DUNIA ABIMANYU

DUNIA ABIMANYU
Chapter XLVI : Required Terms


__ADS_3

Hari pertama ujian akan dimulai pukul 07.00 tepat. Genderang perang mulai ditabuh. Kami seperti para prajurit-prajurit perang dari Middle-Eath, bergabung dengan para Elf bersiap menghadapi gempuran laskar Orc di Helm’s Deep. Amunisi harusnya sudah disiapkan jauh-jauh hari. Mental akan berbicara dalam perang tanding ini.


Lima menit sebelum pertarungan hidup-mati, aku sudah memposisikan siap sedia, menegakkan punggung, melipat tangan dan menajamkan panca indera. Tempat duduk sengaja diatur agak berjauhan, sehingga kemungkinan curang bisa diminimalisasi.


Tempat duduk yang kududuki, berada di baris nomor dua dari depan, sedangkan Darwis ada di baris paling belakang. Tentunya, kami tidak bisa memilih tempat duduk sembarangan.


Posisi Darwis di belakang menurutku cukup menguntungkan, tetapi Darwis tidak pandai mengambil peluang. Posisinya jadi semacam mimpi buruk. Padahal sebelumnya, Darwis sudah berbaik-baik kepadaku agar ikhlas membagi jawaban kepadanya.


Tidak sudi!


Maaf ya Darwis! Jangan campur adukkan antara persahabatan dengan ujian. Di luar mungkin kita akrab, tetapi di dalam ruangan ini kita bertarung masing-masing. Kalau kau tidak siap, maka bersiaplah menjadi pecundang!


Untuk beberapa mata kuliah, ada ujian yang sifatnya open book. Sayangnya hal itu tak semudah yang ada dalam pikiranku. Mungkin karena level mahasiswa adalah dewasa, maka kompleksitas soal juga berbeda. Terbukti, ada mata kuliah yang menggunakan sistem open book, tetapi tetap saja nilai jeblok.


Atau mungkin human resource-nya?


Dosen pengawas tiba. Gurat wajahnya terlihat angker tanpa senyum secuil pun. Seorang bapak-bapak senior dengan rambut memutih. Kulitnya legam, mulai keriput termakan usia. Ya, aku kenal dengan dosen ini. Dosen tua yang biasa dipanggil Pak Johannes, mengajar mata kuliah Mekanika Fluida yang maha sulit itu. Beliau lulusan Technische Universitat, Berlin sebuah institut teknologi tekenal di Jerman. Bagi kami, beliau adalah salah satu bagawan di bidang sains yang cukup mumpuni.


Lembar-lembar soal mulai diedarkan. Suasana semakin mencekam. Tak ada suara sedikit pun, bahkan terpaksa harus menahan batuk atau bersin. Suara sekecil apa pun akan merusak konsentrasi. Otak kami sudah terfokus dengan suasana horor UAS.


Belum-belum, deretan soal yang terbaca sudah menjadi mimpi buruk menakutkan. Mendadak semua kepala tertunduk, tak ada waktu untuk menoleh.


Kupalingkan kepala ke arah Darwis. Bocah itu tampak tak berkutik. Terbenam sampai kehabisan napas dalam kesulitan yang ia ciptakan sendiri. Menggaruk-garuk kepala, menguap dan pura-pura gatal kakinya. Tak ada sikap intelektual yang elegan pada dirinya. Aku tersenyum dalam hati, menertawakan penderitaannya. Sudah tahu UAS, masih bersantai-santai.


Waktu dua jam, kurasakan bagai dua abad. Tiap detik yang berlalu terasa sangat lambat. Rasa bosan mulai menyeruak. Dari delapan soal yang diberikan, tujuh sudah kukerjakan dengan baik. Tinggal satu soal lagi yang agak mengganjal. Bukan tidak bisa, tetapi lupa rumus.


Peserta ujian mulai gelisah. Untuk menguranginya, aku izin ke toilet untuk sekedar membasuh muka. Kutatap bayangan wajah lesu di pantulan cermin toilet kampus yang mulai berkerak. Di sini, aku harus berjuang melawan aroma pesing yang menyengat tiada terkira. Entah sudah berapa tahun toilet ini tidak dibersihkan.


Tiba-tiba di belakangku muncul sesosok mahasiswa cengar-cengir tidak jelas. Aku mendengus.


Ah, Darwis!


“Ngapain ikut-ikut ke sini?” ucapku sambil mengusap wajah dengan tisu.


Wajahku terlihat lebih berminyak. Memang pada dasarnya kulitku berminyak, jadi kemana-mana aku selalu siap cooling face wash, agar lebih kinclong tampil di hadapan khalayak.


“Nomor dua dan tiga dong. Caranya diapain sih?” pintanya.


“Nggak!” tegasku.


“Jahat banget sih kamu! Kita kan teman ...,” rayu Darwis.

__ADS_1


“Teman di luar, pas ujian nggak ada istilah teman. Makanya belajar, nggak usah nonton bokep. Otakmu sih udah penuh racun. Jadi buat mikir aja susah!” gerutuku.


Darwis terdiam.


Sebenarnya hampir saja hati ini luluh melihat raut muka Darwis yang memelas. Mungkin dia kesal kepadaku, namun aku tidak peduli. Semua ini demi kebaikan dia.


“Kalau Dahlia yang nanya pasti dikasih...,” rajuk Darwis.


Eh, kok Darwis bawa-bawa nama Dahlia? Padahal aku sudah berusaha tidak menyebut nama itu selama UAS. Darwis belum pernah cuci muka dengan sambal?


“Emang kenapa kalau aku kasi tahu Dahlia? Kamu cemburu?” tantangku.


“Ya aku kan temanmu sejak lama!”


“Aku hanya menolong orang yang benar-benar membutuhkan bukan karena malas. Sayangnya kamu nggak masuk kriteria itu. Jadi terima aja nasibmu. Bye, Darwis!” ujarku sambil melempar tisu bekas lap muka ke arah Darwis.


Darwis bengong.


Untunglah, sepanjang mengenal Darwis, tak pernah sekali pun kami bertengkar. Kalaupun berselisih paham, kami segera dapat menyelesaikannya. Harus kuakui pula, Darwis juga tipe penyabar. Dia tak mudah naik darah. Itulah mengapa aku berani melempar tisu bekas pakai kepadanya. Kalau dengan teman lain, mungkin aku sudah dimutilasi hidup-hidup di toilet ini!


Waktu mengerjakan ujian telah habis. Semua peserta menghela napas lega. Kertas-kertas kerja dikumpulkan oleh Hanafi, sebagai Komting kelas kami. Beban-beban puluhan ton seolah terlepas dari bahu. Setidaknya untuk hari ini, karena besok ada ujian berbeda yang harus dihadapi.


Ah, perkara besok ya besok!


Sedikit ilmu yang kucuri dari Andre.


Kami keluar berhambur dari kelas, menuju tempat mangkal masing-masing. Langkahku terasa ringan menuju kantin, tanpa peduli Darwis yang berlari-lari kecil mengejarku.


“Bi! Tunggu!” teriaknya.


Aku menoleh acuh tak acuh. Gulma satu ini mengapa mengikutiku?


“Kita belajar bareng yuk ntar malam. Ajarin aku dong!” rengek Darwis.


“Masalahnya Dar, aku nggak bisa konsen kalau belajar sama teman. Yang ada ntar nggak serius, banyak bercanda, gosip ...,” aku menerangkan.


“Emangnya aku emak-emak? Aku janji bakalan serius kok. Please ya Abi ganteng. Aku pengen nilaiku baik biar orang tuaku bangga,” rayuan Darwis semakin dahsyat.


Busyet dah! Seumur-umur baru kali ini aku dibilang ganteng oleh cowok!


Setegas-tegasnya aku, ternyata luluh juga dengan bujuk rayu maut. Apalagi kulihat tatapan Darwis yang memelas, membuat dinding pertahanan runtuh juga. Dalam waktu satu menit, aku menimbang baik dan buruk apabila belajar bersama Darwis.

__ADS_1


Sisi positifnya, aku akan tidak akan kesepian. Sebab kesepian pasti akan menyeret menuju kenangan-kenangan romantis di masa silam.


Sisi negatifnya, mungkin konsentrasiku sedikit terganggu. Tidak yakin kalau Darwis akan menjadi anak kucing yang manis. Aku sudah khatam dengan tingkah lakunya.


“Gimana ya?” aku pura-pura bingung.


“Sambil mikir, yuk kutraktir es kacang ijo!”


Luar biasa! Mengapa tidak dari tadi? Kalau kan urusan jadi mudah. Gumamku.


Urusan belajar bersama pun berakhir di meja kantin. Kami sudah deal untuk belajar bersama-sama nanti malam. Secara resmi kamarku di-booking Darwis . Rasa es kacang ijo mendadak jadi lebih enak dari biasa. Mungkin karena efek gratisan.


“Jam tujuh malam dan tidak terlambat. Kalau terlambat, maka pintu kamarku tidak akan terbuka untukmu!” aku memberi warning. Ini adalah nilai positif yang kuadopsi dari Dahlia. Tak akan ada toleransi walau semenit.


“Siap!”


“Kacang kulit jangan lupa! Nanti aku yang buat kopi!”


“Siap! Ada lagi?”


“Tidak membicarakan hal apapun kecuali bahan ujian untuk besok!”


“Setuju! Ada lagi?”


“Tidak menyebut nama cewek!”


“Bungkus! Ada lagi?”


Aku mengernyitkan dahi, berusaha mencari syarat lain agar kegiatan belajar bersama dapat berjalan efektif.


“Oya, jam sepuluh malam harus sudah selesai. Aku mau cepat istirahat. Jadi sebelum nanti kuusir, kamu harus nyadar diri untuk segera get out dari kamarku!” kataku kemudian.


Sebetulnya, biasa tidur malam pukul sebelas atau dua belas. Paling tidak aku punya jeda waktu satu jam untuk menjalankan ritual sebelum tidur. Mencuci muka dan menggosok gigi adalah ritual yang harus dilaksanakan sebelum menjemput mimpi.


Darwis manggut-manggut mendengar required terms yang kubacakan. Tak ada alasan atau keberatan apa pun. Ia mengacungkan jempol, pertanda semua beres.


“Be a good boy!” ujarku.


“Itu artinya apa, Bi?”


Embuh!

__ADS_1


***


__ADS_2