
Menjelang akhir tahun, para mahasiswa sudah libur. Sebagian dari mereka ada yang pulang kampung, tetapi sabagian ada pula yang setia menjadi penghuni tempat kost atau kontrakan. Bahkan ada pula yang masih bergentayangan di kampus. Sabagian lainnya merencanakan acara seru untuk menutup akhir tahun.
Untuk aku pribadi, acara akhir tahun tidak ada bedanya dengan hari-hari lain. Mungkin karena aku tidak punya seseorang yang spesial untuk merayakan bersama. Seperti biasa, akhir tahun ini akan kuhabiskan mendekam di kamar kontrakan untuk menikmati suara letupan kembang api di penjuru-penjuru langit.
Sederhana kan?
Oya, mungkin sambil makan setoples kacang goreng. Menurutku, makanan yang berasal dari tumbuhan suku Fabaceae ini adalah jenis makanan terenak di dunia. Entah itu digoreng, direbus, disangrai atau diolah menjadi berupa-rupa kue, kacang tetap makanan terenak yang ada di muka bumi. Apalagi kalau gratis.
Tetapi tahun ini agak berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Sepertinya aku harus memilih acara apa yang harus kuikuti untuk merayakan tahun baru kali ini. Sudah ada beberapa tawaran dari teman-teman untuk mengisi malam pergantian tahun. Tentunya bukan meniup terompet keliling kota, atau nonton goyang erotis penyanyi dangdut di lapangan.
Undangan pertama, tentu saja datang dari Jombang. Emak meminta untuk pulang kampung karena akan ada malam tirakatan yang akan dihadiri para tetua kampung dan seluruh warga. Kebetulan emak menjadi salah satu panitia, sehingga beliau begitu berharap aku dapat hadir meramaikan event lokal itu.
Sayangnya kutolak.
Pertimbangannya apa? Aku merasa canggung berkumpul dengan warga kampung. Sudah kubuktikan dalam berbagai acara seperti tahlil, arisan atau kerja bakti. Aku lebih banyak speechless daripada turut mengobrol mengenai hal-hal yang sama sekali aku tidak mengerti.
Mereka akan banyak mengobrol tentang pupuk yang cocok untuk pertanian mereka, cara meningkatkan hasil pertanian atau cara mengendalikan hama tikus. Kalau sudah begitu, aku berasa mengikuti acara penyuluhan pertanian dari Dinas Pertanian setempat.
Tidak mungkin juga aku memaksakan diri untuk mendiskusikan teori relativitas milik Einstein, atau penerapan rumus Phytagoras, atau ber-ghibah tentang ancaman Illuminati yang sudah menggurita di seluruh dunia. Bisa-bisa mereka menganggap aku tidak waras.
Cukup berbicara dengan sapi saja ketidakwarasanku.
Undangan kedua datang dari teman sejurusanku. Darwis, Triaji, Wahyu dan Anas. Gerombolan bajak laut itu hendak mengadakan acara bakar jagung di rumah Triaji yang lokasinya tak jauh dari Tugu Pahlawan. Sayangnya aku juga kurang berminat dengan undangan unfaedah ini. Setelah bakar jagung lalu apa? Duduk-duduk sambil mendengarkan suara Triaji yang cempreng sambil main gitar? Atau bergosip seputar cewek-cewek yang lagi hits di kampus? Nonton film Si Unyil-X?
Mending aku tidur.
“Sekali-kali kumpul sama teman, Bi.” bujuk Darwis.
“Sudah kumpul juga kok setiap hari,” sahutku.
“Ini kan beda. Kalau di kuliah ya sudah pasti kumpul tiap hari. Ini kan malam tahun baru. Kita bisa begadang sepanjang malam sambil ngobrol-ngobrol....”
__ADS_1
“Habis itu kalian nonton bokep kan?” tuduhku.
Darwis terdiam. Arti diamnya berarti benar. Ternyata mereka masih melestarikan kebudayaan jahiliah itu.
“Ya nanti kalau kamu nggak mau nonton, boleh main Barbie saja,” ujar Darwis.
Main barbie? Kurang ajar betul si Darwis!
“Kalian nggak ada bosennya ya nonton begituan? Toh adegannya gitu-gitu aja....” protesku.
“Helaah! Sok banget sih kamu!”
Keputusanku sudah final. Palu sudah diketok dan tak dapat dirubah lagi. Bujuk rayu Darwis yang masif itu segera kutolak. Kali ini posisi malaikat kebaikan di tubuhku sedang di atas angin. Enyah kau setan!
Maaf, aku bukan penggemar film Si Unyil-X. Terserah kalian mau menjuluki aku kuper, cupu, sok suci atau munaroh.
Terserah!
Undangan ketiga datang dari sahabat-sahabat satu kontrakkan. Mereka berencana mengadakan kemah kecil-kecilan di Prigen, Pasuruan. Setahuku, rumah Doni tak jauh dari Prigen ini. Membayangkannya saja sudah membuatku bersemangat.
Oke, noted. Mungkin aku akan pertimbangkan tawaran mereka.
Undangan keempat datang dari Kanjeng Ratu Dahlia Sukmawati. Acara yang ditawarkan tentu saja lebih manusiawi daripada yang lain. Dahlia akan mengadakan jamuan makan malam dengan menu kambing guling, serta mengundang beberapa teman dekat dan keluarganya. Tentu saja dengan akses yang sangat terbatas. Tak semua mendapat kehormatan untuk menghadiri jamuan makan malam itu.
Tapi aku berasa seperti tamu VVIP.
“Datang ya? Mamah akan kecewa loh kalau kamu nggak datang. Kemarin pas acara pengajian kan kamu nggak datang?” pinta Dahlia via telepon.
“Belum tahu Lia. Aku belum tahu schedule-ku seperti apa. Semoga aja nggak bentrok dengan acara lain,” jawabku.
Jujur ingin sekali aku pergi berkemah dengan teman-teman satu kotrakan. Sayangnya undangan dari Dahlia ini lumayan merusak konsentrasiku.
__ADS_1
“Batalin kek yang lain!”
“Duh, gimana ya? Masalahnya undanganmu belakangan sih. Kan nggak enak kalau menolak yang sudah mengundang duluan,” kilahku.
“Ya udahlah....” nada kekecewaan terdengar dari kalimat Dahlia.
“Sampaikan maafku sama mamah ya Lia,”
Tak dijawab, malah telepon dimatikan.
Oh, ngambek. Baiklah.
***
Hari bergulir merapat ke akhir bulan Desember. Kegalauan mulai meraja. Menentukan acara pergantian tahun yang harus kuikuti ternyata tak sesederhana yang kubayangkan. Sepertinya harus menyewa manajer untuk mengatur waktu agar tidak bertumpang-tindih seperti ini. Atau seandainya saja Doraemon mau meminjamkan sesuatu dari kantong ajaibnya untuk membagiku menjadi dua bagian, sehingga bisa berada di tempat berbeda di satu waktu yang sama.
Untuk undangan pertama dan kedua jelas aku skip. Emak sudah tak mempermasalahkan alasanku untuk tidak pulang ke Jombang. Toh acara malam tirakatan yang epik itu tetap akan terlaksana sekalipun aku tidak hadir. Kue-kue tetap akan beredar dari piring ke piring, tanpa menunggu hadirku. Asap-asap rokok akan terus mengepul meracuni udara. Yah, semua akan baik-baik saja.
Pun demikian dengan undangan kedua. Darwis sudah tidak merayuku lagi untuk menghadiri acara nonton bareng adegan-adegan mendebarkan itu bersama teman-teman lain. Walaupun begitu toh tak serta merta pula aku berubah mendadak jadi ustadz yang getol bertausiyah tentang pedihnya siksa neraka. Biarlah.
Yang kini menjadi ganjalan di pikiranku adalah undangan ketiga dan keempat. Sebelum memutuskan, memang harus menimbang dan memilih.
Undangan ketiga sangat menarik, karena pada dasarnya aku adalah pecinta petualangan. Hanya karena waktu saja yang membuatku terpasung dalam rutinitas yang maha padat. Tentunya letupan-letupan semangat baru sangat kubutuhkan untuk melegakan pikiran yang tersumbat.
Sedangkan untuk undangan keempat, inilah sebenarnya puncak kegalauan. Rasanya tidak nyaman menolak undangan dari keluarga Dahlia. Tak bisa dipungkiri, bahwa perasaan hutang budi masih bersemayam. Tak sembarangan orang mendapat kepercayaan dari Dahlia, sehingga dengan ringan ia merogoh koceknya demi diriku.
Tak sembarangan orang mendapat undangan eksklusif untuk menghadiri jamuan makan kambing guling di kediamannya yang mewah. Sebenarnya sayang jika dilewatkan. Apalagi lambung miskinku selalu meronta, seolah protes agar sekali-kali diisi dengan hidangan yang lebih bermartabat.
Ataukah aku harus memilih opsi terakhir?
Menyendiri dari hiruk-pikuk dunia, di dalam kamarku tercinta, berselimut keheningan. Toh bukan kali pertama aku seperti itu. Pasti malam pergantian tahun tetap bisa terlewati dengan baik. Tanpa perlu larut dalam euforia di luar sana.
__ADS_1
Jadi keputusan manakah yang harus kuambil?
***