bayangan dalam benakku bagaimana romantika berumah-tangga. Apakah sekedar duduk diam menonton berita di TV sambil mengobrol tentang naiknya harga-harga bahan pokok? Atau sekedar berangkat kerja pagi-pagi dengan punggung tangan dicium istri dan pulang menjelang malam?


Kalau memang begitu, sungguh membosankan dunia rumah tangga. Sungguh, aku belum ada gambaran apa pun tentang itu. Bertahun-tahun, aku melihat emak dan bapak begitu santai menjalani hidup, dengan konflik-konflik kecil mewarnai. Emak bilang, itu biasa. Dalam perjalanan rumah tangga tentu saja kadang ada perbedaan pendapat, jadi tak perlu khawatir tentang itu.

__ADS_1


Segera kutepis jauh-jauh bayangan hidup berumah tangga. Lebih baik aku fokus dengan apa yang kudapat sekarang. Kuliah yang tak kunjung berakhir, dan jodoh yang tiada berkunjung. Kutenggak tetes-tetes terakhir soda gembira di gelasku. Rasa kantuk mulai bergelayut di pelupuk mata.


“Kamu ngantuk ya?” tanya Doni ketika melihatku menguap.


“Aku cape banget sih,” keluhku.


“Baru jam sepuluh malam sudah ngantuk. Aku loh dari pagi tidak ada istirahat, sekarang masih segar-bugar. Gimana mau dapat jodoh cantik kalau jam segini sudah ngnatuk?” cibir Doni.


“Emang ada hubungannya ya?” Aku balik bertanya.


“Jelas dong! Untuk dapat sesuatu yang baik kan memang harus tirakat. Nah, kamu jam segini udah mau ngorok aja. Itu kan namanya bukan tirakat!”


Aku terdiam. Malas untuk perang urat syaraf dengan makhluk berjuluk Doni. Lebih baik aku mencari aman.


“Udah yuk pulang saja! Si Farhan kayaknya sudah nggak sabar ingin menikmati surga dunia tuh!” Andre berkata sambil tersenyum-senyum.


“Eh, nggak ya! Masih lelah aku!” Farhan tergelak.


Aku pura-pura tak mendengar, tak berani menanggapi. Bisa-bisa Doni akan kembali membantai habis-habisan.


Pesta para bujang terus berlanjut sampai menjelang tengah malam, sampai badan terasa remuk-redam. Besok pagi-pagi aku harus kembali ke Surabaya. Sebenarnya aku bahagia bisa berkumpul dengan sahabat-sahabatku, tetapi aku mempunyai kewajiban di dimensi lain yang harus kuselesaikan.

__ADS_1


***


__ADS_2