
Waktu kian berlari, tanpa ada yang bisa menghalangi. Hari demi hari terasa begitu cepat. Baru saja membuka mata, tak terasa sore sudah menjelang. Aktivitas makin padat. Bahkan hari libur pun, tak sempat untuk rehat. Aku makin larut dalam tugas akhir. Ketikan demi ketikan kucicil hingga larut malam. Sementara aku juga harus bolak-balik ke kampus untuk melaksanakan uji material di laboratorium. Selain uji material, analisis tingkat korosi pada logam baja terhadap cairan natrium Klorida adalah komponen penting yang tak boleh dilupakan. Ini penting, karena logam baja biasanya digunakan sebagai bodi kapal yang memang didesain untuk terendam dalam air laut.
Kegiatan asistensi juga rutin kujalankan. Kalau ada waktu senggang, kusempatkan untuk membuat janji dengan Pak Kusumo. Kadang beliau melakukan perjalanan ke luar kota. Telinga ini sudah mulai kebal dengan perkataan Pak Kusumo. Ternyata beliau adalah orang baik yang kesepian. Baru saja kumenemukan fakta, ternyata istri beliau sudah meninggal karena kanker serviks yang dideritanya sejak lama. Sedangkan putra-putranya juga sudah ada yang berumahtangga, kecuali yang bungsu masih kuliah di Jerman. Lengkap sudah. Rasa sepi pasti membayangi beliau di tiap waktu.
Selain asistensi, berbagai praktikum dan laporan membutuhkan konsentrasi ekstra. Terpaksa, aku kadang mematikan ponsel selama berhari-hari agar pikiran terpusat dengan pengerjaan tugas akhir. Bahkan kadang lupa bahwa aku tinggal di tengah lingkungan sosial yang harus kupenuhi hak-haknya. Tak boleh menyendiri, karena hal ini juga tak baik untuk kesehatan mental. Terlalu lama menyendiri bisa menyebabkan gejala ketidakwarasan.
Selain lingkungan sosial yang harus dipenuhi haknya, tubuh ini juga menuntut untuk diistirahatkan. Ibarat mesin, apabila digunakan terlalu lama maka hasil yang diperoleh juga tidak optimal. Rasa nyeri mulai menyerang persendian. Kepala mulai didera rasa pusing. Mata mulai perih karena terpapar layar komputer terlalu lama, dan yang paling parah otak sudah mulai berasap karena terlalu banyak berpikir. Tak ada jalan lain, selain harus beristirahat.
Istirahat yang paling nyaman bukan berjalan-jalan mencari hiburan di mal atau nongkrong tidak jelas, tetapi yang terbaik adalah tidur. Penelitian membuktikan bahwa tidur siang dibutuhkan untuk menyegarkan otak. Sayangnya untuk perkara tidur saja tidak gampang. Baru memejamkan mata barang semenit, ada saja godaan datang. Entah itu penjual remote TV yang teriakannya membahana, kucing tetangga yang meraung minta kawin, atau malah teman satu kontrakan yang menjengkelkan.
Seperti siang ini, ketika aku sudah mulai rebahan sambil mendengarkan alunan lembut saxophone milik Kenny G, tiba-tiba Doni yang baru pulang dari kampung halaman menyeruak masuk ke dalam kamar. Tanpa ketukan permisi dan atau salam, tiba-tiba saja ia membuka pintu. Untungnya aku dalam keadaan berpakaian. Kadang aku merasa akhlak si Doni ini ketinggalan entah di mana.
“Apa sih! Masuk-masuk tanpa permisi!” ucapku kesal.
“Sori ... sori. Soalnya aku harus menyebar undangan, jadi agak buru-buru. Nggak lama kok, aku hanya menyampaikan undangan ini saja!”
Doni memberikan selembar undangan bernuansa hijau cerah kepadaku. Agak terbengong aku menerimanya. Tiada hujan tiada angin, masa tahu-tahu Doni menikah? Apakah ia jadi menikah dengan Monik?
__ADS_1
“Kamu nikah?” tanyaku penasaran.
“Bukan. Bukan aku. Tapi Dina, adikku. Masih ingat kan saat kakimu terkilir? Adikku mau nikah. Aku mah belum. Masih lama.” Doni menerangkan dengan mata berbinar-binar.
Oh, Dina. Tentu saja aku ingat sangat ingat. Bagaimana mungkin aku melupakan seraut wajah manis yang parasnya berbeda jauh dengan Doni? Dina, adik Doni turut merawat saat kakiku terkilir gara-gara prank tanpa akhlak yang dilakukan Doni di Pasuruan pas liburan tahun baru kemarin. Tak menyangka kalau dia menikah secepat ini. Masih sangat muda menurutku.
“Calonnya orang mana?” tanyaku lagi.
“Pasti kamu terkejut kalau tahu calonnya,” ucap Doni.
“Emang siapa?”
Apa? Farhan?
Doni sukses memberi kejutan hari ini. Kornea mata ini seperti hendak terloncat dari kelopaknya. Jiwa jomblo yang kuderita bergetar hebat, semakin meronta menuntut kebebasan. Dua orang sahabat dekatku tiba-tiba akan menikah dalam waktu dekat.
Sebelumnya, Andre dan Inneke juda sudah mengumumkan bahwa mereka akan segera menikah. Kini, berita yang sama datang dari pasangan Farhan dan Dina. Kalau misalnya setelah ini Doni juga mengumumkan akan menikah dengan Monik, maka fix, aku akan menceburkan diri dari atas Jembatan Suramadu. Predikat jomblo ngenes resmi kusandang.
__ADS_1
Undangan warna hijau cerah itu kubuka perlahan, menabar aroma semerbak. Aku memandang nama Farhan tertera di situ, bersanding dengan nama Dina. Ah, andai namaku saja yang tertera di situ.
Abimanyu Prasetyo, ST menikah dengan ....
Nama pasangannya hanya Allah yang tahu!
Sebenarnya tak habis pikir, bagaimana teknik pendekatan Farhan dengan Dina? Ini sungguh di luar pengetahuanku. Saat di Pasuruan kemarin, tak kulihat sedikit pun chemistry antara keduanya. Bahkan Farhan terkesan cuek-cuek saat kami menggodai Dina. Berita pernikahan keduanya membuat kejutan luar biasa. Pantas saja, Farhan akhir-akhir ini jarang kutemui. Ternyata ada skandal yang disembunyikan bersama Dina. Haruskah aku belajar pula dari Farhan?
Memang, menurutku Dina memilih pria yang tepat. Dalam hal ilmu agama, Farhan cukup mumpuni. Sayangnya secara material mungkin belum. Tetapi kalau mereka sudah saling suka, tidak ada masalah juga kan? Toh pak ustadz bilang, rezeki akan mengalir dengan sendirinya apabila kita menikah. Allah akan menjamin rezeki masing-masing makhluk. Semut saja bisa makan tiap hari, mengapa manusia yang berakal tidak bisa?
Farhan rupanya sangat memegang prinsip itu, tak heran ia nekat menikah walau tanpa penghasilan tetap. Dua jempol buat dia!
Sedangkan aku, jangankan menikah! Untuk mendekati perempuan saja masih maju-mundur karena berbagai pertimbangan. Rasa percaya diri kadang terjun bebas. Ingin sebenarnya mengungkapkan rasa, tetapi ya begitu. Bayangan sakitnya penolakan lebih kuat menghantui. Aku bukan tipe seperti Doni yang bermental sekuat baja menerima banyak penolakan dari gadis yang diincarnya. Bagi aku, penolakan sama pahitnya dengan racun empedu.
Aku juga bukan tipe seperti Andre yang mengumbar pesona kesana-kemari. Wajar, karena Andre mempunyai modal dasar yang cukup. Dipaksakan sekalipun, tak bisa aku menjadi Andre. Sayangnya keberanian Andre mengumbar rasa terlalu berlebihan, hingga berbuah peristiwa terlarang bersama Inneke. Kini Andre harus membayar lunas perbuatan itu bersama bunganya sekalian.
Sebenarnya cukup bahagia mendengar berita pernikahan Farhan, tetapi entah kenapa aku semakin nelangsa? Rasa kesendirian ini makin menghebat. Setelah pernikahan Lusi, kini dihantam bertubi-tubi dengan berita pernikahan sahabat-sahabatku dalam waktu yang berdekatan. Sudah terbayang di pelupuk, aku akan jadi tamu undangan tanpa pasangan. Haruskah aku menggandeng Laras lagi? Kurasa gadis itu sudah tak mau kuajak di pesta pernikahan, setelah sakit hati di pernikahan Lusi kemarin. Jadi nama Laras akan kucoret dari daftar pasangan pendamping pesta pernikahan.
__ADS_1
Jadi apakah aku harus menggandeng Dahlia?
***