
Matahari Surabaya sepertinya sedang marah hari ini. Panasnya terasa menjilat-jilat kulit. Aku yang sudah hitam, berasa makin hitam. Aku tengadah, seraya melirik ke jam tanganku. Oh, rupanya sudah pukul 13.12.
Pantas saja.
Azan Dzuhur sudah berkumandang dari tadi. Perutku terasa dicubit-cubit. Aku harus segera mengisi lambungku agar mag tidak kambuh seperti kemarin-kemarin. Tetapi kadang merasa bosan dengan masakan yang ada di warung-warung sekitar kontrakan. Menunya tak berubah semenjak zaman kolonial sampai zaman milenial. Sayurnya kalau tidak sayur lodeh ya sayur asem. Lauknya kalau tidak ayam, ya telur atau ikan. Ada sih menu yang variannya lebih beragam di warung ujung jalan sana. Tetapi, untuk masuk saja sudah minder. Mahasiswa yang makan di situ rata-rata mengendarai mobil. Bisa-bisa nanti disuruh cuci piring habis makan karena tidak mampu bayar. Baiklah aku coret warung itu dari daftarku. Bye.
Mungkin kalau kelas orang susah seperti aku, lebih cocok untuk makan di Warung Gresik yang tersebar di sepanjang jalan menuju kampus. Warung sejuta umat, dengan hidangan khas nasi bungkus dengan lauk mi dan sambal goreng tempe. Harganya sungguh pas di kantong gembel seperti aku.
Tetapi, segembel-gembelnya diriku, paling anti makan nasi dicampur dengan mi. Bukan tanpa alasan sebenarnya. Karena menurutku nasi sudah termasuk karbo dan mi juga karbo. Karbo lauk karbo? Yang benar saja. Mending buat mi instant saja di kontrakan, sambil mencomot telur milik Doni. Aku yakin dia ikhlas. Stok telurnya banyak, seperti di warung sembako. Tiap hari makan berlauk telur, makanya tidak heran kalau dia sering bisulan.
Terkait menu warung ini, aku juga punya kenangan bersama Lusi. Waktu itu, kami habis dihajar dengan mata kuliah Mekanika Teknik yang lumayan membuat otak mendidih. Jadi aku dan Darwis, teman sejurusan yang berasal dari Bangkalan, sepakat untuk makan makanan yang lebih manusiawi daripada biasanya.
“Kita coba warung ujung jalan itukah?” tanya Darwis.
“Tapi ntar kalau nggak bisa bayar gimana?” jawabku ragu.
“Ya, aku sih ada uang. Tapi kan sudah pas untuk jatah makan seminggu. ”
“Kita puasa saja besok, ” jawabku sekenanya.
Wajah Darwis mulai diliputi keraguan. Bujuk rayuku membuahkan hasil. Kami memasuki warung yang bedesain ala cafe itu dengan malu-malu. Ternyata makanan di warung itu disusun model prasmanan. Jadi pengunjung bisa mengambil sendiri sesuai yang diinginkan.
Nafsu jahiliahku bergerilya melihat aneka makanan tersaji. Semuanya terlihat enak dan membangkitkan selera. Bahkan aku belum pernah melihat jenis-jenis makanan yang disajikan sebelumnya.
“Itu apa ya?” tanya Darwis sambil menunjuk malu-malu.
Yang ditunjuk adalah makanan berbahan dasar daging yang dimasak hingga berminyak. Kelihatannya memang menggoda sekali.
“Rendang Padang itu,” jawabku.
“Kelihatannya enak...” ujarnya.
“Ambil aja!”
Darwis mengambil sesendok rendang padang, tempe goreng dan sayur oseng. Sedangkan aku masih galau. Terlalu banyak pilihan membuat bingung.
Ya sudahlah!
Aku ambil ayam goreng, perkedel kentang dengan sayur sop!
“Hei!”
Tiba-tiba aku melihat di ujung ruangan, seraut wajah yang tidak asing lagi. Lusi Handayani bersama Diana Situmorang, sahabatnya yang orang Batak itu. Diana berperawakan lumayan subur. Sungguh kontras dengan Lusi yang langsing semampai.
“Ada Lusi tuh. Gabung kesana kah?” tanyaku pada Darwis.
“Malu aku...”
“Gabung aja! Nggak enak juga kalau nggak gabung. ”
Darwis tidak bisa menolak ajakanku. Kamipun makan bersama dalam satu meja sambil mengobrol. Aku merasa seperti sedang double date. Tentu saja aku memilih berpasangan dengan Lusi.
Setelah selesai makan, wajah Darwis agak canggung. Aku tahu apa yang dipikirakannya. Ya, di negeri +62 ini umumnya pihak laki-laki yang mentraktir kaum perempuan. Bisa habis jatah kami seminggu kalau seperti ini caranya. Sebenarnya aku bingung juga. Tapi aku pura-pura percaya diri.
“Eh, udahan yuk!” ajak Lusi.
__ADS_1
“Sebentar, kami mau ngobrol sebentar. Kalian duluan aja!”ujar Darwis.
Dalam hati aku ketawa. Boleh juga akal bulusnya. Bilang saja Lusi suruh bayar duluan.
“Oh, kalian masih mau di sini? Ya udah yuk Di, kita bayar dulu,” kata Lusi pada Diana.
Diana melirik ke arah kami. Sorot matanya seolah mengejek kami.
Dasar miskin!
Alhamdulillaaah!! Batinku.
Setelah memastikan Lusi dan Diana sudah pergi, kami sepakat segera ke kasir untuk membayar makanan kami. Darwis sungguh sangat percaya diri mengeluarkan dompetnya yang luar biasa bulukan itu.
“Berapa Mbak?” tanyanya penuh percaya diri.
“Jadi satu atau sendiri-sendiri?” Si kasir itu balik bertanya dengan judes.
Mungkin karena melihat tampang kami yang mirip orang susah.
“Mmm. Sendiri-sendiri saja Mbak!”
Sudah kuduga itu jawabannya.
“Mas nya yang duduk di meja ujung sama mbak-mbak tadi ya?”
“Iya”
“Udah dibayar kok mas sama mbak yang tadi!” kata si kasir.
Keesokannya, aku sengaja menemui Lusi di perpustakaan kampus. Tapi kali ini dia sendirian, tidak ditemani oleh Diana. Sepertinya ia tengah serius mencari-cari buku yang tersusun rapi di rak.
“Lus...." sapaku.
“Eh, Abi. Lagi nyari buku juga?”
“Nggak sih. Mau bilang makasih aja.”
“Makasih? Makasih buat apa?” Lusi memandangku serius.
Ya Allah! Aku bisa melting menatap matanya.
“Kemarin udah nraktir aku dan Darwis makan siang,” ujarku malu-malu.
“Oooh. Biasa aja itu,” jawabnya sambil tersenyum.
Teduh sekali, Tuhan.
“Katanya Darwis sih, sering-sering aja hehe...”
Asli, Darwis tidak bicara seperti itu. Akal-akalanku saja. Kasihan si Darwis namanya kucatut.
“Nanti kalau ada rezeki lebih, Insya Allah ya. Kan kemaren ceritanya aku lagi ngecek rekening. Ternyata beasiswanya udah cair. Lumayan loh!” ujar Lusi.
“Sudah cair ya?”
__ADS_1
“Iya. Kemarin kamu ngurus juga kan?”
“Iya sih..”
“Ayo dicek! Biar bisa gantian nraktir aku!”
Aku tertawa.
Yah, nggak apa-apalah sekali-kali mentraktir Lusi. Tapi, tidak dengan Darwis dan Diana.
Hari itu juga, aku menuju ATM yang ada di sekitar kampus. Ternyata apa yang dikatakan Lusi memang benar. Beasiswa BBM yang kuajukan beberapa bulan kemarin sudah cair. Alhamdulillah. Tidak banyak, tetapi sangat kusyukuri. Rencana akan kukirim buat emak sebagian. Tetapi karena Lusi minta jatah juga, ya apa boleh buat. Aku harus mentraktirnya juga.
Demikianlah. Suatu sore yang sejuk karena habis diguyur hujan, aku janjian bertemu Lusi di sebuah warung yang agak berkelas.
Sebenarnya bukan warung, tapi Cafe. Banyak anak muda yang nongkrong di sana, asyik dengan laptop dan gadgetnya. Beberapa di antaranya membawa pasangan. Aku sengaja memilih duduk di sudut Cafe yang agak sepi, agar tidak kentara kalau aku jomblo.
Jarum jam sudah merapat di angka lima, tetapi Lusi kok belum nampak ya?
Aku mulai gelisah. Suara Mandy Moore mengalun lembut melantunkan I Wanna be with You, menambah suasana syahdu sore itu. Tetapi aku hanya mengetuk-ngetuk jari-jariku di meja. Menit demi menit terus melaju.
Mungkin dia tidak akan datang. Batinku.
Tetapi, amboiii! Siapa itu di sana? Gadis berbaju kuning yang cerah, secerah susana hatiku mulai memasuki Cafe. Langkahnya begitu elegan, dengan senyum yang teramat lebar. Ia begitu percaya diri. Sayang seribu sayang...
Dia tidak sendiri.
Bukan hanya mengajak Diana, tetapi dia datang bersama Rani dan Venny. Wajahku langsung memucat. Sungguh, aku tidak berharap suasana seperti ini. Yang kupikirkan kini bukan Lusi lagi. Tetapi nasib isi dompetku yang malang!
“Maaf ya! Udah lama tadi nungguinnya?” sapanya.
“Ba ... baru saja kok” agak gugup aku menjawab.
Menghadapi satu cewek saja aku malu. Tetapi ini empat sekaligus!
Ini rezeki atau bencana?
Kami mulai memesan makanan. Tetapi aku masih dirundung rasa gelisah tiada tara. Bingung juga mau memesan apa. Sedangkan para gadis itu dengan tanpa rasa berdosa, masih bercanda-canda di depanku. Mereka memesan steak dan aneka float. Aku? Hanya pesan mi goreng dan es teh manis.
Dasar aku!
Ponselku bergetar. Kubaca pesan singkat dari Lusi.
Jangan khawatir. Kita bayar sendiri kok.
Ada sedikit rasa lega, tetapi selain itu aku juga merasa seperti ditampar.
Duh! Susah banget sih jadi orang yang nggak ada duit.
Pesta telah berakhir. Dan aku masih terduduk dalam rasa canggung tak berkira. Lusi melambaikan tangan perpisahan. Bukan hanya membayar untuk dirinya, rupanya rombongan bidadari itu juga mentraktirku.
Alamak!
Dua kosong!
Pria macam apa kamu, Bi!
__ADS_1
****