
Walaupun agak berawan, malam itu terasa cerah bagi emak dan Weni. Mereka tampak terpesona ketika menginjakkan kaki di Plaza Tunjungan, mal terbesar di Kota Surabaya.
Bangunan raksasa itu dipadati pengunjung beraneka rupa, dari kaum akar rumput sampai kaum kelas atas. Yang kaum akar rumput, berpakaian warna-warna norak dengan brand yang biasa diobral atau diskon 75 persen.
Sedangkan kaum atas, berpakaian elegan dengan brand ternama yang harganya bisa membuat puasa tujuh hari tujuh malam!
Walaupun begitu, pada malam itu semua jenis manusia tercampur aduk tanpa peduli dari strata mana mereka berasal!
Emak dan Weni tak jemu-jemu melihat interior mal yang begitu mewah. Pertokoan dengan display yang memanjakan mata, manekin-manekin yang anggun, dan para pramuniaga dengan rok-rok yang menggoda iman. Weni mendapat boneka Teddy Bear yang sudah lama diidam-idamkannya. Harga boneka itu cukup membuat perut mual.
Untung ada Dahlia.
“Nanti aku bayarnya nyicil ya, Lia,” bisikku pada Dahlia.
Bagaimanapun, aku tak mau membebani Dahlia dengan pengeluaran yang sama sekali tak ada hubungannya dengan dia.
“Gampang ...,” jawab Dahlia enteng.
“Berapa sih?”
“Ntar aja di rumah. Jangan di sini. Ntar kamu malu lagi kusebutin harganya!”
Busyet, Dahlia! Jujur amat ....
Aku sempat menawari emak ingin beli apa, tetapi beliau hanya menggeleng. Mungkin dia syok melihat harga yang tertera di labelnya. Sempat ia tertarik salah satu gamis keluaran brand terkenal. Mendadak beliau pusing melihat harga yang tertera.
“Padahal yang kayak gini di pasar Jombang cuman lima puluh ribu,” keluh emak.
Ya Allah, Emak ....
Dilihat dari kainnya saja berbeda bagai langit dan bumi. Kain yang di mal ini terasa adem dan lembut di kulit, yang ada di pasar kan terasa panas dipakai?
Ah entahlah!
Tak perlu juga menjelaskan pada emak. Sampai berbusa mulut pun, rasanya sia-sia menjelaskan pada emak. Prinsip beliau, murah dan enak dipakai.
“Tapi kalo emak suka nanti kubelikan Mak,” ujarku sambil melirik ke donaturku, Dahlia.
“Harganya lho segini, Bi. Di Pasar Jombang bisa dapat sepuluh!”
“Ya nggak apa-apa kali, Mak. Sekali-kali pakai baju yang agak bagus. Mosok pakai baju jatah dari majelis ta’lim terus,” kataku.
“Emak tuh kalau pakai yang harganya segitu terasa kayak mubazir. Wong cuman baju aja lho. Mending menyiapkan baju yang akan kita pakai kelak menghadap Gusti Allah,” ujar emak bijak.
Plak-plak-plak!
Aku merasa seperti ditampar dari delapan penjuru mata angin. Ingin menangis mendengar perkataan emak. Yah, emak benar. Pakaian berharga mahal itu sejatinya adalah pakaian duniawi yang harus ditanggalkan saat menghadap Allah.
Aku sedikit bingung, emak tidak ingin beli apa pun. Bahkan rayuan Dahlia juga tidak mempan. Tak apalah! Yang jelas aku senang melihat emak menikmati jalan-jalan di mal malam ini.
Puas berkeliling mal, aku mengajak emak dan Weni untuk menikmati makan malam di restoran ayam goreng franchise yang namanya sudah kondang di seantero jagad.
“Ini loh Mak yang kemarin kubilang ayam suntik,” ujarku.
__ADS_1
“Kok dinamakan ayam suntik kenapa to, Bi?”
“Soalnya ayamnya kan sering disuntik. Biar sehat dan gemuk-gemuk, dagingnya banyak,” terangku.
“Oh, tak kirain cuman sapi saja yang disuntik.”
“Kalau sapi itu lain, Mak. Kalau sapi kan disuntik pas mau kawin,” senyumku.
Pesanan kami sudah datang. Paket ayam goreng, cola, french fries dan cream soup. Emak terpana melihat paket makanan yang memenuhi nampan. Semua terlihat baru di matanya.
“Kok banyak banget, Bi. Nanti takutnya ndak habis makanan sebanyak ini,” kata emak.
“Nggak apa, Mak. Cicipi semua ya!” ujarku.
Sementara Weni tampak lahap menikmati paket makan malam yang lebih cocok disebut junk food itu. Dinamakan demikian karena banyak terkandung garam dan lemak dalam makanan ini. Secara rasa, memang cukup menggelitik lidah. Sayangnya tak semua berpendapat sama.
Emak nyengir saat mencicipi cream soup.
“Iki opo to?” tanya emak.
“Itu namanya cream soup, Mak. Kenapa Mak? Nggak enak ya?” tanyaku.
“Rasanya kok aneh yo, Bi. Masih enak sop buatan emak kan?”
“Masakan emak memang ndak ada tandingannya,” pujiku.
“Kapan-kapan saya mau belajar masak sama emak boleh ya?” celetuk Dahlia.
Tuh kan?
Mengapa bawa-bawa suami segala? Perasaanku sedikit tidak enak.
Setelah puas menjamu emak makan malam, kami berencana langsung pulang karena Weni sudah beberapa kali menguap. Padahal kulirik jam tangan Seiko-ku masih menunjukkan pukul sembilan lewat sedikit.
Di Surabaya, kehidupan malam baru saja di mulai. Sedangkan di kampungku, pintu-pintu rumah sudah tertutup. Warga kampung sudah terbuai dalam mimpi indah.
“Mau langsung pulang nih?” tawar Dahlia.
“Iya pulang saja. Kasihan mereka sudah capek. Yang penting Weni sudah dapat bonekanya,” jawabku.
Dahlia mengangguk.
Saat turun lewat eskalator, emak merasa agak takut. Beliau memegang bajuku kuat-kuat.
“Santai saja Mak. Ndak usah tegang,” ujarku.
“Tinggi banget, Bi.”
“Hati-hati, Mak. Sandalnya jangan sampai nyerimpet!”
Setelah berjuang, akhirnya kami bisa keluar mal dengan selamat, menuju tempat parkir. Tak banyak yang kami beli, yang penting bisa mengajak emak jalan-jalan.
“Besok emak pulang saja ya, Bi?” kata emak, ketika mobil sudah meluncur ke jalur arteri yang membelah Surabaya.
__ADS_1
“Lho, kok buru-buru to, Mak?” tanyaku.
“Aku masih pengen jalan-jalan Mak!” protes Weni.
“Emak itu kepikiran sama sapi-sapi di kandang, Bi. Siapa yang ngasi makan? Siapa yang ngasi minum?” ujar emak dengan wajah cemas.
“Lho, kemarin nggak jadi dititipkan sama Pak Turonggo to, Mak?” tanyaku.
“Ya sudah, tapi masih kepikiran. Soalnya yang biasa ngasi makan sapi-sapi itu kan emak. Takutnya kalau ganti orang nanti sapi-sapinya kaget terus nggak mau makan,” khawatir emak.
“Oalaaah, Mak! Ya nggak lah. Udah, nggak usah dipikirin. Mending emak enak-enakin saja di Surabaya. Belum tentu nanti emak bisa main lagi ke sini loh,” ujarku.
Emak terdiam. Mendadak wajahnya jadi galau. Ada sesuatu yang mengganjal di pikirannya. Aku menghela napas. Mungkin pola pikir orang tua jauh berbeda dengan anak.
“Mau diteleponkan Pak Turonggo kah, Mak? Biar emak yakin kalau sapi-sapinya nggak apa-apa?”
“Nggak usah, Bi. Sudah malam. Jam segini orangnya sudah istirahat,” kata emak.
Mobil terus melaju menembus malam. Irama malam mulai berkumandang. Gemerlap lampu malam menjadikan suasana kota semakin semarak.
Kulihat Weni sudah lelah. Ia tertidur, menyandarkan kepala ke boneka beruangnya. Ada rasa iba, tetapi tergantikan rasa bahagia yang menyeruak. Tak banyak yang bisa kuberikan pada adik semata wayangku itu.
Tunggu aku jadi orang sukses, Wen!
“Bi ...,” ujar emak perlahan-lahan.
“Kenapa Mak?” tanyaku.
“Anu ... masih jauh kah rumahnya?”
“Lumayan, Mak. Tapi macetnya itu lho, Mak.” Dahlia menjawab sambil sesekali menoleh emak.
“Bisa nggak berhenti sebentar?”
“Mau ngapain, Mak?”
“Mau pipis, udah nggak tahan dari tadi,” kata emak.
“Lho, emak kok baru bilang sih? Kan tadi bisa pipis di mal,” ujarku lagi.
“Ndak bisa di sana, Bi. Biasaya kan kalau kencing sambil duduk. Emak ndak bisa begitu. Maunya cari yang jongkok saja,” terang emak.
Oalaah, Mak!
Ternyata kemajuan teknologi tidak serta merta dapat diterima oleh sebagian manusia. Emak masih melestarikan budaya nenek moyang, buang air kecil dalam keadaan jongkok.
“Iya Mak. Depan situ ada SPBU. Sekalian isi bensin. Ntar kita mampir,” kata Dahlia.
Wajah emak tampak gembira. Aku senang bisa melihat emak bisa tersenyum lagi. Semoga emak tidak minta aneh-aneh lagi. Satu kekhawatiran yang masih bercokol di hati.
Akankah emak meminta Dahlia jadi menantunya?
***
__ADS_1