DUNIA ABIMANYU

DUNIA ABIMANYU
Chapter LXXIV : Pahlawan Kesiangan


__ADS_3

Aku terus menapaki hari-hari yang terasa panjang. Urusan menimba ilmu di perusahaan ini ingin segera kuselesaikan. Laporan juga sudah kucicil tiap malam.


Kesibukan luar biasa membuat stamina menurun. Terkadang lupa minum suplemen, sehingga kondisi tubuh cepat drop. Apalagi didukung dengan cuaca yang tak menentu, memasuki musim pancaroba. Kalau sudah begitu, virus lebih mudah menginfeksi. Virus yang tak asing bagi masyarakat Indonesia adalah influenza. Mereka seenak jidatnya datang dan pergi, sehingga flu bukan lagi dianggap penyakit berbahaya karena terlalu sering menyatroni tubuh.


Sejak pagi, hidung sudah terasa gatal sehingga memicu bersin berkepanjangan. Kepala agak pusing, sehingga konsentrasi terganggu. Berkas yang sedianya hendak kuselesaikan, menumpuk begitu saja. Apalagi mesin pendingin ruangan ini tampaknya disetel ke titik terendah. Persediaan tisu yang kubawa tinggal beberapa lembar. Bekerja rasanya tak nyaman dalam kondisi seperti ini.


Kulirik jam dinding berbentuk hati di tengah ruangan. Jarum pendeknya mulai merangkak menuju angka sembilan. Tumben Bu Roffi belum datang. Walaupun dia sering terlambat, tapi tidak seterlambat ini.


“Pagi-pagi sudah bagi virus aja!” gerutu Pak Imron.


Aku tak begitu memedulikan perkataan bujang lapuk itu. Ya, baru saja kuketahui ternyata Pak Imron belum beristri hingga saat ini, entah apa alasannya Entah tidak laku atau bagaimana. Mungkin itu yang membuat emosinya tak stabil. Ia mudah marah dan mencela orang lain. Orang yang kurang perhatian dan kasih sayang akan cenderung mudah naik darah.


Atau mungkin dia terobsesi dengan Bu Roffi?


Bisa jadi.


Seorang office-girl yang cukup cantik mendatangiku, mengantar segelas teh sambil membawa berkas-berkas yang sudah difotokopi. Rambutnya yang hitam diikat rapi, berpadu dengan wajah polos tanpa riasan. Tipikal gadis kampung yang mempunyai kecantikan alami. Usianya masih belia, mungkin baru lulus SMA. Dia bertugas membuatkan teh, menyapu ruangan dan membawa berkas-berkas yang hendak digandakan ke ruang fotokopi.


“Tehnya Pak Abi,” senyumnya ramah.


“Makasih ya Tia,” sambutku.


Sebenarnya agak malu dipanggil ‘Pak’ oleh Tia. Padahal secara usia mungkin hanya berselisih beberapa tahun saja. Mungkin dia ingin menghormatiku. Padahal aku orangnya tidak suka dengan formalitas. Lagipula, aku bukan karyawan sebenarnya di perusahaan ini. Menurutku itu tidak perlu, karena kedudukan manusia itu sama.


Nama gadis belia itu Tia Wijayanti, seorang perantau dari Semarang, ikut pamannya di Surabaya. Menurut ceritanya, Tia Wijayanti berasal dari keluarga tidak mampu karena adik-adiknya banyak. Jadi dia ikut sang paman untuk mengadu nasib di Kota Pahlawan ini.


Melihat Tia, sekilas aku teringat adik semata wayangku, Weni. Kangen ini serasa meledak-ledak, ingin segera pulang ke rumah. Tia juga gadis belia yang cukup rajin dan teliti. Tiap menyapu ruangan, tak ada sebutir debu pun tertinggal. Ia juga terampil menata meja-meja yang berantakan. Aku yang pada dasarnya spesies pria kurang rapi, selalu senang melihat meja yang telah dirapikan pagi-pagi.

__ADS_1


“Bu Roffi kok belum datang, Tia?” tanyaku.


“Nggak tau ya, Pak. Mungkin lagi menyelesaikan masalah dengan mantan suaminya, eh maaf keceplosan!” Tia segera menutup mulut.


Aku mengernyitkan kening. Mantan suami? Ya, aku tahu kalau Bu Roffi memang seorang janda. Namun dalam benakku tak terbersit sedikit pun kalau dia masih bermasalah dengan mantan suaminya. Perasaan tak enak menyembul dalam hati. Mungkin untuk ke depan aku harus menjaga jarak, agar tak dicap sebagai ‘pebinor’. Perebut bini orang.


Aku tak berniat mengorek keterangan lebih lanjut dari Tia. Gadis itu sedang sibuk mengantar teh-teh ke karyawan yang lain. Tak elok rasanya kalau menginterupsinya. Lagipula, aku tak perlu banyak tahu tentang kehidupan Bu Roffi. Itu sama sekali bukan urusanku.


Praaang!


Tiba-tiba kudengar suara benda pecah di lantai. Tak jauh dari tempatku, gelas berisi teh jatuh berkeping-keping di lantai. Pecahan beling berserak, sementara Tia berdiri dengan wajah panik. Rupanya ia tak sengaja menabrak Pak Imron yang tiba-tiba muncul, sehingga gelas yang ada di nampan tersenggol hingga jatuh.


“Maaf aku nggak sengaja, Pak!” Gadis itu segera memunguti pecahan beling yang berserak.


“Lain kali matanya dipakai!” umpat Pak Imron.


“Gara-gara kamu bajuku jadi kotor! Nanti tak laporin kamu sama Bu Roffi biar kerja lebih becus!”


Mendadak naluri baikku menggeliat. Jelas umpatan yang dilayangkan Pak Imron kepada Tia sangat melukai perasaan. Sungguh tidak berperasaan caci-maki itu. Apalagi Tia tidak sengaja dan sudah minta maaf. Segera aku mendekati tempat kejadian perkara, membantu Tia memungut pecahan beling.


“Dia udah minta maaf, Pak! Lagipula Tia kan nggak sengaja.”


Aku membela Tia sambil memungut pecahan beling.


“Eh, anak kecil nggak usah ikut campur ya! Kamu itu siapa? Karyawan juga bukan, sudah sok-sokan di sini! Mending kamu kerja yang bener. Jangan sok-sok jadi pahlawan!” ucap Pak Imron.


Aku tahu, ucapan itu sangat provokatif, lebih baik aku mengabaikan perkataan si bujang lapuk walau menyulut api permusuhan. Wajah Tia berubah sedih, menimbulkan rasa iba. Aku segera membantu membersihkan sisa-sisa pecahan.

__ADS_1


“Aauw..!” Aku berteriak lirih.


Spontan aku kibaskan tanganku. Sekeping kecil beling menancap di ibu jari. Tetesan darah menetes cepat.


“Aduh maaf ya, Pak. Jadi luka tangannya!” kata Tia dengan wajah panik. Kulihat dia ingin meraih tanganku, tetapi ada rasa segan.


“Oh, nggak apa-apa Tia!”


Spontan aku menghisap ibu jariku yang berdarah. Wajah Tia semakin cemas. Ia segera berlari mengambil Betadine di kotak P3K yang terpasang di dinding. Sebenarnya ada perasaan tidak enak. Dengan cekatan Tia meraih telapak tanganku. Bak seorang profresional, dia membalutkan perban ke ibu jari.


“Kok kamu cekatan banget, Tia?” celetukku.


“Dulu pas sekolah saya ikut PMR, Pak! Jadi paham cara merawat luka seperti ini,” kata Tia sambil terus membalut jari.


“Ini kan luka kecil, Tia. Ntar juga sembuh sendiri tanpa dibalut gini!”


“Jangan sepelekan luka lho, Pak. Sekecil apa pun, luka bisa menimbulkan infeksi apabila tidak dirawat dengan benar. Bakteri bisa saja masuk. Jadi harus dirawat dengan benar!”


Aku manggut-manggut. Pengetahuannya tentang perawatan luka cukup lumayan untuk seorang office-girl.


Peristiwa drama semi romantis itu berjalan cepat, segera menjadi sorotan para karyawan lain yang kebetulan melihat. Entah ada gosip apa lagi setelah ini. Untung bukan Raam Punjabi yang melihat. Aku khawatir akan ditawari membintangi sinetron striping berjilid-jilid.


Setelah semua keping beling terkumpul, Tia menyapu serpihan-serpihan kecil kemudian mengambil alat pel untuk membersihkan tumpahan teh. Sedangkan sepasang mata Pak Imron masih saja menyorotkan kekesalan, seolah tidak ikhlas dengan peristiwa yang terjadi barusan.


Aku kembali menyelesaikan pekerjaan yang menumpuk. Ada perasaan lega, menjadi pahlawan di depan Tia. Tidak sepenuhnya berhasil, karena Pak Imron masih berdiri dengan pongah tanpa mau mengaku bersalah. Yah, dia memang senior. Paling tidak dia tidak menggunakan senioritasnya untuk menekan orang. Seharusnya dia menggunakan nalurinya sebagai manusia.


Itu pun kalau dia masih merasa sebagai manusia.

__ADS_1


***


__ADS_2